NovelToon NovelToon
The Punchline

The Punchline

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cintapertama
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: St. Jude’s dan Dua Orang Asing

Gerbang besi St. Jude’s Academy yang menjulang tinggi menyambut Achell dengan aura dingin yang mencekam. Gedung asrama itu terbuat dari batu bata merah tua yang ditumbuhi tanaman rambat layu, seolah-olah waktu telah berhenti di sana sejak ratusan tahun lalu. Pak Thomas menurunkan koper-koper Achell dengan gerakan pelan, sesekali ia melirik Nona kecilnya yang sejak tadi hanya diam membisu dengan tatapan kosong.

​"Saya harus kembali sekarang, Nona Achell," ucap Pak Thomas sembari menunduk hormat. "Tuan Edward berpesan agar Nona fokus pada studi dan tidak perlu mengkhawatirkan hal lain."

​Achell hanya mengangguk kecil. Fokus pada studi. Kalimat itu terasa seperti kode halus dari Victor untuk mengatakan: Jangan ganggu aku lagi.

​Setelah mobil hitam itu hilang dari pandangan, Achell menyeret kopernya menuju lobi gedung. Di tengah keramaian siswi baru yang sedang berpelukan dengan orang tua mereka, Achell merasa seperti setitik noda hitam di atas kertas putih. Ia sendirian.

​"Butuh bantuan dengan koper seberat itu, Gadis Pita Biru?"

​Sebuah suara ceria mengejutkannya. Achell menoleh dan mendapati seorang gadis dengan rambut pirang pendek yang berantakan sedang berdiri di sampingnya. Gadis itu mengenakan seragam sekolah yang kancing atasnya sengaja dibuka, memberikan kesan pemberontak.

​"Namaku Sophie. Dan aku bertaruh satu pak cokelat kalau kau sedang mencoba menahan tangis sekarang," ucap gadis itu sembari mengulurkan tangan, langsung merebut salah satu koper Achell tanpa permisi.

​Achell mengerjap, mencoba menetralkan emosinya. "Aku Gabriella Rachel. Dan... aku tidak sedang ingin menangis."

​"Tentu saja. Dan aku adalah Ratu Inggris," goda Sophie sambil terkekeh. "Ayo, kamar kita ada di lantai tiga. Oh, lihat! Itu Julian! Hei, Julian! Bantu kami!"

​Achell melihat seorang laki-laki jangkung dengan seragam yang rapi berjalan mendekat. Wajahnya ramah, dengan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat sangat cerdas namun hangat. Julian adalah salah satu siswa dari asrama putra yang letaknya berseberangan dengan asrama putri, yang kebetulan sedang membantu tugas orientasi.

​"Jangan berteriak, Sophie. Kau memalukan," tegur Julian halus, namun matanya kemudian beralih pada Achell. Ia terdiam sejenak, memperhatikan mata cokelat Achell yang sembap dan merah. "Kau penghuni baru? Aku Julian. Biar kubantu koper yang satu lagi."

​"Terima kasih, Julian," bisik Achell pelan.

​Sepanjang perjalanan menuju lantai tiga, Sophie terus berceloteh tentang betapa membosankannya peraturan di St. Jude’s, sementara Julian sesekali menanggapi dengan fakta-fakta sejarah gedung tersebut. Kehadiran mereka berdua perlahan-lahan mulai mengikis rasa sesak di dada Achell, meski hanya sedikit.

​Saat mereka sampai di depan pintu kamar 302, Julian meletakkan koper Achell dan menatap gadis itu dengan tatapan yang dalam. "Kau terlihat seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, Rachel."

​Achell tersentak. Ia tidak menyangka orang asing seperti Julian bisa membaca raut wajahnya secepat itu. "Hanya... hanya rindu rumah," dusta Achell.

​"Rumah itu tempat di mana kau dicintai, bukan tempat di mana kau hanya berdiri di halaman," sahut Julian seolah bisa membaca pikiran Achell. Ia memberikan sebuah senyuman kecil yang menenangkan. "Kalau kau butuh teman bicara atau sekadar ingin meminjam buku untuk melupakan dunia, kau tahu di mana mencariku. Aku sering di perpustakaan sayap barat."

​Setelah Julian pergi, Sophie langsung merangkul bahu Achell dan membawanya masuk ke dalam kamar. "Jangan masukkan ke hati kata-kata Julian, dia memang sok puitis. Tapi dia benar, tempat ini bisa sangat kejam kalau kau tidak punya teman. Jadi, Rachel... siapa pria yang membuatmu menangis di bawah jendela tadi pagi?"

