Balada cinta rumah tangga memang tidak selamanya mulus, terkadang walau dari luar nampak indah dan mesra, namun siapa sangka akan hancur begitu saja.
Moment aniversary pernikahan tahun kelima Gemintang hancur berantakan, disaat William suami yang sangat dia banggakan beradu des@h@n dengan kakak iparnya sendiri didalam kamarnya, bahkan disaat pesta masih berlangsung. Padahal selama ini keluarga mereka hidup rukun dalam satu atap, karena kakak kandung Gemintang bekerja sebagai pelayar yang jarang pulang, dan kasihan jika istrinya harus tinggal dirumah sendirian, ternyata rasa kasihan itu malah menjadi duri dalam hubungan adeknya dan juga dirinya sendiri.
Akankah Gemintang mampu bertahan, atau lebih memilih rela melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Alergi
...Happy Reading...
Akhirnya Gemintang dan Sabrina menjatuhkan pilihan untuk makan siang disebuah restoran yang agak jauh dari ramainya jalanan kota.
" Wuih... keren juga ya tempatnya, asyik gitu buat ngadem, mau terik matahari juga anginnya tetep syahdu." Ucap Sabrina yang langsung memejamkan mata sambil menghirup udara segar karena restoran itu dikelilingin pohon-pohon yang rindang.
" Nggak salah dong ya pilihan gue?" Ucap Gemintang dengan bangga.
" Hmm... bawa pasangan enak kali ya makan berduaan disini?" Khayalan Sabrina langsung terbang ke angkasa.
" Mengkhayal aja luu, pacar aja nggak punya, mikirnya sudah jauh kemana-mana." Gemintang hanya bisa tersenyum miring mendengarnya.
" Dih... kalau lihat kisah kamu mah, mau nikah juga pikir-pikir dua kali, entar kita udah setia, ternyata dia mendua, hmm... terasa menyedihkan!" Cibir Sabrina yang langsung menusuk ke hati.
" Iya juga sih, aku pun tidak pernah menyangka jika dia bisa melakukan hal itu padaku, padahal sepertinya dia baik didepanku." Gemintang mulai flashback kembali ke kenangan indah dia dengan William.
" Semacam di beri harapan, namun tidak diprioritaskan, sikapnya seakan-akan memperjuangkan, tapi pada kenyataannya hanya mempermainkan." Sabrina bahkan berkata-kata seolah dia pernah merasakan rasa sakit itu.
" Hmm... kukira aku satu-satunya, ternyata aku salah satunya." Gemintang pun tak kalah dalam merenungi nasipnya sendiri.
" Ckkk... info-info! rumah makan yang makannya disuapin daerah mana check?" Kekonyolan Sabrina kembali muncul kalau sudah seperti ini.
" Sudah gilak kamu ya? sèngèt sepertinya otak nih orang!" Gemintang langsung terkekeh sendiri saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
Selalu seperti itu, mereka dua sekawan yang sering saling menghibur jikalau salah satu dari mereka sedang galau.
Dari kejauhan tanpa sadar Chris sudah menaikkan kedua sudut bibiirnya saat melihat mereka tertawa lepas, sedangkan Peter terlihat memasang wajah garangnya seperti biasa.
Dia sesungguhnya malas mau bertemu dengan Gemintang karena sudah pasti ujung-ujungnya akan beradu mulut, namun apa daya perintah Chris tidak pernah terbantahkan.
" Kalian sudah lama?" Chris dan Peter langsung menarik kursi didepan mereka.
" Ow... tidak, malah kami baru saja duduk." Sindir Gemintang, sedangkan Sabrina hanya menundukkan kepalanya, dia bahkan masih menggangap kalau Chris adalah big bossnya, rasa takutnya kembali muncul atas gosip penerus perusahaan yang terkenal killer itu.
" Tapi sepertinya kalian tadi sudah asyik ngobrol, suara tawa kalian bahkan terdengar sampai depan!" Chris pun tidak merasa bersalah sama sekaliatas keterlambatannya.
" Mantan big boss kamu memang luar biasa kawan!" Bisik Gemintang yang hanya bisa melengos kesal.
" Ya... aku memang dari dulu sangat luar biasa, apa kamu baru menyadarinya." Chris langsung menyambar saja umpatan Gemintang yang terdengar di telinganya.
" Wahaha... aku malah jadi bingung mau berkata-kata apa, langsung saja ke intinya deh, ada apa mengajak kami kemari?" Gemintang langsung menaikkan kedua alisnya, saat sindirannya malah dianggap sebagai pujian oleh Chris.
" Kalian pesan makanlah dulu, kenapa harus terburu-buru? bukannya kamu pemilik saham tertinggi di perusahaanmu itu?" Ucap Chris dengan santainya.
