Humaira sejak kecil hidupnya dihabiskan di pesantren mencari ilmu, ia juga tidak pernah jatuh cinta hingga suatu saat ayahnya sakit ia harus kembali pulang menunggu ayahnya yang sedang koma.
Setelah ayahnya sadar ia harus dijodohkan dengan anak yang telah membantu biaya penyembuhan ayahnya harus menikahi seorang duda beranak.
Setelah melangsungkan pernikahan Raka membuat kontrak perjanjian selama satu tahun pernikahan setelah itu mereka akan bercerai.
Namun dengan seiringnya waktu Aira mulai jatuh cinta kepadanya tetapi Raka sangat membencinya, dan sering menyakiti Aira. Akankah cinta Aira terbalaskan atau sebaliknya yang membuatnya semakin terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.Gagal
Davian sedang melamun di ruangannya, memikirkan tentang Aira sejak perilaku Raka di cafe kemarin, kini ia berpikir gimana cara agar ia bisa lebih dekat dengan Aira.
Apa saya berkata jujur saya, bahwa saya mencintainya tapi apa tidak terlalu cepat saya mengungkapkannya batin Davian.
"Semoga Aira belum memiliki kekasih, saya harus menyatakan cintaku sekarang, sebelum ia menjadi milik orang lain," kata Davian untuk menyemangati dirinya sendiri.
Setelah lama ia berfikir melihat arloji ditangannya sudah waktunya mata kuliah Aira selesai, ia segera menghampiri ke ruang kelasnya.
Davian memasuki ruang kelas Aira sudah tampak sepi tidak ada mahasiswa sama sekali, ia putuskan untuk mencari di tempat parkiran, matanya tertuju pada wanita berhijab yang sedang berjalan menuju mobil ferrari spider berwarna hitam.
Davian berjalan dengan sedikit berlari menghampiri Aira agar dia tidak semakin jauh, lalu ia mecengkal lengan Aira dari belakang.
Aira berjalan keluar kelas setelah mata kuliahnya habis, saat di parkiran mobil tangannya dicekal dari belakang. Aira menoleh untuk melihat siapa yang telah mencekal tangannya.
"Pak Davian," kata Aira.
"Aira bisa bicara sebentar?" Tanya Davian dengan tatapan memohon agar Aira mau berbicara dengan dirinya.
"Bicara masalah apa pak?" jawab Aira.
"Kita keruangan saya sebentar," ajak Davian.
"Tapi pak ...," ucapan Aira terputus saat Davian sudah menarik tangan Aira untuk menuju keruangan Davian.
Davian berjalan tanpa bicara melewati koridor demi koridor dengan posisi tetap mengengam tangan Aira.
Semua para mahasiswa melihat Aira dengan dosen killer dengan penuh tanda tanya, karena mereka berjalan bagaikan seorang pasangan kekasih.
"Itu istri pak Davian ya," tanya mahasiswa yang sedang memperhatikan Aira serta Davian berjalan dengan berpegangan tangan.
"Itu kayak anak baru, jurusan desainer produk?" jawab teman mahasiswa itu.
"Tapi kenapa dia bisa dengan dosen killer?" sahut mahasiswa satunya.
"Mana saya tahu," jawab wanita lainnya yang melihat Aira dan dosen killer yang masuk ke dalam ruangan pak Davian.
Sampai di dalam ruangannya Davian melepas tangan Aira, "Maaf Aira jika saya membuat tangan kamu kesakitan."
"Sebenarnya ada apa pak?" tanya Aira masih berdiri.
"Duduklah dulu! Ada yang ingin saya bicarakan," kata Davian duduk di sofa tamu dalam ruangnya.
Aira pun ikut duduk, agak menjaga jarak dari tempat Davian. Aira bingung sebenarnya apa yang ingin disampaikan dosen killer itu, atau ia membuat masalah dengan mata kuliah yang di ajarkannya.
"Aira, ada hal yang penting ingin saya ungkapkan kepadamu, mungkin ini terlalu cepat buatmu, tapi saya sudah tidak bisa menahan rasa cinta di hatiku buat kamu, sejak pertama kali melihatmu di mata kuliahku, di saat itu juga pertama kali saya bertemu denganmu rasa ini timbul seketika tumbuh di hatiku, maukan kau jadi pasangan hidupku," ucap Davian memohon jawaban dari Aira.
Aira mendengarkan setiap perkataan Davian dengan jelas, namum saat itu juga ponsel Aira berbunyi. Aira segera mengambil ponselnya dalam tas ranselnya.
Melihat jika sang mama mertua yang menelephone, ia segera mengeser tombol hijau ia takut jika Nathan akan rewel kembali mencari dirinya. Aira memberi kode untuk Davian agar diam tidak berbicara.
