Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Keesokan pagiya di pantai disambut dengan langit biru yang bersih. Udara pagi yang asin dan segar seolah memberikan energi baru.
Nura duduk di sebuah kafe terbuka di pinggir pantai, menunggu Elang yang sedang membantu Kanara mencuci tangan di toilet setelah puas bermain pasir. Nura menyesap kopi susunya, matanya menerawang menatap cakrawala.
Tiba-tiba, seorang pria dengan pakaian khas turis mendekat ke mejanya. Wajahnya ramah, dengan kamera profesional yang tergantung di lehernya.
“Permisi, maaf mengganggu waktunya,” sapa pria itu dengan senyum sopan. “Saya lihat dari tadi Anda duduk di sini sendirian. Cahaya pagi ini sangat bagus mengenai wajah Anda. Boleh saya ambil foto sebentar? Saya sedang mengerjakan proyek fotografi untuk majalah travel.”
Nura tersentak, sedikit bingung. “Oh, maaf… saya sedang menunggu keluarga saya.”
“Hanya sebentar saja, jujur, garis wajah Anda sangat natural di bawah sinar matahari ini,” pria itu mencoba meyakinkan dengan nada yang sangat ramah, sedikit terlalu akrab. “Nama saya Denis. Siapa tahu setelah ini saya bisa mengirimkan hasilnya pada Anda.”
Nura baru saja akan menolak dengan lebih tegas, saat ada bayangan besar menyelimuti mejanya. Aroma maskulin yang sangat ia kenali seketika memenuhi udara.
“Dia bersama saya.”
Suara itu rendah, dingin, dan penuh otoritas.
Elang sudah berdiri di belakang Nura. Satu tangannya dengan posesif diletakkan di sandaran kursi Nura, sementara tangan lainnya menggandeng Kanara. Tatapan matanya yang melunak di pantai, kini berubah menjadi tajam seolah sedang menghadapi lawan bisnis yang paling licik.
Pria bernama Denis itu tampak sedikit terkejut melihat aura intimidasi yang keluar dari tubuh Elang. “Oh, maaf, Mas. Saya cuma mau minta izin foto untuk keperluan proyek–”
“Izin tidak diberikan,” potong Elang cepat, tanpa senyum sedikitpun. “Tolong cari objek lain.”
Denis mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. “Oke, oke. Maaf mengganggu. Mari, Mas, Mbak,’’ ia segera pergi dengan langkah seribu.
Suasana di meja mendadak kaku. Elang menarik kursi dan duduk dengan gerakan kasar. Wajahnya terlihat mengeras, rahangnya kaku.
“Mas…,” Nura memulai, merasa sedikit tidak enak tapi juga ada rasa aneh yang menggelitik dadanya. “Dia cuma mau ambil foto.”
“Dia mau nomor teleponmu, Nura,” sahut Elang datar, matanya menatap tajam ke arah perginya pria itu tadi. “Jangan terlalu polos. Laki-laki tahu cara memulai percakapan kalau mereka tertarik pada seseorang.”
Nura menahan senyum. “Mas Elang… cemburu?”
Elang mengalihkan pandangannya pada Nura. Bukannya mengelak, ia malah menatap Nura dengan intensi. “Iya, aku cemburu. Dan aku punya hak untuk itu, bukan?”
Nura terdiam, lidahnya mendadak kelu. Kanara yang duduk di antara mereka hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba memahami ketegangan orang dewasa di depannya.
“Ra,” Elang merendahkan suaranya, menggenggam tangan Nura di atas meja. “Tolong jangan beri senyum seramah itu pada laki-laki asing. Kamu tidak tahu betapa berartinya senyum itu buat aku, dan aku tidak ingin membaginya dengan siapa pun.”
Hati Nura berdesir hebat. Di satu sisi, ia merasa sangat diinginkan, tapi di sisi lain, rasa bersalah kembali muncul. Apa yang harus aku lakukan kalau masa kadaluwarsa itu datang?
Kecemburuan Elang ternyata tidak berakhir di kafe itu. Sepanjang perjalanan kembali ke Villa, Elang menjadi jauh lebih protektif. Ia tidak membiarkan Nura berjalan lebih dari satu meter darinya. Setiap kali ada laki-laki lain yang kebetulan berpapasan atau sekedar menoleh ke arah mereka, Elang akan otomatis melingkarkan lengannya di bahu Nura, atau menggenggam jemarinya lebih erat.
