"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: St. Jude’s dan Dua Orang Asing
Gerbang besi St. Jude’s Academy yang menjulang tinggi menyambut Achell dengan aura dingin yang mencekam. Gedung asrama itu terbuat dari batu bata merah tua yang ditumbuhi tanaman rambat layu, seolah-olah waktu telah berhenti di sana sejak ratusan tahun lalu. Pak Thomas menurunkan koper-koper Achell dengan gerakan pelan, sesekali ia melirik Nona kecilnya yang sejak tadi hanya diam membisu dengan tatapan kosong.
"Saya harus kembali sekarang, Nona Achell," ucap Pak Thomas sembari menunduk hormat. "Tuan Edward berpesan agar Nona fokus pada studi dan tidak perlu mengkhawatirkan hal lain."
Achell hanya mengangguk kecil. Fokus pada studi. Kalimat itu terasa seperti kode halus dari Victor untuk mengatakan: Jangan ganggu aku lagi.
Setelah mobil hitam itu hilang dari pandangan, Achell menyeret kopernya menuju lobi gedung. Di tengah keramaian siswi baru yang sedang berpelukan dengan orang tua mereka, Achell merasa seperti setitik noda hitam di atas kertas putih. Ia sendirian.
"Butuh bantuan dengan koper seberat itu, Gadis Pita Biru?"
Sebuah suara ceria mengejutkannya. Achell menoleh dan mendapati seorang gadis dengan rambut pirang pendek yang berantakan sedang berdiri di sampingnya. Gadis itu mengenakan seragam sekolah yang kancing atasnya sengaja dibuka, memberikan kesan pemberontak.
"Namaku Sophie. Dan aku bertaruh satu pak cokelat kalau kau sedang mencoba menahan tangis sekarang," ucap gadis itu sembari mengulurkan tangan, langsung merebut salah satu koper Achell tanpa permisi.
Achell mengerjap, mencoba menetralkan emosinya. "Aku Gabriella Rachel. Dan... aku tidak sedang ingin menangis."
"Tentu saja. Dan aku adalah Ratu Inggris," goda Sophie sambil terkekeh. "Ayo, kamar kita ada di lantai tiga. Oh, lihat! Itu Julian! Hei, Julian! Bantu kami!"
Achell melihat seorang laki-laki jangkung dengan seragam yang rapi berjalan mendekat. Wajahnya ramah, dengan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat sangat cerdas namun hangat. Julian adalah salah satu siswa dari asrama putra yang letaknya berseberangan dengan asrama putri, yang kebetulan sedang membantu tugas orientasi.
"Jangan berteriak, Sophie. Kau memalukan," tegur Julian halus, namun matanya kemudian beralih pada Achell. Ia terdiam sejenak, memperhatikan mata cokelat Achell yang sembap dan merah. "Kau penghuni baru? Aku Julian. Biar kubantu koper yang satu lagi."
"Terima kasih, Julian," bisik Achell pelan.
Sepanjang perjalanan menuju lantai tiga, Sophie terus berceloteh tentang betapa membosankannya peraturan di St. Jude’s, sementara Julian sesekali menanggapi dengan fakta-fakta sejarah gedung tersebut. Kehadiran mereka berdua perlahan-lahan mulai mengikis rasa sesak di dada Achell, meski hanya sedikit.
Saat mereka sampai di depan pintu kamar 302, Julian meletakkan koper Achell dan menatap gadis itu dengan tatapan yang dalam. "Kau terlihat seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, Rachel."
Achell tersentak. Ia tidak menyangka orang asing seperti Julian bisa membaca raut wajahnya secepat itu. "Hanya... hanya rindu rumah," dusta Achell.
"Rumah itu tempat di mana kau dicintai, bukan tempat di mana kau hanya berdiri di halaman," sahut Julian seolah bisa membaca pikiran Achell. Ia memberikan sebuah senyuman kecil yang menenangkan. "Kalau kau butuh teman bicara atau sekadar ingin meminjam buku untuk melupakan dunia, kau tahu di mana mencariku. Aku sering di perpustakaan sayap barat."
Setelah Julian pergi, Sophie langsung merangkul bahu Achell dan membawanya masuk ke dalam kamar. "Jangan masukkan ke hati kata-kata Julian, dia memang sok puitis. Tapi dia benar, tempat ini bisa sangat kejam kalau kau tidak punya teman. Jadi, Rachel... siapa pria yang membuatmu menangis di bawah jendela tadi pagi?"
Achell membeku saat sedang membongkar kopernya. "Bagaimana kau—"
"Aku melihatmu dari jendela lobi saat mobilmu sampai. Kau berlari kembali ke gerbang seperti orang gila," Sophie duduk di atas kasurnya, menatap Achell dengan penuh minat. "Pacarmu? Atau cinta bertepuk sebelah tangan?"
Achell menunduk, tangannya menyentuh sehelai kemeja yang tidak sengaja terbawa dari jemuran Victor—selembar kain yang masih menyisakan aroma parfum maskulin pria itu.
"Dia... dia paman dari keluarga temanku," jawab Achell lirih. "Dia menganggapku anak kecil. Dan dia benar. Aku memang bodoh karena mengejarnya."
Sophie mendengus keras. "Dengar ya, Rachel. Di sekolah ini, tidak ada yang namanya anak kecil. Kita semua sedang dipersiapkan untuk menjadi 'wanita terhormat' yang membosankan. Kalau dia menganggapmu lelucon sekarang, pastikan saat kau pulang nanti, dia adalah orang pertama yang memohon perhatianmu."
Achell terdiam. Kata-kata Sophie bergema di kepalanya. Memohon perhatianku? Mungkinkah itu terjadi pada seorang Victor Louis Edward yang keras kepala?
Malam itu, untuk pertama kalinya, Achell tidur di ranjang yang bukan miliknya. Di bawah bantalnya, ia menyembunyikan sisa bunga melati yang sudah layu. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, Julian sedang menuliskan sesuatu tentang "gadis bermata sedih" di buku hariannya, dan Sophie sedang merencanakan cara agar Achell bisa melupakan "Uncle Victor"-nya.
Namun jauh di London, Victor sedang menatap kursi kosong di meja makannya, menyadari bahwa suara tawa yang biasanya mengganggunya, kini benar-benar telah hilang. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, keheningan di rumah itu terasa sangat memekakkan telinga.