"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran Pertama
Dayang yang bertugas di dapur melangkah perlahan. Meninggalkan keributan yang terjadi di area gudang.
Wanita itu berjalan lebih dalam, kemudian bertemu dengan dayang lainnya. Dayang yang ditugaskan oleh permaisuri untuk memantau keadaan.
Dayang yang bertugas di dapur itu berbisik kepada salah satu dayang permaisuri. Dayang permaisuri kemudian memberikan kantong berisikan perak kepadanya. Ini hanya untuk mendapatkan informasi. Sama sekali tidak untuk apapun.
Dayang permaisuri kemudian kembali melangkah menelusuri lorong. Melangkah dengan cepat menuju istana Phoenix.
Wanita itu mengetuk pintu, kemudian memasuki kamar permaisuri.
“Hamba memberi hormat kepada yang mulia permaisuri.” Sang pelayan menunduk memberikan salam.
Permaisuri yang baru saja terbangun masih menguap. Wanita itu bahkan tengah dilayani untuk membasuh wajahnya.”Ada apa pagi-pagi begini? Benar-benar berisik.”
“Ada kabar penting yang mulia permaisuri. Apa yang mulia tahu? Pagi ini selir Agung benar-benar terlihat pucat ketakutan.” Itulah yang diucapkan oleh sang dayang.
Permaisuri mengangkat sebelah alisnya. Wajahnya tersenyum sudah menduga semua ini akan terjadi.
“Lalu…apa dia menangis?” Permaisuri benar-benar antusias untuk mendengarkan semuanya.
Sedangkan pangeran yang baru saja terbangun, diikuti oleh seorang dayang mendekati ibundanya.
“Ibunda, semalam aku bermimpi. Aku bermimpi ada orang yang ingin membunuh ibunda.” Anak itu menangis sesegukan.
“Karena itu Lian harus menjadi lebih kuat. Nah, sekarang Lian duduk di sini, dan dengarkan apa yang ibunda bicarakan dengan dayang ini. Simak baik-baik, bagaimana jadinya kalau Lian salah mengambil keputusan dan ingin mengambil keuntungan lebih.”
Anak itu mengangguk polos, mengikuti keinginan ibundanya. Matanya menatap ke arah sang dayang.
“Yang mulia permaisuri, selir Agung sama sekali tidak menangis. Lebih tepatnya terlalu gemetaran bahkan untuk menangis.” Pelayan itu menceritakan semuanya penuh senyuman. Tentu saja mereka yang berada di istana Phoenix semuanya berpihak kepada permaisuri.
“Itu semua karena perbuatannya sendiri. Lian, kamu tahu apa kesalahan selir Agung, dia tidak pernah mendengarkan saran orang lain. Hanya memikirkan apa yang dirinya yakini sendiri. Begitu serakah dan bodoh. Ibunda dan kakekmu juga pamanmu, semuanya memiliki hubungan baik dengan Serikat dagang di luar kekaisaran. Karena itu, Serikat dagang keluarga Li dapat menjadi Serikat dagang terbesar di kekaisaran. Amat sangat tidak mungkin anggaran yang begitu minim untuk mempersiapkan pesta megah. Karena ada beberapa hal yang harus mengutamakan kualitas. Seperti makanan, itu adalah hal dasar yang paling penting. Lian harus ingat hal itu.” Kalimat yang diucapkan oleh permaisuri kepada putranya.
“Tapi—” Lian mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Jika seseorang keracunan atau sakit perut, hal itu dapat menyebabkan perang antara dua negara. Apakah pertunjukan yang jelek dan tidak bagus, bisa menyebabkan perang?” Pertanyaan dari sang Ibu membuat putranya lebih mengerti.
“Benar, tempat yang paling harus dilindungi adalah dapur. Barulah memulai ke tempat lainnya. Itukah maksud Ibunda?” Kalimat yang dijawab dengan anggukan kepala oleh sang permaisuri.
“Tapi, Lian harus ingat satu hal. Saat perjamuan nanti, seburuk apapun rasa makanannya. Lian harus tetap makan walaupun sedikit, karena ibunda juga akan makan. Tapi kita sudah menyiapkan tabib untuk semuanya.” Permaisuri tersenyum kepada putranya.
Anak yang berkedip tidak mengerti.”Ibunda, kalau sudah tahu ada masalah dalam makanannya. Kenapa kita harus tetap makan untuk mempertaruhkan nyawa?”
“Karena kalau tidak makan makan nyawa kitalah yang akan dihabisi. Selir Agung akan menunjuk kepada kita, mengatakan kita yang meletakkan racun ke dalam makanan. Sebagai bukti kita tidak keracunan dan tidak memakan apapun. Dengan begitu Kaisar bebas menjatuhkan hukuman mati kepada kita. Dalam artian, jika kita tidak makan itu artinya kita sudah pasti mati. Tapi kalau kita makan, kemungkinan kita untuk hidup akan lebih besar. Karena Ibu sudah menyiapkan banyak tabib.” Permaisuri mengatakannya dengan ucapan yang begitu ringan.
