Keysa Indira Fidelya, gadis cantik dan kaya raya, menutupi latar belakang dan kecantikannya demi melarikan diri dari pernikahan. Ia pergi ke Kota B dan menjadi seorang mahasiswa yang berpenampilan culun dan tidak menarik sama sekali di sana.
Namun, tidak pernah disangka kalau hari pertama di kota pelariannya, Keysa akan bertemu dengan seorang pria paling disegani di Kota B. Seorang pria yang berani mencium paksanya sampai dua kali.
Devano G Mahardika, lelaki sombong, orang terkaya nomor satu di kota B, bahkan di Negara X. Lelaki yang menyebabkan Keysa marah karena telah berani menciumnya secara paksa dan terjadi konflik di antara mereka. Akan tetapi, Devano juga tanpa sengaja telah menyelamatkan Keysa yang sedang dalam masalah.
Dengan hal tersebut, cerita kedua insan ini dimulai, dari yang menantang banyak masalah, latar belakang kehidupan, permusuhan menjadi percintaan serta orang ke tiga juga mewarnai cerita kehidupan mereka.
*Cerita ini mengikuti Misi Kepenulisan yang diselenggarakan oleh Noveltoon. Jika ada kesamaan dengan novel lain harap maklum, karena alur ditentukan oleh editor dan author hanya mengembangkannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Setelah Devano memintanya untuk pergi, Keysa pun meninggalkan aula yang masih dipenuhi hawa panas yang sangat mencekam. Kini, gadis yang riasannya terlihat sedikit berantakan itu tengah menunggu Devano di dekat gerbang.
Di depan pos satpam, Keysa berdiri menunggu lelaki yang tak kunjung keluar dari rumah besar itu. Beberapa kali, ia menoleh ke arah pintu, tetapi Devano masih tidak terlihat batang hidungnya.
"Kenapa lama sekali? Apa di dalam terjadi sesuatu?" Keysa menatap ke arah pintu sembari menggigit jari telunjuk. Ada rasa khawatir kepada Devano terbersit di benaknya.
Hingga, ia bisa bernapas lega saat melihat lelaki tampan yang memakai jas senada dengan gaunnya keluar rumah dan masuk ke seunit mobil mewah, lalu menghampiri Keysa.
"Ayo, naik!" ucap Devano, begitu mobil berhenti di depan Kaysa.
Tanpa pikir panjang, Keysa langsung berjalan memutari depan mobil dan masuk lalu duduk di kursi penumpang samping Devano.
Devano pun lantas mengemudikan mobilnya kembali. Tidak ada pembicaraan dari keduanya. Keysa yang tadi merasa khawatir juga tidak berani angkat bicara, saat melihat raut wajah Devano yang begitu kusut. Tidak baik mengganggu harimau yang sedang mengamuk, nantinya Keysa sendiri yang akan jadi sasaran amukan harimau itu, mengingat setiap pembicaraan mereka yang selalu berakhir dengan pertengkaran. Keysa juga sangat lelah dengan semua yang telah terjadi. Ia tidak memiliki lagi kekuatan jika harus berseteru dengan lelaki di sampingnya, hingga ia lebih memilih menikmati jalanan malam dari balik jendela mobil yang kacanya sengaja diturunkan.
Mobil Devano terus melaju menembus jalan yang berkelok-kelok, melewati kembali jalanan yang hampir merenggut nyawa mereka. Sampai mobil itu berhenti saat menemukan sebuah restoran.
"Kita makan dulu di sini." Setelah kebersamaan mereka di dalam mobil hanya ditemani suara angin yang lewat, Devano angkat bicara begitu mobil terhenti.
"Enggak langsung pulang?"
"Memangnya kamu tidak lapar?" Devano melirik Keysa dengan bibir atas sedikit terangkat.
