Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Dua Keluarga
Pesan dari ayahnya tidak pernah benar-benar pergi dari pikiran Aruna. Sejak membacanya malam itu, ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya bukan kepanikan, melainkan kewaspadaan yang dingin. Ia tidak menangis. Tidak juga langsung menolak. Aruna telah belajar bahwa reaksi pertama jarang menghasilkan keputusan terbaik.
Keesokan malamnya, Aruna berdiri di depan cermin di kamar lamanya. Gaun sederhana berwarna biru tua membalut tubuhnya dengan anggun, jatuh pas tanpa berusaha menarik perhatian. Rambutnya dibiarkan terurai rapi. Tidak ada riasan berlebihan.
Makan malam keluarga Maheswara. Undangan itu terdengar formal. Terlalu formal untuk sekadar silaturahmi. Aruna tahu, ini bukan pertemuan biasa. Ini adalah kelanjutan dari janji lama yang kembali dibangkitkan. Dan kali ini, ia adalah pusatnya.
“Aku datang,” gumam Aruna pada bayangannya sendiri. “Bukan sebagai gadis yang dulu.”
Ia menatap matanya sendiri di cermin. Tatapan itu tidak lagi rapuh.
“Kali ini aku lebih kuat.”
Rumah keluarga Maheswara berdiri megah di kawasan elit Jakarta Selatan. Gerbang besi terbuka perlahan saat mobil Surya memasuki halaman luas yang tertata rapi. Lampu taman menyala hangat, memantulkan cahaya elegan yang justru terasa menekan.
Aruna duduk tegak di kursi belakang, kedua tangannya terlipat tenang di pangkuan. Wening melirik putrinya lewat spion, tatapannya penuh kekhawatiran yang disamarkan.
“Kamu yakin, nak?” tanya ibunya pelan.
Aruna mengangguk. “Yakin, bu. Aruna yang sekarang sudah berbeda.”
Di kursi depan, Surya tidak berkata apa-apa. Namun genggaman tangannya pada setir sedikit mengeras. Ia tahu, keputusan ini bisa membuka kembali luka lama putrinya.
Begitu pintu mobil dibuka, Ardian dan Ratih telah berdiri menyambut di teras.
“Surya,” sapa Ardian hangat. “Akhirnya kita bertemu lagi.”
Dua sahabat lama itu berpelukan lebih lama dari sekadar formalitas. Seolah puluhan tahun jarak runtuh dalam satu pelukan. Ratih dan Wening saling tersenyum, lalu berpelukan singkat.
“Di,” ucap Surya setelah itu. “Aku perkenalkan anak-anakku.”
Ia menoleh ke arah Aruna. “Ini Aruna, anak sulung kami.”
Aruna melangkah maju setengah langkah. Senyumnya sopan, terukur. “Selamat malam, Om Ardian, Tante Ratih.”
Surya melanjutkan, “Aruna bekerja di perusahaan pelayaran asing. Ia menangani urusan legal.”
Ratih tampak terkejut. “Oh, hebat sekali.”
Aruna hanya tersenyum tipis. Ia tidak merasa perlu menjelaskan lebih jauh.
“Dan ini adiknya,” Surya menepuk bahu pemuda di sampingnya. “Dimas.”
Dimas berdiri tegap. “Selamat malam, Om, Tante.”
“Anak bungsuku ini baru lulus dari Akademi Militer Magelang,” lanjut Surya dengan nada bangga. “Sekarang sedang menjalani penugasan awal.”
Ardian mengangguk hormat. “Luar biasa.”
Giliran Ardian melangkah maju. Ia menoleh ke arah dalam rumah. “Revan.”
Seorang pria tinggi melangkah keluar. Setelan rapi, sikap profesional. Tatapannya sempat berhenti sepersekian detik saat melihat Aruna, cukup lama untuk diakui, cukup singkat untuk dikendalikan.
“Ini putraku,” ujar Ardian. “Revan.”
Revan mengangguk sopan. “Selamat malam, Om Surya, Tante Wening.”
“Revan memimpin salah satu divisi di firma hukum Maheswara & Partners,” lanjut Ardian, nada suaranya datar namun penuh kebanggaan.
Surya mengangguk pelan. “Saya sering mendengar nama kamu.”
Ratih kemudian tersenyum ke arah seorang perempuan muda di sampingnya. “Dan ini Adisti, putri bungsu kami.”
Adisti melangkah maju ceria. “Halo.”
“Adisti dokter spesialis anak,” tambah Ratih lembut.
“Pekerjaan yang mulia,” sahut Wening hangat.
Di tengah perkenalan yang tertata rapi itu, ada satu keheningan tipis yang tidak bisa diabaikan, saat pandangan Revan dan Aruna kembali bertemu. Tidak ada senyum canggung. Tidak ada sapaan pribadi. Hanya kesadaran bahwa mereka telah tumbuh jauh dari versi diri mereka yang dulu.
Dan dua ayah yang berdiri di sana tidak sepenuhnya menyadari, bahwa pertemuan ini bukan sekadar formalitas.
