Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Dua hari berlalu sejak kejadian di toko itu, tapi rasanya waktu berjalan begitu lambat dan berat buat aku. Dua hari ini, aku berusaha sekuat tenaga buat bersikap biasa aja, berusaha pura-pura nggak ada apa-apa, tapi setiap kali bayangan Arjun sama Diya terlintas di kepala, rasa sesak itu lagi-lagi datang menyerang, bikin aku makin bingung dan makin memilih buat menjauh.
Aku bingung banget sama diri aku sendiri. Kenapa rasa itu masih ada? Kenapa rasanya masih sakit? Kenapa aku nggak bisa cuma senyum dan bilang "ah, mereka cuma ngobrol biasa" kayak orang normal lain? Kenapa hatiku rasanya keras kepala banget nggak mau ngerti kalau Arjun itu sahabatku aja, nggak lebih?
Karena kebingungan itu, aku cuma punya satu cara buat ngadepinnya menjauh. Dingin. Cuek. Biar jarak ini ngebantu aku nemu jawaban, biar jarak ini ngebantu aku ngilangin rasa aneh ini, biar jarak ini nggak bikin aku makin sakit hati kalau lihat dia lagi.
Siang itu aku masuk kerja di kafe. Biasanya, jam-jam segini adalah jam yang paling aku tunggu, karena sebentar lagi Arjun pasti datang, duduk di meja nomor tujuh, senyum dan nyapa aku kayak biasa.
Tapi hari ini, setiap kali ada bunyi pintu terbuka, jantungku berdegup kencang campur takut dan bingung. Aku berharap dia datang, tapi sekaligus aku takut banget dia datang.
Dan benar aja, nggak lama kemudian sosok tinggi besar itu muncul di ambang pintu.
Arjun berdiri di sana,dia pakai kemeja biru dongker lengan panjang yang rapi, rambutnya disisir rapi, wajahnya yang ganteng khas India itu kelihatan... beda.
Biasanya kalau dia datang ke sini, matanya langsung berbinar cerah pas lihat aku, senyumnya melebar otomatis.
Tapi hari ini... wajahnya kelihatan murung, bingung, dan ada rasa khawatir yang tebal banget di matanya.
Dia masuk pelan-pelan, matanya langsung nyari keberadaanku di balik meja kasir. Pas matanya ketemu sama mataku, dia berhenti sebentar, menatapku lekat-lekat seolah mau baca apa yang ada di hatiku.
Aku? Aku cuma natap sekilas aja, terus langsung buang muka, sibuk beres-beres tumpukan gelas yang sebenernya udah rapi banget. Aku pasang wajah datar, kosong, nggak ada senyum sama sekali.
Arjun jalan mendekat, langkahnya pelan dan ragu, beda banget sama biasanya yang lincah dan antusias. Dia duduk di meja dekat kasir, meja yang paling dekat sama tempatku berdiri, padahal biasanya dia duduk di pojokan yang agak jauh. Dia sengaja duduk di sini, biar gampang ngobrol sama aku.
Aku pura-pura nggak tau, tetap sibuk sama barang-barang di depanku.
"Aira..."
Suara rendah dan berat itu terdengar pelan di sebelahku. Aku nggak nengok, cuma nunduk sedikit.
"Pesan teh tarik ya kayak biasa?" jawabku singkat, nada suara datar, dingin, nggak ada nada ramah sama sekali. Persis kayak aku ngomong ke pelanggan baru yang nggak aku kenal.
Arjun diam sejenak, kaget sama nada bicaraku. Dia mengerutkan kening makin dalem, bingung banget. Dia nyondongin badannya sedikit ke depan, nyoba natap mukaku yang terus aku hindari.
"Ra... kamu kenapa sih?" tanyanya pelan, suaranya penuh kebingungan dan sedih.
"Udah dua hari ini kamu beda banget. Kemarin kamu pulang mendadak, ngomong singkat banget. Hari ini di sini pun kamu... kamu kayak orang asing sama aku. Ada apa sebenernya? Aku salah apa ya, Ra? Bilang dong kalau aku salah, aku minta maaf. Tapi jangan diem-dieman gini, aku nggak ngerti sama sekali."
Hatiku nyeri banget denger itu. Aku pengen banget nengok, pengen banget bilang "kamu nggak salah apa-apa, aku aja yang aneh, aku aja yang bingung sama diri sendiri".
Tapi bibirku terkunci mati. Aku malu. Aku bingung. Aku sendiri nggak ngerti kenapa aku bereaksi begini, mana mungkin aku bisa jelasin ke dia?
"Enggak ada apa-apa," jawabku lagi, masih datar, masih nggak natap dia. Tanganku bergerak cepat nyiapin pesanannya.
"Kamu nggak salah apa-apa. Aku cuma lagi capek aja, banyak pikiran. Maaf kalau bikin kamu nggak nyaman."
"CAPEK?" Arjun hampir nggak percaya, suaranya makin penuh tanya.
"Ra, capek itu cuma alasan kan? Dulu-dulu kamu capek banget pun tetep cerewet, tetep ketawa, tetep cerita sama aku. Sekarang? Padahal kerjaan biasa aja, tapi mukamu kayak orang lagi ada masalah seumur hidup. Dan anehnya... masalahnya itu cuma muncul pas ada aku deket kamu. Pas ada pelanggan lain, kamu senyum, kamu ramah, kamu biasa aja. Tapi pas ada aku... kamu berubah jadi diam dan dingin gini."
Dia bener. Dia merhatiin banget. Aku emang pura-pura biasa sama orang lain, cuma sama dia aja aku nggak bisa nutupin perubahan sikapku. Karena dia lah penyebab kebingungan ini, dia lah pusat rasa aneh di hatiku.
