Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam harinya.
Di kediaman Aethelgard.
DUAK!!
"Arghhh!" Laki-laki tua dengan janggut putih itu terlempar ke belakang. Sementara, gadis yang di ikat di tempat tidur itu tersenyum menyeramkan.
Benar-benar seperti orang gila, mata nya menghitam, di mulutnya terlihat seperti cairan darah.
"Mbah," Seru pasangan tua itu dengan khawatir.
"Apa anak saya gak bisa di sembuhin?" Tanya wanita setengah tua namun masih cantik itu. Matanya sudah membengkak karena menangis sedari kemarin. Bagaimana tidak? Anak gadis satu-satunya yang baru duduk di bangku SMA sudah mengalami hal mengerikan ini.
Bugh!
Tuan Aethelgard meninju dinding rumah nya, seolah putus asa. "Itu karena gadis itu! Dia seharusnya--"
"Jadi mangsa Greta? SADAR KAMU MAS!"
"Greta gitu juga karena makhluk sialan yang kamu tanam di dirinya! Apa gunanya makhluk sialan itu hah?! Apa gunanya!!" Teriak Emily Aethelgard, Ibu Greta.
Yang berarti perempuan yang di ikat di tempat tidur itu adalah Greta.
Antonio mengacak rambutnya frustasi, benar ini salah nya. Dia terbawa-bawa kolega-kolega bisnis nya untuk menanamkan makhluk gaib untuk menjadi Perewangan anaknya. Tujuan nya jelas yaitu untuk melindungi anak-anak nya, karena di zaman seperti ini sering terjadi pergaulan bebas ataupun hal-hal gelas yang tidak kita ketahui. Juga untuk menjaganya dari musuh keluarga.
Namun menanamkan makhluk Perewangan di tubuh anaknya ternyata salah besar, beberapa tahun masih tidak terjadi apa-apa. Namun setelah Mbah dukun yang menanamkan Perewangan di tubuh Greta meninggal, makhluk itu tiba-tiba menjadi buas selalu menuntut darah dari mereka.
Jika hanya darah mungkin dia masih bisa mengabulkan nya karena bisa membeli di rumah sakit, namun semakin hari, makhluk itu jadi banyak minta request. Darah orang tua, darah bayi, darah gadis muda, ataupun darah orang yang meninggal dalam ketakutan.
Makhluk itu juga yang membuat sifat anaknya berubah, anaknya yang manis jadi sering marah-marah dan terlihat seperti orang gila.
Dia sudah mencoba melepaskan makhluk yang ada di tubuh Greta berkali-kali dengan bantuan banyak dukun, namun hal ini tidak pernah berhasil. Makhluk itu hanya pergi sesaat, setelah tiga hari dia akan kembali lagi di tubuh Greta.
Yang membuat para dukun dengan menyesal berkata. "Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati pasien. Namun pasien sudah tidak bisa tertolong."
"Maaa... Paaa..." Suara gadis remaja memanggil Antonio dan Emily.
Di atas ranjang Greta terlihat seperti manusia normal, hanya saja wajahnya pucat, dia terlihat menyedihkan.
"Sayang..." Suara Emily lirih menatap anaknya, hatinya semakin tersayat.
"Aku lapar mah... Hiks, mau makan..."
Baik Antonio maupun Emily hanya melihat dengan hati yang tercabik, mereka tidak mendekat. Hanya melihat dengan pilu. Makhluk di tubuh anaknya sudah berkali-kali menggunakan wajah manis Greta untuk membujuk mereka meminta makan.
Jika di beri darah, makhluk itu akan semakin bertenaga dan kuat. Jika tidak, mereka juga khawatir dengan kondisi putrinya.
"Arghhh!!! Lapar! Lapar! Kalian manusia lepaskan aku, biarkan aku mencari makan, Aarghhhh!!" Wajah Greta kembali seperti saat makhluk itu merengek.
