"Kau hanyalah sebatas istri pengganti!"
Clara Lyman terpaksa mengubur keinginannya karena paksaan dari orang tuanya untuk menggantikan sang kakak yang kabur dari pernikahan.
Calon kakak iparnya, Keenan Gibson, merasa ditipu dengan keluarga Clara!
Namun, karena pesta pernikahan sudah di depan mata dan tidak ingin mempermalukan keluarga, Clara dan Keenan akhirnya memutuskan menikah.
Setelah menikah, perlakuan Keenan dingin pada Clara. Namun, Clara tak gentar untuk membuat sang suami menerima dirinya. Masalah kian rumit ketika kakak Clara datang kembali dan ingin merebut Keenan. Di samping itu, benih-benih cinta sudah muncul di hati Clara pada Keenan.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Clara? Akankah Clara memperjuangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackCat61, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Hukuman Untuk Istri Nakal
“Apa maksudmu?” tanya Clara dengan tatapan bingung.
“Bukankah itu benar? Kau belum memaafkanku atas apa yang terjadi di masa lalu,” jawab Gibran
Clara menghela napas kasar. “Aku tak ingin membahas masa lalu. Tolong,” timpal Clara
Saat Gibran ingin kembali berkata, Lucas langsung memegang bahu Gibran seraya menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Gibran jadi tak berucap lagi. Tapi, ia ingin mengatakan sesuatu.
“Maafkan aku. Aku hanya tak ingin kau bersikap acuh saja padaku,” balas Gibran
Clara hanya diam saja. Suasana di antara keempat orang itu menjadi canggung.
“Ehm, oh ya Lucas. Apa kau tak akan mengadakan pesta ulang tahun kali ini?” tanya Aida tiba-tiba.
Lucas tahu jika Aida sengaja ingin menanyakannya hal itu untuk mencairkan suasana yang sedang tegang di antara mereka.
“Oh Iyah! Tentu saja, kan aku tetap melakukannya setiap tahun. Apalagi ini di umurku yang kedua puluh. Clara, kau harus datang yah nanti,” ujar Lucas menatap ke arah Clara yang sedari tadi hanya terdiam.
Clara langsung melirik ke arah Lucas. “Aku enggak bisa janji yah kalau aku akan datang,” jawab Clara
Aida merangkul bahu Clara. “Kau emang tak bisa janji. Tapi aku akan buat kau tetap datang nanti,” timpal Aida dengan senyum yang lebar.
“Nah, gitu dong. Pokoknya kalian berdua harus datang. Enggak lengkap tau kalau kalian tak datang. Lagipula, Mama sudah kangen dengan anak perempuannya ini,” tambah Lucas yang ikutan tersenyum lebar.
Mendengar hal itu membuat Clara tersenyum tipis. Mamanya Lucas memang sangat baik padanya.
“Sampaikan salamku pada Mama. Aku juga kangen dengannya,” ujar Clara
“Kalau kau kangen, kau harus menemuinya lah. Kenzie juga kangen tau denganmu,” balas Lucas
Clara mengangguk pelan. “Iyah, aku pasti akan menemui semuanya,” ucap Clara
Seorang pelayan datang dan memberikan pesanan yang mereka pesan tadi.
Clara mulai meminum Chamomile tea yang ia pesan. Entah mengapa, sejak Axel mengenalkannya pada teh bunga ini, ia jadi doyan untuk meminumnya terus.
“Aku benar-benar penasaran deh. Kenapa tiba-tiba kau menyukai teh? Padahal kau sangat tidak menyukainya,” komentar Aida
Baik Lucas dan Gibran nampak penasaran juga dengan jawaban dari Clara. Clara hanya bisa menghela napas pelan.
“Apakah itu salah jika aku menyukai teh?” tanya Clara
“Bukan gitu tau. Enggak salah. Hanya saja, kau tiba-tiba menyukai teh. Kami hanya jadi penasaran saja. Kenapa?” tanya Aida balik.
Clara memikirkan jawaban yang sesuai untuk ia katakan pada teman-temannya itu. Ia tak mau mengatakan yang sebenarnya pada mereka tentang adik dari Keenan. Nanti saja, tunggu waktu yang sesuai saja.
“Hmm, hanya tiba-tiba ingin mencobanya saja. Aku baca di internet kalau Chamomile tea ini bisa membuat pikiran tenang. Aku mencobanya dan ternyata aku malah ketagihan,” jelas Clara
Mereka bertiga kompak menganggukkan kepalanya paham.
