kisah perjalanan hidup seorang gadis yang terpisahkan dari orang tuanya dan di besarkan oleh seorang mafia yang ternyata adalah pamannya yang pernah ingin membunuhnya.
bagaimana perasaan Diah Permata Ningrum apabila dia tau kisah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titian1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Dewi sampai di desa kelahirannya, kedua orang tuanya menyambut kedatangannya dengan penuh syukur. Usaha yang di jalani orang tuanya maju pesat kini Dewi banyak membuka cabang di desa-desa tetangga dan memperkerjakan warga setempat.
Walau kini perekonomian Dewi meningkat namun hatinya terasa hampa, dia selalu teringat dengan anaknya yang kini tak tau keberadaannya.
"Semoga kamu sehat selalu nak, maafkan mama yang sudah meninggalkanmu di panti. Mama gak pantas menjadi ibumu karena menutupi malu rela membuang anak sendiri" Dewi menangis di kamarnya sambil memandangi foto bayi anaknya hingga terlelap, karena lelah menangis akhirnya Dewi tertidur.
"Pak Dewi kenapa ya, semenjak pulang dia banyak mengurung diri di kamar?" ucap sang ibu kepada suaminya
"Entahlah bu, mungkin dia lagi ada masalah biarkan dia sendiri dulu untuk menenangkan hatinya baru nanti kita tanya kenapa" jawab bapak.
"Usia Dewi sudah gak muda pak, kenapa dia belum punya calon suami ya?"
Ibu Ningsih merasa khawatir melihat anak gadisnya belum juga menikah di usianya yang sudah kepala 3.
Dewi menutup rapat hatinya untuk pria karena dia merasa gak pantas menjadi istri yang baik karena dia sudah ternoda. Selama bekerja di luar Negeri banyak pria yang mencoba mendekatinya dan berharap ingin meminangnya tapi semua di tolak dengan alasan ingin menikmati kesendiriannya.
Di desa warga banyak yang bertanya kepada bapak Harun kenapa Dewi belum mau menikah dan ada juga yang menyarankan pak Harun untuk meminta bantuan ki Kerto seorang dukun pintar untuk memberikan air supaya Dewi mendapatkan jodoh.
Cahyo dan keluarga tiba di sebuah pulau pribadi miliknya, Erlangga dan Bulan berlari menuju kamar masing-masing untuk beristirahat begitupun nenek Sulasih dan kakek Suparman.
Cahyo mengecek laporan yang di kirim anak buahnya, walau mereka sedang berlibur Cahyo tetap bekerja di kamarnya.
"Boss.., saya melihat Dewi di cctv bandara" kata Bimo sambil menunjukan rekaman cctv yang dia dapat dari anak buahnya.
"Cari Dewi sampai dapat, saya akan memberi bonus pada kalian semua apabila bisa menemukan keberadaannya" ucap Cahyo kepada Bimo dan langsung di sampaikan ke anak buahnya.
"Aku harus menemukanmu Wi, aku akan bertanggung jawab semuanya dan menikahimu" ucapnya dalam hati.
Sore harinya Erlangga dan Bulan berjalan-jalan ke pantai mereka berdua seperti anak kecil yang baru melihat air laut.
"Wah pemandangannya indah banget" Erlang mengagumi keindahan alam di pulau itu.
"Iya Lang, aku baru pertama kali datang ke pulau ini" jawab Bulan.
"Haaaa..., Memang kamu gak tau papamu memiliki pulau ini" tanya Erlangga heran.
"Hehehehe aku taunya papa punya pulau tapi gak pernah di ajak ke sini karena papa sibuk" Dewi menjawab sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
"Lalu kalau liburan kamu gak jalan-jalan sama papa kamu?"
"Aku kalau liburan sering perginya sama kakek dan nenek aja, papa jarang ada waktu dan itu juga gak boleh jauh-jauh bahaya kata papa".
Dewi teringat masa-masa kecilnya yang hidup di desa dan membantu sang kakek di perkebunan jarang menikmati apa yang namanya liburan. Dan papa hanya memberi uang untuk memenuhi kebutuhan Bulan dan keluarga dan mengirimkan barang-barang kebutuhan Bulan sehari-hari.
"Hai ko bengong?" Erlangga membuyarkan lamunan Bulan.
" Siapa juga yang bengong, aku sedang menikmati matahari yang sebentar lagi akan tenggelam" jawab Bulan bohong.
Di Tempat Hiburan Malam
Herlina menjadi primadona bergilir, dia bahkan melayani pelanggan lebih dari 3 orang dalam 1 kamar.
Alex menjadikan dia budak ***, hingga Herlina harus melayani 2 bahkan 3 pria sekaligus. Tangisan dan jeritan Herlina menjadi hiburan tersendiri buat Alex. Dan bahkan gadis itu menjadi bahan taruhan teman-teman judinya hingga Herlina harus menjadi pelampiasan pria hidung belang itu.