📞📞 Mama
📞📞 Aira
"Hallo, assalamualaikum mah," kata Aira menjawab panggilan telephone dari mama mertuanya.
"Waalaikumsalam Ra, kamu dimana? Sudah selesai belum?" tanya mama di dalam sambungan telephone.
"Sudah mah, sebentar lagi Aira pulang, ini mau keluar kelas," katanya berbohong.
"Mama sudah di depan kampusmu bersama Nathan, mama tunggu ya," ucap mama.
"Mah, terus pak Men, gimana?"
"Biar pulang saja, kamu pulang bersama mama kita ke beauty salon dulu nanti," kata mama sambil mematikan ponselnya.
Aira segera berdiri memasukkan ponselnya kedalam tas ranselnya lalu berpamitan kepada Davian.
"Maaf pak, saya harus pulang mama juga anak saya sudah menunggu di depan," ucap Aira keluar dari ruangan Davian.
"Tapi bagaimana jawaban dari perasaan saya Aira," teriak Davian yang menatap punggung Aira semakin jauh.
Anak, kamu jangan bercanda Aira itu pasti alasan kamu untuk menghindar dariku gumam Davian mengacak-acak rambutnya frustasi yang gagal mendapatkan cinta Aira.
Aira menuju keluar gerbang kampus menuju mobil lamborghini milik sang mama mertua. Aira membuka pintu mobil masuk kedalam yang sudah ada Nathan dan mama mertua yang menunggunya dari tadi.
"Maaf mah, menunggu lama. Kenapa mama tidak bilang tadi? Biar mama tidak menunggu lama Aira," kata Aira menyalami tangan mama.
"Kita mau membuat bunda kejutaan, Nathan kan ingin tahu kampus bunda mencari ilmu seperti apa," ucap Nathan, lalu langsung memeluk sang bunda dan menyalaminya.
"Begitu ya anak bunda, tadi nakal tidak anak bunda?" tanya Aira.
"Tidak bunda," ucap Nathan.
Tanpa terasa kini telah sampai di sap milik sang mama mertua yang khusus untuk wanita saja, ia memilih mendirikan khusus untuk wanita agar ia bisa leluasa melakukan perawatan untuk dirinya, karena mama Raka sangat senang melakukan perawatan kecantikan, ia selalu menjaga dirinya agar tetap cantik walau usianya hampir kepala enam. Ia menyuruh Aira untuk melakukan perawat dirinya dari ujung kaki sampai rambut.
"Nyonya besar silahkan masuk," kata karyawan menyambut sang pemilik datang.
"Biasa saja, saya hanya mengantar menantu saja untuk melakukan perawatan," ucap Mama mertua Aira tersenyum rama kepada para pegawainya.
Aira dan Nathan mengikuti sang mama menuju entah kemana mereka hanya mengekorinya sambil bercanda hingga akhirnya berhenti di depan pintu yang bertuliskan treatment manicure and pedicuru.
"Ayo, masuk Aira," ajak mama mertuanya.
"Buat apa perawatan kuku segala mah," tanya Aira.
Aira binggung karena selama hidupnya ia tak pernah masuk ke tempat seperti ini. Dia hanya ke salon paling satu tahun sekali untuk memotong rambutnya. Karena ia anak orang biasa saja jadi tidak ingin membuang-buang uang yang dicari dengan susah payah, jika ia pun punya lebih ia gunakan untuk bershodaqoh kepada anak yatim atau orang yang tak mampu tidak menghamburkan uang seperti hal tak penting seperti ini.
"Kamu harus melakukan perawatan dari ujung kaki sampai rambut masuklah, mama tunggu diruangan mama, nanti pelayan akan mengantar kamu ke ruangan mama jika kamu sudah selesai, ikutlah dengan mbak Dina," ucap mama.
"Mari nona, kita melakukan facial dan spa setelah itu kita melakukan manicure," kata mbak Dina.
*****
Daniel yang sedang menjemput sang mama melakukan perawataan di beauty salon, ia sibuk menunggu di dalam mobil sambil mendengarkan musik.
Saat ia bosan ia keluar mobil matanya tertuju kepada wanita cantik yang keluar dari beauty salon.
Daniel mengusap-usap matanya, memastikan apa yang ia lihat benar-benar Aira yang berjalan menggandeng anak kecil berserta wanita paruh baya disampingnya. Daniel segera berjalan menghampiri Aira untuk menyapanya.
*****
Terimakasih sudah bersedia membaca jangan lupa beri like jg comen.
smg tidak bosan dg cerita yang saya buat... 😘😘😘