“Tapi, kau masih menyukai ini kan?” tanya Gibran sambil menunjukkan sesuatu di depannya.
Sontak Clara tertegun melihat sebuah permen lolipop di sana. Itu bukan hanya sekedar permen lolipop saja. Melainkan itu adalah permen yang sering ia makan saat masih SMA dulu. Permen itu tak pernah absen di dalam kantong seragamnya. Dan orang yang membuat ia menyukai permen lolipop itu adalah pria di hadapannya. Karena pria ini yang akan selalu menyemangatinya dengan permen itu. Tapi, saat ini keadaan sudah benar-benar berubah.
“A-Aku....”
“Aku tau kau masih membenciku. Tapi, kau tak boleh membencinya. Si manis tak salah apa pun,” potong Gibran seraya menyerahkan lolipop itu.
Dengan perlahan Clara menerimanya. Senyum tipis terbit di wajahnya. “Terima kasih. Aku sudah lama tak melihat permen ini,” balas Clara
Gibran terlihat sangat senang karena Clara mau menerima pemberian darinya. “Si manis kangen tau denganmu,” timpal Gibran terkekeh pelan.
Hal itu membuat Clara terhibur. “Si Manis”, nama yang ia gunakan untuk memanggil lolipop itu.
Aida dan Lucas saling pandang dengan senyuman lega di hati keduanya.
“Clara aja nih yang dikasih. Aku enggak dikasih juga nih,” sindir Aida
“Permen ini tak mau denganmu. Dia hanya mau dengan Clara aja,” timpal Gibran
“Ihh, dasar pelit!” keluh Aida dengan pipi yang ia gembungkan.
Baik Clara dan Lucas tertawa melihat pertengkaran keduanya. Yang biasanya memang akan berseteru setiap ketemu.
“Eh, Clara. Tunggu!” sahut Gibran yang tiba-tiba memajukan tubuhnya pada Clara.
Ketiga orang itu terkejut melihat apa yang dilakukan Gibran. Terutama Clara yang kini diam terpaku ketika Gibran menyentuh di dekat matanya. Wajah Gibran saat ini sangat dekat dengannya. Wajah tampan yang dulu sering membuat jatungnya berdetak dengan cepat.
“Clara Gibson”
Sontak mereka semua menolehkan wajah mereka pada sosok yang saat ini berdiri menjulang di dekat mereka. Clara langsung melebarkan matanya melihat sosok Keenan yang saat ini menatap datar padanya.
Aida pun sudah gugup saat ini. Ia khawatir Clara akan terkena amarah sang suami.
“K-Kak Keenan?! Kok ada di sini?” tanya Clara yang langsung bangkit dari duduknya. Kenapa saat ini merasa seperti seseorang yang kepergok tengah berselingkuh?
Keenan melipat kedua tangannya. “Kau....”
“Clara, dia siapamu?” tanya Gibran tiba-tiba yang ikut bangkit dan berdiri di samping Clara.
Lucas menepuk jidatnya pelan. Ia belum sempat mengatakan yang sebenarnya pada Gibran tentang kondisi Clara yang sudah menikah. Aida langsung menatap ke arah Lucas. Lucas hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Aida.
Clara cukup terkejut karena ia pikir Gibran sudah tahu tentang pernikahannya. Ternyata pria itu tak tahu yang sebenarnya.
Keenan tersenyum miring. Dengan cepat ia menarik tangan Clara dan langsung memeluk pinggang istrinya itu. Clara cukup tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Keenan yang cenderung tiba-tiba itu.
“Kau mau tau aku siapa? Dengar ini baik-baik. Pasang telingamu itu agar kau tau caranya bersikap. Aku adalah suaminya. Suami dari Clara,” jelas Keenan
Sontak Gibran melebarkan matanya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Enggak! Ini pasti hanya tipuan kan? Clara, yang dikatakannya itu tidak benar kan? Dia bukan suamimu kan?” tanya Gibran
Clara menatap ke arah Gibran. “Dia benar! Dia adalah suamiku. Aku sudah menikah dengannya tiga bulan yang lalu,” jawab Clara
Gibran menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Clara.
“Kau sudah mendengarnya bukan? Ayo, istriku. Kita pergi,” ucap Keenan seraya menarik tangan Clara untuk pergi dari sana.
Aida tak bisa membantu Clara karena ia akan terlalu ikut campur nanti.
