"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Sedikit Tercubit
Selesai sarapan, mereka benar-benar berpisah seperti dua rekan kerja profesional.
Alex berangkat lebih dulu dengan mobilnya, sementara Dea menyusul beberapa menit kemudian. Di dalam mobil taksi, Dea menatap lurus ke depan mencoba merapikan pikirannya. Kalimat Alex tadi masih terngiang jelas di kepalanya.
Hari ini juga.
Ia menghembuskan napas panjang. Mungkin memang sudah waktunya.
Gedung perusahaan tempat Dea bekerja menjulang tinggi, dengan dinding kaca yang memantulkan sinar matahari pagi. Baru saja Dea turun dari mobil dan melangkah menuju pintu masuk, sebuah suara memanggil namanya dengan nada yang terlalu familiar.
“Dea,” panggil Barry.
Langkah Dea terhenti.
Ia menoleh dan jantungnya langsung berdegup tak nyaman saat melihat Barry berdiri tak jauh darinya. Tersenyum sok manis seperti biasa.
“Barry,” dahi Dea berkerut. “Kenapa kamu datang ke sini?”
Barry mendekat cepat, lalu refleks menahan pergelangan tangan Dea sebelum wanita itu sempat melangkah lagi. “Aku dari tadi telepon kamu tidak aktif. Chat juga tidak dibalas. Kamu ke mana saja, sih?”
Dea menarik tangannya dengan kasar. Tatapannya dingin, jauh berbeda dari biasanya. “Aku sibuk.”
“Sibuk apa sampai semalaman tidak bisa dihubungi?” Barry menatapnya curiga, tapi kemudian ekspresinya melunak, seolah mengingat tujuan awalnya datang. “Aku khawatir, De.”
Dea terkekeh pelan, sekarang kalimat khawatir itu terasa begitu lucu di telinganya. “Khawatir… atau butuh sesuatu?” tanya Dea langsung, tanpa basa basi dan malas berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja.
Barry terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. “Iya, jujur saja aku memang sedang butuh bantuan, hanya sedikit saja.”
Dea menatapnya lurus, tanpa kedipan. “Berapa?”
Barry terkejut dengan nada datar itu. karena biasanya Dea akan lebih dulu bertanya penuh perhatian, untuk apa uangnya, lalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi sekarang Dea terlihat sangat berbeda, hanya pertanyaan ketus tanpa ada perhatian. Sekejap Barry teringat dengan ucapan Gisel pagi tadi, tentang perubahan Dea yang tiba-tiba.
tapi daripada memikirkan tentang hal itu semakin dalam, Barry putuskan untuk mengabaikannya saja. Tak ingin terbawa perasaan seperti Gisel. “Tidak banyak Sayang, Aku hanya ingin membeli_”
“Beli apa?,” potong Dea dingin. “Kamu selalu datang kalau butuh uang," timpalnya dengan terkekeh kecil.
Barry makin tak nyaman dengan sikap Dea kali ini. “Kenapa kamu bicara seperti itu, De? Aku pacarmu, wajar jika kita saling membantu."
Dea tertawa kecil, kali ini getir. “Pacar?” Ia menggeleng pelan. “Barry, selama ini kamu itu apa selain beban dalam hidupku?”
Wajah Barry langsung berubah. “Dea, kamu kenap? bicaramu semakin keterlaluan.”
“Keterlaluan?” Dea melangkah maju satu langkah, membuat Barry refleks mundur. “Aku yang kerja mati-matian, aku yang bayar ini itu, aku yang selalu mengalah. Sementara kamu? Datang cuma kalau dompetmu kosong.”
Barry mengeraskan rahangnya. “Kamu merendahkan aku karena aku tidak sekaya kamu sekarang?”
“Bukan sekarang,” jawab Dea tenang, tapi menusuk. “Dari dulu. Aku hanya terlalu bodoh untuk mengakuinya.”
“Dea_”
“Aku capek,” potong Dea. “Capek punya pacar yang miskin, malas, dan cuma bisa numpang hidup.”
Kata-kata itu membuat Barry terpaku. Dea yang selama ini dia pikir sangat mencintainya tiba-tiba mengucapkan kalimat kejam tersebut. Sumpah, hal seperti ini tidak pernah Barry duga sebelumnya.
