NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Embun di Daun Perak

Kota Pasar Lembah Angin tidak seperti kota pasar yang pernah dibayangkan Xu Hao. Kota ini bukan kumpulan tenda atau bangunan kayu sederhana. Ia adalah sebuah permukiman permanen yang dibangun di lereng bukit, rumah-rumah batu beratap sirap abu-abu mengikuti kontur tanah. Pagar kayu besar, diperkuat dengan formasi pelindung sederhana, mengelilingi kawasan inti. Gerbangnya lebar, dijaga oleh beberapa orang bersenjata yang aura mereka setara dengan Core Formation tahap akhir, bahkan satu di antaranya mencapai puncak Core Formation, hampir menyentuh Nascent Soul.

Namun, yang paling mencolok adalah keramaian. Xu Hao, yang sudah menyamar dengan lebih baik dengan membeli jubah sederhana berwarna cokelat tanah dari seorang pedagang di pinggir jalan, menyusup ke dalam kerumunan. Ada manusia dari segala penjuru. Pedagang dengan gerobak penuh barang, beberapa menarik binatang muatan aneh yang tubuhnya berlapis sisik dan bermata tiga. Kelompok kultivator berpakaian seragam, menunjukkan lambang berbagai sekte kecil yang tidak ia kenal. Juga banyak kultivator tunawisma seperti dirinya, dengan tatapan waspada dan senjata yang selalu dalam jangkauan.

Suasananya riuh namun teratur. Teriakan penjual menawarkan barang, tawar-menawar yang keras, desahan binatang, dan gemericik air dari parit kecil yang mengalir di sisi jalan. Aromanya campur aduk: makanan yang digoreng, aroma obat-obatan, keringat, dan sedikit bau logam dari toko senjata.

Xu Hao berjalan pelan, matanya menyapu segala sesuatu. Ia memperhatikan mata uang yang digunakan. Sebagian besar transaksi kecil menggunakan koin logam campuran perak dan tembaga. Untuk barang-barang yang lebih berharga, mereka menggunakan Kristal Hukum, yang diklasifikasikan menjadi rendah, menengah, tinggi, dan topi, berdasarkan kejernihan dan kepadatan energinya. Batu roh atau batu energi dari dunia luarnya dianggap sebagai Kristal Hukum tingkat rendah berkualitas sedang, cukup untuk bertahan beberapa minggu dengan hidup sederhana.

Tujuannya adalah tempat penginapan sekaligus kedai minum terbesar di kota, "Kedai Istirahat Pejalan". Menurut informasi dari ketiga perampok yang malang tadi, itu adalah tempat terbaik untuk mendengar kabar dan mencari informasi.

Bangunan itu dua lantai, terbuat dari kayu jati tua yang kokoh. Suara riuh percakapan dan gelak tawa terdengar dari dalam. Xu Hao mendorong pintu kayu yang berat dan masuk.

Hawa hangat, bau arak murahan, dan makanan berlemak menyergapnya. Ruangan luas dipenuhi meja-meja panjang dan kursi kayu. Hampir semua tempat duduk penuh. Ada kelompok-kelompok kultivator yang sedang minum dan berdebat keras, pedagang yang sedang menghitung laba, dan tunawisma yang sedang makan dengan lahap.

Xu Hao menemukan sebuah bangku kosong di sudut, dekat jendela yang menghadap ke jalan. Ia duduk, memesan semangkuk mi kuah dan segelas teh biasa dari pelayan yang terburu-buru. Ia membayar dengan sebuah keping Kristal Hukum rendah, menerima kembali segenggam koin perak sebagai kembalian.

Sambil pelan-pelan menyantap mi yang ternyata mengandung sedikit energi bumi yang menyehatkan, ia memfokuskan pendengarannya. Kemampuannya sebagai Dao Awakening memungkinkannya menyaring ribuan percakapan sekaligus, memilih yang relevan.

