"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Angin laut malam itu terasa jauh lebih tajam daripada biasanya. Di dermaga eksklusif Marina Jakarta, sebuah kapal pesiar mewah bernama The Seraphina bersandar dengan megah.
Cahaya lampu keemasan memantul di permukaan air yang gelap, menciptakan suasana yang intim namun mencekam. Kapal ini bukan sekadar simbol kekayaan. Malam ini, The Seraphina menjadi panggung bagi babak baru permainan gila Arka Mahendra.
Kirana turun dari mobil sedan mewahnya. Ia mengenakan gaun backless sutra berwarna hitam pekat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disanggul modern, menyisakan leher jenjang yang kini bersih dari noda semalam, namun memorinya masih terasa membara. Di tangannya, ia memegang sebuah undangan fisik berwarna perak dengan tulisan timbul. "Kembalinya Sang Pewaris - Malam Penebusan."
Begitu menginjakkan kaki di atas kapal, Kirana langsung disambut oleh musik jazz yang lembut dan aroma cerutu mahal. Namun, matanya hanya mencari satu sosok. Ia menemukannya di dek tengah, sedang berdiri membelakangi kerumunan, menatap laut lepas.
Arka mengenakan tuksedo hitam tanpa dasi, kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, memberikan kesan pemberontak yang berkelas. Saat ia berbalik dan melihat Kirana, matanya berkilat dengan intensitas yang membuat Kirana ingin berbalik lari sekaligus mendekat.
"Kau datang," ujar Arka. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara ombak, namun terdengar jelas di telinga Kirana.
"Aku datang untuk melihat apa lagi yang kau rencanakan, Arka. Jangan pikir bantuanmu di kantor proyek kemarin membuatku berhutang budi," sahut Kirana sambil melangkah mendekat, aroma parfum mawarnya menyatu dengan bau laut.
Arka mendekat, memperpendek jarak hingga Kirana bisa merasakan panas tubuh pria itu. "Malam ini bukan soal proyek, Kirana. Ini soal kita. Aku sudah mendapatkan kembali kapal ini, aset terakhir ayahku yang disita. Dan aku ingin kau menjadi orang pertama yang merasakannya bersamaku."
Arka meraih tangan Kirana, jemarinya mengelus pergelangan tangan wanita itu dengan gerakan yang sangat provokatif. Kirana mencoba menarik tangannya, namun Arka menggenggamnya lebih erat, menarik Kirana menuju area privat di lantai atas kapal.
Di dalam kabin utama yang sangat mewah, Arka mengunci pintu. Suara musik dari luar terdengar lamat-lamat. Kirana mulai merasa sesak. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu redup berwarna kuning temaram.
"Lepaskan aku, Arka! Apa yang kau lakukan?!"
Arka tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju sebuah meja dan menuangkan dua gelas wine merah. "Kau ingat apa yang kau katakan semalam? Bahwa itu adalah kesalahan? Bahwa kau membenciku?"
Arka memberikan gelas itu kepada Kirana, namun Kirana menepisnya hingga gelas itu jatuh dan pecah di lantai. Cairan merah pekat itu mengalir di atas permadani, tampak seperti darah.
"Aku membencimu karena kau selalu mempermainkan hidupku seolah ini adalah meja judi!" teriak Kirana.
Arka tiba-tiba mendorong Kirana ke dinding kayu kabin. Ia menekan tubuhnya ke tubuh Kirana, mengurung wanita itu dengan kedua tangannya. Napas mereka saling memburu.
"Kalau kau membenciku, kenapa kau mengenakan gaun ini? Kenapa kau memilih gaun yang menunjukkan bagian tubuh yang kusentuh semalam? Kau sedang menggodaku, Kirana. Kau sedang menantangku untuk melakukannya lagi."
"Kau gila!" bisik Kirana, matanya berkaca-kaca karena amarah dan gairah yang bergejolak.
"Ya, aku gila karenamu," balas Arka parau. Ia menunduk, mencium pundak Kirana yang terbuka dengan sangat lambat, membuat bulu kuduk Kirana meremang. Tangan Arka mulai merayap di pinggang Kirana, menarik kain sutra gaun itu sedikit ke atas. "Katakan padaku, Kirana... apakah Reno pernah menyentuhmu seperti ini? Apakah dia tahu bagaimana membuatmu gemetar hanya dengan napasnya?"
Kirana memejamkan mata, kepalanya mendongak ke belakang. Tangannya yang tadinya berniat mendorong Arka, kini justru meremas rambut pria itu. "Hentikan... Arka, jangan lakukan ini..."
