Aqila gadis cantik berusia delapan belas tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan nya di negara Finlandia.
Malam itu untuk merayakan kelulusan nya, Aqila berhasil kabur dari penjagaan ketat para bodyguard milik kakak nya.
Tetapi siapa yang menyangka gadis itu malah kabur ke sebuah night club terkenal di kota tempat ia tinggal dan terjebak oleh sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya? Sesuatu seperti apa yang akan menimpah dirinya? Atau mungkin sebuah jebakan?
Note:- Agar mengerti jalan cerita sebelumnya, disarankan membaca karya "Terjebak Cinta Om Mafia Possesive"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-21-
Di depan meja rias sana, Aqila tengah menggerutu kesal dan mencoba menutupi tanda merah keunguan yang begitu banyak di leher bahkan hingga ke dada nya.
"Dasar mesum! Aku benar-benar ingin menampar bibir nya hingga tidak bisa bergerak lagi!"
Bram yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang, lantas menghampiri isri kecilnya yang terlihat sedang mengomel.
"Kenapa sih, masih pagi udah marah-marah aja" Seru lembut Bram membungkuk kan tubuhnya dan mengecup sekilas pipi Aqila
"Ishh sana jauh-jauh!" Hardik kesal Aqila menghapus kasar bekas kecupan Bram.
Bukan nya menjauh tetapi Bram malah memegang kedua pipi chubby milik Aqila dan sedetik kemudian Bram menghujami bibir yang sedikit maju itu dengan kecupan nya hingga suara itu terdengar cukup menggema di dalam kamar mereka.
"Kak Bram!" Sentak kesal Aqila mendorong tubuh Bram.
"Hahaha baiklah-baiklah" Tawa Bram pecah melihat ekspresi kesal Aqila.
Wajah Aqila memerah menandakan betapa kesal nya ia saat ini, bahkan deru napasnya terdengar begitu menggebu-gebu.
"Mana pakaian aku?" Tanya Bram setelah melihat sekeliling dan tidak menemukan pakaian nya.
"Cari sendiri!"
"Sayang.."
Tatapan tajam Bram seakan menusuk Aqila dari kaca yang saat ini tengah Aqila hadapkan ke wajah nya. Dengan kesal Aqila beranjak dan mulai memilih pakaian untuk Bram.
"Nih, pakai sendiri!"
"Istri pintar" Puji Bram menepuk-nepuk kepala Aqila.
Aqila tidak menyahut lagi, kini dirinya kembali duduk di depan meja rias dan kembali menutupi tanda yang Bram buat dengan foundation milik nya.
.
"Gak usah di tutupi, terlihat lebih bagus" Ujar tiba-tiba Bram yang sudah berada disamping Aqila dan merebut paksa foundation tersebut.
Bram sudah rapih dengan setelan pakaian yang Aqila pilihkan tadi, terlihat sangat tampan dan menawan. Tetapi kelakuan pria itu benar-benar membuat Aqila jengkel.
"Sini kak, cepat!"
"Gak usah di tutupi"
"Apa-apaan sih! Nanti aku di kira perempuan liar!" Aqila berdiri dan mencoba meraih foundation ditangan Bram, tetapi dengan sengaja Bram mengangkat tangan nya setinggi mungkin.
"Siapa yang berani bicara seperti itu pada istriku?"
"Pasti ada, dan sekarang cepat berikan sebelum aku kehabisan formulir!"
Padahal masih pagi, tetapi Aqila terus marah-marah dan bisa di pastikan dalam sebulan ke depan jika Aqila masih terus seperti ini, maka ia akan hipertensi.
"Lima menit lagi kamu belum selesai, maka formulir universitas kesukaan mu akan habis" Ucap Bram langsung pergi dari kamar itu membawa foundation milik Aqila di tangan nya.
"Kak Bram!!" Pekik geram Aqila.
Entahlah bagaimana lagi jangan kan setengah bahkan seperempat dari tanda yang di buat Bram saja belum tertutup.
Dan hanya foundation yang di bawa oleh Bram lah milik Aqila satu-satu nya. Karena Aqila tidak pernah menggunakan make up tebal atau sejenisnya seperti para teman-teman nya, kecuali ketika ada acara penting.
.
.
.
"Huft, untung saja masih ada" Gumam senang Aqila dengan lembar formulir pendaftaran di tangan nya.
