Di tengah kemiskinan setelah menjual segalanya demi membantu ibu mendiang sahabatnya, takdir membawanya pada sebuah keajaiban.
Sebuah gulungan lukisan leluhur yang tak sengaja terkena tetesan darahnya membuka gerbang menuju dimensi lain—sebuah "Ruang Peta Spiritual".
Di sana, waktu berjalan sepuluh kali lebih cepat. Mata airnya mampu menyembuhkan penyakit mematikan, dan tanahnya dapat mengubah tanaman layu menjadi harta karun bernilai miliaran!
Dari seorang gelandangan di kawasan kumuh menjadi taipan pertanian yang disegani. Xia Ruofei memulai hidup barunya: menanam sayuran kualitas dewa, memulihkan tubuhnya, dan menghajar mereka yang berani meremehkannya.
Inilah kisah sang Raja Tentara yang beralih profesi menjadi Petani Legendaris!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukma Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Penyakit Kritis
Xia Ruofei tertawa dan berkata, "Gadis kecil ini cukup pintar! Kau menebaknya dengan sangat cepat!"
Xia Ruofei tahu banyak tentang Lin Qiao, tentu saja melalui Lin Hu (Hu Zi). Saat di tentara, Xia Ruofei dan Lin Hu adalah saudara seperjuangan terbaik, dan Lin Hu sangat menyayangi adiknya. Mereka berdua sering membicarakan adik Lin Hu saat sedang mengobrol.
Lin Qiao biasanya bersekolah di SMA di kota kabupaten. Terakhir kali Xia Ruofei datang ke Desa Pulau Kecil, mereka berdua tidak sempat bertemu.
Sedangkan Lin Qiao, dia secara alami belum pernah melihat Xia Ruofei sebelumnya.
Namun, saat Hu Zi mengirim foto ke rumah dulu, ada foto Xia Ruofei bersamanya. Meskipun beberapa tahun telah berlalu dan Xia Ruofei sudah lama kehilangan penampilan mudanya sebagai rekrutan baru, Lin Qiao masih merasa wajahnya agak familier.
Selain itu, Xia Ruofei baru saja mengatakan begitu banyak tentang dirinya. Terlebih lagi, dia mendengar dari ibunya bahwa Xia Ruofei pernah datang ke Desa Pulau Kecil belum lama ini, jadi Lin Qiao dengan cepat menebak identitas Xia Ruofei.
Setelah memastikan identitas Xia Ruofei, Lin Qiao tentu saja sangat gembira. Namun, dia segera menyadari sesuatu dan buru-buru berkata.
"Kak Ruofei! Cepat tinggalkan Desa Pulau Kecil! Zhong Qiang itu tiran di desa ini. Ayahnya juga kepala desa. Kalau Kakak menghajarnya, mereka pasti tidak akan melepaskan Kakak begitu saja!"
Xia Ruofei tersenyum acuh tak acuh dan berkata.
"Jangan bicara soal itu dulu. Lin Qiao, bukannya kau sekolah di kota kabupaten? Hari ini bukan akhir pekan. Kenapa kau ada di rumah? Selain itu, aku dengar dari para preman itu kalau penyakit ibumu sangat parah. Bukannya aku sudah mentransfer 500.000 yuan ke rekening Bibi? Kenapa kalian tidak pergi berobat?"
Meskipun uremia sangat berbahaya, jika seseorang rutin menjalani pengobatan, kondisinya seharusnya tidak memburuk secepat itu. Tentu saja, jika ingin sembuh total, dia tetap harus melakukan transplantasi ginjal. Jika tidak, itu hanya akan menjadi solusi sementara.
Mata Lin Qiao membelalak kaget.
"Kak Ruofei, jadi Kakak yang mentransfer 500.000 yuan itu? Sudah kuduga..."
Saat Xia Ruofei mentransfer uang itu, dia khawatir ibu Hu Zi akan menolak jumlah uang yang begitu besar, jadi dia mentransfernya secara anonim. Oleh karena itu, ibu Hu Zi dan Lin Qiao tidak tahu siapa pengirimnya.
Melihat ekspresi Lin Qiao, Xia Ruofei mendapat firasat buruk. Dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Kenapa? Bibi tidak menggunakan uang itu, ya?"
Lin Qiao tersenyum pahit dan berkata.
"Ibuku orangnya memang begitu... Uang itu berasal dari sumber yang tidak diketahui. Dia bilang mungkin orang lain salah transfer, jadi dia bersikeras tidak mau menggunakannya. Dia... Dia sudah tidak cuci darah selama sebulan..."
Pada titik ini, mata Lin Qiao mulai memerah.
"Ini... bukankah ini kesalahan besar? Bagaimana dia bisa bertahan begitu lama tanpa cuci darah?" Xia Ruofei berseru kaget. Lalu dia bertanya dengan gugup, "Bagaimana keadaan Bibi sekarang?"
"Tidak terlalu baik..." Dua tetes air mata jatuh dari mata Lin Qiao saat dia terisak. "Dia sudah terbaring di tempat tidur selama seminggu... Kak Ruofei, kalau ini terus berlanjut, aku takut ibuku tidak akan bisa bertahan lama..."
Xia Ruofei buru-buru menghiburnya.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa! Lin Qiao, dengan adanya aku di sini, Bibi akan baik-baik saja!"
Mendengar kata-kata Xia Ruofei, Lin Qiao yang tak berdaya tiba-tiba merasa memiliki sandaran. Emosinya yang gelisah perlahan mereda.
Saat ini, Lin Qiao teringat masalah Zhong Qiang dan buru-buru berkata.
