NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan yang mencekik

Malam itu, Berlin masih berdenyut di bawah siraman cahaya neon, namun di lantai teratas gedung Hoffmann Motors, suasana begitu hening hingga suara detak jam dinding terdengar seperti palu yang menghantam paku.

Maximilian duduk di balik meja mahagoni besarnya, diterangi hanya oleh lampu meja minimalis yang membiarkan sebagian besar ruangan tenggelam dalam bayangan. Di hadapannya, layar monitor menampilkan dokumen digital yang tidak ada di dalam arsip HRD.

Itu adalah data asli Sophie.

Data Diri: Sophie Adler

• Status: Putri tunggal Hans Adler.

• Pendidikan: Master of International Business, University of Zurich

• Riwayat Kerja: Tidak terdeteksi secara resmi.

Mata Max menyipit saat melihat foto Sophie yang diambil secara diam-diam beberapa bulan lalu oleh informannya. Di foto itu, Sophie terlihat sedang keluar dari sebuah apotek murah, menggenggam kantong plastik penuh obat dengan ekspresi lelah yang sangat kontras dengan wajah angkuh yang ia tunjukkan saat wawancara tadi siang.

"Sepuluh tahun bersembunyi di selokan," gumam Max, suaranya parau. "Dan kau masih punya keberanian untuk menatap mataku."

Max mengambil ponsel enkripsinya yang tergeletak di meja. Ia menekan satu tombol panggilan cepat. Tidak butuh waktu lama bagi seseorang di ujung sana untuk menjawab.

"Tuan?" suara berat seorang pria terdengar.

"Bawa tim pemantau," perintah Max dingin. Matanya tetap terpaku pada foto Sophie di layar.

"Aku ingin alamat tempat tinggal Sophie Adler. Bukan alamat yang tertera di dokumen palsunya, tapi tempat di mana dia benar-benar tidur malam ini."

"Segera, Tuan. Perlu kami melakukan tindakan?"

Max terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Sophie tadi berdiri tegak di depannya, menantang dominasinya dengan jawaban yang cerdik. Ada sesuatu yang mengusik harga diri Max; ia ingin melihat sejauh mana "putri bangsawan yang jatuh" ini bisa bertahan dalam lumpur.

"Tidak. Hanya amati. Aku ingin tahu dengan siapa dia bertemu dan seberapa putus asa hidupnya sekarang," ujar Max. "Aku ingin tahu setiap inci kelemahannya sebelum aku mulai menghancurkannya besok pagi."

Panggilan itu berakhir. Max menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mahalnya, menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu Berlin. Baginya, Sophie Adler bukan sekadar sekretaris baru. Dia adalah bidak terakhir dalam permainan catur yang sudah dimulai sejak sepuluh tahun lalu—dan kali ini, Max tidak akan membiarkan bidak itu lepas.

...****************...

Pukul 05.50 pagi. Berlin masih diselimuti kabut tipis yang membekukan, namun Sophie sudah berdiri di depan pintu lift lantai teratas Hoffmann Motors. Ia tidak tidur semalaman; bayangan mata Maximilian yang tajam terus menghantuinya.

Begitu pintu lift terbuka, ia tidak menemukan suasana kantor yang tenang. Sebaliknya, ia disambut oleh tumpukan map fisik di atas meja sekretarisnya dan puluhan notifikasi surel yang masuk ke tablet kerjanya setiap detik.

"Kau terlambat sepuluh menit dari dugaanku," suara bariton itu menggelegar dari arah ambang pintu kantor pribadi.

Maximilian berdiri di sana, menyesap espresso ganda tanpa gula. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf yang mahal dan urat-urat tangan yang menonjol.

"Jam kerja dimulai pukul enam, Tuan Hoffmann. Ini masih sepuluh menit sebelumnya," jawab Sophie, berusaha menjaga suaranya tetap datar meski jantungnya berpacu.

Max berjalan mendekat, meletakkan cangkir kopinya, lalu menunjuk tumpukan map yang tingginya hampir mencapai dagu Sophie.

"Itu adalah laporan audit tahunan sepuluh anak perusahaan Hoffmann di Eropa Timur. Aku ingin ringkasan eksekutif, analisis risiko, dan proyeksi laba-rugi untuk kuartal mendatang di mejaku sebelum makan siang," ucap Max dingin. "Dan pastikan semua angka itu dikonversi ke kurs Euro terbaru per pagi ini."