"...harga cakar Serigala Awan sedang naik, katanya Sekte Pedang Putih butuh banyak untuk ritual bulan mereka..."

"...konflik di perbatasan timur semakin panas,Klan Bai dan Klan Lu saling serang lagi untuk tambang baru..."

"...murid baru Sekte Cahaya Bulan Sabit lagi pamer,beli Pedang Embun pagi tadi dengan harga gila-gilaan..."

"...dengar-dengar ada harta karun kecil ditemukan di Gua Naga Tua,tapi dijaga oleh jelmaan tanah setingkat Soul Transformation awal..."

Informasi mengalir deras. Xu Hao menyimpannya semua. Namun, telinganya benar-benar terbuka saat mendengar dua kata: Gunung Jati.

Percakapan itu datang dari meja di seberang ruangan. Tiga orang kultivator, dua pria dan satu wanita, mengenakan jubah abu-abu seragam tanpa lambang sekte yang jelas. Mereka bicara dengan suara rendah, tapi tidak cukup rendah untuk menghindari pendengaran Xu Hao.

"...jadi misi kita adalah mengantar paket ini ke kaki Gunung Jati, ke pos pemeriksaan terluar mereka. Bukan masuk ke dalam," kata pria yang lebih tua, berjenggot.

"Kenapa tidak sekalian masuk? Aku penasaran lihat sekte tertutup itu dari dekat," celetuk wanita muda itu.

"Bodoh. Sekte Gunung Jati sekarang seperti landak yang kesakitan. Setelah insiden dengan cabang Klan Xu itu, mereka sangat paranoid. Orang asing yang mendekat tanpa izin bisa langsung diserang formasi atau ditangkap," jawab pria satunya, yang lebih pendiam.

Pria berjenggot mengangguk. "Benar. Kita hanya pengantar. Ambil bayaran, pergi. Jangan cari masalah. Kabarnya, hubungan mereka dengan cabang Klan Xu di Kota Besar Angin masih tegang. Klan Xu ingin mencaplok sisa wilayah pertambangan mereka yang kecil itu."

"Klan Xu memang rakus. Tapi kekuatan mereka tidak terbantahkan. Sekte kecil seperti Gunung Jati hanya bisa menggerutu," kata si pendiam.

Xu Hao menelan suap terakhir minya. Ini adalah kesempatan. Misi pengiriman ke pos terluar Sekte Gunung Jati. Ia bisa menyusup sebagai anggota lain, atau setidaknya, mengikuti dari belakang untuk mempelajari situasi.

Tapi ia harus hati-hati. Ketiga orang ini bukan orang sembarangan. Dari aura mereka, pria berjenggot mungkin Nascent Soul tahap awal, yang lain Foundation Establishment puncak. Bukan ancaman serius, tapi juga bukan orang yang bisa ia perdaya dengan mudah.

Setelah mereka selesai makan dan berdiri untuk pergi, Xu Hao juga membayar tagihannya dan keluar dengan jarak yang aman. Ia mengikuti mereka dari kejauhan, memanfaatkan kerumunan dan kemampuannya menyamarkan keberadaannya.

Ketiganya berjalan menuju area penginapan di belakang pasar. Mereka memasuki sebuah penginapan kecil bernama "Penginapan Kuda Terbang". Xu Hao menunggu di seberang jalan, berpura-pura melihat-lihat kios penjual ramuan.

Setelah sekitar satu jam, pria berjenggot keluar sendirian. Ia berjalan ke arah toko senjata. Xu Hao memutuskan untuk mendekati.

"Maaf, Tuan," ucap Xu Hao, membungkuk sedikit dengan sikap hormat yang pas untuk seorang tunawisma level rendah. "Aku dengar di kedai tadi Tuan sedang membicarakan misi ke Gunung Jati."

Pria berjenggot itu berhenti, matanya yang tajam menyapu Xu Hao dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kewaspadaan langsung terpancar. "Apa urusanmu?"

