"I accept you Maxwell Del Montaña to be my husband, to have one another and keep, from now and forever. In times of trouble and joy, in times of abundance and in deprivation, in good health and sicness, to love one and another and to esteem, till death divides us, according to the sacred law, and this is my sincere faithfull promise."
Karena keserakahan ayahnya, Sara O'connor harus berakhir di tangan seorang mafia pemilik kartel terkenal di Spanyol. Dia menjadi istri dari pria yang tidak dicintainya.
Keinginannya untuk menaklukan pegunungan Himalaya harus berakhir begitu saja. Kesendirian dan kekosongan kembali dirasakan Sara ketika mata dan bibir pria itu mengatakan tidak menginginkan dirinya.
Max, nama mafia itu, Sara tidak mencintainya, tetapi janji suci sudah diikrarkan di hadapan Tuhan dan jemaat.
--------------------^-^------------------
Banyak konten horor, yang belum cukup umur, jauh-jauh sono! Dosa tanggung sendiri!😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat
Jangan lupa like, komen dan rate 🌟5 ya😊😘
.
.
.
***
Dengan bergandengan tangan, Max dan Sara turun menemui Anne. Perempuan berusia sedikit lebih tua darinya itu sedang sibuk membuat sesuatu.
"Apa Anne sudah menikah?" tanya Sara penasaran dengan kehidupan pribadi adik Max.
"Aku mengusir setiap pria yang dekat padanya."
"Apa?!" Sara melotot tidak percaya, dengan santainya Max menjawab seperti itu? Bukankah itu melanggar privasi orang lain meskipun Anne adalah adiknya?
"Aku baru tahu kalau kau benar-benar licik. Yang kudengar bukanlah kabar burung ternyata, kau memang seperti itu," sungutnya lalu menghampiri Anne yang masih belum menyadari kedatangan mereka.
"Ada yang bisa kubantu?"
Anne menoleh, wajahnya datar tanpa ekspresi. Sara mengerjap pelan, apakah perempuan itu marah padanya dan tidak merestui pernikahannya dengan Max juga seperti yang dilakukan Deborah.
"Kau bisa membantuku dengan duduk di sana menemani pria tua itu."
"Hah?!"
"Apa kau tuli?" teriak Anne. "Selain tidak bisa berdandan, ternyata kau memiliki kelainan pada pendengaranmu."
"Anne?"
"Aku mengatakan kebenaran, Kak!"
Sara berdiam diri di samping Anne tanpa berniat untuk beranjak. Ia memerhatikan penampilan perempuan itu.
Cantik dan elegan, mencerminkan dirinya adalah seorang yang terpandang. Riasan yang dipakainya sederhana dan tidak terlalu menor.
Ia berpikir apa Max juga membatasi pergaulan adiknya, melarangnya berpakaian modis dan terlihat rendahan.
Apa begini rasanya punya Kakak? Menyenangkan rasanya jika aku memilikinya.
Tanpa Sara tahu bahwa memiliki seorang kakak itu sangat menyebalkan. Menjadi otoriter di rumah, kepala kejahatan dan bersikap semena-mena. Menindas dan menjadi tuan atas segalanya jika orang tua tidak menegur.
Ah, jika menyebutkan satu persatu tentang menyebalkannya memiliki seorang kakak apalagi kakak laki-laki, maka hidupmu akan dipenuhi dosa tanpa ada waktu untuk bertobat, begitu pikir Anne.
"Kenapa kau terus memandangku seperti itu? Aku tahu wajahku cantik tanpa cacat, bisakah kau pergi saja?"
"Aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Aku tadi menghindar darimu."
Tanpa menoleh, Anne mendengus. "Aku tahu kau cemburu, tapi simpan rapat rasa cemburumu itu karena aku tidak ingin punya kekasih yang sangat jelek seperti suamimu."
Max yang tidak sengaja mendengar itu berdehem. "Tidak baik membicarakan namaku di belakang. Wajah tampanku tidak akan memudarkan bedak milikmu jika kau berbicara di depanku langsung."
"Cih, dasar sombong. Tidak tahu diri, dia sangat jelek," gumam Anne.
Sara menahan tawanya. Kedua saudara itu menunjukkan rasa sayang mereka dengan cara seperti itu. Keduanya memiliki sifat yang sama, yaitu sama-sama memuji diri sendiri. Pada kenyataannya, keduanya sama-sama. Cantik dan tampan.
