Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: KEPULANGAN YANG AGUNG
Kota A tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini atmosfernya terasa berbeda. Kabut tipis menyelimuti gedung-gedung pencakar langit yang menjadi simbol kekuasaan finansial di wilayah tersebut.
Di pusat kota, menara kembar Apex Global berdiri angkuh, namun logo "A" besar di puncaknya tampak mulai memudar, seolah-olah alam semesta sendiri tahu bahwa pemiliknya telah tiada di dataran tinggi Skotlandia.
Sebuah jet pribadi tanpa tanda pengenal membelah awan, mendarat dengan mulus di landasan pacu eksklusif Bandara Internasional Kota A.
Saat pintu palka terbuka, udara lembap khas kota pelabuhan itu menyapa. Alana melangkah keluar terlebih dahulu.
Ia tidak lagi mengenakan pakaian taktis yang kotor oleh lumpur Alpen atau debu Skotlandia. Kali ini, ia mengenakan set blazer berwarna putih gading yang elegan dengan potongan tegas di bahu.
Matanya yang kini berwarna abu-abu jernih tersembunyi di balik kacamata hitam desainer.
Di sampingnya, Arlan Syailendra berdiri dengan setelan jas hitam yang sempurna. Meskipun ada bekas luka kecil di rahangnya, auranya sebagai "Kaisar Bayangan" justru terasa sepuluh kali lebih kuat.
Ia tidak lagi bersembunyi. Kepulangan ini bukan tentang infiltrasi, melainkan tentang reklamasi.
"Mummy, Paman Arlan, semua sistem di Menara Apex sudah kupindahkan ke server pusat Syailendra Group," bisik Lukas yang berjalan di belakang mereka sambil menjinjing tas laptopnya.
"Secara hukum digital, aset mereka sekarang membeku. Tapi... masih ada perlawanan di lantai eksekutif."
"Biar mereka mencoba," sahut Arlan dingin. "Aku ingin melihat siapa yang masih cukup berani mendukung nama Mahendra setelah apa yang terjadi di bursa London."
Konvoi mobil hitam antipeluru meluncur menembus jalanan protokol, menuju kantor pusat Syailendra Group yang selama sebulan terakhir diduduki secara ilegal oleh kaki tangan Adrian.
Di depan lobi utama, puluhan jurnalis sudah berkumpul. Berita tentang "kebangkitan dari kematian" sang CEO Syailendra dan Dr. Alana telah menyebar seperti api di atas bensin.
Begitu mobil berhenti, puluhan kamera menyala. Arlan keluar dan membukakan pintu untuk Alana.
Mereka berjalan melewati barisan jurnalis tanpa mengeluarkan satu kata pun. Keheningan mereka justru memberikan tekanan yang lebih besar daripada pernyataan apa pun.
Saat mereka mencapai lantai eksekutif, mereka disambut oleh barisan pengawal berseragam hitam—sisa-sisa pasukan keamanan pribadi Adrian yang dipimpin oleh Bastian, mantan kapten tentara bayaran yang terkenal karena kekejamannya.
"Tuan Syailendra, Anda tidak memiliki izin untuk berada di sini," Bastian berkata sambil meletakkan tangannya di atas holster senjata. "Tempat ini adalah properti sah Apex Global berdasarkan dokumen merger."
Arlan berhenti tepat dua langkah di depan Bastian. Ia tidak tampak gentar. "Bastian, aku memberimu waktu sepuluh detik untuk meletakkan senjatamu dan pergi dari gedung ini. Jika tidak, aku akan memperlakukanmu sebagai penyusup di tanah pribadiku."
"Anda bercanda? Kami punya perintah langsung dari—"
"Dari siapa? Alfred Mahendra yang sudah hancur menjadi debu? Atau Adrian yang kini meringkuk di sel isolasi London?" sela Alana, suaranya terdengar merdu namun memiliki ketajaman pisau bedah.
Ia melangkah maju, melepaskan kacamata hitamnya. Mata abu-abunya menatap tajam ke arah Bastian.
Dengan kemampuan sensoriknya, Alana bisa merasakan detak jantung Bastian yang tidak stabil.
Pria itu takut. "Kau tidak ingin mati demi orang yang sudah membuangmu, Bastian. Periksa ponselmu. Sekarang."
Bastian ragu, namun ia merogoh sakunya. Sebuah notifikasi dari otoritas keuangan internasional muncul: Aset Apex Global disita untuk investigasi kejahatan terhadap kemanusiaan.
Perintah penangkapan dikeluarkan untuk semua pimpinan eksekutif.
Wajah Bastian memucat. Ia menatap anak buahnya, lalu kembali menatap Arlan dan Alana.
Dengan perlahan, ia melepaskan sabuk senjatanya dan menjatuhkannya ke lantai. Satu per satu, pengawal lainnya mengikuti langkahnya.
"Pilihan yang bijak," gumam Arlan. Ia memberi isyarat kepada tim keamanan setianya yang baru saja tiba untuk membawa mereka keluar.