Dea marah-marah bukan karena perselingkuhannya dengan Gisel, tapi justru merendahkan harga dirinya.
Dea menatap Barry tanpa ragu. “Kita selesai.”
“Apa maksud mu?” suara Barry meninggi. “Kamu putusin aku hanya karena uang?”
“Bukan cuma karena uang,” balas Dea dingin. “Tapi karena kamu tidak pernah jadi apa-apa dalam hidupku.”
Barry mengepalkan tangan. “Jaga ucapan mu De atau kamu akan menyesalkannya nanti.
Dea tersenyum tipis. “Aku tidak akan menyesal, justru aku baru sadar, aku tidak cocok dengan pria miskin sepertimu.”
Ia melirik jam tangannya, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Barry berdiri terpaku di depan gedung tinggi itu, menatap punggung Dea yang menjauh dengan wajah tak percaya.
Sementara Dea melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan, dadanya terasa ringan. Hari ini ia benar-benar mengakhiri satu bab kelam dalam hidupnya.
"Dea!" panggil Barry setelah sadar bahwa dia benar-benar akan kehilangan ATM berjalannya. "De! Dengar kan aku dulu De, maafkan aku!" pinta Barry, dia coba menyusul tapi Dea sudah lebih dulu masuk ke dalam perusahaan tersebut.
"Pak, usir saja laki-laki itu," titah Dea pada sang penjaga keamanan.
Jika sudah seperti ini maka Barry sudah tidak bisa berkutik lagi.
Tanpa disadari oleh Dea dan siapapun, diam-diam Alex melihat semua pemandangan itu dari dalam mobilnya. Dia tersenyum kecil, senang karena akhirnya Dea mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih.
"Tuan, kita masuk sekarang?" tanya Juan, yang juga ikut memperhatikan semuanya. Kini adegan yang mereka tonton sudah berakhir, Karena itulah dia mengajukan pertanyaan ini.
"Hem," jawab Alex singkat dan Juan melajukan mobilnya menuju lobby utama.
"Dea!!" panggil Barry yang kini tubuhnya sudah ditarik oleh penjaga keamanan.
"Jangan membuat keributan di sini, atau kami panggil polisi."
"Akh!" pekik Barry yang jadi kesal sendiri, seolah Dea berubah hanya dalam waktu semalam.
Padahal terakhir mereka bertemu waktu itu semuanya masih baik-baik saja. "Kenapa jadi seperti ini, sih!" kesal Barry yang mulai berjalan menuju motornya.
Sungguh dia benar-benar merasa tidak terima dicampakkan seperti ini, tidak, Dea tidak boleh memperlakukannya dengan rendah. Karena Barry sangat yakin Dea begitu mencintainya.
"Sial! Sial!" Maki Barry tak habis-habis. "hubungan kita tidak akan pernah berakhir De, jangan harap aku akan melepaskanmu!" putus Barry, dia sudah bertekad akan menemui Dea nanti.
Bagaimanapun caranya dia tak akan melepaskan Dea.
Dan seperti biasa, tiba di kantor Dea langsung berkutat dengan pekerjaannya. Bukan hanya Dea sendiri yang menjabat sebagai sekretaris Alex, tapi juga ada Milie sebagai rekan kerjanya.
"Mil, maaf aku terlambat ya," ucap Dea seraya mengambil posisi duduk.
"Belum terlambat De, hanya saja hari ini aku datang lebih dulu," jawab Milie dengan tersenyum. "Sebentar lagi tuan Alex pasti datang, aku sudah merapikan meja dan menyiapkan kopi. Materi rapat juga sudah ku cetak."
"Oke, nanti aku cek ulang daftar temu tuan Alex untuk hari ini."
"Hem."
Pembicaraan mereka terhenti saat Alex akhirnya tiba, berjalan angkuh seperti biasa memasuki ruangannya.
Deg! jantung Dea entah kenapa berdenyut nyeri, ternyata ada saja perasaan tak nyaman yang masuk ke dalam hatinya. Di apartemen mereka begitu inttim, tapi di sini seolah tak terjadi apa-apa.
Dea tak bisa bohong, hatinya terasa sedikit tercubit.
Setelah Alex masuk ke ruangannya barulah Dea bisa bernafas lega.
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..