Eh? Apa aku baru saja mengakui bahwa Max tampan? Oh no! Big no! Mata ini pasti katarak lagi, mana mungkin pria menyebalkan berjambang seperti Tarzan itu masuk kategori pria tampan? Aku pasti sudah gila!
"Apa kau gila? Kenapa memukul kepalamu seperti itu?" tanya Anne.
"Eh? Aku tidak sengaja!"
Muncul ide jahil di kepala Anne. Ia memberikan Sara jus yang baru saja diambilnya dari kulkas.
"Minum!"
"Apa ini?" tanya Sara mengernyit bingung.
"Ikuti perintahku! Minum!"
Sara menerima gelas itu dengan ragu-ragu. Ketika hendak meminumnya, Max merebut gelas itu dari tangannya. "Biar aku yang minum," ucapnya.
"Max! Jangan menghabiskannya!"
Terlambat, jus itu habis. Anne memberenggut kesal, namun sesaat kemudian ia tersenyum.
"Nikmati waktu kalian!" serunya seraya berlari keluar dan menghidupkan mobil lalu pergi dari sana.
Max merasakan ada yang berbeda dari dirinya. Saat menyadarinya, ia mengumpat. "Anne sialan! Apa yang kau masukkan di dalam minuman itu?"
Sara yang tidak tahu apa-apa mengerutkan keningnya. Max terlihat kepanasan dan membuka kaos yang dikenakannya.
"Sayang, tolong aku! Isi bathup dengan air dingin!"
"Apa yang terjadi denganmu?"
"Jangan mendekat, aku tidak yakin bisa menahannya saat kau di sini. Lakukan apa yang kukatakan!"
Meski tidak mengerti dengan apa yang terjadi, Sara mengisi bathup di kamar mandi di dekat sana dengan air dingin bahkan ia sengaja menaruh beberapa balok es di sana.
"Max, sudah selesai!"
Setengah sadar, Max mengikuti langkah kaki Sara. Ingin sekali ia menyergap istrinya, namun ia mengingat janjinya pada seseorang untuk tidak menyentuh istrinya sampai mereka benar-benar yakin saling mencintai. Dan sekarang, Max belum bisa mengerti hatinya.
***
Mendapat telepon dari Max, Alex segera meluncur ke bandara untuk menjemput seseorang. Beberapa saat menunggu, tampaklah seorang perempuan berambut panjang sesuai dengan foto yang dikirimkan kepadanya.
Ia mendekat. "Señorita Claire?"
"Sí," jawab perempuan itu.
Mata Claire menatap Alex dengan kagum. Kharisma pria itu menggugah hatinya. Apalagi panggilan Señorita yang dikhususkan untuknya.
I love it when you call me Señorita
I wish I could pretend I didn't need ya
But, every touch is so la la la
It's trua la la la
Señorita, Shawn Mendes & Camilla Cabello
"Claire! Aku ikut bersamamu, aku merindukan My Sara," teriak Edwin mendekat.
"Kau tidak diizinkan, Tuan," jawab Alex datar. Ia membuka kacamata hitamnya dan menyorot tajam pria tampan yang bernama Edwin itu. "Señora hanya mengatakan bahwa Señorita Claire yang akan kujemput."
"Kenapa kau kaku sekali, Man? Aku merindukan gadis-ku."
"Maaf, ayo berangkat, Señorita!"
Tanpa memedulikan teriakan dan umpatan kesal Edwin, Alex melajukan mobilnya. Ia menyadari tatapan mata Claire tertuju padanya.
"Ada yang salah denganku, Señorita? Sejak tadi kau terus memandangi wajahku."
"Tidak ada apa-apa." Claire gelagapan. "Siapa namamu? Akan sangat canggung kalau berdua tanpa berbicara di sini."
"Aku akan berpikiran bahwa kau menyukaiku kalau matamu terus melihat tampangku, Nona." Alex memghembuskan napas kasar. Ia tidak suka pada perempuan yang secara terang-terangan memyukainya. "Tidak perlu mengetahui namaku, Nona."
Sekarang dia memanggilku Nona bukan Señorita lagi.
Keduanya memilih diam agar tidak terjadi kesalahpahaman sampai mobil memasuki mansion Max.