Alana berjalan menuju ruang kerja utama—ruangan yang dulu milik kakeknya, lalu dicuri oleh Adrian.
Di sana, ia menemukan Sisca, wanita yang pernah menjadi duri dalam pernikahannya dengan Adrian.
Sisca duduk di kursi kebesaran, wajahnya penuh dengan riasan yang berantakan karena tangisan.
"Kau..." Sisca menunjuk Alana dengan tangan gemetar. "Kau seharusnya sudah mati! Bagaimana mungkin kau selalu kembali?"
Alana mendekati meja tersebut. Ia tidak merasakan kemarahan lagi pada Sisca. Baginya, wanita di depannya ini hanyalah serangga kecil yang terjebak dalam jaring konspirasi yang terlalu besar untuknya.
"Aku kembali karena dunia ini butuh keadilan, Sisca. Sesuatu yang tidak pernah kau atau Adrian mengerti," Alana mengambil dokumen merger di atas meja dan merobeknya menjadi dua bagian tanpa ragu.
"Pergilah. Aku tidak akan memenjarakanmu. Kemiskinan akan menjadi hukuman yang lebih baik bagimu setelah semua kemewahan yang kau curi."
Sisca mencoba berteriak, namun dua petugas keamanan segera menyeretnya keluar dari ruangan. Ruangan itu akhirnya hening.
Alana mengembuskan napas panjang dan duduk di kursi kakeknya. Ia merasakan tekstur kayu jati meja itu, merasakan kenangan masa kecilnya yang kembali mengalir.
"Lukas, aktifkan protokol 'Teratai Putih'," perintah Alana.
"Sudah, Mummy," jawab Lukas dari sofa di sudut ruangan. "Semua paten medis yang dicuri Alfred sekarang dikembalikan ke yayasan kemanusiaan atas namamu.
Produksi massal Formula Teratai yang berbahaya telah dihentikan di seluruh jaringan pabrik yang tersisa."
Arlan berdiri di dekat jendela besar, menatap cakrawala Kota A. "Dunia luar masih akan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di Alpen dan Skotlandia, Alana. Kita perlu narasi yang kuat."
"Biarkan mereka tahu kebenarannya, namun dalam porsi yang bisa mereka terima," sahut Alana.
"Kita akan meluncurkan 'Teratai Medika', sebuah institusi riset yang fokus pada pengobatan degeneratif yang aman dan terjangkau. Tidak ada lagi tentara super. Tidak ada lagi ambisi keabadian. Hanya penyembuhan."
Malam harinya, sebuah pesta perayaan diadakan di kediaman utama Syailendra. Namun, itu bukan pesta mewah dengan ribuan undangan.
Hanya ada Alana, Arlan, Lukas, Luna, dan beberapa orang kepercayaan seperti Meera yang baru saja tiba dari Mumbai.
Di bawah naungan bintang-bintang Kota A, Alana dan Arlan berdiri di balkon lantai dua.
"Ini adalah kepulangan yang agung, Alana," kata Arlan, menyerahkan segelas sampanye non-alkohol kepada Alana.
"Kita memenangkan semuanya. Harta, nama baik, dan masa depan."
"Tapi kita kehilangan banyak hal di sepanjang jalan, Arlan," bisik Alana. Ia teringat pada Leo. "Setiap kesuksesan ini dibangun di atas pengorbanan mereka yang percaya pada kita."
Arlan memegang tangan Alana. "Itu sebabnya kita tidak boleh berhenti di sini. Ouroboros mungkin sudah kehilangan kepalanya, tapi sel-selnya masih ada di luar sana. Mereka akan mencoba bangkit kembali dalam bentuk yang berbeda."
Alana menatap Arlan dengan senyum penuh keyakinan. "Biarkan mereka mencoba. Karena sekarang, mereka tidak hanya menghadapi seorang dokter yang melarikan diri atau seorang CEO yang dikhianati. Mereka menghadapi sebuah keluarga."
Luna dan Lukas berlari menghampiri mereka, tertawa sambil mengejar satu sama lain di taman bawah. Alana merasa hatinya penuh.
Inilah kemenangan yang sesungguhnya—bukan angka-angka di bursa efek atau kehancuran musuh, melainkan tawa anak-anaknya yang kini bisa hidup tanpa rasa takut.
"Arlan," panggil Alana.
"Ya?"
"Terima kasih telah menemukanku kembali di dasar jurang itu."
Arlan menarik Alana ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan lembut. "Aku akan selalu menemukanmu, Alana. Dalam seribu tahun lagi, atau dalam seribu kehidupan."
Di kejauhan, lampu-lampu Kota A bersinar terang, menyambut era baru di bawah penjagaan Sang Permaisuri. Babak pembalasan dendam telah usai, namun babak pembangunan kembali baru saja dimulai. Sang Teratai telah mekar sepenuhnya, dan wanginya akan menyembuhkan dunia yang selama ini terluka.