"Kau tidak benar-benar menginginkanku berhenti," bisik Arka tepat di bibir Kirana.
Tepat saat ketegangan seksual mereka memuncak, suara teriakan dan keributan terdengar dari dek bawah. Suara kaca pecah dan hantaman keras merusak suasana intim mereka.
Arka segera melepaskan Kirana dan menyambar pistol yang ia sembunyikan di balik laci meja. Kirana terbelalak. "Arka? Apa yang terjadi?"
"Tetap di sini! Jangan keluar!" perintah Arka dengan nada yang sangat serius.
Arka membuka pintu dan berlari keluar. Kirana, yang tidak bisa diam saja, mengikuti dari belakang dengan hati yang berdebar kencang. Di dek bawah, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Beberapa pria bertopeng sedang menghancurkan dekorasi pesta. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri Roy.
Roy memegang sebuah botol alkohol yang sudah pecah, wajahnya tampak kalap. "Keluar kau, Mahendra! Kau pikir kau bisa merebut Kirana dariku setelah semua yang kuberikan padanya?!"
"Roy! Hentikan!" teriak Kirana dari atas tangga.
Roy mendongak, matanya merah karena mabuk dan cemburu yang buta. "Kirana! Turun dari sana! Pria ini tidak pantas untukmu! Dia hanya akan menghancurkanmu lagi!"
Arka melangkah maju, menghalangi pandangan Roy terhadap Kirana. "Kau yang tidak pantas, Roy. Kau mencoba mengontrolnya seolah dia adalah properti bisnismu. Kau datang ke kapalku, menghancurkan pestaku... kau baru saja menandatangani surat kematian kariermu sendiri."
Perkelahian tak terelakkan. Anak buah Arka segera bergerak meringkus orang-orang bayaran Roy. Arka sendiri berhadapan langsung dengan Roy. Pertarungan itu sangat brutal. Roy yang penuh amarah menyerang dengan pecahan botol, sementara Arka menggunakan tangan kosong dengan teknik yang sangat efisien.
Kirana menonton dengan ngeri saat Arka menjatuhkan Roy ke lantai dan memukulinya berkali-kali. "Arka, cukup! Kau akan membunuhnya!"
Arka berhenti, napasnya memburu, tangannya berlumuran darah, darah Roy. Ia menatap Roy yang sudah tak berdaya dengan tatapan dingin yang mematikan. "Jangan pernah... berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku."
Setelah polisi datang dan menyeret Roy keluar dari kapal, suasana menjadi sunyi senyap. Tamu-tamu lain sudah dievakuasi. Kapal itu kini tampak berantakan, persis seperti hati Kirana.
Arka duduk di tepi dek, membersihkan darah di wajahnya dengan sapu tangan. Kirana mendekatinya perlahan. Ia mengambil sapu tangan itu dari tangan Arka dan mulai membersihkan luka di pelipis pria itu.
"Kenapa kau selalu harus bertindak kasar, Arka?" tanya Kirana pelan.
Arka menatap Kirana, ada kerapuhan yang jarang terlihat di matanya. "Karena itulah satu-satunya cara dunia ini bekerja, Kirana. Aku kehilangan ibuku karena aku terlalu lemah. Aku kehilanganmu dulu karena aku terlalu bodoh. Sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu, bahkan jika aku harus menjadi monster."
Kirana terdiam. Ia melihat Arka yang terluka, pria yang baru saja mempertaruhkan nyawanya dan reputasinya demi melindunginya dari obsesi gila Roy. Ia menyadari bahwa di balik semua sikap dingin dan nakal Arka, ada seorang pria yang hancur yang hanya ingin dicintai dengan benar.
Kirana menarik kepala Arka dan menyandarkannya di bahunya. "Kau bukan monster, Arka. Kau hanya pria yang tidak tahu cara meminta maaf dengan benar."
Arka memeluk pinggang Kirana, menyembunyikan wajahnya di perut wanita itu. "Maafkan aku, Kirana... maafkan aku untuk semuanya."
Malam itu berakhir dengan mereka berdua duduk di dek kapal yang berantakan, menatap fajar yang mulai menyingsing di cakrawala Jakarta. Mereka tahu, esok hari akan ada skandal baru di media tentang penangkapan Roy. Mereka tahu, persaingan bisnis mereka akan semakin rumit.
Namun, di antara sisa-sisa kehancuran pesta itu, sebuah janji tanpa kata telah terucap. Kirana mungkin belum bisa memberikan hatinya sepenuhnya, tapi malam ini ia sadar, ia tidak bisa lagi membayangkan hidup tanpa bayang-bayang Arka Mahendra di sampingnya.
...----------------...
Next Episode...