seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT
Meski ledakan itu menghancurkan rumah Adrian, dalam dunia yang penuh dengan intrik seperti ini, kematian bukanlah akhir sebelum tubuhnya benar-benar ditemukan.
Mari kita tarik kembali "akhir" tersebut dan masuk ke dalam babak baru yang jauh lebih berbahaya. Kayla mengira dia sudah bebas, tapi dia lupa bahwa darah lebih kental daripada air.
Sopir truk kayu itu membantu Kayla naik ke kabin. Hangatnya udara dari heater truk perlahan mulai mencairkan beku di jemari Kayla. Namun, saat truk itu mulai melaju meninggalkan area pegunungan, Kayla menoleh ke arah kaca spion samping. Di kejauhan, di antara puing-puing rumah Adrian yang masih membara, ia melihat sesuatu yang mustahil.
Sesosok bayangan berdiri tegak di atas reruntuhan. Bayangan itu tidak bergerak, hanya menatap ke arah truk yang menjauh. Jantung Kayla berdegup kencang. Apakah itu Aris? Ataukah Adrian? Ataukah itu hanya halusinasi dari pikirannya yang sudah hancur?
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya sopir truk itu, matanya melirik curiga ke arah Kayla yang tampak ketakutan.
"Ya... hanya butuh istirahat," jawab Kayla singkat. Ia mengeratkan pelukannya pada Ariel. Di dalam hatinya, ia tahu. Ledakan itu tidak mengakhiri segalanya. Aris dan Adrian adalah predator yang sudah terbiasa hidup di dalam neraka.
Bab: Kota Baru, Identitas Baru
Kayla turun di sebuah kota kecil yang berjarak ratusan kilometer dari hutan tersebut. Dengan sisa uang tunai yang ia ambil dari rumah Adrian, ia menyewa sebuah apartemen kumuh di lantai atas sebuah toko kelontong. Ia mengganti warna rambutnya menjadi hitam pekat dan mengenakan kacamata besar.
Di kota ini, ia dikenal sebagai Sarah, seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai pencuci piring di restoran lokal.
Bulan demi bulan berlalu. Ariel tumbuh menjadi bayi yang sangat tenang—terlalu tenang untuk ukuran bayi normal. Ia jarang menangis, namun matanya selalu mengikuti gerakan Kayla dengan intensitas yang tidak biasa. Setiap kali Kayla menatap mata anaknya, ia melihat bayang-bayang Aris yang seolah sedang mengawasinya dari dalam tubuh mungil itu.
Namun, ketenangan itu hancur saat Kayla pulang kerja suatu malam dan menemukan sebuah amplop hitam terselip di bawah pintunya.
Tangan Kayla gemetar saat membuka amplop itu. Di dalamnya tidak ada surat, hanya sebuah foto. Foto itu diambil secara diam-diam saat Kayla sedang menggendong Ariel di taman kota kemarin pagi. Di sudut foto itu, terdapat noda darah kering dan sebuah pesan singkat yang ditulis dengan tulisan tangan yang kasar:
> "Kau pikir api bisa memisahkan apa yang sudah disatukan oleh darah? Aku sedang menyembuhkan diri, Kayla. Dan saat aku kembali, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa lari lagi."
>
Kayla jatuh terduduk. Aris selamat. Pria itu tidak mati dalam ledakan. Luka bakar dan cedera otaknya mungkin membuatnya semakin gila, namun obsesinya justru menjadi bahan bakar yang membuatnya tetap hidup.
Malam itu juga, Kayla mulai berkemas. Namun, saat ia hendak membuka pintu, gagang pintu itu sudah terkunci dari luar. Listrik di apartemennya tiba-tiba padam. Dalam kegelapan yang mencekam, suara statis terdengar dari radio tua di sudut ruangan.
"Kayla... kau terlihat cantik dengan rambut hitam itu," suara Aris terdengar melalui frekuensi radio, serak dan penuh dengan gangguan statis. "Tapi kau tahu aku lebih suka kau dengan rambut aslimu. Jangan coba-coba lari lagi, atau aku akan mengirimkan bagian tubuh sopir truk yang membantumu itu ke depan pintumu."
Kayla memeluk Ariel di tengah kegelapan. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Aris telah membangun sistem pengawasan baru di apartemennya tanpa ia sadari. Pria itu tidak lagi mengurungnya di rumah mewah, melainkan mengurungnya di dalam ketakutan yang tidak berwujud.
"Apa yang kau inginkan, Aris?!" teriak Kayla ke arah kegelapan.
"Aku menginginkan sebuah keluarga, Kayla," sahut Aris melalui radio. "Adrian sudah mati—aku memastikannya di tengah api itu. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa mengganggu kita. Aku sedang berada di gedung seberang, melihatmu melalui lensa bidikku. Masuklah ke tempat tidur, susui anakku, dan berlakulah seolah-olah aku ada di sana bersamamu. Jika kau mencoba menelpon polisi, kau tahu apa yang akan terjadi."
Bab: Permainan Kucing dan Tikus yang Baru
Kayla terpaksa menuruti perintah itu. Ia hidup dalam pengawasan Aris yang tak terlihat. Setiap hari, Aris mengirimkan instruksi melalui pesan singkat atau pesan suara. Aris menyuruhnya memakai baju tertentu, memasak makanan tertentu, dan membacakan buku-buku tertentu untuk Ariel.
Aris belum berani menampakkan diri karena luka-lukanya masih dalam proses penyembuhan, namun kehadirannya terasa di setiap sudut kota. Kayla merasa seperti boneka yang digerakkan oleh benang-benang yang dipegang oleh seorang monster dari kejauhan.
Namun, Kayla menyadari satu celah. Aris sangat mencintai Ariel. Aris tidak akan pernah melakukan apa pun yang bisa membahayakan bayi itu.
Suatu hari, saat ia sedang berada di supermarket (di bawah pengawasan orang suruhan Aris yang menyamar), Kayla melihat sesosok pria yang sangat mirip dengan Adrian sedang berdiri di lorong susu. Pria itu menatapnya, lalu meletakkan jari telunjuk di depan bibir—tanda untuk diam.