Aku bawa gelas teh tarik itu, naruhnya di meja di depannya dengan agak kasar, bunyinya sedikit keras. Aku berdiri tegak. Aku akhirnya berani natap dia sekilas, tapi tatapanku kosong, dingin, nggak ada kehangatan sama sekali kayak dulu.
"Jangan mikir yang enggak-enggak deh, Arjun. Emang lagi nggak mood aja. Minumnya silakan, nanti bayar di kasir," kataku ketus, lalu langsung berbalik badan mau pergi ke meja pelanggan lain, ninggalin dia sendirian bengong di situ.
Arjun duduk diam, menatap punggungku yang menjauh. Dia menggaruk kepalanya yang nggak gatal, bingung setengah mati. Dia lihat aku melayani pelanggan lain, ketawa kecil, ngomong ramah, senyum manis... tapi pas mataku nggak sengaja ketemu sama matanya dari jauh, senyum itu langsung hilang, muka itu langsung berubah datar lagi.
"Kenapa? Kenapa sama orang lain dia biasa aja, sama aku dia jadi begini? Apa salahku? Apa aku ada ngomong hal yang salah pas hari itu? Apa karena Diya? Tapi kan aku cuma melayani dia kayak pelanggan lain. Aira kan tau aku orangnya sopan sama semua orang. Kenapa dia jadi berubah gini?"
Pertanyaan itu muter-muter terus di kepala Arjun, bikin dia makin bingung, makin khawatir, dan makin sedih. Dia nggak ngerti sama sekali akar masalahnya.
Dia nggak tau kalau di balik sikap dingin dan cuek itu, ada hati sahabatnya yang lagi bergumul hebat sama rasa cemburu yang nggak dia ngerti sendiri, ada hati yang bingung kenapa dia sakit hati cuma gara-gara hal sepele itu.
Siang itu berlalu dengan berat banget. Arjun nggak langsung pergi kayak biasanya. Dia duduk di situ berjam-jam, cuma minum satu gelas aja, matanya terus ngikutin gerak-gerikku dari jauh. Sesekali dia nyoba nyapa, nyoba ngajak ngomong hal biasa, nanya soal kerjaan, nanya soal kafe... tapi jawabanku selalu singkat, dingin, dan tertutup.
"Iya." "Enggak tau." "Biasa aja." "Gimana ya."
Itu aja jawabanku. Nggak ada cerita panjang, nggak ada candaan, nggak ada tatapan mata yang hangat.
Menjelang sore, Arjun akhirnya bangkit berdiri buat pulang. Dia jalan ke kasir buat bayar, matanya natap aku lekat-lekat, penuh tanya yang nggak terjawab.
"Ra..." panggilnya pelan, pasrah tapi masih penasaran banget.
"Aku pulang dulu ya. Kamu... besok aku boleh datang lagi kan? Atau... kamu mau aku nggak usah datang dulu biar kamu nggak terganggu?"
Hatiku rasanya diremas banget denger pertanyaan itu. Dia sampe mikir dia ganggu aku? Dia sampe mikir aku nggak mau ketemu dia? Padahal nggak gitu! Aku cuma bingung sama diri aku sendiri! Aku cuma lagi berantem sama perasaanku sendiri!
Tapi mulutku ngomong lain. Aku tetap pasang muka datar, terima uangnya, kasih kembalian, tanpa natap dia.
"Terserah kamu aja. Kamu kan pelanggan, bebas mau datang atau nggak," jawabku dingin, lalu langsung menoleh ke arah lain, pura-pura ada panggilan pelanggan.
Arjun menghela napas panjang, napas berat yang terdengar banget kebingungan dan sedihnya. Dia menatap punggungku sekali lagi, berharap aku bakal nengok, berharap aku bakal ngomong sesuatu yang manja kayak dulu "ya ampun Jun, bercanda aja, sini ngobrol dong". Tapi nggak ada apa-apa. Aku tetap diam, tetap dingin.
Dia akhirnya melangkah keluar, pintu tertutup pelan di belakangnya.
Begitu sosoknya hilang di balik pintu, aku langsung bersandar ke dinding belakang kasir, menutup wajahku sama kedua tangan. Napasku terasa berat banget.
"Kenapa sih, Aira?! Kenapa kamu harus sejahat ini sama dia? Kenapa kamu harus sedingin ini? Dia nggak salah apa-apa! Dia cuma ramah sama orang lain! Kamu aja yang aneh! Kamu aja yang bingung! Kamu aja yang nggak ngerti apa yang kamu rasain!"
Aku menangis diam-diam di balik tanganku. Aku bingung banget. Aku sakit hati karena lihat dia sama cewek lain, tapi aku malah nyakitin dia dengan sikap dingin ini.
Aku pengen dia deket, tapi aku malah ngusir dia pelan-pelan. Aku bingung sama perasaanku sendiri, dan Arjun... dia makin bingung setengah mati sama perubahan sikapku yang tiba-tiba drastis ini.
Di jalanan di luar sana, Arjun berjalan pelan pulang ke tokonya. Dia menunduk, tangannya masuk ke saku celana, pikirannya penuh sama wajahku yang dingin dan jauh tadi. Dia makin bingung, makin khawatir, dan makin nggak ngerti apa yang sebenernya terjadi di antara kami.
Yang dia tau cuma satu ada sesuatu yang hilang. Ada jarak yang tiba-tiba terbentang lebar banget di antara kami, dan dia sama sekali nggak tau cara ngilanginnya, karena dia nggak tau apa penyebabnya.
Dan aku... aku masih di sini, di balik meja kasir, berjuang sendirian sama rasa yang aku sendiri nggak kenali namanya, rasa yang bikin aku nyakitin orang yang paling berharga buat aku, cuma karena aku takut mengakuin apa yang sebenernya ada di hati.