Belum sempat mulut Keysa menjawab, cacingnya sudah menjawab terlebih dahulu dengan bunyi 'krucuk' yang sangat kencang. "Lapar sih." Keysa menjawab dengan seringai lebar. Ada sedikit rasa malu karena ulah cacing tidak berakhlak di perutnya.
Ujung bibir Devano tertarik begitu saja saat mendengar bunyi perut Keysa. "Ayo, turun! Cacingmu keburu mati kalau langsung pulang," ujar Devano sambil membuka sabuk pengaman, lalu keluar yang juga diikuti oleh Keysa.
Keduanya memasuki sebuah restoran chinese. Setelah memilih tempat duduk, Devano memanggil pelayan untuk memesan makanan. Seorang pelayan pun datang menghampiri mereka dan memberikan buku menu yang tersedia di sana.
"Kamu saja yang pesan!" titah Devano kepada Keysa.
Kesempatan yang tidak disia-siakan. Keysa lantas mengambil buku menu yang disodorkan si pelayan dan membaca setiap menu yang tertulis dengan gambar yang membuat Keysa menelan air liurnya. Ia pun menyebutkan beberapa menu makanan dan langsung dicatat oleh si pelayan. Sementara itu, Devano hanya melongo mendengar banyaknya menu yang dipesan Keysa.
'Dia cewek apa Buto Ijo? Pesenannya banyak banget. Seharusnya tadi aku saja yang pesan,' guman Devano dalam hati.
"Dev, apa ada yang mau ditambahkan?" Keysa melirik Devano yang masih terheran-heran dan hanya dijawab gelengan oleh lelaki itu. "Kalau gitu minumnya mau apa?" tanya Keysa lagi.
"Asam soda saja," jawab Devano.
"Minumannya asam soda sama teh krisan, ya, Mbak!" ujar Keysa sambil memberikan kembali buku menu kepada si pelayan.
"Mohon ditunggu sebentar, ya, Mbak, Mas," ucap Si Pelayan dengan senyum yang mengembang, lalu membungkuk dan undur diri dari sana.
Tidak selang berapa lama, dua orang pelayan kembali menghampiri meja Devano dan Keysa dengan membawa menu makanan yang dipesan Keysa dan kembali pergi setelah menyajikan makanan yang Devano dan Keysa pesan di atas meja serta mengucapkan 'selamat menikmati'.
Combination barbeque platter (satu piring besar berbagai jenis daging barbeque yang terdiri dari daging ayam, bebek panggang, daging khas dalam dan ubur-ubur) tersaji di atas meja. Selain itu, hainan chicken rice, fuyunghai saus asam manis, dimsum ayam serta minuman teh krisan dan asam soda juga memenuhi meja makan mereka.
Mata Keysa langsung berbinar begitu melihat aneka makanan yang membuat lidahnya bergoyang sudah tersaji. Tanpa menunggu lagi, ia lantas mengambil piring dan meletakkan semua makanan itu di piringnya. Rasa lapar yang sudah mendera sejak tadi membuatnya kalap, bahkan lupa dengan siapa sekarang ia bersama.
"Enak sekali," ucap Keysa dengan mulut yang dipenuhi dengan barbeque daging sapi. Makanan di mulut juga belum ditelan, Keysa sudah memasukan lagi daging ayam.
Sementara itu, selera makan Devano tiba-tiba menghilang begitu melihat cara makan Keysa yang seperti orang kesetanan.
"Berapa hari kau tidak makan?" tanya Devano.
Keysa yang sedang mengunyah, menghentikan kunyahannya begitu mendengar pertanyaan Devano. Lantas menatap lelaki yang masih memperhatikannya.
"Kau itu seperti orang seminggu tidak makan," lanjutnya, seakan-akan tahu arti tatapan Keysa. "Ditambah lagi cara makanmu jelek sekali, lihatlah makananmu belepotan ke mana-mana!" Devano menunjuk area bibir Keysa yang dipenuhi saus dan bumbu-bumbu dari makanan yang masuk ke mulut.
