NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGHANCURKAN VIDIO

Aris kini telah menutup diri dari dunia, bahkan dari kakaknya sendiri, demi memastikan Kayla menjadi miliknya seutuhnya. Namun, sifat posesif yang berlebihan biasanya adalah awal dari keretakan sebuah rencana besar.

Ketegangan di dalam rumah mewah itu kini telah mencapai titik didih. Suasana tidak lagi hanya sekadar mencekam karena ancaman kematian, melainkan terasa menyesakkan akibat obsesi posesif Aris yang meluap-luap. Rumah itu, yang semula merupakan laboratorium eksperimen sosial yang dingin, kini telah berubah menjadi kuil pemujaan gila di mana Aris adalah pendetanya dan Kayla adalah tumbal sucinya.

Pagi itu, suara bising mesin bor bergema di seluruh lantai atas. Aris benar-benar mewujudkan ancamannya. Ia memasang pelat baja di luar jendela kamar penthouse-nya. Satu per satu, pemandangan hutan pinus dan langit abu-abu tertutup oleh logam gelap. Ketika baut terakhir dikencangkan, kamar itu jatuh ke dalam kegelapan total, hanya menyisakan cahaya lampu LED redup yang dipasang Aris di sudut-sudut langit-langit.

"Nah, sekarang tidak akan ada lagi yang bisa melihatmu, dan kau tidak perlu melihat apa pun yang bisa membuatmu ingin pergi," bisik Aris sambil menyeka keringat di dahinya. Ia menatap Kayla yang duduk mematung di tepi tempat tidur seperti patung porselen yang retak.

Aris mendekat, membawa nampan berisi makanan yang ia siapkan sendiri. Ia tidak lagi mempercayai pelayan atau bahkan sistem otomatis untuk mengantar makanan. Ia harus melakukannya sendiri. Ia harus memastikan setiap butir nasi yang masuk ke tubuh Kayla berasal dari tangannya.

"Ayo makan, Sayang," ucapnya lembut, namun nada suaranya mengandung otoritas yang tak terbantahkan.

Kayla membuka mulutnya secara mekanis. Rasa makanan itu hambar di lidahnya. Pikirannya sudah terbang jauh, mencoba mencari cara untuk bertahan hidup di tengah kegilaan ini.

Di lantai bawah, Adrian merasa terusir. Sebagai kakak yang merasa memiliki hak atas "investasi" keluarga, ia tidak terima diperlakukan seperti orang asing di rumah yang sebagian besar dananya berasal dari kantongnya. Adrian berdiri di depan pintu kamar Aris, mengetuk dengan irama yang tenang namun mengancam.

"Aris, buka pintunya. Kita perlu bicara soal pengiriman data ke klien di Jerman. Mereka menuntut hasil baru," teriak Adrian.

"Pergi, Adrian! Urus saja klienmu sendiri! Aku sedang sibuk dengan Maya!" balas Aris dari dalam.

Mendengar nama 'Maya' disebut untuk Kayla, Adrian tersenyum sinis. Ia tahu adiknya sudah benar-benar kehilangan pegangan pada realitas. Adrian berjalan menuju ruang kontrol utama di lantai dua, ruang yang tadinya digunakan Aris untuk mengawasi Kayla. Dengan kode akses yang ia miliki sebagai pemilik dana, Adrian meretas sistem pengawasan pribadi Aris.

Di layar monitor, Adrian melihat adiknya sedang menyisir rambut Kayla dengan penuh kasih sayang yang mengerikan. Ia melihat Aris mencium tangan Kayla berulang kali sambil menggumamkan janji-janji kesetiaan yang sakit.

"Kau sudah lemah, Aris," gumam Adrian. "Dan barang yang lemah tidak punya tempat di bisnis ini."

Adrian mulai menyusun rencana. Jika Aris tidak mau berbagi, maka Adrian akan mengambil paksa. Baginya, Kayla bukan hanya sekadar wanita; dia adalah aset berharga yang kemiripannya dengan Maya bisa dijual dengan harga selangit kepada kolektor di pasar gelap.

Malam itu, Adrian memaksa Aris untuk turun makan malam dengan alasan ada masalah teknis pada server video ancaman yang membuat Aris ketakutan. Aris, yang sangat paranoid jika video itu rusak atau terhapus (karena itu adalah satu-satunya pengikat Kayla), akhirnya keluar dari kamar dengan membawa Kayla yang tangannya terikat rantai sutra pendek ke pergelangan tangan Aris.

Mereka duduk di meja makan yang panjang. Adrian menatap Kayla dengan tatapan predator.

"Kau terlihat pucat, Cantik," ucap Adrian sambil menuangkan wine. "Mungkin adikku lupa bahwa bunga butuh sinar matahari, bukan hanya kegelapan."

Aris mencengkeram gelasnya hingga jemarinya memutih. "Jangan panggil dia seperti itu. Jangan bicara padanya."

"Kenapa? Kau takut dia lebih suka menatapku?" tantang Adrian. "Ingatlah Aris, siapa yang mengajarimu cara memegang pisau? Siapa yang membantumu melenyapkan Maya yang asli saat kau tidak sengaja membunuhnya dulu?"

Kata-kata Adrian membuat Kayla tersentak. Jadi itu yang terjadi pada Maya yang asli. Aris tidak sengaja membunuhnya karena obsesi yang sama. Ketakutan Kayla berubah menjadi teror murni. Ia sedang duduk di antara dua monster yang bertanggung jawab atas kematian wanita lain.

