NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Bi Ijah asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di sana akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar yang sejak tadi sunyi setelah suara gaduh yang mengerikan.

Saat pintu yang tidak terkunci itu terdorong, Bi Ijah memekik histeris.

"Ya Allah! Ibu! Ibu Genata!"

Ia menemukan Genata tergeletak di lantai dengan mulut sedikit berbusa dan botol obat yang kosong berserakan di sekitarnya.

Dengan tangan gemetar, Bi Ijah segera menelepon ambulans dan menghubungi nomor Abi berkali-kali hingga akhirnya tersambung.

Di tepi pantai Uluwatu, Abi baru saja hendak menyuapkan potongan pencuci mulut ke mulut Liana saat ponselnya bergetar hebat di atas meja. Nama "Bi Ijah" muncul di layar.

"Halo, Bi? Ada apa?" tanya Abi dengan nada yang awalnya tenang.

Namun, detik berikutnya, wajah Abi berubah pucat pasi.

Tubuhnya menegang, dan sendok di tangannya terjatuh ke atas piring kristal.

"Apa?! Ibu kenapa?! Bawa ke rumah sakit sekarang! Cepat!"

Liana yang melihat perubahan drastis pada wajah Abi langsung merasa firasat buruk.

"Mas? Ada apa?"

Abi berdiri dengan tergesa-gesa, bahkan hampir menggulingkan kursi makannya.

Matanya menatap Liana dengan tatapan yang penuh kepanikan, ketakutan, dan rasa bersalah yang kembali muncul.

"Genata, Li. Genata mencoba bunuh diri. Dia kritis. Aku harus pulang sekarang juga!"

Liana tertegun mendengarnya dan jantungnya seolah berhenti.

"Tapi, Mas. Kita baru saja sampai. Kakiku masih sakit, dan—"

"Maafkan aku, Liana! Tapi nyawanya terancam!"

Abi tidak lagi mendengarkan. Ia segera memanggil Niluh untuk mengurus barang-barang dan kursi roda Liana, namun ia sendiri sudah melangkah cepat menuju mobil jemputan.

"Mas Abi! Jangan tinggalkan aku sendiri di sini!" teriak Liana, suaranya parau karena ingin menangis.

Abi berhenti sejenak, ia menoleh ke arah Liana yang duduk di kursi roda dengan kalung berlian yang baru saja ia berikan.

Ada pergulatan hebat di matanya, namun bayangan Genata yang sekarat karena ulahnya membuat ia kehilangan logika "keadilan"-nya lagi.

"Niluh akan menjagamu. Besok pagi supir akan mengantarmu ke bandara. Aku harus pergi sekarang agar bisa mengejar penerbangan terakhir malam ini!"

Tanpa menunggu jawaban Liana, Abi berlari meninggalkan area pantai.

Suara deru mobil yang menjauh menjadi penanda bahwa Liana kembali ditinggalkan.

Liana terpaku di tempatnya. Kalung berlian di lehernya yang tadi terasa hangat, kini terasa seperti besi dingin yang mencekik. Ia menatap sisa makanan mewah di depannya dengan tatapan kosong.

"Lagi-lagi dia menang, Mas," bisik Liana pahit.

"Hanya dengan satu botol obat, dia berhasil menarikmu kembali dan membuangku di sini seperti sampah."

Liana mencengkeram liontin berliannya hingga telapak tangannya sakit.

Air mata kemenangan Genata benar-benar telah memadamkan lilin kebahagiaan yang baru saja menyala di hati Liana.

Liana memegang ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat.Di tengah sunyinya dek kayu yang kini terasa sangat luas dan hampa, ia mencari nama Angela.

Hanya gadis itu satu-satunya harapan yang terlintas di kepalanya saat ini.

Begitu sambungan terhubung, pertahanan Liana runtuh sepenuhnya.

"Ang, bisa jemput aku?" suara Liana pecah, diikuti isak tangis yang menyesakkan dada.

"Li? Liana! Kamu kenapa? Kok nangisnya sampai sesenggukan begitu?" tanya Angela di seberang telepon dengan nada panik.

"Mas Abi, dia pergi, Ang. Dia tinggalin aku sendirian di sini demi Mbak Genata. Aku mohon, jemput aku..." Liana tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya.

Ia hanya bisa menangis, meratapi nasibnya yang selalu menjadi nomor dua.

Kebetulan yang sangat disyukuri, Angela ternyata memang sedang berada di Bali untuk urusan pekerjaan bersama Andre.