"Keluarlah!"
Perempuan itu keluar dan disambut oleh Sara di depan pintu.
"Hola, Claire. Kau terlambat."
"Hola, Sara. Maaf, mereka merepotkan di bandara," ujarnya terkekeh. "Dimana suamimu?"
Sara mendelik kesal. "Kau merindukanku atau ingin bertemu pria itu? Pergi kalau kau ingin menemuinya, dia sedang sibuk."
"Hell, kau sangat sensitif. Aku penasaran dengan wajahnya, mungkin setampan di televisi atau surat kabar."
"Lebih jelek dari itu," ketus Sara dengan nada jengkel. "Kenapa kau jadi membahas pria itu?"
"Dia suamimu."
Tidak merespon, Sara berteriak. "Alex! Antarkan dia pulang!"
"Hei! Aku masih ingin di sini!" Ia memelas pada pria yang langsung datang saat dipanggil itu. "Dia hanya bercanda, Tuan."
"Perintah Señora bukanlah bahan lelucon, Nona."
Claire memutar bola matanya. "Astaga, dia seperti robot. Sara, tolong bilang padanya bahwa kau bercanda."
Perempuan itu mengedikkan bahu acuh, tidak peduli pada teriakan Claire yang terus mengikutinya masuk ke ruang tamu.
"Kenapa kau ke sini?"
"Kau yang menyuruhku ke sini."
"Bukan untuk menanyakan suamiku."
"Ya, ya, maafkan aku, aku hanya mengikuti perkembangan media sosial sekarang yang mengatakan pengusaha muda di Madrid sangat tampan. Dan itu suamimu."
Setiap kali Claire menceritakan tentang Max, maka Sara akan mengancamnya, dan menyuruhnya pulang berjalan kaki.
"Apa kau sedang cemburu?" Claire tergelak. "Kau jatuh cinta padanya? Astaga, ini sesuatu yang langka, ternyata gadisku yang pernah kukira tidak normal mencintai seorang pria."
"Hentikan omong kosongmu, Claire!" Ia mengapit kepala Claire dengan tangannya dan kakinya digunakan untuk menekan kaki perempuan berambut panjang itu.
"Kau cemburu, O'connor!"
"Tidak," kilahnya.
"Katakan 'Ya' maka masalahnya selesai!"
"Alex!"
"Ya, Señora?"
"Antarkan dia pulang, eh tidak, seret dia keluar! Jangan biarkan dia masuk ke sini lagi!"
"Ayolah, kau benar-benar kejam sekarang, Sara. Kau tidak menyayangiku lagi?" Claire mencoba bersikap manis agar tidak diusir.
Ia betah karena sorot mata tak bersahabat dari pria bernama Alex mengganggunya. Meski hanya menghabiskan waktu berpetualangan dan bersama dengan para sahabat, bukan berarti dirinya tidak memiliki rasa tertarik pada manusia.
Selain alam, mereka juga masih tertarik pada lawan jenis.
"Dia sudah mencapai tahap kritis, Alex. Tolong panggilkan psikolog terbaik yang kau kenal, aku mengasihaninya."
"Sara O'connor! Kau benar-benar menyebalkan!"
"Itu sisi diriku yang sangat istimewa yang belum kau ketahui, Nona Claire," jelas Sara tergelak kencang.
Memukul pelan lengan temannya, Claire menatap Alex dengan sorot sayu. "Tuan Alex, jangan dengarkan dia."
Bersamaan dengan itu, Max yang selesai dengan pekerjaannya bergabung dengan mereka. Meski efek obat yang diberi Anne sudah menghilang, tapi ia masih merasa pusing.
"Dia siapa, Sayang?"
Mata Claire terbelalak. "Oh Yesus! Kau sangat tampan, Señor Max! Apa kau titisan Dewa Yunani? Dewa Ares?"
Alex hendak menarik Claire tapi tangan Max menahan Alex. "Dia cocok untukmu, Alexander," bisik Max menggoda Alex
"Jangan bercanda, Señor. Dia sangat savage."
"Aku lebih mengasihanimu yang lajang sampai sekarang."
Telinga Claire yang sangat peka terhadap suara bisikan, tidak sengaja mendegar itu. Ia tersenyum misterius.
.
.
.
.
***
Love,
Xie Lu♡