"Kak Ruofei! Zhong Qiang pasti akan membalas dendam padamu. Kakak... sebaiknya Kakak pergi dulu! Kita bicarakan penyakit Ibu beberapa hari lagi..."
Xia Ruofei berkata dengan santai.
"Jangan khawatir, Gadis Kecil! Kalau Zhong Qiang itu berani datang lagi, aku tidak keberatan membiarkan dia mencicipi tinjuku lagi!"
Lin Qiao telah melihat tindakan heroik Xia Ruofei dengan mata kepalanya sendiri dan merasa lega mendengarnya.
Namun, dia masih khawatir. Bagaimanapun, ini adalah masyarakat yang diatur hukum. Banyak hal tidak bisa diselesaikan hanya dengan menjadi kuat.
Tidak hanya Zhong Qiang anak kepala desa, tapi dia juga punya paman yang menjadi pejabat di kantor polisi kota. Menurut Lin Qiao, ini dianggap latar belakang yang kuat. Bagaimana mungkin orang biasa mampu menyinggungnya!
Dia melirik Xia Ruofei dengan cemas. Melihat Xia Ruofei masih terlihat acuh tak acuh, dia tidak berani membujuknya lebih jauh. Dia dengan patuh mengikuti Xia Ruofei dan berjalan menuju rumahnya.
Segera mereka sampai di rumah di ujung timur desa.
Ini adalah rumah Hu Zi.
Rumah-rumah semacam ini pada dasarnya sudah punah di daerah pesisir yang ekonominya maju. Ini juga satu-satunya rumah seperti itu di Desa Pulau Kecil.
Dinding yang terkelupas, atap yang rusak, dan halaman yang bobrok semuanya mengungkapkan betapa miskinnya keluarga ini.
Dengan satu tangan memegang pikulan air, Xia Ruofei mendorong pintu halaman yang hampir roboh dan berjalan lurus ke halaman yang ditumbuhi rumput liar.
Dia pergi ke pintu dapur sederhana di sisi kanan rumah dan menuangkan kedua ember air ke dalam tong di bawah atap sebelum masuk ke dalam rumah bersama Lin Qiao.
Rumah itu dipenuhi barang rongsokan, dan cahayanya redup.
Namun, penglihatan Xia Ruofei tampaknya telah meningkat pesat setelah menyerap kelopak tiga warna. Dia tidak merasa tidak nyaman saat masuk dari luar yang terang.
Ada tempat tidur kayu usang di bagian dalam rumah. Ibu Hu Zi sedang setengah berbaring di atasnya, dengan dua bantal menyangga punggungnya.
Xia Ruofei segera melihat bahwa wajah ibu Hu Zi sangat pucat dan bengkaknya (edema) sangat parah. Dia berada di ambang kematian.
Mendengar langkah kaki, ibu Hu Zi mengira putrinya telah kembali. Dia mengerang pelan dan berkata dengan lemah.
"Qiao'er, kau sudah pulang?"
Xia Ruofei buru-buru melangkah maju dan berjongkok di depan tempat tidur.
"Bibi, ini aku!"
Ibu Hu Zi berjuang membuka matanya. Setelah melihat Xia Ruofei, dia memaksakan senyum dan berkata.
"Ternyata... Ruofei... Cepat... Duduklah..."
Melihat kondisi ibu Hu Zi seperti ini, Xia Ruofei hampir menangis saat bertanya.
"Bibi! Aku mengirimi Bibi uang. Kenapa Bibi tidak pergi cuci darah?"
Mendengar ini, ibu Hu Zi berjuang untuk duduk. Sambil terengah-engah, dia berkata.
"Jadi... jadi kau yang mentransfer uang itu... Nak... dari mana... dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Bibi... Jangan khawatirkan dari mana aku mendapatkan uangnya. Bibi sudah sakit parah begini. Kenapa tidak pakai uang itu untuk ke dokter dulu?" kata Xia Ruofei dengan hati pedih.
Pada saat yang sama, dia merasa semakin bersalah.
Jika dia tahu ini akan terjadi, dia akan datang kembali segera setelah mentransfer uang. Tidak peduli seberapa keras ibu Hu Zi menolak, bahkan jika dia harus menggendongnya ke rumah sakit secara paksa, penyakitnya tidak akan tertunda sampai tingkat yang begitu serius.
"Nak... kau baru saja pensiun dari tentara, dari mana kau dapat uang sebanyak itu? Jangan bilang kau..." Ibu Hu Zi jelas khawatir Xia Ruofei mengambil jalan yang salah dan bertanya dengan cemas.
"Bibi, aku menjual rumah beberapa hari yang lalu. Termasuk uang pesangunku, aku hanya berhasil mengumpulkan 500.000 yuan. Sama sekali tidak ada masalah dengan sumber uangnya!" Xia Ruofei buru-buru menjelaskan.
"Ah? Menjual rumah!" Ibu Hu Zi berkata dengan cemas. "Bagaimana bisa kau melakukan itu? Ruofei, kenapa kau begitu impulsif?"
Melihat ibu Hu Zi kesulitan bicara, Xia Ruofei buru-buru berkata.
"Bibi! Jangan bicara soal ini dulu... Aku mendengar tentang sebuah resep beberapa hari yang lalu. Katanya sangat efektif untuk uremia, jadi aku membuat obatnya dan membawanya ke sini. Minum obatnya dulu!"
Setelah berkata begitu, Xia Ruofei segera membuka tas militernya dan mengeluarkan botol berisi larutan kelopak bunga.