Novel ini sebuah novel kisah nyata tentang petugas yang bekerja di sebuah sawmill atau penggergajian kayu pada kisaran tahun 1997an yang letaknya di tengah hutan di daerah jawa timur
Dimana rumah tinggal petugas itu ternyata menyimpan misteri yang menakutkan, tetapi karena dia membutuhkan uang untuk biaya nikah sehingga dia tidak gentar meskipun menghadapi berbagai gangguan disana.
Kisah yang cukup mengerikan ini dikisahkan sendiri oleh mantan petugas itu kepada penulis yang merupakan masih saudara jauhnya.
Tidak ada jalan keluar, tidak ada solusi selain menghadapi gangguan yang hampir tiap malam selalu mendatanginya. Tidak ada penyelesaian selain keluar dari tempat itu.
Tetapi ada sesuatu yang membuat petugas itu enggan keluar dari sana, dan memilih bertahan disana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Bashi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.MAMAD?
Aku tidak beranjak dari tempat tidur, tubuhku rasanya kaku untuk digunakan bergerak, keheningan dan suara ketukan di pintu itu benar-benar membuat badanku kaku.
“Bukakan pintu mas, saya Mamad maass….”
Suara serak itu sekarang ada di samping kamarku, suara itu ada di balik jendela kamar!
Ku Jauhkan tubuh dari jendela setelah tubuh bisa kugerakan.
Kemudian aku duduk di lantai, di tengah-tengah kamar, di tengah-tengah kamar aku menunduk dan menutup telinga hingga semua menjadi hening.
Beberapa saat kemudian setelah yakin semua sudah usai ku tengadahkan kepala kulihat langit-langit kamar dan berusaha kuat untuk mendengar sesuatu lagi.
Keadaan menjadi sepi, tidak ada suara jangkrik, tidak ada ketukan di pintu depan, tidak ada suara memanggilku. Semua menjadi hening, hanya degup jantungku yang berdetak kencang yang bisa kudengar.
Aku berdiri dari posisi duduk di lantai, dan kembali ke tempat tidur, aku merebahkan diri dengan nafas yang tersengal sengal.
Tapi tiba-tiba telingaku mendengar suatu suara yang tidak asing. seperti suara handle pintu yang berusaha dibuka dari luar. mataku terbuka lebar untuk memastikan suara apa itu yang terdengar.
…KLEK…CKLEK….CKLEK…”Hingga beberapa kali suara itu terdengar.
“YA Allah itu handle pintu depan!, untung tadi kunci slot sudah kupasang!” gumamku sambil duduk di pinggir tempat tidur
“CKLEK….CKLEK….”
Setelah beberapa saat suara itu hilang dengan sendirinya, tetapi aku tidak percaya begitu saja bisa saja sebentar lagi pasti ada sesuatu yang akan menggangguku lagi.
Keringat dingin membasahi tubuhku hingga kaos yang kukenakan ini basah kuyup.
Aku masih terduduk di pinggir tempat tidurku hingga yakin kalau gangguan sudah selesai, kemudian kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.
“Ternyata baru pukul 01.25, masih beberapa jam lagi menuju pagi hari”
Kuambil lagi sebatang rokok, aku terbiasa merokok dengan cepat untuk menghilangkan rasa takut, ndak terasa sudah dua batang yang kuhisap dalam waktu tidak lebih dari 10 menit.
Duduk terdiam di pinggir tempat tidur sambil mendengarkan apabila ada suara-suara ganjil yang mungkin akan terdengar lagi.
Hingga beberapa menit ternyata tidak ada apapun, kemudian kurebahkan diriku lagi tetapi mataku dan telingaku tetap awas.
Hingga beberapa menit tidak terjadi sesuatu sama sekali, aku mulai ngantuk dan akhirnya aku tertidur.
*****
Sinar matahari pagi mengenai wajahku melalui celah ventilasi yang ada di sekitar kamar, kubuka mataku perlahan lahan.
“Alhamdulillah sudah pagi, Syukur Alhamdulillah aku masih hidup”
Sebenarnya aku ingin bermalas-malasan hari ini, tapi harusnya kan hari ini pekerja belum kembali kerja, katanya bisa sampai dua atau tiga hari apabila terjadi kematian dengan pekerja yang ada di sini.
Cukup lama juga aku ada di tempat tidur tanpa beranjak dari kamar sama sekali, rasanya ngantuk sekali setelah semalaman terganggu oleh berbagai macam hal yang tidak masuk akal sama sekali.
Setelah melemaskan beberapa otot punggung dan tangan aku berjalan keluar kamar, tujuan pertamaku pastinya adalah kamar mandi.