"Makhluk itu tidak ingin lepas, dia ingin terus berada di tubuh anak ini. Saya tidak bisa membantu kalian, namun saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian. Jika sudah lewat dari 100 hari makhluk itu tidak keluar dari tubuh anak ini, maka makhluk itu akan menetap di tubuh anak ini selamanya." Ucap Mbah dukun itu, lalu pergi.
Tubuh Emily terhuyung lemah, dan suaminya segera menangkap nya. "Hikss... Greta..."
Mereka pergi dari kamar anaknya dengan berat hati, dari luar terdengar teriakan dan juga tangis anak remaja. Rasanya sangat menyiksa batin orang tua itu.
Di ruang tamu, keluarga besar duduk di sana. Tidak ada senyum sedikitpun, hanya ada sebuah kepanikan dan kekhawatiran.
Mbah dukun telah pergi, dan Antonio membawa istrinya yang tiba-tiba pingsan ke kamar.
Anya, Bastian dan kedua orang tua mereka masing-masing tengah duduk di atas sofa. Di bagian pertengahan sofa, seorang kakek tua duduk di atas kursi roda. Ia tidak bisa berbicara, karena penyakit stroke nya.
"Mas, gimana kalo Anya juga sampai begitu? Aku gak mau itu terjadi." Lirih Ibu Anya, menangis ke pelukan suaminya.
Suaminya tidak bisa bicara apa-apa, hanya bisa menenangkan dengan usapan lembut nya.
Makhluk penjaga keluarga mereka hanya di wariskan kepada anak perempuan jika anak laki-laki terakhir tidak ada. Di keluarga ini ada Bastian, jadi makhluk penjaga keluarga turun kepadanya. Namun kedua anak gadis lainnya, orang tua mereka hanya bisa menanamkan makhluk pelindung di tubuh mereka.
Ini semua karena kesalahan besar orang tua mereka sendiri di masa lalu yang membuat keadaan menjadi seperti ini.
Bastian menghela napas panjang sebelum mengatakan sesuatu. "Ma, Pa... Semuanya, aku mau ceritain ini. Tapi itu terserah kalian mau percaya apa nggak."
Semuanya menatap Bastian, "Apa menurut kalian mungkin, membuat makhluk penjaga berlutut di hadapan manusia lain?"
Semuanya memasang ekspresi terkejut kecuali dua anak SMA itu. "Apa maksud kamu Bas? Itu gak mungkin kan?"
"Tapi aku ngeliat sendiri, apalagi itu adalah makhluk penjaga milik keluarga Kalandra. Milik Fino Kalandra."
Perkataan Bastian semakin membuat terkejut apalagi di sertai dengan bukti.
"Kalo kalian gak percaya, kalian bisa tanya langsung ke Fino. Tapi dia mau jawab jujur atau nggak, itu terserah..."
"Siapa? Orang sakti mana dia? Om akan bayar dia berapapun asalkan dia bisa nyelamatin Greta." Antonio datang segera setelah mendengar percakapan itu dari atas.
"Dia dari desa Sulo," mata semua orang membulat.
"Tapi kita gak boleh tanyain atau bahas asal-usulnya. Bastian bakal minta bantuan sama dia besok."
Setelah kesepakatan terjadi, mereka menginap di rumah Antonio. Karena mengkhawatirkan keadaan Greta, Emily, juga untuk mengurus orang tua mereka.
Sementara itu, di kediaman-- atau lebih tepatnya di warung gorengan pak Manto.
Sekelompok pemuda itu seperti biasa berkumpul di warung pak Manto. Untuk apa? Yah, anak muda biasa kan nongkrong-nongkrong.
Namun Fino, pemuda itu jadi lebih pendiam. Dia tidak bicara dan lebih banyak diam seperti bengong.
"Eh, itu.. Huwa!" Jaka segera berdiri dan menajam kan tatapan nya.
"Pocong!!" Seru Jaka membuat teman-teman nya kaget.
***
Author lihat kolom komentar rame, jadi update lebih awal buat kalian ~
Komentar apa aja Walaupun titik~
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