"Diam kau, Adrian!" Aris berdiri, tangannya meraih pisau daging di atas meja.

"Duduklah, Adik kecil," ucap Adrian santai, sambil mengeluarkan sebuah remote kontrol lain. "Aku sudah mengubah protokol server video itu. Jika kau menyerangku, video pergulatanmu dengan gadis ini akan langsung terunggah ke internet saat ini juga. Kau akan menghancurkannya, dan kau akan menghancurkan dirimu sendiri."

Aris mematung. Posisinya terjepit. Ia sangat posesif terhadap Kayla, tapi ia juga sangat posesif terhadap citra dirinya sebagai pemegang kendali.

Kayla melihat ini sebagai satu-satunya kesempatan. Selama kedua saudara itu saling melempar ancaman, perhatian mereka teralih dari dirinya. Kayla memperhatikan letak remote yang dipegang Adrian. Benda itu berada di saku jasnya yang terbuka.

Tiba-tiba, Kayla berpura-pura pingsan. Tubuhnya merosot dari kursi, menarik rantai di pergelangan tangan Aris.

"Kayla!" teriak Aris, seketika kehilangan kewaspadaannya. Ia berlutut di lantai, mencoba mengangkat tubuh Kayla.

Adrian juga berdiri, melangkah mendekat untuk melihat apakah itu hanya sandiwara atau nyata. Saat Adrian membungkuk untuk memeriksa denyut nadi Kayla, dengan gerakan secepat kilat, Kayla merogoh saku Adrian dan menarik remote tersebut.

Namun, Adrian jauh lebih sigap. Ia menangkap pergelangan tangan Kayla sebelum gadis itu bisa menekan tombol apa pun.

"Ternyata kau masih punya taring, ya?" Adrian terkekeh, lalu menatap Aris. "Lihat, Aris! Mainanmu mencoba mencuri dariku. Apa hukuman yang pantas untuk pencuri?"

Aris, bukannya marah pada Kayla, justru merasa terhina karena Adrian menyentuh tangan Kayla. "Lepaskan dia, Adrian! Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu!"

Aris menerjang Adrian. Kedua saudara itu bergulat di lantai marmer, saling memukul dan mencakar. Rantai yang menghubungkan Aris dan Kayla membuat Kayla terseret-seret di tengah perkelahian berdarah itu.

Dalam pergulatan itu, Aris berhasil merebut remote dari tangan Adrian dan membantingnya hingga hancur berkeping-keping. "Sekarang tidak ada lagi asuransi! Tidak ada lagi yang bisa mengancamku!" teriak Aris dengan mata melotot gila.

Adrian tertawa terbahak-bahak meskipun mulutnya berdarah. "Kau bodoh, Aris! Dengan menghancurkan remote itu, kau baru saja mengaktifkan perintah default. Server sekarang menganggap kita dalam bahaya. Proses unggah video itu... sudah dimulai."

Wajah Aris berubah pucat pasi. Ia segera menyeret Kayla menuju ruang kontrol di lantai atas, meninggalkan Adrian yang masih tertawa di lantai. Aris dengan panik mencoba mengetikkan kode di komputernya untuk menghentikan unggahan, namun sistemnya terkunci.

Di layar monitor besar, terlihat angka persentase: 85%... 87%... 89%...

Dunia Kayla akan hancur dalam hitungan detik. Semua orang akan melihat aibnya. Namun, di tengah kepanikan Aris, Kayla melihat sebuah kabel daya utama yang tersambung ke unit server pusat. Tanpa pikir panjang, Kayla meraih botol wine yang pecah dari lantai dan menghujamkannya ke kabel tersebut, sekaligus memicu percikan listrik besar yang menyambar tangannya sendiri.

BOOM!

Seluruh sistem komputer meledak dalam percikan api. Layar monitor menjadi hitam. Ruangan itu seketika gelap gulita.

Kayla terlempar ke sudut ruangan, tangannya melepuh, namun ia merasa lega. Video itu tidak akan pernah terunggah.

Aris berdiri di tengah kepulan asap, menatap puing-puing teknologinya yang hancur. Ia menoleh ke arah Kayla dengan tatapan yang benar-benar kosong. Obsesinya telah menghancurkan segalanya—fasilitasnya, rahasianya, dan mungkin kewarasannya yang terakhir.

"Kau menghancurkannya..." gumam Aris pelan. "Kau menghancurkan satu-satunya cara kita bisa bersama selamanya di mata dunia."

Aris berjalan mendekati Kayla dalam kegelapan. Tidak ada lagi layar monitor yang mengawasi. Tidak ada lagi Adrian. Hanya ada mereka berdua di dalam rumah mewah yang kini menjadi reruntuhan gelap. Aris mengangkat Kayla, membawanya kembali ke kamar yang tertutup baja.

"Jika dunia tidak bisa melihat kita," bisik Aris di tengah keheningan yang mematikan, "maka kita akan membusuk di sini, hanya kita berdua. Selamanya."

Kayla memejamkan mata. Ia telah menghancurkan video itu, tapi ia masih terperangkap dengan iblis yang kini tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan. Aris mulai mengunci pintu kamar dari dalam, mematahkan kunci elektroniknya agar tidak bisa dibuka dari luar maupun dalam. Mereka kini benar-benar terisolasi di dalam peti mati baja mewah tersebut.

Sistem pengawasan hancur, video gagal terunggah, tapi sekarang Kayla terjebak di dalam kamar yang terkunci mati bersama Aris yang sudah gila sepenuhnya.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!