Di ambang pintu kamar, aku toleh kiri kanan dulu, rasa penasaran dan rasa takut itu masih ada meskipun sekarang sudah pagi dan matahari sudah masuk ke dalam rumah tentunya.
“Hmm aman, dari semalam aku nahan kencing terus, sakjane di dalam kamar aku sediakan satu botol kosong air mineral saja untuk nampung air kencingku hufff….”
Kamar mandi tidaklah jauh dar kamarku, tapi rasanya ada sesuatu yang menyuruhku tidak untuk menuju ke kamar mandi. Kutoleh kamar Mamad yang tertutup pintunya, ada rasa ingin tau yang kuat untuk membuka pintu kamar itu, tapi kan itu namanya lancang.
Kuberanikan diri ke kamar mandi meskipun aku merasa takut…..
“Lho kok pintu kamar mandi ini tutupan, bukanya bisanya pintu ini terbuka, tapi aku ya lupa, kemarin setelah mandi sore pintu ini apa aku tutup ya?”
Ketika akan kubuka pintu kamar mandi, tiba-tiba perutku bergejolak…. gejolak yang tidak bisa ditahan lagi dan harus segera dikeluarkan saat ini juga!
Kuurungkan membuka pintu kamar mandi, aku bergegas mencari kunci-kunci pintu rumah yang tadi kusimpan di dalam kamar, setelah pintu depan kubuka kemudian pintu pagar juga kubuka, aku bergegas lari menuju ke bagian belakang rumah.
“Aaaah bilik kenikmatan itu sudah menungguku dengan tenangnya”
Suasana pagi yang cerah ditambah dengan semilir angin yang ada di bagian belakang rumah, ditambah dengan rindangnya pohon beringin yang ada di depan sana membuat suasana buang hajat ini semakin nikmat.
Ndak terasa aku cukup lama ada disini hingga seluruh isi perutku aku keluarkan semua.
Sungai yang tidak terlalu lebar ini sangat indah apabila dalam keadaan tidak meluap seperti semalam, sungai yang berlatar belakang tanah kosong dengan semak belukar yang tidak terlalu lebat menghasilkan pemandangan yang indah.
Aku berjalan pulang setelah menikmati bilik yang sangat penting bagi kepentingan beberapa orang macam aku, pagar yang terbuat dari seng benar-benar bisa membatasi area penggergajian dengan bagian luar ini.
*****
“Nuwun sewu, apa njenengan ini yang namanya pak Agus?” sapa seseorang yang ada di depan pagar rumah ketika aku sudah dekat dengan bagian depan rumah
“Inggih pak”
aku berlari mendekati orang yang ternyata tidak sendirian itu, dia bersama dengan seorang pemuda yang usianya lebih muda dari orang yang menyapaku
“Wonten nopo pak (ada apa pak)”
“Saya Theodore Wagimin, panggil saja saya Gimin, saya dari kota yang kemarin pak agus dijemput oleh Mamad itu”
“Nganu pak Agus, saya adalah teman Darsamad, saya mau kabari kalau Mamad kemarin malam meninggal karena tertabrak bis di kotanya, ketika dia akan menyeberang jalan. Ada bis yang nyelonong karena menghindari motor yang tiba-tiba berhenti”
“Tadi malam keluarganya mengabari saya untuk menyampaikan berita kematian ini kepada pak Agus” kata orang itu lagi
Aku terkesiap, darahku seolah berhenti, aku terpaku dan tidak bisa berkata apa lagi mendengar kabar tentang kematian Mamad.
“Inalillahi wainailaihi rojiun…..” hanya kalimat itu saja yang tiba-tiba keluar dari mulutku setelah aku terdiam cukup lama di tempatku berdiri.
“Pak…. pak Agus…. pal Agus….”
“Eh iya pak, maaf saya kaget sekali mendengar Mamad meninggal” aku kaget ketika orang itu beberapa kali memanggilku
“Eh pak … kalau boleh tau Mamad itu tinggal di mana ya pak, mungkin saya bisa takziah ke rumahnya pak”
“Dia tinggal di kota Njgk pak, saya sendiri juga tidak tau alamatnya, eh coba nanti saya telpon keluarganya untuk menanyakan dimana dia tinggal” kata pak Gimin
“Eh begini saja pak Gimin, saya ikut bersama njenengan saja, sekalian saya mau ke wartel untuk hubungi atasan saya tentang berita kematian Mamad ini”
“Sebentar pak saya akan siap-siap dulu pak, sekalian keluarkan motor dulu”
Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas tangan sekalian beberapa keperluan ku apabila memang harus menuju ke rumah Mamad yang ada di kota Ngjk.
muter2 bosen