“Kenapa kau tak cerita jika Clara akan menikah? Jika aku tau dia akan menikah, aku pasti akan langsung pulang ke Indonesia dan menghentikan pernikahan itu. Aku pasti akan membawa Clara pergi,” geram Gibran dengan tangan yang mengepal.
Lucas bangkit dari duduknya. “Percuma Gib! Kalau aku kasih tau hal ini juga tak akan merubah apa pun. Asal kau tau, pernikahan ini bukan keinginan Clara. Harusnya kakaknya yang menikah. Tapi karena kakaknya kabur, Clara yang menggantikannya. Kau tak akan bisa menghentikannya. Karena Clara pasti lebih memilih keluarganya sendiri,” lapar Lucas
Gibran langsung menatap ke arah Lucas. “Jadi, ini bukan keinginannya bukan? Baguslah! Aku akan meyakinkan Clara agar mau pergi denganku. Dia tak akan bahagia bersama pria itu. Karena kebahagiaan Clara, ada bersamaku,” timpal Gibran seraya beranjak dari sana.
Aida memukul lengan Lucas hingga membuat pria itu meringis. “Hei, kenapa kau tiba-tiba memukulku?” protes Lucas
“Kau itu sih. Kenapa kau harus kasih tau ke Gibran tentang masalah pernikahan paksa ini. Kau kan tau bagaimana sifat Gibran. Aku yakin saat ini Gibran akan membuat Clara bersama dengannya. Gibran pasti akan membawa Clara pergi bersama dengannya,” keluh Aida
“Bukanlah itu bagus jika Gibran membawa Clara pergi? Clara pasti tak bahagia dengan suaminya itu. Mereka beda jauh tau. Mereka berbeda tujuh tahun,” timpal Lucas
Aida menepuk jidatnya pelan. “Kau ini enggak mengerti sama sekali yah. Ini akan menjadi masalah tau. Apa kau enggak tau seberapa pengaruhnya keluarga Gibson di sini? Mereka pasti tak akan membiarkan menantu mereka pergi tau,” balas Aida
“Kau benar juga. Aku akan membicarakan hal ini pada Gibran nanti,” ucap Lucas yang baru mengingat seberapa kuat keluarga Gibson.
Sedangkan di lain tempat, terlihat Keenan yang terus menarik tangan Clara saat mereka sudah sampai di rumah mereka.
“Hentikan jalannya! Aku capek tau!” protes Clara karena Keenan terus menarik paksa tangannya.
Keenan seakan menulikan telinganya. Ia terus saja menarik tangan Clara.
“Keenan berhenti!” teriak Clara dengan keras.
Akhirnya Keenan menghentikan langkahnya. Tapi, itu hanya sebentar saja. Karena Keenan langsung mengangkat Clara seperti karung beras untuk naik ke atas tangga.
“Ahhh! Kak Keenan hentikan!” jerit Clara sambil memukul berkali-kali punggung pria itu. Namun, Keenan tak menggubrisnya sama sekali.
Di bawah sana, Bibi Nani tak bisa berbuat apa-apa. Ia lebih memilih untuk tak ikut campur kali ini. Karena ini adalah masalah rumah tangga keduanya.
Keenan membuka pintu kamarnya dan membanting tubuh Clara di ranjangnya.
“Ahh! Kak Keenan, apa yang kau....”
Ucapan Clara terhenti kala wajah Keenan yang sangat dekat dengannya. Apalagi tatapan Keenan yang menunjukkan ekpresi yang sangat sulit ia tebak.
“A-Ada apa?” tanya Clara
“Apa tak cukup satu, hm?” tanya Keenan sambil mengelus pipi Clara dengan pelan.
Clara mengeryitkan dahinya. “Ma-Maksudnya?”
Keenan menghela napas kasar. Ia menundukkan kepalanya sejenak. “Aku benar-benar tak mengerti kenapa aku seperti ini. Kenapa aku sangat tak suka jika kau berdekatan dengan pria lain?! Sudah cukup kau dekat dengan Axel, sekarang siapa lagi itu? Kenapa kau sangat suka membuat perhatian untuk pria lain?” geram Keenan dengan tatapan kesal.
Clara tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Keenan. Ia langsung mendorong tubuh Keenan untuk menjauh. “Apa maksudmu aku yang mencari perhatian? Aku tak melakukan itu tau. Untuk Axel, kau sudah tau sendiri alasannya apa aku bertemu dengannya. Dan untuk yang tadi, dia itu teman SMA ku. Lagipula, untuk apa kau peduli. Bukankah kita sudah berjanji untuk....”
