Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Suara kentongan menggema hingga ke pelosok desa, membelah keheningan malam yang baru saja turun. Udara yang seharusnya membawa ketenangan justru menebar kegelisahan, membuat setiap jantung berdetak lebih cepat.
Beberapa sosok berlari menyusuri jalan desa, derap langkah mereka menggema di antara rumah-rumah kayu. Mereka adalah para utusan kepala desa. Di barisan depan, Yasmin berlari tanpa menoleh, napasnya tersengal menembus dingin malam.
Satu per satu pintu rumah terbuka. Lampu minyak menyala, memperlihatkan wajah-wajah cemas yang saling bertanya dengan suara berbisik.
“Apa yang terjadi?”
“Itu… itu tanda darurat.”
“Kenapa hanya sekali dipukul?”
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.
Langkah kaki cepat mendekat. Dari balik cahaya obor, Yasmin muncul. Ia berhenti di depan beberapa warga, membungkuk singkat sebelum berbicara dengan suara tegas.
“Aku Yasmin, membawa pesan kepala desa. Seorang pemuda hilang di hutan. Siapa pun yang bersedia membantu, segera berkumpul di balai desa.”
Tanpa menunggu tanggapan, ia kembali berlari.
“Tunggu!” salah seorang warga berseru.
“Siapa yang hilang?”
Yasmin menoleh sambil terus melangkah.
“Jihan. Anak Ibu Wulandari.”
Namanya menggantung di udara malam.
Beberapa warga saling pandang. Ekspresi mereka berubah... bukan terkejut, melainkan ragu.
“Anak itu?”
“Masuk hutan sendirian, salahnya sendiri.”
“Aku tak bisa ikut. Keluargaku menunggu.”
Tak ada teriakan, tak ada pertengkaran. Hanya keputusan sunyi yang diambil masing-masing. Pintu-pintu kembali tertutup, meninggalkan jalan desa yang kembali lengang.
Penolakan itu bukan tanpa sebab. Di desa ini, hidup saja sudah perjuangan. Waktu bersama keluarga lebih berharga daripada risiko di hutan malam... terlebih tanpa kepastian imbalan.
...
Di sisi timur desa, rumah besar milik Tirta Wardana berdiri megah. Di ruang tamu yang dingin dan tertata rapi, seorang pelayan melapor dengan kepala tertunduk.
“Kepala desa membunyikan tanda darurat. Seorang pemuda hilang di hutan. Beliau meminta bantuan malam ini juga.”
“Pemuda?” Tirta mengernyit.
“Siapa?”
“Jihan, Tuan. Anak Ibu Wulandari.”
Tawa Tirta terdengar singkat dan dingin.
“Hanya itu?” gumamnya.
“Arya benar-benar sudah kehilangan akal.”
Ia melambaikan tangan, menyuruh pelayan pergi. Setelah ruangan kembali sunyi, senyum tipis terukir di wajahnya.
‘Menarik,’ batinnya.
‘Satu bocah saja cukup membuat fondasi kepemimpinan itu retak.’
Ia bangkit dari kursinya, bersiap keluar, ketika suara malas terdengar dari sudut ruangan.
“Ayahanda, ada keributan apa di luar?”
Gading muncul dengan pakaian tidur sutra, tubuhnya gemuk dan wajahnya masih setengah mengantuk.
“Tidak penting,” jawab Tirta singkat.
“Seorang bocah hilang.”
“Jihan?” Gading tertawa kecil.
“Hebat juga dia, bisa membuat desa sekacau ini.”
Tirta menyeringai tipis.
“Kadang, api kecil hanya butuh sedikit minyak.”
Gading menatap ayahnya dengan kagum, seolah memahami maksud di balik kata-kata itu.
“Fokuslah berlatih,” lanjut Tirta.
“Beberapa hari lagi, utusan dari Perguruan Pedang Awan akan datang. Jangan mengecewakanku.”
“Ayah tak perlu khawatir,” jawab Gading mantap.
Tirta mengangguk puas, lalu melangkah pergi. Bayangannya perlahan menghilang di balik pintu, menyatu dengan gelap malam.
Gading tetap berdiri di tempatnya. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, namun perlahan memudar.
‘Jihan…’
Nama itu terlintas, membuat alisnya berkerut.
‘Kenapa harus bocah itu?’
Ia mengepalkan jari-jarinya. Selama ini, tak pernah ada yang menoleh pada anak miskin itu. Lemah, pendiam, tak punya apa-apa. Namun entah sejak kapan, nama itu mulai terdengar... bahkan cukup penting hingga kepala desa dan ayahnya membicarakannya.
‘Dia seharusnya tidak ada di panggung yang sama denganku.’
Tatapan Gading mengeras.
Di matanya, ayahnya bukan sekadar orang berkuasa... melainkan pemain ulung dalam permainan yang suatu hari akan ia kuasai sendiri.
‘Dan saat hari itu tiba…’
‘Tak akan ada tempat bagi orang sepertimu, Jihan.’
"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"