NovelToon NovelToon
Ketika Janji Tidak Berakhir

Ketika Janji Tidak Berakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamak3Putri

Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.

Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.

Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.

Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.

Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Dua Keluarga

Pesan dari ayahnya tidak pernah benar-benar pergi dari pikiran Aruna. Sejak membacanya malam itu, ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya bukan kepanikan, melainkan kewaspadaan yang dingin. Ia tidak menangis. Tidak juga langsung menolak. Aruna hanya diam, menimbang, seperti seorang perempuan dewasa yang telah belajar bahwa reaksi pertama jarang menghasilkan keputusan terbaik.

Keesokan malamnya Aruna berada di rumah orang tuanya, ia berdiri di depan cermin yang ada dalam kamarnya dengan gaun sederhana berwarna biru tua yang jatuh pas di tubuhnya.

Makan malam keluarga Maheswara. Undangan itu terdengar formal. Aruna tahu, ini bukan pertemuan biasa. Ini adalah kelanjutan dari janji lama yang dibangkitkan kembali dan ia adalah pusatnya.

“Aku datang,” gumam Aruna pelan pada bayangannya sendiri. “Bukan sebagai gadis yang dulu, kali ini aku lebih kuat.”

Rumah keluarga Maheswara berdiri megah di kawasan elit Jakarta Selatan. Gerbang besi terbuka perlahan saat mobil Surya memasuki halaman luas yang tertata rapi. Lampu-lampu taman menyala hangat, menciptakan suasana yang elegan sekaligus menekan.

Aruna duduk tegak di kursi belakang, kedua tangannya terlipat tenang di pangkuan. Wening melirik putrinya dari spion dengan tatapan penuh makna dan adiknya yang duduk di sebelahnya, memegang bahu kakaknya. Berusaha untuk menenangkan.

“Kamu yakin, nak?” tanya ibunya pelan.

Aruna mengangguk. “Yakin bu, Aruna yang sekarang sudah lebih kuat.”

Surya tidak berkata apa-apa. Namun genggaman tangannya di setir sedikit mengeras. Ia tahu, keputusan ini akan membawa putrinya kembali ke masa lalu yang pernah melukainya.

Begitu pintu mobil dibuka, Ardian dan Ratih sudah berdiri menyambut di depan teras.

“Surya,” sapa Ardian hangat. “Akhirnya kita bertemu lagi.”

Dua sahabat lama itu berpelukan cukup lama, seolah jarak puluhan tahun runtuh dalam satu pelukan. Wening dan Ratih saling berpelukan singkat, lalu berdiri berdampingan.

Surya melangkah sedikit ke depan. Nada suaranya tenang, penuh kebanggaan yang tertahan.

“Di, aku perkenalkan anak-anakku,” ucapnya. “Ini Aruna, anak sulung kami.”

Aruna melangkah maju setengah langkah, tersenyum sopan. “Selamat malam, Om Ardian, Tante Ratih.”

Surya melanjutkan, “Aruna bekerja di perusahaan pelayaran asing. Ia menangani urusan legal di sana.”

Ratih tampak terkejut. “Oh, hebat sekali.” Aruna hanya tersenyum tipis, tidak menambahkan apa pun.

“Dan ini adiknya,” Surya menepuk bahu pemuda di sampingnya. “Dimas.”

Dimas berdiri tegap, sikap tubuhnya mencerminkan disiplin yang terlatih. “Selamat malam, Om, Tante.”

“Anak bungsuku ini baru saja lulus dari Akademi Militer Magelang,” lanjut Surya, suaranya mengeras oleh rasa bangga. “Sekarang ia sedang menjalani penugasan awal.”

Ardian mengangguk hormat. “Luar biasa.”

Giliran Ardian yang melangkah maju. Ia menoleh ke arah dalam rumah. “Revan.”

Seorang pria tinggi melangkah keluar, langkahnya mantap, sikapnya profesional. Tatapannya sempat berhenti sepersekian detik saat melihat Aruna, lalu kembali terkendali.

“Ini putraku,” ujar Ardian. “Revan.”

Revan mengangguk sopan. “Selamat malam, Om Surya, Tante Wening.”

“Revan seorang pengacara,” lanjut Ardian tanpa basa-basi. “Dia yang memimpin kantor firma hukum Maheswara & Partner.” Nada suaranya datar, tapi jelas sarat kebanggaan.

Surya mengangguk pelan. “Saya sudah sering mendengar nama kamu.”

Ratih lalu tersenyum cerah ke arah seorang perempuan muda yang berdiri di dekatnya. “Dan ini putri bungsu kami, Adisti.”

Adisti melangkah maju dengan wajah ceria. “Halo semuanya.”

“Adisti dokter spesialis anak,” lanjut Ratih lembut. “Tahun ini sudah mulai praktek di rumah sakit.”

Wening tersenyum hangat. “Pekerjaan yang mulia.”

Di antara perkenalan yang terdengar sopan dan teratur itu, ada satu keheningan tipis yang tidak bisa disembunyikan, ketika pandangan Revan kembali bertemu Aruna. Tidak ada senyum canggung. Tidak ada sapaan pribadi. Hanya kesadaran yang sama, mereka telah tumbuh jauh dari versi diri mereka yang dulu.

