Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Suasana di kamar VVIP itu mendadak sunyi senyap.
Nyonya Widya, Ratri, bahkan anak-anak terdiam menanti jawaban dari bibir Swari.
Swari menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu beralih menatap Baskara yang tampak tegang menanti keputusannya.
"Aku mau menikah denganmu, Bas," ucap Swari lirih namun tegas.
Baskara baru saja akan mengembuskan napas lega dan tersenyum, sebelum Swari melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih serius.
"Tapi aku punya satu syarat. Syarat yang mungkin terasa berat dan tidak biasa bagimu."
Baskara melangkah mendekat, menggenggam tangan Swari dengan lembut.
"Apa pun, Swa. Katakan saja. Aku akan mengabulkannya meski harus memindahkan gunung."
Swari menarik napas pendek, matanya berkaca-kaca saat teringat perjuangannya selama dua bulan ini di ambang maut.
"Aku ingin kita menikah di rumah sakit ini, Bas. Sekarang juga, setelah kondisiku sedikit stabil."
Baskara tertegun. Nyonya Widya pun tampak terkejut.
"Di rumah sakit, Sayang? Tapi Mama sudah menyiapkan pesta yang paling megah untukmu di hotel bintang lima."
Swari menggeleng pelan. "Aku ingin berbagi sedikit kebahagiaan dengan pasien di sini, Ma. Aku ingin ada perayaan sederhana di bangsal anak dan bangsal kelas tiga. Aku ingin mereka yang sedang berjuang melawan maut seperti aku kemarin, bisa merasakan sedikit harapan."
Swari menatap Baskara dalam-dalam. "Aku tidak butuh pesta mewah di gedung tinggi. Aku ingin memulai lembaran baru kita di tempat di mana aku mendapatkan kesempatan hidup kedua. Apakah kamu bersedia, Bas? Menikah di sini, tanpa kemewahan yang biasa kamu pamerkan?"
Baskara terdiam sejenak. Ia melihat ketulusan di mata Swari.
Ia menyadari bahwa Swari yang sekarang bukan lagi Swari yang bisa dibeli dengan harta, melainkan wanita dengan jiwa yang sangat mulia.
Baskara tersenyum lebar, lalu mencium punggung tangan Swari dengan penuh takzim.
"Jika itu maumu, maka itu akan terjadi. Kita akan membuat rumah sakit ini menjadi tempat paling bahagia besok. Aku akan mendatangkan katering terbaik untuk seluruh pasien dan staf di sini. Kita menikah di sini, Swa. Di hadapan Tuhan dan anak-anak kita."
Alexandria bersorak kegirangan. "Hore! Mama jadi putri di rumah sakit!"
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Navy dan Ratri mengubah taman mediterania di tengah rumah sakit menjadi sebuah altar suci yang dipenuhi dengan mawar putih dan lili.
Sesuai permintaan Swari, tidak ada karpet merah mewah; yang ada hanyalah deretan kursi untuk kerabat dan ruang terbuka agar pasien-pasien lain dapat menyaksikan dari balkon atau jendela kamar mereka.
Suasana begitu tenang. Swari terlihat sangat cantik meski wajahnya masih tampak pucat.
Ia mengenakan gaun putih sederhana dengan potongan leher tinggi untuk menutupi bekas luka operasinya. Karena kakinya masih lemah, ia duduk di kursi roda yang telah dihias cantik dengan pita satin putih.
Baskara berdiri di depan penghulu dengan setelan jas hitam yang sempurna.
Wajahnya yang sudah bersih dari brewok kini memancarkan aura ketegasan dan keharuan yang mendalam.
Saat Swari didorong masuk oleh Alex dan Alexandria, air mata Baskara nyaris jatuh.
Di hadapan penghulu, saksi, dan di bawah tatapan haru para pasien serta perawat yang menonton, Baskara menjabat tangan wali hakim dengan mantap.
"Saya terima nikahnya Swari Aruna binti Almarhum Anggara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"SAH!"
Suara sahutan itu disambut tangis bahagia oleh Nyonya Widya dan Ratri. Swari memejamkan matanya, air mata syukur mengalir deras.
Enam tahun pelarian, rasa sakit, dan perjuangan mautnya berakhir di sini, di sebuah taman rumah sakit.
Setelah prosesi ijab kabul, Baskara tidak langsung membawa Swari kembali ke kamar. Ia berlutut di depan kursi roda istrinya, mencium keningnya lama sekali.
"Terima kasih sudah kembali padaku, Nyonya Surya."
Sesuai janji, perayaan itu bukan milik mereka berdua saja.
Atas instruksi Baskara, Navy mengerahkan puluhan petugas untuk membagikan ribuan paket makanan bergizi dan santunan tunai ke seluruh penjuru rumah sakit.
Setiap paket disertai kartu ucapan: “Mohon doa untuk kesembuhan Nyonya Swari Aruna.”
Banyak pasien yang sedang berjuang melawan penyakit berat menitikkan air mata saat menerima bantuan itu.
Mereka melihat dari kejauhan pasangan yang baru saja bersatu itu—sebuah simbol bahwa harapan dan keajaiban itu nyata, bahkan di tempat yang paling penuh duka sekalipun.