"Senang?" Tanya Bram merapihkan surai Aqila.
"Hmm, sangat senang"
"Formulir nya dikumpulkan minggu depan 'kan?"
Aqila mengangguk sebagai jawaban.
"Yasudah ayo kita pulang, atau mau jalan-jalan?"
"Pantai, aku ingin ke pantai" Sahut antusias Aqila menatap berbinar senang wajah Bram.
Melihat tatapan Aqila senyum manis langsung terukir dibibir Bram, ia sangat menyukai Aqila yang seperti ini. Sangat mirip dengan gadis kecil-nya sebelum lupa ingatan.
"Baiklah, ayo" Bram menggenggam tangan Aqila menautkan jari-jari mereka.
Baru saja hendak melangkah keluar dari gedung universitas itu, tetapi Aqila terdiam dan hal itu pun membuat Bram menatap nya bingung.
"Ada apa?"
"Emm.. Aku kebelet, mau ke toilet dulu sebentar" Cicit pelan Aqila.
"Astaga dasar bocah" Celetuk gemas Bram.
"Ap-- Sana cepat, mau aku antar atau aku tunggu di sini?" Tanya Bram memotong ucapan Aqila yang hendak mengoceh.
"Cih, tunggu saja di sini dan pegang ini!" Sinis Aqila menyerahkan formulir pendaftaran itu secara kasar pada Bram. Dan tanpa berlama-lama lagi Aqila langsung pergi.
"Dasar bocah menggemaskan!"
.
Hampir dua puluh menit Bram berdiri ditempat yang sama menunggu istri kecilnya yang tadi bilang ingin pergi ke toilet, tetapi sampai saat ini Aqila belum juga terlihat.
"Astaga kemana dia?" Gumam Bram sedikit panik.
Tanpa berlama-lama Bram berjalan menyusuri lorong universitas yang dulu nya adalah tempat ia belajar, dan mulai mencari letak toilet menurut ingatan nya.
Hingga akhirnya Bram sampai di depan toilet perempuan, dan terlihag sangat sepi. Melihat hal itu pikiran Bram langsung berkecamuk, ia takut istri nakal nya itu kabur.
"Aqila" Teriak Bram mencoba memanggil.
Tidak ada sahutan, ingin masuk pun tetapi Bram takut tiba-tiba di dalam ada perempuan lain. Berkali-kali Bram memanggil Aqila, tetapi sama tidak ada hasil nya.
Pada akhirnya Bram memutuskan untuk melangkah memasuki toilet itu, tetapi langkah nya terhenti kala melihat Aqila keluar dengan mata sembab dan penampilan acak-acakan nya.
"Sayang!!" Panik Bram langsung menarik tubuh Aqila ke dalam pelukan nya.
Tangis Aqila pecah di dalam pelukan Bram, bahkan tangan nya memeluk erat tubuh Bram dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
"Astaga ada apa? Kamu kenapa? Apa ada yang menjahati kamu di dalam?" Tanya beruntun Bram dengan kekhawatiran nya.
Ingin mencoba melepaskan pelukan Aqila agar Bram bisa melihat wajah istri nya pun tidak bisa, karena Aqila memeluknya begitu erat dan semakin meraung.
"Sayang, ada apa? Jangan buat aku takut hei" Lembut Bram mencoba menemangkan.
Tangan Bram tidak tinggal diam, ia terus mengusap-usap rambut Aqila seraya merapihkan nya dan mengusap punggung bergetar itu.
"Mereka jahat hikss.." Ujar Aqila dengan tangis nya setelah sekian lama, hingga kemeja yang Bram gunakan pun terasa basah karena air matanya.
"Siapa? Kamu di apakan sama mereka?"
Aqila menggeleng kan cukup kuat kepalanya dan semakin menangis tersedu-sedu. Lain hal nya dengan Bram yang sudah sangat diliputi emosi dan amarah saat melihat keadaan istri nya.
Tetapi ia mencoba tenang dan yang terpenting menenangkan Aqila, tetapi bukan nya semakin tenang Aqila malah semakin menangis yang membuat hatinya seakan tertusuk ribuan pisau.
"Hikss.. Mereka jahat hikss.."
"Sutt.. Tenang lah, ada aku disini" Lembut Bram dengan mata memerah menatap tajam ke arah toilet.
...****************...