“Hmmphhh!”
Sontak Clara melebarkan matanya kala tiba-tiba Keenan mencium tepat di bibirnya. Keenan menciumnya begitu menggebu hingga membuatnya tak bisa bernapas dengan baik.
Saat Clara ingin mendorong tubuh Keenan untuk menjauh, dengan cepat Keenan mengangkat kedua tangan Clara untuk ia genggam dengan satu tangannya.
Keenan memaksakan lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Clara yang hangat. Clara awalnya tak mau membuka mulutnya itu, tapi Keenan langsung menggigit kecil bibir Clara hingga membuatnya membuka mulutnya itu. Keenan menerobos masuk ke dalam mulut Clara dan mengeksplor isi di dalamnya.
“Hen-Hentikan....”
Keenan melepaskan pagutan bibir itu ketika melihat Clara yang sudah hampir kehabisan napas. Saat itu selesai, Clara langsung menarik napas yang dalam-dalam. Napasnya terengah-engah. Hal itu malah terlihat seksi di mata Keenan.
Keenan melepaskan pegangan tangannya pada tangan Clara. Ia mengelus wajah istrinya itu.
“Jangan dekat dengan pria manapun. Aku tak suka,” lirih Keenan dengan suara berat.
“Kenapa kau mengatakan hal itu? Hah, hah, kau kan tak suka denganku? Kita sudah janji....”
Jari Keenan ditaruh di depan bibir Clara. “Aku tak mau mendengarnya. Jangan mengatakan hal itu. Tetap saja aku ini suamimu. Karena kau sudah dekat dengan pria lain. Aku akan memberikan hukuman padamu,” jelas Keenan dengan tatapan yang berubah tajam.
Sontak Clara melebarkan matanya. “A-Apa maksudnya dengan hukuman?! Aku tak melakukan kesalahan apa pun tau,” protes Clara yang tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Keenan.
“Kau sudah disentuh dengan pria lain. Jadi, aku ingin mensterilkan dirimu dulu,” tukas Keenan dengan senyum miringnya.
Senyum miring itu membuat Clara bergidik ngeri. Ia merasakan ada sesuatu yang tak beres saat ini.
“A-Aku lapar. Bisakah aku makan dulu?” pinta Clara dengan wajah memohon.
Keenan tertegun melihat ekspresi Clara yang seperti kucing kecil yang lucu. Tapi ia langsung menggelengkan kepalanya kuat. Ia tak boleh goyah saat ini. Ia harus memberikan hukuman pada istri nakalnya ini.
“Tapi, aku juga lapar tau sayang,” timpal Keenan dengan wajah yang memohon pula.
Clara ikutan tertegun kalau melihat wajah Keenan yang sangat imut. Ia tak pernah melihat wajah Keenan yang seperti itu. Ia jadi agak goyah saat ini.
“Ka-Kalau gitu, kita makan sama-sama aja yuk,” ajak Clara
Keenan tiba-tiba mendekati wajah Clara. Membuat Clara langsung menutup matanya.
“Tapi, aku ingin memakan dirimu saja,” bisik Keenan tepat di telinga Clara.
Hal itu membuat telinga Clara meremang karena napas Keenan yang hangat. “Ta-Tapi, aku bukan makan....”
“Hmphh!”
Ucapan Clara terhenti kala bibirnya dibungkam oleh Keenan. Keenan kembali mencium bibir Clara. Tapi kali ini lebih lembut. Keenan ******* bibirnya dengan pelan. Tangan Keenan mulai bergerak memasuki pakaian Clara dan membuka kaitan di tubuh istrinya itu.
Clara yang terbuai dengan permainan di bibirnya, tanpa sadar sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Keenan. Melihat Clara yang menikmati permainannya, membuat Keenan tersenyum di sela permainan bibirnya itu.
Ia membuka kaus yang dikenakan Clara dan membuangnya sembarang arah. Clara menyilangkan tangannya di depan dada. Ia bahkan menundukkan wajahnya karena malu.
“Jangan menutupinya. Kau punya tubuh yang bagus kok. Aku menyukainya,” lirih Keenan yang membuat Clara memandang terkejut padanya.
Keenan mencium kening Clara. Ia mulai beraktivitas kembali untuk mensterilkan istrinya itu. Hingga suara erangan dan ******* memenuhi kamar itu.