"Namaku Haosu. Aku kultivator tunawisma baru di daerah ini. Aku sedang mencari pekerjaan atau misi untuk bertahan hidup. Dan…" Xu Hao menurunkan suaranya. "Aku punya sedikit kemampuan dalam formasi ilusi dan penyamaran. Mungkin berguna untuk misi pengiriman yang membutuhkan kehati-hatian."

"Penyamaran?" pria itu mengernyit. "Kau pikir kita akan menyusup ke Gunung Jati? Sudah kukatakan, kita hanya ke pos terluar."

"Bukan untuk menyusup, Tuan. Tapi untuk berjaga-jaga. Jalan menuju Gunung Jati melewati daerah rawan, kan? Hutan Berdarah. Ada banyak tunawisma tidak bertanggung jawab dan monster. Kemampuanku bisa membantu kita menghindari konflik yang tidak perlu, atau setidaknya, memberikan jalan keluar jika terkepung," ujar Xu Hao dengan meyakinkan. Ia mengeluarkan sedikit aura ilusi, membuat wajahnya seolah-olah berubah samar selama sepersekian detik, cukup untuk menunjukkan kemampuannya.

Pria itu terlihat tertarik, tapi masih ragu. "Kemampuanmu level apa? Aku tidak butuh beban."

"Level cukup untuk mengelabui monster setingkat Core Formation dan mengacaukan indra musuh sebentar. Aku juga bisa membuat ilusi kabut atau bayangan sederhana," jawab Xu Hao. Ini adalah pernyataan yang sangat merendah. Sebenarnya, ilusinya bisa jauh lebih kuat.

"Hmm. Aku pemimpin rombongan, namaku Geng Tao. Misi kita sederhana: antar sebuah kotak segel dari majikan kita ke Pos Penjagaan Barat Sekte Gunung Jati. Bayaran sepuluh Kristal Hukum menengah untuk rombongan. Jika kau ikut, kau dapat satu setengah. Tapi kau harus patuh perintah. Dan jika kau coba licik atau khianat…" Geng Tao tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi ancaman di matanya jelas.

"Satu setengah Kristal Hukum menengah cukup untukku," kata Xu Hao, mengangguk. "Aku hanya butuh pekerjaan. Aku berjanji akan patuh dan profesional."

Geng Tao memandanginya sejenak lagi, lalu menghela napas. "Baik. Kita berangkat besok subuh. Kumpul di depan Penginapan Kuda Terbang. Jangan terlambat. Bawa perlengkapanmu sendiri, termasuk obat dan senjata."

"Terima kasih, Tuan Geng."

"Dan Haosu," Geng Tao menatapnya tajam. "Jangan tanya isi kotak itu. Itu bukan urusanmu."

"Dimengerti."

Xu Hao membungkuk lagi, lalu pergi. Langkah pertamanya berhasil. Ia mendapatkan akses legal mendekati Sekte Gunung Jati. Dari pos penjagaan, ia harus mencari cara untuk menggunakan slip giok peninggalan pamannya dan bertemu dengan Tetua Hong.

Esok harinya, subuh masih kelam ketika Xu Hao sudah berdiri di depan penginapan. Ia hanya membawa tas kecil berisi perlengkapan dasar, pedang sederhana yang ia beli di pasar, dan tentu saja, cincin penyimpanan yang berisi semua harta sebenarnya yang tersegel rapat.

Geng Tao dan dua anggota lainnya sudah siap. Wanita itu bernama Lian, pria pendiam bernama Du. Mereka memeriksa Xu Hao sekali lagi, lalu Geng Tao memberikan persetujuan dengan anggukan singkat.

"Kita akan jalan kaki. Tidak pakai kendaraan, agar tidak mencolok. Perjalanan normal lima hari. Kita akan menghindari jalur utama setelah masuk Hutan Berdarah, mengambil jalan pintas yang lebih sepi tapi lebih berbahaya. Itulah alasan aku terima kau, kemampuan ilusimu bisa berguna di sana," jelas Geng Tao sambil berjalan memimpin.

