Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poin Yang Paling Krusial
Leon menarik sebuah cek dari dalam laci mejanya, menuliskan sesuatu di atasnya dengan pena montblanc miliknya, lalu menyodorkannya ke hadapan Alina. Di atas cek tersebut tertera angka seratus juta rupiah.
"Ini deposit awal untuk rumah sakit adikmu hari ini. Mulai siang ini, adikmu akan dipindahkan ke ruang VIP Rumah Sakit Internasional Alexander, ditangani oleh tim dokter spesialis jantung terbaik yang dimiliki keluargaku. Seluruh biayanya akan didebit langsung dari rekening pribadiku," kata Leon dengan nada bicara seperti seorang penguasa yang sedang membagikan remah kekuasaan.
"Sekarang, ambil penamu dan tanda tangani kontrak itu." perintah Leon.
Alina menatap cek itu dengan mata berkaca-kaca. Air mata kelegaannya menetes, membasahi kertas kontrak di bawahnya. Dia mengambil pena yang disediakan, lalu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
Alina Savina.
Saat goresan tinta itu selesai, Alina tahu bahwa hidupnya bukan lagi milik dirinya sendiri. Dia telah resmi menjual kebebasannya kepada sang pangeran tiran di depannya demi seutas napas adiknya.
Suara ketukan pena Leon di atas meja jati berhenti seketika begitu tanda tangan Alina selesai dibubuhkan. Cairan tinta hitam itu tampak berkilau di bawah lampu ruangan, menegaskan bahwa detik ini juga, kebebasan Alina Savina telah resmi berpindah tangan.
Ada keheningan yang menyesakkan selama beberapa saat, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesis halus, seolah ikut menyaksikan transaksi sunyi dua manusia dari dunia yang berbeda ini.
Leon menarik dokumen itu ke hadapannya, memeriksa keabsahan tanda tangan Alina dengan mata elangnya, lalu mengangguk puas. Dia melirik ke arah pintu penghubung.
"Jefri, masuk." panggil Leon dengan suara lantang.
Pintu kayu ek tebal itu terbuka tanpa suara. Jefri melangkah masuk dengan rapi, ekspresi wajahnya setenang air di dalam sumur. Dia membawa sebuah map jepit lain dan selembar salinan kontrak yang baru saja ditandatangani.
"Tuan Leon," Jefri membungkuk hormat, lalu beralih menatap Alina dengan kesopanan yang profesional.
"Nona Alina, karena draf kontrak ini telah disetujui dan ditandatangani oleh kedua belah pihak, atas perintah Tuan Leon, saya wajib membacakan dan menjabarkan kembali pasal-pasal krusial di dalamnya. Hal ini demi memastikan tidak ada kesalahpahaman, salah penafsiran, atau kelalaian di kemudian hari. Apakah Anda siap mendengarkan?" ujar Jefri.
Alina duduk tegak di kursinya, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Rasa perih di lututnya akibat kecelakaan semalam seolah mati rasa, digantikan oleh ketakutan yang menjalar di tengkuknya. Dia melirik cek seratus juta yang masih tergeletak di dekatnya yaitu penyelamat nyawa Agra.
"Iya, Pak. Silakan," jawab Alina, suaranya agak serak namun berusaha terdengar tegar.
Jefri membetulkan letak kacamatanya, membuka lembar pertama dokumen hukum tersebut, dan mulai membaca dengan nada suara yang ritmis, jelas, dan tanpa emosi.
"Baik. Dokumen ini adalah Perjanjian Kemitraan Domestik Terikat, tertanggal hari ini. Kita langsung masuk ke poin-poin utama yang mengikat Nona Alina Savina sebagai Pihak Kedua." Jefri berdeham sekilas.
"Pasal satu, mengenai masa berlaku dan status. Pernikahan ini akan didaftarkan secara sah secara hukum negara melalui lembaga terkait tanpa publikasi. Masa kontrak berlaku tepat selama dua belas bulan kalender sejak hari pernikahan diresmikan. Setelah genap satu tahun, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan perceraian secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan, tanpa ada tuntutan pidana maupun perdata." ucapnya lebar panjang.