"Ini namanya memanfaatkan kesempatan yang ada, sekalian mengembalikan tenaga yang terkuras habis oleh drama di rumahmu. Kapan lagi dapat gratisan seperti ini," jawab Keysa sambil mengelap wajah di area bibir yang kotor.
"Dasar Jelek, gak ada jaim-jaimnya sedikit pun biarpun makan dengan orang ganteng sepertiku," rutuk Devano sambil memasukkan potongan bebek panggang ke mulutnya. Namun, Keysa tidak menyahut. Gadis itu lebih memilih fokus pada makanan yang dipesannya.
Euuu! Tiba-tiba suara sendawa keluar dari mulut Keysa sangat keras begitu gadis itu selesai makan. Membuat Keysa langsung menutup mulutnya.
"Ya ampun, Key. Aku tahu kamu itu jelek, culun, tapi enggak senora ini juga kali. Malu-maluin saja," rutuk Devano, melihat orang-orang yang ada di sana melirik ke arah mereka karena mendengar sendawa Keysa.
"He ... he ... kekenyangan," jawab Keysa tanpa dosa.
Devano memutar matanya—jengah. Namun, tidak lantas meninggalkan gadis itu. Ia malah mengajak Keysa mengobrol, membahas kejadian yang telah terjadi di rumah. Devano meminta Keysa untuk tidak menyebarluaskan semua yang didengar dan dilihat Keysa.
"Mulutku akan selalu aman terkendali, asalkan ...." Keysa mengatupkan bibirnya, lalu menarik telunjuk dan jempol yang menempel di bibir dan membentuk gerakan memutar kunci dengan alis yang naik turun.
"Itu bayaranmu! Aku sudah melebihkannya sebagai uang tutup mulut dan kompensasi dari semua kerugian yang kamu terima tadi." Devano menyodorkan amplop coklat yang isinya terlihat sangat tebal. "Asrama sudah dekat. Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini karena masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan," lanjut Devano.
"Tidak apa. Aku bisa pulang sendiri," jawab Keysa sambil meraih amplop dari tangan Devano. Terpenting, saat ini ia memiliki uang banyak.
***
Setelah berpisah dengan Devano, sebelum pulang Keysa membeli laptop dari uang yang diberikan Devano.
Setiba di Asrama, Asrama tampak sangat sepi. Disti yang juga sedang bekerja paruh waktu pun belum kembali. Keysa menatap laptop yang baru saja dibelinya. Ia teringat akan berita beberapa waktu lalu tentang menjadi selebgram yang bisa menghasilkan uang banyak.
"Tidak ada salahnya kalau aku mencobanya," gumam Keysa.
Salah satu alasan Keysa membeli laptop agar ia bisa menjadi selebgram. Keysa pun lantas menghapus wajah jeleknya dan berganti pakaian.
Dengan wajah asli serta rambut yang tergerai indah dan pakaian casual yang dikenakan Keysa pergi ke area kampus yang saat ini sangat sepi, lantas mengambil beberapa foto dengan berbagai pose. Kemudian, gafis itu mengupload foto-foto tersebut di akun sebuah aplikasi yang baru saja dibuatnya dengan nama akun 'Queen Faya'—akun samaran. Setelah itu, Keysa memberi judul di foto-fotonya dengan #One Day Tour di Universitas X.
Bukan tanpa alasan Keysa memberi judul foto-fotonya 'One Day Tour di Universitas X'. Ia sengaja agar tidak ada orang yang mencurigai bahwa Keysa mahasiswa di universitas X dan hanya akan mengira kalau dirinya hanya bermain-main di sana.
Mengejutkan. Tidak sampai satu malam, foto Keysa tersebar di mana-mana. Bahkan, berita ada gadis cantik di Universitas X pun sudah tersebar luas.
ko Thor biar si Keysa mcm prmpuan murahn
msa si Thor suka sngat prgi clube