Mendengar kondisi sahabatnya yang hancur, mereka tidak membuang waktu satu detik pun.

"Tunggu di situ, Li! Jangan ke mana-mana. Aku sama Andre langsung ke villa sekarang juga!"

Kurang dari tiga puluh menit, suara deru mobil terdengar memasuki halaman villa.

Angela berlari masuk, diikuti Andre di belakangnya.

Mereka menemukan Liana masih terduduk di kursi roda di tepi dek, wajahnya sembap, dan tangannya mencengkeram erat selimut di pangkuannya.

"Ya Tuhan, Liana! Kurang ajar si Abi itu! Bisa-bisanya dia tinggalin kamu dalam kondisi kaki begini cuma karena drama bunuh diri itu!"

Liana hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu Angela, membiarkan air matanya membasahi baju sahabatnya.

Rasa sakit di kakinya tidak sebanding dengan perih di hatinya saat menyadari bahwa janji-janji manis Abi di bawah rembulan tadi hanyalah omong kosong yang langsung menguap begitu nama Genata disebut.

Andre menatap pemandangan itu dengan rahang yang mengeras.

"Ayo kita pergi dari sini, Li. Kamu nggak aman kalau cuma sendirian di sini dengan perasaan hancur kayak gini. Kita pindah ke hotel tempat aku sama Angela menginap."

Tanpa banyak bicara, Andre membantu mengangkat Liana dengan hati-hati ke dalam mobil, sementara Angela membereskan barang-barang penting Liana.

Malam itu, Liana meninggalkan villa kemewahan yang kini ia anggap sebagai penjara kenangan pahit, menuju perlindungan para sahabatnya, meninggalkan kalung berlian yang masih melingkar di lehernya sebagai saksi bisu pengkhianatan yang baru saja terjadi.

Di dalam mobil yang melaju membelah keheningan malam Bali, suasana terasa sangat berat. Angela memeluk bahu Liana yang masih sedikit bergetar, sementara Andre fokus menyetir dengan rahang yang masih mengeras menahan geram pada Abi.

"Li, kamu beneran nggak mau pulang ke rumah Mama Prameswari?" tanya Angela pelan, memastikan.

"Mama pasti khawatir kalau tahu kamu kayak gini, tapi dia juga bisa jagain kamu."

Liana menggelengkan kepalanya dengan lemah namun pasti.

Tatapannya kosong, menatap butiran air yang mulai turun membasahi kaca jendela mobil.

"Aku tidak mau pulang ke sana, Ang. Aku tidak mau Mama melihatku hancur lagi. Aku juga tidak mau Mama ikut campur dan akhirnya malah membujukku untuk memaafkan Mas Abi lagi karena alasan 'bakti' atau 'anak'," ucap Liana dengan suara parau.

Ia menoleh ke arah Angela dengan tatapan memohon.

"Aku ke rumahmu saja ya, Ang? Tapi aku mohon, rahasiakan ini dari Mama dan terutama dari Mas Abi. Biarkan dia pikir aku masih di Bali atau hilang sekalian. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan, seperti aku yang selalu merasa dibuang."

Angela dan Andre saling berpandangan sejenak melalui spion tengah.

Mereka bisa merasakan luka yang begitu dalam dari setiap kata yang diucapkan Liana.

"Oke, Li. Janji," ucap Angela mantap sambil menggenggam tangan Liana.

"Kamu akan tinggal di rumahku di Jakarta. Aku bakal suruh orang rumah buat siapin semuanya dan aku jamin nggak ada satu pun orang luar yang tahu kamu di sana. Andre juga bakal bantu jaga privasi kamu."

Andre menganggukkan kepalanya dan membantu mereka.

"Jangan khawatir, Li. Siapa pun yang mau ketemu kamu harus lewat aku dulu. Abi nggak akan bisa nemuin kamu kalau kamu belum siap."

Liana menyandarkan kepalanya ke kursi mobil, memejamkan mata perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit tenang. Bukan karena kemewahan yang diberikan Abi, tapi karena ia tahu ia memiliki orang-orang yang tulus berdiri di pihaknya tanpa syarat.

Sementara itu, di sebuah pesawat yang sedang terbang menuju Jakarta, Abi duduk dengan gelisah, tidak menyadari bahwa saat ia berusaha menyelamatkan satu nyawa di Jakarta.

Ia baru saja benar-benar kehilangan satu-satunya jiwa yang mulai tumbuh di hatinya.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!