Siang harinya, saat mereka sedang makan siang di restoran villa yang cukup ramai, seorang pelayan pria datang membawa pesanan mereka. Pelayan itu memberikan rekomendasi menu penutup sambil memberikan senyuman ramah yang sebetulnya sangat standar dalam pelayanan.
“Untuk hidangan penutup, kami punya lava cake spesial, Mbak. Cocok dengan manisnya siang ini,” ucap pelayan itu sambil menatap Nura.
Nura baru saja akan menjawab dengan senyum sopan, “Oh, terima kasih. Boleh sa–”
“Tidak usah,” potong Elang cepat sebelum Nura menyelesaikan kalimatnya. “Bawakan saja buah potong dan tagihannya sekarang.”
Nura melirik Elang dengan dahi berkerut. Setelah pelayan itu pergi, ia berbisik, “Mas, dia cuma nawarin makanan. Mas ketus banget.”
“Dia menatapmu terlalu lama, Ra. Dan, kamu kenapa harus senyum secerah itu sama dia? Buah potong lebih sehat untukmu,” jawab Elang santai sambil memotong steak-nya dengan gerakan seolah tidak ada yang salah.
Nura hanya bisa menggelengkan kepala separuh jengkel namun separuhnya lagi merasa geli. “Mas Elang, kalau begini terus, berarti aku tidak boleh bicara dengan siapa pun selain sama Mas dan Kanara?”
Elang berhenti mengunyah, lalu manatap Nura dengan sorot mata yang sungguh-sungguh. “Ide yang bagus. Aku tidak keberatan kalau duniamu hanya berisi kami berdua.”
Sifat posesif Elang berlanjut hingga sore hari saat mereka bermain di kolam renang pribadi villa. Ketika Nura muncul mengenakan pakaian renang tertutup namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang anggun, Elang segera melemparkan handuk besar ke arahnya.
“Pakai itu kalau kamu sedang tidak di dalam air,” perintah Elang sambil berenang ke tepi.
“Mas! Ini kolam pribadi! Tidak ada orang lain yang melihat,” protes Nura sambil tertawa kecil.
Elang menarik tangan Nura, hingga wanita itu terduduk di tepi kolam dengan kaki terendam air. Elang berdiri di antara kaki Nura, mendongkak menatapnya dengan rambut basah yang berantakan.
“Aku yang melihat, Nura. Dan aku tidak suka berbagi pemandangan ini, bahkan dengan angin sekalipun,” bisik Elang. Ia menarik Nura perlahan hingga wanita itu ikut masuk ke dalam air, mendarat tepat di pelukannya.
Di dalam air yang tenang, Elang mengunci pinggang Nura. Kecemburuan yang tadinya terasa menjengkelkan, kini berubah menjadi suasana yang sangat intim.
“Maaf, kalau aku berlebihan hari ini,” gumam Elang di dekat telinga Nura, “Hanya saja… Melihatmu didekati orang lain membuatku takut. Aku tidak mau satu hal pun yang membawamu pergi dariku. Bahkan hanya sekedar perhatian dari pria asing.”
Mendengar ucapan Elang, Nura merasa melayang ke langit ketujuh. Ia melingkarkan lengannya ke leher Elang, membiarkan tubuh mereka terombang-ambing pelan di air. “Tidak ada Denis, tidak ada pelayan yang bisa menggantikan posisimu, Mas.”
Elang tersenyum puas, sebuah kemenangan kecil yang membuatnya kembali tenang. Namun, momen manis itu dipaksa berakhir saat Kanara berteriak di pinggir kolam sambil membawa pelampung bebeknya.
“Ayah! Jangan peluk Kak Nura terus! Kanara mau main kapal-kapalan!”
Elang tertawa kecil, melepaskan pelukannya pada Nura dengan enggan. “Lihat? Bahkan saingan terberatku adalah putriku sendiri.”
**********
Malam terakhir di pantai, Kanara sudah terlelap, menyisakan Elang dan Nura yang di teras kayu yang menghadap di laut lepas. Elang duduk di sofa, sementara Nura berdiri bersandar pada pagar pembatas.
Elang bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang tenang mendekat, hingga ia berdiri tepat di belakang Nura. Tangannya perlahan naik, melingkar di pinggang Nura, menarik wanita itu mundur hingga punggung Nura menempel erat pada dada bidangnya.