" Lalu kalau iya kenapa?" Jawab Gemintang tak kalah santai.
" Kamu bebaslah mau makan siang berapa lama juga, memang ada yang mengatur waktu pemilik saham terbesar?" Ledek Chris sambil menaikkan satu sudut bibirnya.
" Aku masih banyak pekerjaan, jadi kalau pertemuan kita tidak menyangkut dengan perjanjian kita, lebih baik aku segera balik ke kantor."
Dia sebenarnya nekad datang kesini, bahkan tanpa pamitan kepada suaminya, jadi kalau cuma makan biasa saja lebih baik dia segera pulang karena dia sedang malas berdebat dengan suaminya.
" Sok sibuk kamu, kayak tahu aja cara bekerja!" Ejek Peter yang malah tersenyum menyeringai sambil menunjuk menu makan siang yang akan dia pesan.
" Mulai lagi dia? kamu pikir dulu aku tidak kuliah apa? IP ku tinggi asal anda tahu." Gemintang langsung tidak terima, jika sudah Peter yang berbicara sudah pasti akan selalu bertentangan dengan Gemintang.
" IP tinggi juga tidak menjamin kamu bisa mengurus perusahaan dengan benar, bukan begitu nona?" Ledek Peter kembali.
" Kau benar-benar ya, sebenarnya aku malas sekali harus berpapasan muka denganmu, sudah cuaca panas tambah ada kamu, waduh... seperti didalam Neraka ini sih." Gemintang langsung mengibaskan kedua tangannya didepan wajahnya.
" Jangan terlalu benci dengannya, nanti kamu bisa cinta." Bisik Sabrina perlahan.
" Hoek... amit-amit jabang bayik! buat elu aja!" Gemintang seolah ingin muntah saat mendengarnya.
" Mana ada peribahasa seperti itu, kamu pikir kita hidup di dunia drama." Chris langsung menjeling kearah Sabrina.
" Hehe... maaf pak, karena biasanya seperti itu." Sabrina langsung merasa ketakutan saat tatapan tajam dari Chris terarah kepadanya.
" Tutup mulut kalian dengan makanan, jangan ngomong sembarangan." Ucap Chris yang langsung menggeser makanan yang baru saja tiba kehadapan Gemintang dan Sabrina.
Dih.. kenapa dia jadi yang tidak terima?
Gemintang dan Sabrina langsung mengambil makanan yang sudah Chris pesan, karena dia sudah memesan banyak makanan, padahal cuma mereka berempat yang makan.
" Gemintang, jangan makan seafood, nanti alergimu kumat!" Sabrina langsung memukul tangan Gemintang saat satu lobster besar berada dalam genggamannya.
" Dikit aja Nana.. ini kayaknya enak banget." Gemintang tetap ngotot mencomot lobster dimasak asam manis itu.
" Nanti kamu bisa demam Gem!" Sabrina tahu betul kebiasaan Gemintang dari mereka masih di bangku sekolah.
" Enggaklah, kemarin aku makan cemilan yang mengandung udang biasa aja, mungkin sudah sembuh kali, kan udah lama banget." Gemintang dengan lahapnya memakan daging lobster itu sambil tersenyum, karena memang rasanya sangat nikmat.
" Nih orang bandel banget kalau dibilangin, terserah deh." Sabrina langsung ikut memakannya.
Selama ini dia juga jarang makan makanan seafood karena sering makan berdua dengan Gemintang, karena takut kalau alergi Gemintang kumat, padahal sesungguhnya dia memang sangat menyukai makanan itu.
Dan dua pria didepan mereka tidak memperdulikan itu, mereka tetap makan dengan lahapnya menu makanan yang dia pesan.
" Tuh kan aku nggak papa? sudah aku duga, sepertinya alergiku sudah sembuh." Jawab Gemintang dengan santainya.
" Kita balik yuk? jam makan aku sudah lewat banget nih, nanti aku dicibir karyawan yang lainnya lagi, mentang-mentang aku deket dengan kamu trus aku istirahat seenaknya sendiri." Umpat Sabrina setelah makanan didepannya hampir ludes, tidak ada rasa gengsi-gengsian diantara mereka saat makan, karena memang belum ada perasaan diantara mereka, jadi tidak ada kata jaim dan malu disana.
" Santai aja lagi." Gemintang bahkan menyandarkan tubuhnya ke kursi karena merasa sangat kenyang.
" Mana bisa santai, kamu bos dan aku karyawan kali." Jawab Sabrina.
" Heh... rempong amat sih lu? pak... sebenarnya ada perlu apa mengajak aku makan siang?" Gemintang langsung ingat tujuan utamanya kesini.