Pemandangan di taman rumah sakit itu benar-benar menggetarkan hati siapa pun yang melihatnya.
Tak menunggu baju pengantinnya diganti, Swari bersikeras ingin mencoba berdiri. Ia ingin momen pernikahannya menjadi langkah pertama bagi kesembuhannya.
Dengan gaun putih yang masih melekat indah di tubuhnya, Swari perlahan mencoba bangkit dari kursi roda.
"Pelan-pelan saja, Nyonya. Otot kaki Anda masih sangat kaku setelah dua bulan tidak digunakan," ucap perawat pendamping dengan nada lembut namun waspada.
Kedua kaki Swari gemetar hebat saat menyentuh ubin taman.
Wajahnya meringis menahan nyeri yang menjalar dari bekas jahitan di dadanya hingga ke persendian kakinya.
Baru saja ia mencoba menumpu beban tubuhnya, keseimbangannya goyah.
"Swa!" Baskara dengan sigap menangkap tubuh istrinya sebelum menyentuh tanah.
Baskara memegangi pinggang Swari dengan kedua tangannya yang kokoh, membiarkan Swari bersandar sepenuhnya pada dadanya.
"Aku di sini, Sayang. Pegang bahuku kuat-kuat. Jangan dipaksa jika sakit."
"Aku bisa, Bas. Aku harus bisa jalan untuk anak-anak," bisik Swari dengan napas tersengal. Keringat dingin mulai tampak di dahinya, namun sorot matanya penuh tekad.
Baskara menatap istrinya dengan pandangan yang begitu memuja.
Ia mengatur langkahnya mengikuti ritme kecil Swari.
Satu langkah kecil... lalu satu langkah lagi. Gaun pengantin Swari menyapu lantai taman dengan anggun saat ia mencoba berjalan di bawah tuntunan suaminya.
"Lihat! Mama jalan! Mama jalan!" teriak Alexandria kegirangan sambil bertepuk tangan bersama Alex.
Para pasien lain yang menyaksikan dari jendela kamar mereka memberikan tepuk tangan riuh.
Pemandangan seorang pengantin wanita yang sedang berjuang belajar jalan didampingi suaminya yang sangat protektif itu menjadi tontonan yang paling mengharukan di rumah sakit hari itu.
"Kamu luar biasa, Swa," bisik Baskara tepat di telinganya, sambil terus menahan bobot tubuh istrinya agar tidak jatuh.
"Enam tahun lalu aku membiarkanmu berjalan sendirian di salju. Mulai hari ini, setiap langkah yang kamu ambil, aku akan selalu ada untuk memegangi tubuhmu."
Swari mendongak, menatap wajah Baskara yang kini bersih dan penuh kasih. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menyandarkan kepalanya di bahu Baskara dengan sukarela.
Baskara tidak membiarkan kaki Swari yang kelelahan menyentuh lantai lebih lama lagi.
Dengan gerakan lembut namun protektif, ia membopong tubuh kecil istrinya yang masih terbalut gaun pengantin itu di lengannya.
Swari secara alami mengalungkan tangannya ke leher Baskara, menyembunyikan wajahnya yang merah karena lelah sekaligus malu di dada bidang suaminya.
Begitu pintu ruang VVIP terbuka, pemandangan hangat menyambut mereka.
Di dinding utama ruangan itu, kini terpajang sebuah lukisan besar hasil karya Alex dan Alexandria.
Lukisan itu menggambarkan empat orang yang bergandengan tangan di bawah pelangi, dengan tulisan cakar ayam di bawahnya: "Selamat Sembuh Mama, Selamat Datang Papa."
Swari tersenyum haru melihatnya. "Mereka yang menggambarnya sendiri?"
"Iya, setiap hari saat kamu masih tidur, mereka duduk di pojok ruangan ini untuk menyelesaikannya," jawab Baskara pelan sambil membaringkan Swari di ranjang dengan sangat hati-hati.
Tak lama kemudian, Ratri masuk dengan nampan besar yang mengepulkan aroma gurih.
Wangi bawang goreng dan kaldu ayam langsung memenuhi ruangan, menggugah selera siapa pun yang menghirupnya.
"Nah, sesuai janji Mbak semalam. Sekarang waktunya Mama dan Papa makan," ucap Ratri sambil menata mangkuk-mangkuk di meja dorong rumah sakit.
Ratri menyajikan soto ayam spesial lengkap dengan koya, sambal, dan perasan jeruk nipis.
Tidak lupa ada makanan pendamping lainnya yang sudah ia siapkan sejak subuh.
"Makan yang banyak, Swa. Kamu harus cepat kuat supaya bisa kejar-kejaran lagi sama Alex dan Alen," goda Ratri sambil memberikan sendok kepada Baskara.
"Bas, suapi istrimu. Dia butuh banyak tenaga setelah latihan jalan tadi."
Baskara menerima sendok itu dengan senang hati.
Ia meniup sesendok kuah soto dengan perlahan sebelum mengarahkannya ke bibir Swari.