“Tapi Ibunda, aku benar-benar tidak apa-apa. Kalau…kalau meracuni ibunda dan kemudian ibunda…” anak itu menunduk ketakutan.
“Kamu begitu menggemaskan, tidak peduli pada nyawa sendiri. Malah peduli pada nyawa orang lain.”
“Tentu saja, tanpa ibunda Aku tidak akan bisa tertawa aneh.”
Permaisuri menghela nafas.”Lian, dengarkan kata-kata Ibunda baik-baik. Untuk memperoleh kekuasaan kamu harus mengorbankan sesuatu. Karena ketika mendapatkan kekuasaan itu kamu dapat melindungi banyak hal. Tapi jika kamu harus mengorbankan sesuatu, Jangan pernah mengorbankan orang yang setia dan menyayangimu. Kamu mengerti?”
Anak kecil yang mengangguk polos. Permaisuri mencubit pipinya gemas.
Wanita yang kemudian menghela nafas, tertawa jahat.”Hari ini, selir Agung akan mampus…ha…ha…ha … ha….ha…”
Tawa yang pada akhirnya diikuti oleh putranya.”Ha… ha…ha… ha…”
***
Menggunakan mahkota Phoenix, penampilannya begitu cantik. Pakaian yang begitu indah, benar-benar dengan warna hitam yang memukau. Bertambah mewah, ketika berpadu dengan sedikit warna merah. Ditambah dengan sulaman benang emas berbentuk burung Phoenix.
Tentu saja pangeran kelima, menggunakan pakaian yang senada dengan ibunya. Wanita yang tersenyum menatap ke arah putranya yang begitu tampan.
Mungkin hanya satu hal baik yang diwariskan oleh kaisar kepada putranya ini. Hanya wajah tampan saja…
Anak yang begitu manis, melangkah bersama ibunya. Lebih tepatnya tidak menggenggam jemari tangan ibunya, hanya mengikutinya.
Menatap ke arah ibunya yang terlihat begitu anggun. Riasan yang begitu indah, ibundanya memang adalah wanita tercantik di kekaisaran.
Hingga langkahnya terhenti. Raut wajah ibundanya berubah, dari yang pada awalnya begitu segar menjadi begitu layu.
“Hamba memberi hormat kepada yang mulia Ibu suri.” Sang permaisuri menunduk kepada Ibu mertuanya.
“Aku dengar-dengar pangeran kelima melukai pangeran pertama. Kamu benar-benar tidak bisa diharapkan untuk mendidik seorang pangeran.” Kalimat yang diucapkan oleh ibu Suri penuh penekanan.
“Ampuni hamba yang mulia Ibu suri, itu karena Kaisar begitu jarang menghabiskan waktu di istana Phoenix. Hamba menjadi begitu putus asa dan kesepian. Karena melihat wajah pangeran kelima yang begitu mirip dengan yang mulia Kaisar, hati hamba tersentuh untuk mengadopsinya. Sebagai putra sah hamba.” Kalimat demi kalimat yang penuh dengan nada ceria.
Ibu Suri menghela nafas bagaikan berusaha untuk bersabar. Tentu saja wanita tua ini menyadari situasi. Keluarga Lin masih berkuasa, tidak ada alasan untuk bermusuhan dengan permaisuri saat ini.
Mereka melangkah menyusuri koridor, menuju tempat perjamuan pesta akan diadakan.
“Selir Agung menyiapkannya dengan begitu baik. Bahkan dengan pendanaan yang minim, berbeda dengan seseorang yang tidak dapat melakukannya dengan baik. Seharusnya ulang tahun Kaisar sebelumnya, diatur oleh selir Agung saja. Agar bisa mengadakan pesta yang lebih meriah.” Ibu Suri bagaikan ingin menyindirnya.
“Maafkan hamba yang mulia Ibu suri. Itu adalah kelemahan hamba, mungkin karena hamba terlalu lama di perbatasan. Hingga tidak memahami harga barang di ibukota.” Masih saja permaisuri dapat menjawab dengan begitu tenangnya.
Wajah Ibu Suri berkerut, seharusnya wanita ini merasa terhina. Kemudian merasa bersalah dan bersujud meminta maaf kepadanya. Meminta untuk dibimbing menjadi wanita yang lembut, berbudi luhur, seperti selir Agung.
Tapi entah kenapa perilakunya berubah. Dihina bagaikan tidak tumbang, itulah sialnya.
Tanpa disadari oleh ibu suri, senyuman di wajah permaisuri sedikit memudar.
hayu pangeran kecil,segera beraksi
biar kapok kaisarnya
enak bener dah sekian purnama di anggurin tiba2 minta jatah dengan alasan tidak tega melihatmu dihina
lanjut KK author,semangat💪
kasian amet Krisan dapat barang bekas🫣🤣🤣
jgn lah
jangan biarkan ibundamu di temani si kaisar
hayo bersiasat