​Achell membeku saat sedang membongkar kopernya. "Bagaimana kau—"

​"Aku melihatmu dari jendela lobi saat mobilmu sampai. Kau berlari kembali ke gerbang seperti orang gila," Sophie duduk di atas kasurnya, menatap Achell dengan penuh minat. "Pacarmu? Atau cinta bertepuk sebelah tangan?"

​Achell menunduk, tangannya menyentuh sehelai kemeja yang tidak sengaja terbawa dari jemuran Victor—selembar kain yang masih menyisakan aroma parfum maskulin pria itu.

​"Dia... dia paman dari keluarga temanku," jawab Achell lirih. "Dia menganggapku anak kecil. Dan dia benar. Aku memang bodoh karena mengejarnya."

​Sophie mendengus keras. "Dengar ya, Rachel. Di sekolah ini, tidak ada yang namanya anak kecil. Kita semua sedang dipersiapkan untuk menjadi 'wanita terhormat' yang membosankan. Kalau dia menganggapmu lelucon sekarang, pastikan saat kau pulang nanti, dia adalah orang pertama yang memohon perhatianmu."

​Achell terdiam. Kata-kata Sophie bergema di kepalanya. Memohon perhatianku? Mungkinkah itu terjadi pada seorang Victor Louis Edward yang keras kepala?

​Malam itu, untuk pertama kalinya, Achell tidur di ranjang yang bukan miliknya. Di bawah bantalnya, ia menyembunyikan sisa bunga melati yang sudah layu. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, Julian sedang menuliskan sesuatu tentang "gadis bermata sedih" di buku hariannya, dan Sophie sedang merencanakan cara agar Achell bisa melupakan "Uncle Victor"-nya.

​Namun jauh di London, Victor sedang menatap kursi kosong di meja makannya, menyadari bahwa suara tawa yang biasanya mengganggunya, kini benar-benar telah hilang. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, keheningan di rumah itu terasa sangat memekakkan telinga.

1
shabiru Al
akhirnya ngaku juga achell cinta sama victor
shabiru Al
sama sama keras kepala angkuh dan berego tinggi,,, kapan bisa bersama keburu victornya makin tua 🤭
shabiru Al
eleehhh sanksi saja terus,, dan akan berubah sesuai keadaan.. klo begini kapan selesainya....
shabiru Al
siapa marco,, kenapa begitu detail tahu kisah victor dan achell ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
Hanja
🤍🫶🏻
panjul man09
author memang 👍 diawal ,pemeran victor kami benci, tapi saat ini victor bisa menarik simpatik dan dukungan untuk mendapatkan achell 😄
christian Defit Karamoy
mantap thor👍
panjul man09
sosok victor yg dulu dan yg sekarang sangat kontras
panjul man09
untuk bisa sepenuhnya lepas dari victor ,achell harus menikah dgn orang lain .
panjul man09
untuk laki2 usia 32 bukan tua tapi matang , kenapa di cerita ini victor selalu disebut tua.
Anny
jgn kau hukum Victor begitu keras Gabriel aku merasa kau terlalu kejam dan tidak punya hati untuk seukuran perempuan yg pernah mencintai dan memujanya dahulu
Anny
Menurut aku yaa disini tg paling tersiksa adalah Victor karena kesalahan dia yg tidak terlalu berat dimasa lalu harus menerima hukuman yg berkali kali lipat GK adil bgt bagi dia
panjul man09
di awal cerita disebut usia victor 25 dan memasukkan achel ke asrama selama 3 tahun ,saat achel lulus usia victor 28 ditambah achel kuliah 4 tahun berarti usia victor sudah 32 tahun ,iya kan thor ???
panjul man09
sangat puitis dan/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
alur ceritanya sangat menarik ,terlihat sangat berbeda dari novel2 yg lain , sangat menyentuh hati , ada pelajaran yg bisa diambil , tata bahasanya sangat bagus ,saat membaca novel ini seolah olah kita menonton film barat romance di layar tv .
panjul man09
hanyut terbawa cerita ....lanjut
panjul man09
semoga achell mau membuka hatinya
shabiru Al
semangat up nya ya thor,, ntar senin ta kasih vote.. besok ta kasih bunga sampe abis tuh poin 😄🤭
panjul man09
jangan pernah mengingatnya lagi achell !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!