Dan dua ayah yang berdiri di sana dengan dada penuh harap dan ragu, tidak sepenuhnya menyadari bahwa perkenalan sederhana itu bukan sekadar formalitas. Tapi awal dari perhitungan yang jauh lebih rumit daripada kasus hukum mana pun yang pernah mereka hadapi.

Setelah sesi perkenalan selesai, Ardian mempersilahkan mereka semua masuk dan langsung menuju ruang makan.

Makan malam berlangsung dengan suasana yang terlihat hangat di permukaan, tetapi menyimpan banyak lapisan di bawahnya. Percakapan mengalir ringan tentang perjalanan bisnis, kabar kerabat lama, dan cerita-cerita kecil yang aman untuk dibagikan. Namun setiap kata terasa terukur, seolah masing-masing pihak menimbang apa yang boleh dan tidak boleh terucap.

“Jadi perusahaan tempat Aruna bergerak di bidang apa?” tanya Adrian.

Aruna menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tenang. Ia menjelaskan secukupnya tentang kontrak kapal, regulasi pelayaran internasional, dan ritme kerja yang padat. Tidak ada nada mengeluh. Tidak ada usaha menunjukkan keunggulan. Justru ketenangan itulah yang membuat Revan beberapa kali melirik tanpa sadar.

Revan tidak mengira Aruna akan bicara sefasih itu. Ia tidak menyangka perempuan yang dulu berdiri dengan suara gemetar kini bicara setegas seorang profesional. Ada rasa asing yang mengusik, campuran kagum dan kebingungan yang cepat-cepat ia tekan.

“Wah putrimu hebat sekali Sur, sangat terlihat jelas kalau dia adalah perempuan muda yang cerdas.” Puji Adrian.

Adrian beralih bertanya pada Dimas, sesekali menimpali percakapan ketika ditanya Ardian tentang disiplin dan pendidikan di Akademi Militer, dengan sikap tegap khas prajurit muda. Adisti, sebaliknya, menjadi penyeimbang suasana. Riangnya ringan, sesekali menyelipkan cerita pasien kecilnya yang membuat semua tersenyum.

Namun di sela tawa itu, dua ayah saling bertukar pandang. Ardian menangkap perubahan halus pada putranya, cara Revan diam lebih lama, menimbang kata, dan sesekali menatap Aruna seperti sedang memecahkan sebuah kasus yang rumit. Surya, dengan naluri seorang ayah, merasakan ketegangan yang sama dari arah putrinya, tenang di luar tapi berjaga di dalam.

Saat hidangan penutup disajikan, Ardian berdeham pelan. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menarik perhatian.

“Ada satu hal,” katanya sambil meletakkan sendok. “Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya.”

Aruna mengangkat pandangan. Wening menegakkan punggung. Surya menarik napas pelan. Revan merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

Ardian melanjutkan, “Tentang janji lama yang pernah saya dan Surya buat.”

Terjadi keheningan di ruang makan. Bahkan Adisti yang biasanya ceria pun terdiam, matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain.

Surya mengangguk. “Sebelumnya kami sudah sampaikan maksud dan keinginan kami pada Aruna dan Revan, saat ini kami ingin mendengar jawabannya.”

Revan menoleh pada Aruna. Aruna menatap lurus ke depan, wajahnya tenang, seolah sudah mempersiapkan diri sejak lama. Namun di balik ketenangan itu, dadanya berdetak kencang.

“Aku ingin diperjelas lagi,” ucap Revan akhirnya, suaranya rendah. “Apa maksud dari janji itu?”

Ardian menatap putranya. “Tentang pernikahan, antara kamu dan Aruna.” Kalimat itu jatuh seperti palu.

Aruna merasakan ujung jarinya dingin. Ia mengangkat pandangan dan melihat mata Revan untuk pertama kalinya malam itu, tatapan mereka tidak terputus. Ada masa lalu yang berdiri di antara mereka, menuntut pengakuan.

Dan tepat saat Aruna hendak membuka mulut untuk berbicara, ponsel Revan bergetar di atas meja.

Nama yang muncul di layar membuat rahang Revan mengeras. Viona Larasati.

Semua mata tertuju padanya dan di detik itulah, Aruna tahu apa pun yang akan ia katakan setelah ini, tidak akan pernah sederhana lagi.

1
Herman Lim
bentar lagi hancur kehidupan Revan dan pasti viona ga akan puas sama Revan skrg dia pasti akan cari yg lebih kaya lagi
kalea rizuky
jangan di buat balik. Thor g rela enak aja abis di buang di pungut dih
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Aidil Kenzie Zie
semoga Aruna setelah ini bisa dapatkan kebahagiaan mungkin dari pak Daniel
Aidil Kenzie Zie
pernikahan karena ego ortu
Abizar Abizar
mending Aruna sama Daniel aja😍
Aidil Kenzie Zie
satu kata untuk Aruna bodoh
Aidil Kenzie Zie
mampir
Herman Lim
kamu Revan yg nikah karna warisan
Imas Yuniahartini
jalan ceritanya bagus tapi endinknya kurang mengena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!