Hidup bagai neraka menjadikan Herlina boneka hidup mami Maria, germo itu merasa puas dengan pundi-pundi yang di hasilkan Herlina bertahun-tahun tanpa merasa kasihan sama sekali dengan penderitaannya.
Herlina jatuh sakit, ada infeksi di *********** menjadikan dia harus berobat dan istirahat total hingga membuat mami Maria geram karena tidak ada pemasukan.
"Apa penyakitnya bisa di sembuhkan dok?" tanya mami Maria.
"Bisa tapi membutuhkan waktu yang lama untuk menghilangkan infeksi pada ***********" jawab sang dokter.
"kalau dia tetap bekerja apa akibatnya dok?" tanya mami lagi.
"Lukanya akan makin parah dan dapat mendatangkan virus pada lukanya dan itu bisa menular pada pasangannya"
Keterangan dokter membuat mami Maria pusing dan harus berapa banyak biaya yang akan di keluarkan untuk boneka seksnya itu.
Mami segera menghubungi Alex dan menceritakan kabar sakitnya Herlina dan alex merasa sudah tidak membutuhkannya lagi.
Dan akhirnya mami Maria memutuskan untuk membuang Herlina karena merasa sudah tidak berguna lagi.
Herlina di keluarkan dari tempat protitusi itu, dia di tinggalkan di pinggir jalan. Sebelum Herlina keluar dia sudah di ancam jangan sampai perempuan itu melapor ke polisi karena mami akan menjadikan adik Herlina sebagai tawanan seksnya kalau perempuan itu melaporkannya.
Herlina berjalan melewati jalan setapak tanpa tujuan, wajahnya yang pucat dan yang lemas membuat perempuan itu gampang lelah dan beristirahat di pinggir jalan.
Dia hanya di bekali uang 500rb untuk melanjutkan hidupnya karena uang hasil kerjanya sudah langsung di kirim ke orang tua Herlina di desa.
"Aku harus kemana sekarang?" ucapnya dalam hati
"Aku akan pulang ke desa aja, semoga bapak dan ibu mau menerimaku dan merawatku"
Herlina memanggil taksi yang lewat dan menuju stasiun kereta, dengan uang yang dia punya dia tiba di desa kelahirannya.
Kedua orang tua Herlina terkejut melihat putrinya pulang dalam kondisi sakit,
"Astaga ini kamu Lin, wajahmu pucat sekali" kata bapaknya.
"Aku sakit pak, aku gak kuat menahan sakit ini" jawab Herlina di iringi tangis dari ibu dan adik-adiknya.
"Ya ampun ndo..., demi biaya pengobatan ibu kamu kerja sampai sakit begini" ibu memeluk anaknya.
"Yang penting ibu sekarang sehat, dan ratih udah mau lulus SMA aku sudah bahagia bu" jawab Herlina.
Herlina di bawa ke kamar untuk istirahat, di dalam kamar dia teringat Dewi temannya.
"Aku ingin bertemu kamu Wi sebelum aku meninggal nanti, aku ingin meminta maaf padamu dan ini semua pasti karma yang Tuhan beri kepadaku karena terlalu jahat pada sahabatku sendiri"
Herlina mencari nomor telpon Dewi dan ingin menelponnya tapi usahanya sia-sia karena Dewi sudah mempunya HP dan nomor wa baru.
"Seandainya aku di beri kesempatan itu aku ingin berlutut meminta maaf padamu Wi, Tuhan..., pertemukanlah aku dengan Dewi sebelum kau ambil nyawaku".
Warga sekitar desa sibuk membicarakan Herlina dan hartanya.
"Ternyata Lina jadi perempuan nakal di kota, pantas cepat kaya" kata seorang tetangganya.
"Iya giliran udah sakit aja baru pulang" ucap tetangga yang lainnya.
"Awas nanti menular lagi, kita harus mengusirnya takut virusnya nular kekeluarga kita"
Warga berbondong-bondong menuju rumah pak kades dan mengeluarkan uneq-uneqnya ingin mengusir Herlina di kampung itu.
semoga ada kelanjutan ya thoor
Sungguh Cahyo memang selalu bisa luluh bila hidapkan dengan hal2 membuatnya seperti dirinya dulu apalagi sekarang dia harus mencari anak kandungnya yang jelas2 sudah ada didepan mata yaitu Erlangga anak angkat Haryo dan Mawar. Semoga kalian segera dipertemukan kembali bersama Cahyo Dewi dengan anak kalian Erlangga. 🤲🤲🤲
Huuh bulan kalau ngasih kode lihat sikon neng jadi kesedak tuh bunda sama papamu 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🙈🙈🙈🙈