Sophie tertegun. "Itu pekerjaan satu tim analis selama seminggu."

Max mendekat, mengikis jarak hingga Sophie bisa mencium aroma kayu cendana dan kopi dari tubuh pria itu. Ia membungkuk, menatap langsung ke mata Sophie dengan tatapan merendahkan.

"Kemarin kau bilang kau ingin menjadi bagian dari strategi ekspansi, Nona Adler. Di perusahaan ini, strategi tidak dibangun di atas kata-kata manis, tapi di atas keringat dan keakuratan. Jika kau merasa tidak sanggup, pintu keluar ada di sebelah kiri lift."

Sophie mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu ini adalah tes—atau lebih tepatnya, cara Max untuk menyiksanya. Tanpa berkata-kata, Sophie duduk di kursinya, menyalakan komputer, dan mulai membuka map pertama.

...****************...

Pukul 11.30

Empat jam berlalu tanpa jeda. Sophie tidak beranjak dari kursinya, bahkan untuk sekadar minum. Jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan luar biasa. Ia menggunakan kemampuan analisisnya yang ia asah selama bertahun-tahun di pengasingan.

Max keluar dari ruangannya beberapa kali, hanya untuk memberikan tugas tambahan: memesan jet pribadi ke Zurich, mengatur ulang jadwal pertemuan dengan menteri transportasi Jerman, hingga memerintahkan Sophie menerjemahkan dokumen kontrak teknis dari bahasa Jerman ke bahasa Prancis dalam waktu tiga puluh menit.

Saat Sophie sedang fokus pada barisan angka yang rumit, Max tiba-tiba berdiri di belakangnya. Ia memperhatikan layar monitor Sophie.

"Kau membuat kesalahan di baris empat ratus dua puluh," bisik Max di dekat telinganya. Napas hangatnya menyentuh leher Sophie, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

Sophie memeriksa kembali. "Tidak, Tuan. Itu adalah penyesuaian pajak inflasi di Polandia. Perhitungannya sudah benar."

Max terdiam. Ia terkejut karena Sophie tidak hanya sekadar menginput data, tapi benar-benar memahami kebijakan fiskal negara lain. Namun, alih-alih memuji, ia justru semakin menekan.

"Jangan sombong. Selesaikan ringkasannya. Aku ingin melihat apakah otak 'bangsawan'-mu masih berfungsi saat perutmu lapar."

Max berlalu menuju kantin eksklusif di lantai bawah, meninggalkan Sophie sendirian di lantai yang luas itu. Sophie menatap punggung tegap Max dengan kemarahan yang membuncah. Ia tahu Max sedang mencoba mematahkan semangatnya, membuatnya menyerah dan menangis.

Tapi Max salah besar. Sophie Adler tidak akan hancur hanya karena tumpukan kertas.

...****************...

Pukul 13:00

Tepat saat Max kembali ke ruangannya, sebuah draf laporan setebal lima puluh halaman sudah tergeletak rapi di atas meja mahagoninya. Di sampingnya, terdapat segelas air putih dan satu tablet aspirin.

Max mengerutkan kening. "Apa ini?"

"Laporan yang Anda minta, Tuan Hoffmann. Lengkap dengan analisis risiko yang Anda ragukan tadi," ucap Sophie yang berdiri di depan meja dengan wajah pucat tapi mata yang bersinar penuh kemenangan. "Dan aspirin itu untuk Anda. Karena melihat cara Anda bekerja, saya asumsikan Anda akan mengalami sakit kepala setelah mencoba mencari kesalahan dalam laporan saya yang sempurna."

Max tertegun sejenak, lalu perlahan ia duduk di kursinya. Ia membuka laporan itu dan membacanya lembar demi lembar. Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan.

"Kau pikir kau sudah menang?" tanya Max tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.

"Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Tuan."

Max menutup laporan itu dengan dentuman keras. Ia berdiri, berjalan memutari meja, dan kembali menyudutkan Sophie ke dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Berlin dari ketinggian.

"Ini baru permulaan, Sophie. Kau mungkin cerdas, tapi kau masih berada di dalam kandangku," bisik Max dengan nada posesif yang berbahaya. "Siapkan dirimu. Malam ini ada jamuan makan malam dengan investor di Hotel Adlon. Kau akan datang sebagai asistenku—dan kau akan memakai gaun yang sudah kukirim ke apartemenmu di Neukölln."

Sophie membeku. Neukölln. Max benar-benar tahu di mana dia tinggal.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!