Makan malam berlangsung dengan suasana hangat di permukaan. Percakapan ringan mengalir tentang pekerjaan, perjalanan, dan cerita kecil yang aman dibagikan. Namun setiap kata terasa terukur.
Aruna menjawab pertanyaan dengan tenang. Ia menjelaskan pekerjaannya secukupnya, tentang kontrak kapal, regulasi internasional, dan tekanan kerja. Tidak ada nada membanggakan diri.
Justru ketenangan itulah yang membuat Revan beberapa kali melirik tanpa sadar.
Perempuan ini berbeda. Perempuan yang dulu berdiri di hadapannya dengan mata berkaca-kaca, kini berbicara setegas seorang profesional. Ada rasa asing yang mengusik Revan, campuran kagum dan kebingungan yang cepat ia tekan.
“Putrimu luar biasa, Sur,” puji Ardian. “Sangat cerdas.”
Dimas menjawab pertanyaan tentang pendidikan militernya dengan sikap disiplin. Adisti menyelipkan cerita ringan yang membuat suasana mencair. Namun di balik tawa, dua ayah saling bertukar pandang.
Saat hidangan penutup disajikan, Ardian berdeham pelan.
“Ada satu hal yang ingin kami sampaikan,” katanya. “Tentang janji lama.”
Ruang makan mendadak sunyi.
“Seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya,” lanjut Surya, “kami ingin mendengar tanggapan anak-anak kami.”
Revan menoleh pada Aruna. Aruna menatap lurus ke depan. Tenang di luar, bergemuruh di dalam.
“Apa maksud janji itu?” tanya Revan akhirnya.
Ardian menjawab tanpa ragu, “Tentang pernikahan. Antara kamu dan Aruna.”
Kalimat itu jatuh seperti palu. Dan tepat saat Aruna hendak membuka mulut, ponsel Revan bergetar di atas meja. Nama di layar membuat rahangnya mengeras. Viona Larasati.
Di detik itulah Aruna tahu, apa pun yang akan ia katakan setelah ini, tidak akan pernah sederhana lagi.
Revan menatap layar ponselnya beberapa detik terlalu lama. Nama itu masih menyala, berdenyut pelan seolah menuntut perhatian. Ruang makan terasa menyempit, suara sendok dan garpu seakan menghilang. Semua mata tertuju padanya, menunggu.
“Tidak diangkat?” tanya Ratih pelan, berusaha terdengar biasa.
Revan menghela napas, lalu mematikan layar tanpa menjawab. Ia meletakkan ponsel kembali ke atas meja, namun ketegangan sudah terlanjur menyebar. Aruna memperhatikan gerakannya tanpa ekspresi, tetapi dadanya berdenyut keras.
“Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, Van?” tanya Ardian, sorot matanya tajam.
Revan mengangkat wajah. Pandangannya bertemu Aruna sekali lagi. Kali ini lebih lama. Seolah ia sedang menimbang sesuatu, kata, keputusan, atau keberanian yang selama ini ia tunda.
“Aku butuh waktu,” ucapnya akhirnya.
Satu kalimat pendek, tapi cukup membuat udara berubah.
“Waktu untuk apa?” tanya Ardian hati-hati.
“Untuk berpikir,” jawab Revan. “Tentang semua ini.”
Aruna mengatupkan jarinya di bawah meja. Ia tidak tersenyum. Tidak juga tersinggung. Jawaban itu sudah ia duga sejak awal. Namun tetap saja, ada bagian kecil dalam dirinya yang terasa dingin.
“Aku juga,” ujar Aruna pelan, akhirnya angkat suara. Semua kepala menoleh padanya. “Aku juga butuh waktu.”
Nada suaranya tenang, dewasa. Tidak meminta, tidak memohon.
Ardian tampak ingin berkata sesuatu, tapi Ratih lebih dulu mengangkat tangan, memberi isyarat agar suaminya diam. Ia menatap Aruna lama, lalu mengangguk singkat.
“Kalian benar,” katanya akhirnya. “Ini bukan keputusan kecil.”
Namun di balik kata-kata itu, Ardian tahu, waktu tidak selalu berpihak pada siapa pun.
Saat mereka berpamitan malam itu, Revan dan Aruna berdiri berhadapan di teras. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada basa-basi.
“Hati-hati di jalan,” kata Revan datar.
“Kamu juga,” jawab Aruna singkat.
Mobil keluarga Pramesti melaju meninggalkan halaman rumah Maheswara. Aruna menatap lurus ke depan, sementara ponselnya bergetar di dalam tas.
Satu pesan masuk. Dari nomor tidak dikenal.
“Kita perlu bicara. Aku tahu kamu bertemu Revan malam ini.”
Jantung Aruna berdegup keras. Ia tahu, masa lalu benar-benar telah kembali. Dan kali ini, tidak hanya satu orang yang terlibat.
“tidak akan pernah sederhana lagi.”
❤️Like & follow ya, supaya gak ketinggalan kelanjutannya.
kisahnya semakin seru kak 👍👍👍