Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: JANTUNG DI BAWAH LANTAI
BAB 15: JANTUNG DI BAWAH LANTAI
"Ibu Semu" itu merayap di langit-langit dengan gerakan patah-patah yang mengerikan. Cairan hitam menetes dari mulutnya, membakar karpet ruang tamu hingga berlubang. Arga menatapnya tanpa kedip. Melalui simbol kunci di telapak tangannya, ia bisa melihat benang-benang gaib yang mengikat makhluk itu dengan seisi rumah.
"Kau... bukan... anakku..." geram makhluk itu. Suaranya berlapis, perpaduan antara suara ibunya dan geraman binatang.
"Memang bukan. Dan kau bukan ibuku!" Arga berteriak.
Makhluk itu melompat turun dengan kecepatan kilat. Arga berguling ke samping, menghindari hantaman kuku panjang yang menghancurkan meja kayu. Ia segera berlari menuju dapur, tempat aroma busuk kain kafan terbakar berasal.
Lantai dapur terasa panas. Arga berlutut di depan kompor, matanya liar mencari ubin yang dimaksud. Di langit-langit dapur, Ibu Semu kembali muncul, bersiap menerkam.
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari bawah lantai. Tepat di bawah kaki Arga.
Arga melihat sebuah ubin yang warnanya sedikit lebih gelap dan tidak berdebu. Ia menggunakan simbol kunci di telapak tangannya, menekannya keras-keras ke atas ubin tersebut. Cahaya kebiruan terpancar, dan ubin itu retak dengan sendirinya.
Di dalamnya, tidak ada jantung manusia yang berdarah. Yang ditemukan Arga adalah sebuah toples kaca kecil berisi detak cahaya merah yang redup, terbungkus oleh potongan jarik (kain panjang) milik ibunya.
Itulah "Jantung Ibu"—esensi kehidupan ibunya yang dicuri oleh Gudang sebagai jaminan.
"KEMBALIKAN!" Ibu Semu menjerit histeris. Seluruh dinding rumah bergetar. Akar-akar hitam mulai masuk melalui celah lantai, melilit kaki Arga.
Arga menggenggam toples itu erat-hal. "Jika ini adalah kunci, maka bukalah jalan!" seru Arga sambil menghantamkan tangan kanannya ke akar-akar yang melilitnya.
Cahaya dari simbol kunci di tangannya bertemu dengan detak merah di toples. Ledakan energi terjadi, melontarkan Ibu Semu hingga menghantam dinding dapur. Makhluk itu melengking kesakitan saat tubuh bayangannya mulai menguap terkena cahaya tersebut.
Namun, saat cahaya itu meredup, Arga melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
Di dalam toples itu, di tengah cahaya merah yang berdetak, muncul sebuah angka kecil: 29.
"Apa ini?" bisik Arga. "Kenapa angkanya 29?"
Sebuah kesadaran pahit menghantamnya. Jika ayahnya adalah angka 30, dan dia sedang menuju angka 30, maka ibunya adalah paket ke-29. Selama ini, ibunya bukan hanya sandera, tapi dia adalah paket yang tertunda.
Tiba-tiba, dari arah pintu dapur yang hancur, muncul sosok asli ibunya. Beliau tampak sangat lemah, berdiri bersandar pada kusen pintu dengan mata yang sayu.
"Arga... lari, Nak..." ucap ibunya dengan suara parau. "Jangan berikan toples itu pada siapa pun. Terutama pada mereka yang di gudang."
"Tapi ini nyawa Ibu!"
"Itu bukan nyawa Ibu saja," ibunya terbatuk, mengeluarkan cairan hitam. "Itu adalah bagian terakhir dari ayahmu yang mereka gunakan untuk menjebakmu."
Belum sempat Arga bertanya lebih lanjut, bayangan di bawah kaki ibunya tiba-tiba memanjang dan berubah menjadi tangan-tangan hitam yang menarik ibunya kembali ke dalam kegelapan ruang tengah.
"IBU!" Arga mencoba mengejar, namun langkahnya terhenti.
Simbol di telapak tangannya berubah warna dari emas menjadi merah darah. Angka 7 di tangannya mulai bergetar dan perlahan berubah bentuk menjadi angka 8.
Suara Pengawas bergema dari luar rumah, diikuti bunyi lonceng perunggu yang memekakkan telinga.
"Tugas selesai. Bawa 'Paket 29' kembali ke Gudang Sektor Pusat. Jika kau membukanya sekarang, kau menyelamatkan ibumu tapi kau akan mati. Jika kau membawanya ke gudang, kau akan hidup tapi ibumu akan menjadi bagian dari dinding selamanya."
Arga berdiri di tengah dapur yang hancur, menggenggam toples berisi angka 29. Pilihan yang mustahil.
Ia melihat ke arah toples, lalu ke telapak tangannya yang kini menunjukkan angka 8. Arga menyadari satu hal: Gudang ini tidak menginginkan paketnya, mereka menginginkan pilihan yang diambil oleh Arga.
Apakah Arga akan mengorbankan dirinya dengan membuka toples itu, atau ia akan menyerah pada aturan Gudang demi mencapai angka 30 untuk membalas dendam?