" Akhir pekan nanti ayah mengundangmu untuk makan malam." Ucap Chris sambil mengotak atik ponselnya.
"Itu saja, kenapa tidak bicara di telpon tadi saja?" Menurut Gemintang ini hanya masalah sepele, kenapa harus sampai jauh-jauh bertemu dengan dia, apa tidak ada pekerjaan pikirnya.
" Aku lebih suka berbicara secara langsung, jadi kamu bisa mengingatnya dengan jelas!" Ucap Chris yang memang tidak mau disalahkan.
" Hah?"
Sabrina dan Peter langsung melongo mendengar ucapan Chris.
" Okey, tidak masalah, aku pasti akan datang, lagian juga aku suka ngobrol sama ayah kamu." Jawab Gemintang dengan santainya.
" Heh?"
Sabrina dan Peter dibuat terkejut kembali dengan perbincangan mereka yang seolah memang sudah seperti pasangan kekasih sungguhan.
" Kalian berdua?" Sabrina menatap Gemintang dan Chris secara bergantian.
" Biasa aja muka luu, inilah perjanjian kami." Jawab Gemintang yang langsung sibuk menggosok lengannya yang tiba-tiba terasa gatal.
" Iya... tapi kenapa harus menyangkut tentang orang tua sih, berat tau Gem?" Sabrina sekedar mengingatkan, karena mempermainkan orang tua itu bisa fatal akibatnya.
" It's okey, ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Tangan Gemintang mulai berpindah ke area leher.
" Kenapa luu? kayak orang nggak mandi aja garuk-garuk begini?" Sabrina langsung mengamati tangan Gemintang yang tidak bisa diam sedari tadi.
" Entah... kenapa badanku tiba-tiba gatal." Gemintang semakin merasa tidak nyaman.
" Kamu beneran alergi makanan seafood." Chris pun ikut mengamati pergerakan Gemintang.
" Iya dulu, tapi biasanya nggak kayak gini, paling cuma langsung muntah-muntah aja, tapi sekarang kok jadi gatal-gatal, apa kalian juga merasakannya? jangan-jangan nggak bersih lagi ini makanannya?" Gemintang langsung berbicara asal saja karena ini tidak seperti biasanya.
" Sembarangan kamu kalau ngomong, kalau kedengaran orang bisa jadi fitnah, mungkin efek alergimu beda kali, kami biasa aja kok?" Sabrina langsung menoleh kanan kiri, kalau pemilik restorannya mendengar bisa di tuntut mereka nanti atas dasar pencemaran nama baik.
" Aduh Nana... kenapa lenganku jadi bentol-bentol merah gini?" Lama kelamaan Gemintang ngeri sendiri melihat lengannya yang berubah seperti digigitin nyamuk.
" Kita kerumah sakit sekarang deh, dibilang jangan makan seafood, kamu sih bandel dibilangin." Sabrina langsung bangkit dan mengambil tas mereka.
" Aduh... gatel banget Na, aku sudah nggak tahan lagi ini?" Gemintang langsung merengek dengan sahabatnya itu seperti anak kecil.
" Mau gimana lagi, disini nggak ada apotek terdekat, siapa suruh kamu cari makan ditempat pelosok seperti ini." Umpat Sabrina yang langsung melotot kesal.
" Bawa saja ke Apartementku, aku punya obatnya, jaraknya lebih dekat dari sini daripada ke rumah sakit." Ucap Chris yang langsung membuat kepala Peter menoleh kearahnya.
" Are you serious?" Tanya Peter yang memang belum pernah melihat ada seorang wanita manapun yang diajak masuk kedalam apartement miliknya.
" Diamlah!" Chris pun langsung beranjak berdiri dan merapikan jas miliknya.
Tiba-tiba ponsel Sabrina berbunyi.
" Gem... bagian divisi keuangan kamu nelpon gue nih? gimana dong?" Sabrina langsung terlihat panik.
" Mungkin dia mau memberikan laporan yang kita minta kemarin, kamu balik ke kantor saja gih, nanti setelah baikan aku langsung ke kantor." Gemintang sudah tidak bisa berpikir lagi, tubuhnya memanas dan terasa sangat gatal.
" Tapi Gem?" Sabrina ikut panik juga jadinya.
" Cepat balik sono, jangan sampai ahli neraka itu tau dan menerimanya duluan, bisa kacau nanti." Gemintang langsung melotot kearah sahabatnya itu.
" Trus gue gimana pulangnya dong?" Tanya Sabrina lagi.
" Bawa mobilku sana!"