Alina mengangguk pelan. Satu tahun. Dia hanya perlu bertahan selama tiga ratus enam puluh lima hari.
"Selanjutnya, Pasal dua yaitu Hak dan Kewajiban Finansial." Jefri membalik halaman berikutnya.
"Selama masa kontrak, seluruh biaya perawatan medis pasien Agra Savina di Rumah Sakit Internasional Alexander akan ditanggung penuh secara langsung oleh rekening pribadi Tuan Leon Gennadi Alexander selaku Pihak Pertama. Selain itu, Nona Alina akan menerima tunjangan bulanan sebesar seratus juta yang bisa di gunakan untuk biaya operasional pribadi, penampilan, dan kebutuhan sehari-hari sebagai istri rahasia. Semua aset, rumah, kendaraan, atau perhiasan yang diberikan selama pernikahan adalah milik Pihak Pertama dan wajib dikembalikan dalam kondisi semula setelah kontrak berakhir." ucap Jefri.
"Saya tidak butuh tunjangan sebesar itu, Pak." sela Alina tiba-tiba, matanya menatap Leon dengan cemas.
"Asalkan biaya rumah sakit Agra aman, saya bisa mencari uang makan saya sendiri seperti biasa. Saya tidak mau dianggap memanfaatkan situasi." seru Alina.
Leon yang sejak tadi bersandar santai sambil mengamati Alina, mendengus pelan. Ada binar meremehkan di matanya.
"Alina, dengar. Setelah ini kamu akan tinggal di salah satu propertiku. Kamu tidak akan punya waktu lagi untuk keliling kota mengantar burger atau menjadi badut di lokasi syuting. Pakaianmu, penampilanmu, bahkan caramu berbicara harus disesuaikan. Uang itu bukan hadiah, itu adalah biaya operasional agar kamu tidak memalukan namaku saat berada di depan keluargaku. Jadi, simpan protesmu." Leon menyela dengan ketus.
Alina terdiam, bibirnya rapat menahan rasa tersinggung. Namun, dia tahu dia tidak punya posisi untuk mendebat pria di depannya.
Jefri melanjutkan tanpa terganggu oleh interupsi tadi. "Kita masuk ke Pasal tiga, ini adalah poin yang paling krusial yaitu Batasan Perilaku dan Kontak Fisik. Selama satu tahun ke depan, Nona Alina diwajibkan tinggal bersama Tuan Leon di penthouse pribadi yang telah ditentukan untuk menciptakan kesan pernikahan yang nyata bagi keluarga besar Alexander yang sewaktu-waktu bisa datang memeriksa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada kewajiban hubungan suami istri secara batin atau kontak fisik yang intim, kecuali jika situasi di depan keluarga besar Alexander menuntut adanya formalitas seperti bergandengan tangan atau kecupan di pipi demi meyakinkan mereka." ujarnya.
Mendengar frasa 'tidak ada hubungan suami istri', Alina diam-diam menghela napas lega yang amat sangat. Setidaknya, harga dirinya sebagai seorang wanita tidak sepenuhnya diinjak-injak dalam transaksi ini.
"Dan sebagai tambahannya," suara Jefri memberat, memberikan penekanan pada kata-katanya.
"Pihak Kedua dilarang keras mengembangkan perasaan romantis, jatuh cinta, atau menuntut keterikatan emosional apa pun kepada Pihak Kesatu. Pernikahan ini murni hubungan kerja. Pelanggaran terhadap batasan emosional ini yang memicu ketidaknyamanan Tuan Leon akan dianggap sebagai pelanggaran kontrak sepihak."
Alina hampir ingin tertawa getir mendengar pasal tersebut.
'Jatuh cinta pada pria arogan dan sedingin es ini?'
Dia tidak segila itu. Hidupnya sudah terlalu melelahkan untuk ditambah drama romansa tak berbalas dengan seorang konglomerat.
"Anda tidak perlu khawatir tentang hal itu, Tuan Alexander." kata Alina, menatap langsung ke dalam manik mata Leon yang kelam.
"Tujuan saya di sini hanya untuk kesembuhan adik saya. Setelah satu tahun, saya akan pergi tanpa membawa sepeser pun uang tambahan atau perasaan apa pun." tegasnya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