Mereka meninggalkan kota, menyusuri jalan setapak yang membentang ke arah barat laut. Cuaca cerah, udara pagi yang dingin dan penuh energi spiritual membuat perjalanan terasa ringan. Xu Hao berjalan di posisi belakang, diam-diam mempelajari ketiga rekannya.

Geng Tao solid, berpengalaman, setiap langkahnya hati-hati. Lian cerewet dan terlalu penasaran, sering melontarkan pertanyaan. Du benar-benar pendiam, hampir tidak bicara, tapi matanya selalu awas.

"Jadi, Haosu, dari mana asalmu?" tanya Lian di suatu saat, berjalan di samping Xu Hao.

"Dari timur, daerah pedalaman. Tidak ada sekte besar di sana," jawab Xu Hao samar.

"Kenapa datang ke sini? Mencari peluang?"

"Ya. Mendengar Dataran Tengah adalah tempat untuk menjadi kuat. Ternyata… lebih sulit dari yang dibayangkan."

"Kau bisa bilang lagi," Lian terkekeh. "Tapi kau lumayan beruntung. Banyak tunawisma mati di tahun pertama karena tidak dapat pekerjaan atau dimangsa."

"Mangsa? Oleh siapa?"

"Banyak. Kultivator kuat yang butuh budak, sekte jahat yang butuh kelinci percobaan, atau sekadar dirampok lalu dibunuh seperti yang hampir terjadi padamu kemarin," kata Geng Tao dari depan, tanpa menoleh. "Di sini, nyawa tidak berharga. Kecuali kau punya kekuatan atau latar belakang."

Perjalanan hari pertama lancar. Mereka hanya bertemu beberapa pedagang dan kelompok kecil kultivator lain. Malamnya, mereka berkemah di tepi hutan. Geng Tao memasang formasi peringatan sederhana di sekeliling perkemahan.

Xu Hao mendapat giliran jaga di tengah malam. Ia duduk di atas batu, memandangi dua bulan yang menerangi lanskap dengan cahaya perak dan biru. Pikirannya melayang ke Bingwan dan Xue Bing. Apakah mereka baik-baik saja? Apakan Xue Bing tumbuh dengan sehat? Apakah Bingwan masih sering menangis?

Kemudian, ia mengingat orang tuanya, yang mati dengan sia-sia. Ia mengingat pamannya yang hilang, mungkin disiksa di penjara Klan Xu. Amarah yang dingin mengalir di nadinya. Ia mengepalkan tangan. Kekuatan. Ia butuh lebih banyak kekuatan.

"Tidak bisa tidur?" suara Geng Tao tiba-tiba terdengar. Ia menghampiri, duduk di batu sebelah Xu Hao.

"Tidak," jawab Xu Hao singkat.

"Pertama kali keluar misi berbahaya?"

"Bukan pertama."

Geng Tao manggut-manggut. "Aku bisa merasakannya. Kau punya aura… berbeda. Tidak seperti tunawisma baru biasa. Kau terlalu tenang."

Xu Hao menoleh, bertemu tatapan Geng Tao yang mencoba menguliti. "Mungkin karena aku sudah melihat banyak kematian."

"Mungkin," Geng Tao tidak mengejar. "Nasihatku, jangan percaya siapa pun di sini. Termasuk kami. Kami mempekerjakanmu karena kau berguna. Jika situasi berbahaya dan kau harus dikorbankan untuk menyelamatkan kotak itu, aku tidak akan ragu."

"Keadilan yang jujur," ucap Xu Hao. "Aku menghargainya."

Geng Tao terdiam sebentar, lalu berkata dengan suara lebih rendah. "Kau bilang punya kemampuan ilusi. Bisakah kau membuat ilusi yang bisa menipu… indra spiritual? Bukan hanya penglihatan."