Nura sedikit tersentak, namun ia tidak menolak. Ia membiarkan kepalanya bersandar di bahu Elang, menikmati momen-momen yang seolah milik mereka berdua.
Elang membenamkan wajahnya di ceruk leher Nura, menghirup aroma lavender yang selalu menjadi favoritnya. “Kamu tahu, Ra… selama ini, di mana pun aku berada bahkan di rumah, aku selalu menjadi ‘Elang Raka Wiratama’ yang kuat. Tapi, di sini, di depanmu, aku cuma laki-laki yang ingin dicintai.”
Nura memejamkan mata. Jemarinya meremas tangan Elang yang melingkar di perutnya. “Mas…”
Elang memutar tubuh Nura hingga mereka berhadapan. Di bawah cahaya remang, wajah Elang sangat tampan namun penuh gairah yang tertahan. Tangannya naik, mengelus rahang Nura dengan ibu jari, lalu jemarinya menyusup ke sela-sela rambut di tengkuk Nura.
Tatapan mereka terkunci. Elang menundukkan wajahnya, perlahan tapi pasti, hingga hidung mereka bersentuhan. Napasnya yang hangat terasa di bibir Nura.
“Nura…,” bisik Elang lirih, suaranya serak dan dalam.
Dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, dunia seolah berhenti. Awalnya lembut dan ragu, namun rasa haus akan kasih sayang yang selama ini mereka pendam membuat ciuman itu semakin, intens dalam dan menuntut.
Elang menarik tubuh Nura lebih rapat, seolah ingin menyatukan detak jantung mereka. Lidahnya menari-nari di dalam mulut Nura, mencari lidahnya, dan membelit setelah menemukannya. Nura mencuri napas di sela-sela ciuman, kewalahan untuk bisa mengimbangi Elang.
Tangan Elang mulai bergerak tak tentu arah, dari punggung hingga ke pinggang Nura, semakin posesif dan mendesak. Nura merasakan desiran hebat yang membuatnya lemas, tangannya meremas kemeja Elang, mencoba mencari tumpuan.
Ciuman Elang beralih ke pipi, turun menuju rahang dan berputar di sekitar telinga Nura. Memberikan sentuhan basah di sana. Ia melanjutkan ke leher jenjang dan putih Nura, melumat, menghisap dan mengigit kecil, membuat Nura mendongkak dan mengerang pelan. “Aahhh, Massshh… mmhhh.”
Elang seolah kehilangan kendali, gairahnya memuncak, terbakar oleh rasa takut kehilangan dan rasa memiliki yang begitu dalam. Tangannya bergerak ke depan, ke perut Nura lalu dengan sangat lembut ke depan dada Nura.
Nura mulai terbuai. Namun di sela-sela napasnya yang memburu, ia tiba-tiba teringat pada Kanara dan– masa kadaluwarsa. Kesadaran itu menghantamnya seperti air laut yang dingin.
“Mas… Mas tunggu,” bisik Nura terengah, mencoba menjauhkan wajahnya sedikit.
Elang berhenti, napasnya memburu di depan wajah Nura. Matanya yang biasanya tajam kini tampak gelap dan berkabut oleh emosi. Ia menatap bibir Nura yang sedikit bengkak, lalu menatap matanya yang berair.
“Maaf…,” Elang menjauhkan wajahnya, menyandarkan keningnya di kening Nura, sambil mencoba mengatur napasnya yang berantakan. “Maaf, Ra… aku hampir keblabasan.”
Elang menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia memeluk Nura dengan sangat erat, namun kali ini lebih tenang, seolah mencoba menguasai dirinya kembali. “Aku hanya sangat mencintaimu, sampai rasanya aku ingin memilikimu seutuhnya agar kamu tidak pergi ke mana-mana.”
Nura terdiam dalam pelukan itu, hatinya hancur berkeping-keping. Kalimat Elang ‘agar kamu tidak bisa pergi’ adalah belati yang paling tajam. Ia membalas pelukan Elang dengan sangat kuat, menangis tanpa suara di dada pria itu, menyadari bahwa semakin dalam cinta ini, semakin besar luka yang akan tercipta.
Khan... aku juga jadi ikutan.. ba...s...ah... 😌
eh ortu Elang, aku karungin aja deh, brisik bgt dah😩