NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Lelaki Berseragam Hijau

Mengintimidasi adalah keahlian utama pria itu saat mengendalikan mobil dinas yang melaju sangat kencang menembus kegelapan malam. Setiap putaran kemudi terasa tegas dan pasti, seolah dia sedang mengarahkan bukan hanya mobil, melainkan seluruh hidup Maya yang tak berdaya. Maya Anindya membuang muka ke arah jendela samping dengan sisa isak tangis yang masih terasa sangat menyakitkan di dada, membuat dia sulit bernapas dengan normal. Di sampingnya, Arga Dirgantara mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih, menandakan ketegangan yang dia sembunyikan di balik wajah kaku itu.

"Berhenti menatap jendela seolah Anda sedang merencanakan pelarian yang sia-sia," ucap Arga Dirgantara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya datar namun penuh dengan ancaman tersembunyi, seolah dia bisa membaca pikiran Maya yang ingin melarikan diri.

Maya Anindya hanya terdiam sambil meremas ujung seragam sekolahnya yang sudah sangat kusut dan terkena noda air mata yang kering. Setiap sentuhan pada kain putih itu membuatnya teringat pada hari ini, hari di mana ayahnya pergi tanpa pamit, hanya meninggalkan perintah yang mengubah segalanya. Dia merasa seperti seorang tawanan perang yang sedang dibawa menuju benteng musuh yang sangat mengerikan, jauh dari semua yang dia kenal dan cintai. Keheningan di dalam mobil itu terasa sangat mencekam karena aroma wangi kayu cendana dari cologne Arga bercampur dengan bau minyak senjata yang khas dari seragamnya yang baru dipakai.

"Saya punya nama dan saya bukan bawahan Anda yang bisa Anda perintah sesuka hati!" jawab Maya Anindya dengan suara yang bergetar hebat. Semua kemarahan, kesedihan, dan kebingungan yang dia tahan sepanjang malam tiba-tiba meluap, membuatnya melawan meskipun hatinya berdebar kencang seperti akan meledak.

Arga Dirgantara mengerem mobil secara mendadak hingga tubuh gadis itu terdorong ke arah depan, hampir menabrak dasbor jika tidak ada sabuk pengaman. Gerakan itu sangat mengejutkan dan membuat Maya menangis lagi secara spontan, isak tangisnya memecah keheningan kabin. Pria itu kini menatap lurus ke dalam bola mata Maya Anindya dengan pancaran kemarahan yang sangat gelap dan dingin, seperti api yang dibekukan. Suasana di dalam kabin kendaraan itu mendadak menjadi sangat panas karena aura dominasi yang luar biasa dari sang perwira, membuat Maya merasa terkurung dan tertekan.

"Mulai detik ini, hidup Anda adalah tanggung jawab saya sepenuhnya dan Anda harus tunduk," tegas Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat rendah. Suaranya seperti guntur yang bergulir di kejauhan, namun kekuatannya cukup membuat Maya merasa kecil dan tak berdaya di hadapannya.

Gadis remaja itu hanya bisa terpaku saat menyadari bahwa pria berseragam hijau ini sama sekali tidak mengenal kata kompromi. Dia tidak punya pilihan selain mengikuti aturannya, setidaknya untuk sekarang sampai dia menemukan cara keluar. Mobil kembali melaju memasuki gerbang besar yang dijaga oleh dua prajurit bersenjata lengkap dengan sikap hormat yang sangat kaku, mereka menundukkan kepala saat mobil Arga lewat. Maya Anindya melihat deretan gedung tua yang tampak sangat angker di bawah sinar lampu temaram Markas Komando, dindingnya tebal dan dicat abu-abu, terlihat tak terlewati dan penuh rahasia.

"Turun sekarang dan jangan pernah membuat keributan yang akan memalukan pangkat saya," perintah Arga Dirgantara sambil membuka pintu mobil dengan kasar, membuat suara debum yang keras. Suaranya keras dan tidak bisa ditolak, menunjukkan bahwa dia tidak akan menerima penolakan apapun.

Maya Anindya melangkah keluar dengan kaki yang terasa sangat lemas dan gemetar saat melihat bangunan utama markas tersebut. Udara di luar sangat dingin dan penuh dengan bunyi langkah kaki prajurit yang teratur di kejauhan, serta bunyi sirine yang terdengar jarang. Dia tidak pernah menyangka bahwa rumah barunya adalah sebuah tempat yang penuh dengan aturan kedisiplinan yang sangat ketat, jauh dari suasana sekolah dan teman-temannya. Di ujung lorong yang gelap, di mana cahaya lampu hanya menyinari sebagian jalan, seorang pria lain dengan pakaian rahasia berwarna hitam tampak sedang menunggu kedatangan mereka dengan posisi rileks namun waspada dan senyum yang penuh rahasia.

 

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!