"Tergantung tingkat lawannya. Untuk yang setingkatmu, Tuan Geng, mungkin hanya bisa sebentar, atau bahkan tidak berhasil," jawab Xu Hao.

Geng Tao tersenyum tipis, seolah lega dengan kejujuran itu. "Bagus. Kau tidak membual. Itu meningkatkan nilai bertahan hidupmu sedikit."

Ia berdiri. "Istirahatlah. Besok kita masuk Hutan Berdarah. Di sanalah ujian sebenarnya."

Xu Hao mengangguk, menonton Geng Tao kembali ke tendanya. Orang ini tajam. Xu Hao harus lebih berhati-hati.

Hari kedua, mereka mencapai tepi Hutan Berdarah. Namanya sesuai. Pepohonan di sini memiliki daun berwarna merah tua, hampir seperti darah kering. Batangnya hitam legam, berliku-liku seperti tangan pencakar. Suasana di dalam hutan gelap, sunyi, dan berasa pengap meski energinya masih melimpah.

"Di sini, waspada terhadap akar yang bergerak, spora beracun yang melayang, dan tentu saja, penghuninya," bisik Geng Tao. "Jaga formasi, berjalan perlahan. Haosu, siapkan ilusimu. Jika ada yang mendekat, buatkan kita sebagai batu atau semak."

Mereka berjalan dalam formasi ketat. Du di depan, Geng Tao di tengah membawa kotak kayu kecil bertuliskan segel, Lian dan Xu Hao di belakang.

Hutan itu hidup. Terkadang, dari balik semak, mata merah menyala mengintip. Suara gerakan tanah, seperti sesuatu yang merambat di bawah humus. Aroma manis bunga beracun terkadang menyergap.

Tiba-tiba, Du berhenti. Tangannya terangkat, memberi isyarat bahaya.

Dari depan, sekelompok makhluk merayap keluar. Mereka seperti serigala, tapi kulitnya seperti kulit kayu, matanya bara api, dan dari mulutnya meneteskan cairan asam yang menguarkan asap.

"Anjing Hutan Berdarah. Level Core Formation, berkelompok. Jangan biarkan cairannya mengenai kulit," bisik Geng Tao. "Du, Lian, serang dari samping. Haosu, buat ilusi untuk mengacaukan mereka. Aku jaga kotak."

Anjing-anjing hutan itu ada delapan ekor. Mereka menggeram, mengeluarkan suara seperti kayu saling bergesekan.

Xu Hao mengangguk. Tangannya membentuk segel sederhana, memancarkan gelombang energi ilusi yang halus. Ia tidak menggunakan Dao Ruang atau hukum tingkat tingginya. Hanya ilusi dasar yang diperkuat oleh kontrol energinya yang luar biasa.

Di mata anjing-anjing hutan itu, sosok empat manusia tiba-tiba berlipat ganda, menjadi dua belas. Beberapa sosok ilusi mulai bergerak ke arah yang berbeda.

Anjing-anjing itu bingung, geram mereka pecah. Mereka menyerang sosok ilusi, menggerogoti udara. Du dan Lian mengambil kesempatan. Du melesat, pedang pendeknya menusuk dengan presisi ke mata salah satu anjing. Lian melepaskan jarum-jarum energi dari jarak jauh.

Pertempuran singkat namun sengit. Anjing hutan kuat dan cepat, tapi bingung oleh ilusi Xu Hao. Dalam beberapa puluh napas, lima anjing sudah mati, tiga lainnya melarikan diri dengan luka.

"Bagus," Geng Tao memuji, melihat Xu Hao. "Ilusimu efektif. Mereka benar-benar tertipu."

"Kemampuan dasar saja," kata Xu Hao merendah, sambil memperhatikan bagaimana Du dengan terampil mengeluarkan inti kristal kecil dari kepala anjing hutan yang mati. Itu adalah sumber energi monster, bernilai di pasar.

Mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa kali mereka menghadapi rintangan lain: kawanan serangga logam bersayap, tanaman pemangsa yang menyamar, bahkan sebuah kolam lumpur yang mengeluarkan gas memabukkan. Setiap kali, Xu Hao menggunakan ilusinya dengan hati-hati, selalu menunjukkan kemampuan yang cukup tapi tidak mencolok.

Geng Tao semakin percaya, tapi tatapannya tetap penuh kalkulasi. Xu Hao tahu, pria ini masih menyimpan kecurigaan.

Hari ketiga di dalam hutan, saat mereka beristirahat di sebuah clearing kecil, bencana datang.

Bukan dari monster.

Dari langit.

Sebuah tekanan tiba-tiba menyergap, begitu berat hingga udara bergetar. Sebuah bayangan besar melintas di atas mereka, menghalangi cahaya dua bulan yang merambat melalui daun-daun merah.

Geng Tao langsung melompat, wajahnya pucat. "Sembunyi! Cepat!"

Mereka semua bersembunyi ke balik semak dan akar besar. Xu Hao merasakan aura itu. Kuat. Sangat kuat. Setidaknya Soul Transformation tahap akhir, bahkan mungkin… Void Fusion awal. Dan aura itu angkuh, dingin, dan memiliki kualitas tertentu yang membuat darahnya berdesir.

Dari langit, sebuah suara menggema, dingin dan penuh wibawa, tidak ditujukan pada mereka, tapi pada sesuatu di kejauhan.

"Hentikan pencarianmu, anak bawahan Klan Xu. Harta di Gua Naga Tua itu milik Sekte Pemurnian. Mundur, atau hadapi konsekuensinya."

Lalu, dari arah lain, suara lain membalas, sama angkuhnya. "Sekte Pemurnian? Berani-beraninya menghalangi Klan Xu. Harta itu ada di wilayah klan kami. Menyingkir!"

Suara itu… mengandung getaran darah yang samar. Darah Xu. Cabang lokal, seperti yang disebut-sebut.

Xu Hao menahan napas. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tiba-tiba menyala. Klan Xu. Di sini, di depannya. Musuh yang telah menghancurkan hidupnya dan orang tuanya.

Dua tekanan itu saling bertabrakan di udara, menciptakan angin kencang yang merobek daun-daun dan mematahkan ranting. Pertempuran singkat terjadi di kejauhan, ledakan energi dan cahaya menerangi langit malam hutan. Kemudian, secepat datangnya, kedua tekanan itu menjauh, saling mengejar ke arah yang lain.

Setelah lama, Geng Tao baru berani bernapas lega. "Sial. Hampir saja kita terinjak-injak oleh gajah bertarung."

"Klan Xu dan Sekte Pemurnian… bertarung untuk harta?" bisik Lian, masih gemetar.

"Bukan urusan kita," geram Geng Tao. "Kita pergi. Cepat. Area ini tidak aman."

Mereka bergegas melanjutkan perjalanan, kali ini dengan kecepatan penuh. Xu Hao berjalan dengan wajah seperti batu, tapi di dalam, badai mengamuk. Baru saja tiba, ia sudah begitu dekat dengan musuhnya. Meski hanya cabang kecil, itu adalah bagian dari monster raksasa yang ingin ia hancurkan.

Ia melihat ke arah Geng Tao, yang masih memeluk erat kotak segel itu. Apakah misi ini juga terkait dengan ketegangan antara Sekte Gunung Jati dan Klan Xu? Apa isi kotak itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, bersama dengan tekad yang semakin membara. Dataran Tengah adalah medan perang. Dan Xu Hao telah melangkah masuk. Sekarang, ia harus bertahan, menjadi kuat, dan perlahan-lahan, mulai menggerogoti musuh-musuhnya dari pinggiran, dimulai dari Sekte Gunung Jati yang mungkin menjadi sekutu sementara, atau setidaknya, batu loncatan.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!