Dibalik sikap ceroboh dan somplak di antara ketiga sahabatnya, Zahra menyimpan kisah hidup yang cukup memilukan. Masa kecil bersama Yudha di sebuah Panti Asuhan, membuat Zahra menganggap Yudha sebagai kakak bahkan Zahra sangat mengagumi lelaki itu dan berharap bisa menjadi pendamping hidup Yudha selamanya—kelak.
Di satu sisi, Zahra berusaha menghindar dari Arga karena tidak ingin 'sial' jika berada di dekat lelaki itu. Setelah sebuah penolakan terlontar dari mulut Zahra, Arga memilih untuk pergi.
Namun, bagaimana jika sebuah rahasia tentang Yudha terkuak dan hal itu membuat Zahra kecewa? Akankah Zahra bisa memaafkan Yudha, atau mengejar cinta Arga yang pernah dia tolak sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Zahra mendongak dan menatap benci ke arah Arga. Bahkan, tangan Zahra terkepal erat saat teringat Arga menyebut Yudha sebagai lelaki brengs*k, sedangkan Arga justru tetap terlihat santai dan seolah tidak berdosa sama sekali.
"Tuan, bisakah Anda berbicara dengan baik?" Suara Zahra penuh amarah, tetapi Arga masih saja tenang.
"Aku sudah berbicara dengan baik. Bukankah memang lelaki itu brengs*k." Arga justru mengulangi dan itu mampu membuat emosi Zahra makin naik.
Zahra melangkah maju hingga berjarak cukup dekat dengan Arga. Dia menatap tajam kedua bola mata Arga yang juga masih menatapnya lekat. Gigi Zahra bergemerutuk dengan telunjuk mengarah tepat di depan wajah Arga.
"Tuan, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya sebagai bawahan Anda, saya ingin bertanya. Memangnya Anda pikir sebaik apa diri Anda sampai menyebut Mas Yudha adalah lelaki brengs*k!" bentak Zahra.
Arga tidak menjawab, hanya diam menatap wajah Zahra yang biasanya menunduk malu, kini terlihat penuh emosi dan sangat menantang. Bukannya takut, tetapi Arga justru menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum sinis.
"Jawab, Tuan! Saya pikir Anda masih memiliki mulut dan berbicara dengan baik. Atau Anda mulai bisu sekarang!"
Senyum Arga memudar. Wajahnya kini dipenuhi amarah, tetapi Arga berusaha keras untuk meredam. Arga tidak menyangka kalau Zahra bisa berbicara sekasar itu padanya. Sementara Zety dan Margaretha hanya berdiri dari balik tembok, melihat pertunjukan dua orang tersebut. Mereka tidak berani mendekat karena yang ada akan menjadi pelampiasan amarah Zahra.
"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa sekasar itu." Arga tersenyum sinis. Dia berusaha menahan diri supaya emosi yang saat ini bergemuruh hebat tidak mencuat dan meluap. Selama Arga masih bisa menahan diri maka dia akan berusaha untuk menahan.
"Tuan, lebih baik sekarang Anda pergi dari sini dan jangan pernah lagi usik kehidupan saya. Asal Anda tahu, setiap Anda berada di dekat saya, saya selalu kena sial!" hardik Zahra.
"Kamu tidak takut dipecat dari perusahaan? Bagaimana juga aku adalah atasanmu." Arga tersenyum sinis, tetapi senyumannya kembali memudar saat melihat Zahra tidak takut sama sekali.
Zahra justru mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi Rasya. "Ra, gue keluar dari perusahaan laki elu, dan jangan lagi elu suruh Tuan Arga buat ngedeketin gue. Ra, gue kecewa sama elu!"
Zahra mematikan panggilan itu secara sepihak padahal Rasya dari seberang telepon belum menjawab sama sekali. Arga murka, tetapi dia berusaha menahan. Demi apa pun, hati Arga rasanya sangat sakit mendengar ucapan Zahra barusan.
"Anda puas? Lebih baik sekarang Anda pergi dan jangan pernah sekalipun mendekat!" usir Zahra.
Arga pun memilih pergi dari sana dengan membawa rasa sakit dan juga amarah yang kini sudah berkumpul menjadi satu. Dia tidak mau akan melukai Zahra jika terus-menerus berada di sana. Ketika sampai di ambang pintu, Arga menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Yudha. Ingin sekali Arga memukul lelaki itu, tetapi akal sehatnya masih bekerja dengan baik.
"Tu-Tuan Arga," panggil Yudha. Dia terkejut dengan keberadaan Arga di sana.
Arga hanya melirik sinis, lalu pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Yudha merasa heran apalagi saat dia melihat Zahra yang sedang menatap Arga dengan tatapan yang susah dijelaskan. Ketika Yudha melihat mobil Arga yang sudah pergi, dengan bergegas dia mendekati Zahra.
"Ada apa, Ra?" tanya Yudha khawatir. Zahra tidak menjawab dan justru memeluk Yudha sangat erat lalu terisak keras. Yudha mengusap punggung Zahra untuk menenangkan gadis itu. Yudha kembali bertanya, tetapi Zahra sama sekali tidak menjawab. Yang ada, isakannya makin keras terdengar.
"Apa Tuan Arga menyakitimu? Kalau iya, biarkan aku beri dia pelajaran kalau bisa aku akan membunuhnya. Aku tidak mau ada seorang pun yang menyakitimu."
"Jangan." Zahra menahan. Sejak kecil Yudha selalu berkata seperti itu saat ada orang yang melukai Zahra. Walaupun hanya ancaman, tetapi Zahra khawatir dan tidak ingin terjadi hal buruk kepada Arga.
sempat sempat menjadikan Arga tumbal setan👻👻👻