" Gilak luu ya, gue nggak bisa bawa mobil!" Sabrina bukan dari golongan orang kaya, jadi memang tidak pernah punya niatan untuk belajar menyetir, karena baginya untuk membeli sebuah mobil adalah hal yang mustahil, gajinya saja habis terus untuk dipakai biaya kehidupan sehari-hari dan dikirim ke orang tuanya.
" Aduh gimana dong?" Sabrina kembali merasakan suhu tubuhnya yang semakin memanas.
" Ribet banget dah kalian berdua ini, Peter antar dia kembali ke kantor!" Ucap Chris yang langsung berinisiatif.
" Hah? ya sudahlah." Walau sedikit terkejut namun Peter langsung mengiyakan saja permintaan bos sekaligus saudaranya itu.
" Kamu bawa saja mobilku, ini kuncinya." Gemintang langsung melempar kunci itu ke arah Peter, dengan sigap dia menangkapnya.
" Nggak sopan kamu!" Umpat Peter sambil melotot.
" Siapa itu sopan?" Jawab Gemintang tidak perduli.
" Cih...dasar tidak tahu terima kasih nih orang!"
" Sudah kalian berangkat gih!" Chris langsung merangkul bahu Gemintang dengan luwesnya dan membawanya kedalam mobil mewah miliknya.
Sedangkan Gemintang sudah tidak perduli lagi, badannya sudah merasa tidak nyaman, akhirnya dia menyesal sendiri telah nekad memakan lobster yang terasa mengugah selera tadi.
" Mereka berdua sandiwara atau beneran pacaran pak?" Sandrina tanpa sadar sok akrab dengan Peter.
" Entahlah, aku pun heran, tidak biasanya Chris seperti itu, tapi kalau benar adanya sih salut gue ama temen elu, bisa melumerkan bongkahan es batu itu." Peter pun masih mengamati mereka berdua.
" Hush... bapak ini, Gemintang itu masih ada yang punya, jangan sembarangan kalau ngomong!"
" Cih... semua mahkluk di dunia ini, cuma yang di-Atas yang punya, owh ya... apa kita sedekat itu sekarang? kenapa kamu berani bicara santai seperti itu denganku?"
Peter langsung melenggang menuju parkiran mobil milik Gemintang yang ada didepan Restoran setelah memastikan mobil yang Chris dan Gemintang tumpangi berlalu pergi duluan.
" Bukannya kita sudah bukan atasan sama bawahan lagi?" Sabrina mulai berani menjawab.
" Iya juga ya? tapi kenapa aku mesti repot-repot nganterin kamu?"
" Hehe... spesial hari ini, biarkan aku kembali mengabdi menjadi karyawan bapak okey?" Ucap Sabrina dengan imutnya, bahkan Sabrina dengan santainya menoel lengan Peter dengan jari telunjuknya.
" Dih... semua perempuan di muka bumi ini memang nggak jelas semua!" Peter langsung mengusap lengannya sendiri, walaupun masih terhalang oleh kain, namun entah mengapa seolah jari Sabrina terasa menusuk sampai ke tulang.
" Karena terkadang perempuan itu lebih suka pembuktian dari pada hanya sekedar penjelasan yang tak berujung." Jawab Sabrina dengan faseh seolah dia sudah menjadi pujangga cinta.
Sabrina langsung nyelonong masuk mobil duluan, meninggalkan Peter yang masih terbengong mendengar perkataan Sabrina barusan.
Peter tipe orang yang tertutup soal hati dan perempuan, sampai sedewasa ini pun dia bahkan belum pernah menemukan sosok gadis idamannya, walau setiap harinya dia bertemu dengan puluhan wanita cantik dan menawan saat perjalanan bisnis yang selalu menggodanya.
..." Segala sesuatu menunggu pada waktunya, tak ada mawar yang mekar sebelum waktunya, matahari juga tidak terbit sebelum waktunya. Tunggulah apa yang menjadi milikmu, pasti akan datang kepadamu diwaktu yang tepat."...
Yang belum klik tombol Favorit 💙 jangan lupa di nunul-nunul ya bestie☺
UNTUK LISAN DAN SIKAP YANG TIDAK TERJAGA, MOHON DIBUKAKAN PINTU MAAF SEBESAR-BESARNYA...
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1443 H, BAGI YANG MERAYAKAN, MOHON MAAF LAHIR BATIN SEMUA...
BIG HUG BUAT SAUDARA-SAUDARA KU DI SELURUH PENJURU TANAH AIR🤗
gak suka skip
hargai karya org lain
dpt suami krja dkt rumah dpt duet lbh sikit tp pikiran tenang krna tiap hr ada
pilih yg mana???
sabrina bru liat tuyul diatas genderuwo dibawah