"Ayo, Nyonya Surya. Ini soto paling enak sedunia kata kamu, kan?" ucap Baskara lembut.
Swari membuka mulutnya, menikmati setiap suapan yang diberikan Baskara.
Rasa hangat soto buatan kakaknya dan perhatian tulus dari suaminya perlahan mulai menghapus sisa-sisa trauma dinginnya Kanada yang selama ini menghantui mimpinya.
Di ruangan itu, di antara lukisan anak-anak dan aroma masakan rumah, Swari akhirnya merasa benar-benar telah pulang.
Malam semakin larut di ruang VVIP itu. Alex dan Alexandria telah terlelap dengan tenang di sofa besar yang disulap menjadi tempat tidur darurat, sementara Ratri sudah pamit pulang untuk beristirahat.
Suasana menjadi begitu tenang, hanya menyisakan suara ritmis dari monitor kesehatan yang kini nadanya terdengar jauh lebih stabil dan menenangkan.
Baskara masih setia duduk di sisi ranjang, membelai lembut rambut Swari yang kini sudah bersandar nyaman di tumpukan bantal.
Setelah kenyang menyantap soto buatan kakaknya, rona merah mulai kembali ke wajah cantik Swari.
Baskara mendekatkan wajahnya, mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan.
"Terima kasih sudah bertahan, Swa. Aku berjanji, mulai detik ini, tidak akan ada satu air mata pun yang jatuh karena luka. Aku akan menjagamu selamanya, melampaui sisa napas yang aku miliki," bisiknya parau, penuh komitmen yang tulus.
Swari tersenyum tipis. Ia meraih tangan Baskara, meremasnya pelan seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini bukanlah mimpi.
"Bas, setelah semua ini selesai, setelah proyek Mahameru kita berhasil dan berjalan lancar..."
Swari menjeda kalimatnya, matanya menatap Baskara dengan binar yang sudah lama hilang.
"Aku ingin bulan madu ke Paris. Aku ingin melihat menara Eiffel bersamamu, bukan di tengah dinginnya pelarian, tapi di tengah hangatnya cinta kita."
Baskara tertegun sejenak. Permintaan itu terdengar begitu manis dan sederhana, namun maknanya sangat dalam bagi perjalanan mereka yang penuh luka.
Baskara menganggukkan kepalanya dengan mantap. Ia mengecup jemari Swari satu per satu.
"Ke Paris, ke ujung dunia pun akan aku turuti. Kita akan buat kenangan baru yang jauh lebih indah dari masa lalu kita yang kelam. Proyek Mahameru akan menjadi saksi suksesnya bisnis kita, dan Paris akan menjadi saksi dimulainya kebahagiaan kita."
Swari memejamkan mata, merasakan kedamaian yang luar biasa.
Di pelukan pria yang dulunya ia benci namun kini ia cintai kembali, ia akhirnya bisa tidur dengan nyenyak tanpa rasa takut akan hari esok.
Baskara perlahan naik ke atas tempat tidur VVIP yang luas itu, berhati-hati agar tidak menyenggol selang infus atau kabel monitor yang masih terpasang.
Ia memposisikan tubuhnya di samping Swari, menyangga kepala istrinya dengan lengan kokohnya sehingga Swari bisa bersandar dengan nyaman di dada bidangnya.
Suasana menjadi sangat intim dan hangat. Baskara mulai bermain di rambut panjang Swari, memilin ujungnya dengan jari-jemarinya, lalu mengusap helai demi helai dengan penuh kasih sayang.
Aroma sampo rumah sakit yang khas bercampur dengan aroma tubuh Swari yang selalu ia rindukan seolah menjadi candu bagi Baskara.
"Rambutmu sudah semakin panjang, Swa," bisik Baskara pelan, suaranya bergetar karena rasa syukur yang meluap.
"Dulu, setiap malam saat kamu koma, aku selalu membayangkan saat-saat seperti ini. Hanya kita berdua, tanpa ada mesin yang berisik, tanpa ada ketakutan akan kehilanganmu."
Swari memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Baskara di kepalanya.
Rasa nyaman itu membuatnya hampir terbuai ke alam mimpi.
Ia bisa merasakan detak jantung Baskara yang kuat dan stabil di bawah telinganya, sebuah irama yang kini menjadi musik favoritnya.
"Jangan pernah lepaskan lagi, Bas," gumam Swari setengah berbisik, jemarinya meremas pelan kaus yang dikenakan suaminya.
Baskara mempererat pelukannya, namun tetap menjaga agar tidak menekan dada Swari yang masih dalam masa pemulihan.
Ia mencium puncak kepala Swari berkali-kali.
"Tidak akan pernah. Bahkan jika dunia memintanya, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Kamu adalah rumahku, Swa. Dan aku baru saja pulang."
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, kedua insan yang sempat terpisah oleh maut dan dendam itu kini bersatu dalam dekapan yang tenang.
Di luar sana, angin malam bertiup kencang, namun di dalam ruangan itu, hanya ada kehangatan dan janji yang tak terucapkan untuk masa depan mereka.
eh skrg muncul lagi mantan kakak ipar swari
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor