Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Tamu di Batas Kabut
Navasari tidak pernah dirancang untuk menjadi panggung sandiwara. Desa ini adalah tempat persembunyian yang dibangun dari batu gunung dan kesunyian yang kental. Namun pagi ini, Elian harus merapikan kemeja flanelnya, menyembunyikan luka bakar di lengannya, dan berdiri di depan gerbang desa dengan senyum yang dipaksakan.
Di seberang gerbang, Reno vlogger dengan jaket bomber mentereng dan kamera kecil yang terpasang di dadanya tampak sedang melakukan siaran langsung.
"Oke, guys, gue sekarang ada di pintu masuk Navasari. Desa yang semalam bikin heboh jagat maya gara-gara 'petir indigo'-nya. Hawanya dingin banget, mistis, dan jujur, sinyal gue di sini naik turun kayak roller coaster," ucap Reno ke arah kameranya dengan nada yang dilebih-lebihkan.
Elian melangkah maju, memotong narasi Reno. "Maaf, Mas. Desa ini sedang ditutup untuk umum. Ada perbaikan jalan karena longsor semalam."
Reno menurunkan kameranya sejenak, menatap Elian dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Wah, sayang banget. Padahal gue jauh-jauh dari Jakarta cuma mau beli kopi Arabika Navasari yang katanya legendaris itu. Masa pembeli ditolak, Bang? Gue cuma sebentar, kok. Sekalian pengen lihat mercusuar tua di atas sana."
Elian merasakan getaran di sakunya. Itu bukan ponsel, melainkan kompas kuningan pemberian Arlo yang mulai menghangat tanda bahwa Alana sedang mengawasinya dari menara.
Di Dalam Menara Observasi
Alana berdiri di balik membran energinya, menatap monitor sensor yang menampilkan wajah Reno. Ia bisa merasakan frekuensi kamera digital pria itu; setiap piksel yang ditangkap oleh lensa Reno terasa seperti cubitan kecil di kesadarannya.
"Dia tidak akan pergi hanya karena alasan longsor, Elian," bisik Alana. Suaranya bergema di dalam rumah melalui sistem interkom frekuensi. "Dia punya insting predator untuk berita. Jika kau melarangnya terlalu keras, dia akan kembali malam-malam lewat jalur hutan."
"Lalu apa rencanamu?" tanya Elian melalui mikrofon tersembunyi di kerahnya.
"Biarkan dia masuk. Tapi kita harus mengubah 'panggungnya'. Elian, arahkan dia ke kedai Bu Ratna. Aku akan mematikan pendaran mercusuar sepenuhnya selama dia ada di sini. Aku akan menguras energiku ke dalam tanah untuk sementara."
"Alana, itu berbahaya! Kau bisa pingsan jika menarik energi secepat itu!"
"Lebih baik aku pingsan daripada menara ini berakhir di YouTube dan mengundang militer kembali ke sini. Lakukan sekarang."
Elian menghela napas panjang. Ia membuka palang pintu kayu desa. "Kopi, ya? Kebetulan Bu Ratna baru saja menyangrai panenan minggu lalu. Tapi Mas harus janji, jangan ambil gambar sembarangan. Warga di sini sangat tertutup soal privasi."
Reno menyeringai kemenangan. "Beres, Bang. Gue cuma pengen vibe kopinya aja, kok."
Saat Reno melangkah masuk ke desa, Alana di atas sana mulai memejamkan mata. Ia mencengkeram tepian meja kristalnya. Ia melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan: ia memerintahkan pendaran indigo di tubuhnya dan di seluruh menara u nya dalam bentuk gumpalan energi yang panas dan berat. Menara observasi yang tadinya bersinar seperti lampu suar di atas bukit, kini mendadak terlihat seperti bangunan kayu tua yang kusam dan tak berpenghuni.
Reno berjalan menyusuri jalan desa bersama Elian. Kameranya terus menyala, namun wajahnya tampak kecewa. "Lho, Bang, mana mercusuar yang katanya bercahaya itu? Di video yang viral, puncaknya kayak ada lampu neon raksasa warna ungu."
"Mungkin efek lensa kamera ponsel yang ngerekam, Mas," jawab Elian tenang. "Di sini sering ada fenomena 'Api Saint Elmo' kalau mau badai. Listrik statis ketemu kabut gunung emang suka bikin ilusi cahaya. Tapi ya cuma sebentar."
Mereka sampai di kedai Bu Ratna. Sesuai instruksi yang telah disebarkan Elian melalui grup pesan singkat warga desa, semua orang bersikap seolah-olah semalam tidak terjadi apa-apa. Pak Haji sibuk mengasah golok di teras, dan anak-anak bermain kelereng seolah tak pernah ada helikopter jatuh di lembah mereka.
Reno mencoba memindai sinyal dengan ponselnya. "Aneh... sinyal gue mati total di sini. Padahal di bawah tadi masih ada dua bar."
"Navasari emang 'lubang hitam' buat sinyal, Mas," sahut Bu Ratna sambil menyodorkan secangkir kopi hitam yang mengepul. "Makanya kami di sini awet muda, nggak pusing mikirin berita kota."
Di atas menara, Alana tersungkur di lantai. Keringat indigo bercucuran dari dahinya. Menahan energi sebesar itu di dalam tubuh manusia sangatlah menyiksa. Ia bisa mendengar detak jantung Reno di bawah sana, suara langkah kakinya, bahkan gumaman kecilnya saat ia meminum kopi.
Sedikit lagi... tahan sedikit lagi... Alana membatin.
Tiba-tiba, Reno berdiri. Insting vlogger-nya menangkap sesuatu yang janggal. Ia tidak melihat ke arah penduduk, melainkan menatap lurus ke arah bukit tempat rumah kakek Surya berada.
"Bang, itu rumah yang di atas sana... rumah siapa? Kok bangunannya punya menara observasi kayak gitu? Kayaknya asik buat ambil footage dari sana," ucap Reno sambil mulai melangkah menuju jalan setapak rumah Alana.
Jantung Elian berdegup kencang. "Itu rumah almarhum kakek saya. Sudah kosong dan hampir roboh. Bahaya kalau naik ke sana sekarang, Mas."
"Ah, masa? Justru yang hampir roboh itu yang estetik," Reno tidak mendengarkan. Ia mulai menyalakan drone-nya kembali. "Gue cuma mau terbangin drone bentar di depan rumah itu, terus kita cabut."
Alana mendengar itu. Dalam kondisi lemah, ia harus membuat keputusan cepat. Jika drone itu terbang terlalu dekat, sensor infra-merahnya akan menangkap tanda panas biologis Alana yang tidak wajar.
Ia harus melepaskan sedikit energinya, bukan sebagai cahaya, tapi sebagai gangguan fisik.
Alana menyentuh lantai menara. Ia mengirimkan "denyut" kecil ke arah mesin drone yang baru saja lepas landas dari tangan Reno.
Zzap!
Drone itu tiba-tiba oleng, berputar-putar tak terkendali di udara, dan akhirnya menabrak pohon nangka di pinggir jalan sebelum jatuh berkeping-keping ke tanah.
"Waduh! Drone gue!" Reno berlari panik ke arah rongsokan drone-nya yang hancur. "Ini alat mahal! Kok bisa tiba-tiba mati total begini?"
Elian segera mendekat, pura-pura prihatin. "Kan sudah saya bilang, Mas. Di sini banyak anomali elektromagnetik kalau cuaca lagi mendung. Mas lebih baik segera turun sebelum peralatan Mas yang lain juga rusak."
Reno menatap drone-nya yang hancur dengan wajah kecut. Rasa ingin tahunya kini berganti dengan rasa kesal karena kerugian materi. "Sialan. Tempat ini beneran terkutuk kayaknya. Oke, gue cabut. Tapi gue bakal balik lagi kalau bawa peralatan yang lebih bagus."
Setelah jip hitam Reno menghilang di balik tikungan jalan desa, Alana melepaskan "tahannya". Cahaya indigo meledak keluar dari tubuhnya, memenuhi menara dengan pendaran yang lebih terang dari sebelumnya karena akumulasi energi yang tertekan.
Ia jatuh pingsan di pelukan bayangan cahaya Arlo yang muncul sekejap untuk menahannya.
Elian berlari naik ke atas menara, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Alana! Kau tidak apa-apa?"
Alana membuka matanya perlahan. Pupil indigonya tampak bergetar. "Dia akan kembali, Elian. Dia bukan musuh seperti Martha, tapi dia adalah pembuka jalan bagi musuh-musuh lainnya. Kita harus lebih siap."
Navasari tidak pernah dirancang untuk menjadi panggung sandiwara. Desa ini adalah tempat persembunyian yang dibangun dari susunan batu gunung yang membisu dan kesunyian yang begitu kental hingga suara jatuhnya sehelai daun pinus pun bisa terdengar seperti detak jantung. Namun pagi ini, Elian harus merapikan kemeja flanelnya yang kusam, menyembunyikan bekas luka bakar indigo di lengannya di balik lengan panjang, dan berdiri di depan gerbang desa dengan senyum ramah yang terasa asing di wajahnya.
Di seberang gerbang kayu yang mulai lapuk, Reno seorang vlogger dengan jutaan pengikut yang dikenal karena konten-konten investigasi paranormalnya tampak sedang melakukan siaran langsung. Ia mengenakan jaket bomber berwarna mencolok, kontras dengan latar belakang hijau lumut Navasari. Sebuah kamera kecil terpasang di dadanya, terus-menerus memindai setiap sudut desa.
"Oke, guys, selamat pagi dari kaki langit! Gue sekarang benar-benar ada di pintu masuk Navasari. Desa yang semalam bikin heboh jagat maya gara-gara rekaman 'petir indigo' yang nggak masuk akal itu. Hawanya dingin banget, mistis, dan jujur, sinyal gue di sini naik turun kayak roller coaster. Ada energi aneh di sini, dan gue bakal cari tahu sumbernya buat kalian semua," ucap Reno ke arah kameranya dengan nada bicara yang cepat dan penuh penekanan dramatis.
Elian melangkah maju, memotong narasi Reno sebelum pria itu sempat menyorot lebih jauh ke arah bukit. "Maaf, Mas. Bisa matikan kameranya sebentar? Desa ini sedang ditutup untuk kunjungan umum. Ada perbaikan jalan karena longsor semalam di jalur utama."
Reno menurunkan kameranya sejenak, namun tidak mematikannya. Ia menatap Elian dengan pandangan menyelidik yang tajam, tipe tatapan orang kota yang merasa bisa membeli apa saja dengan popularitas. "Wah, sayang banget, Bang. Padahal gue jauh-jauh dari Jakarta cuma mau beli kopi Arabika Navasari yang katanya legendaris itu. Masa pembeli ditolak? Gue nggak bakal lama, kok. Cuma pengen ambil beberapa gambar footage buat bumbu konten, sekalian lihat mercusuar tua di atas sana yang lagi viral."
Elian merasakan getaran hangat di saku celananya. Itu bukan ponselnya; itu adalah kompas kuningan pemberian Arlo yang mulai berdenyut sebuah sinyal batin bahwa Alana sedang mengawasinya dari menara observasi, merasakan kegelisahan yang sama.
Di Dalam Menara Observasi
Alana berdiri di balik membran energinya yang berpendar indigo. Di hadapannya, monitor sensor yang telah dimodifikasi oleh Arlo menampilkan wajah Reno dalam resolusi frekuensi yang tinggi. Alana bisa merasakan kehadiran pria itu bukan melalui penglihatan biasa, melainkan melalui emosi Reno yang penuh ambisi dan ego. Setiap kali lensa kamera Reno mengarah ke atas, Alana merasakan cubitan kecil di kesadarannya, seolah-olah privasi jiwanya sedang dikuliti.
"Dia tidak akan pergi hanya karena alasan logistik, Elian," bisik Alana. Suaranya bergema di dalam rumah melalui sistem interkom frekuensi yang ia ciptakan. "Dia punya insting pemangsa berita. Jika kau melarangnya terlalu keras, dia akan kembali malam-malam lewat jalur hutan, dan itu akan jauh lebih sulit dikendalikan."
"Lalu apa rencanamu? Kita tidak bisa membiarkannya melihatmu," tanya Elian melalui mikrofon tersembunyi yang terpasang di kerah kemejanya.
"Biarkan dia masuk. Tapi kita harus mengubah 'frekuensi panggungnya'. Elian, arahkan dia ke kedai Bu Ratna di tengah desa. Aku akan melakukan sesuatu yang sangat berisiko: aku akan mematikan pendaran mercusuar sepenuhnya. Aku akan menarik seluruh energiku ke dalam tanah untuk sementara agar secara visual menara ini tampak mati."
"Alana, jangan! Arlo pernah bilang bahwa menarik energi secara paksa bisa merusak struktur molekul tubuhmu! Kau bisa pingsan atau bahkan mengalami gagal jantung dimensi!"
"Lebih baik aku menanggung sakit itu daripada membiarkan Navasari berakhir di YouTube dan mengundang militer kembali ke sini dalam jumlah besar. Lakukan sekarang, Elian. Aku mulai menarik cahayanya."
Alana kemudian duduk bersila di lantai kayu. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram lututnya sendiri. Ia mulai membayangkan cahaya indigo yang biasanya memancar indah dari kulitnya sebagai sebuah cairan yang harus disedot kembali ke dalam sebuah botol kecil di dadanya.
Proses itu terasa seperti ribuan jarum yang ditarik keluar dari pori-porinya secara bersamaan. Cahaya indigo yang menerangi menara mulai meredup, tersedot ke bawah, meninggalkan ruangan yang tadinya penuh keajaiban menjadi sebuah ruang kayu tua yang gelap, kusam, dan dipenuhi debu. Alana merintih pelan; suhu tubuhnya naik drastis saat energi itu terkumpul menjadi gumpalan panas yang berat di jantungnya.
Di Kedai Bu Ratna
Reno melangkah masuk ke dalam desa dengan gaya arogan, diikuti oleh Elian. Kameranya terus menyala, namun raut wajahnya mulai menunjukkan kekecewaan. Ia melihat Pak Haji yang sedang santai mengasah golok di teras rumahnya, dan anak-anak desa yang bermain kelereng dengan tawa riang seolah-olah tidak pernah ada perang dimensi semalam.
"Lho, Bang, mana mercusuar yang katanya bercahaya itu?" Reno menunjuk ke arah bukit. Di matanya, menara observasi kakek Surya kini hanya terlihat seperti bangunan tua yang hampir rubuh, tidak ada cahaya, tidak ada aura mistis. "Di video yang viral semalam, puncaknya kayak ada lampu neon raksasa warna ungu yang nembus awan."
"Mas, Mas... zaman sekarang video kan bisa diedit," jawab Elian dengan nada sangat meyakinkan. "Di sini sering ada fenomena 'Api Saint Elmo'. Listrik statis dari gunung ketemu kabut tebal, kadang emang bikin ilusi cahaya. Tapi ya cuma hitungan detik. Mungkin yang rekam video itu lagi beruntung atau emang jago editing."
Reno mencoba memindai sinyal dengan ponselnya yang super mahal. "Aneh... sinyal gue mati total di sini. Padahal di bawah tadi masih ada dua bar. Peralatan gue juga mendadak jadi panas begini."
"Navasari memang dikenal sebagai 'zona mati' buat sinyal, Mas," sahut Bu Ratna sambil menyodorkan secangkir kopi hitam panas yang aromanya menyeruak ke seluruh kedai. "Makanya kami di sini tenang-tenang saja, tidak pusing memikirkan hiruk-pikuk kota. Silakan kopinya, Mas vlogger. Ini kopi asli dari pohon yang tumbuh di samping makam leluhur, makanya mantap."
Reno menyesap kopinya, mencoba mencari celah untuk kontennya, namun setiap penduduk desa yang ia ajak bicara sudah diberikan "skenario" oleh Elian melalui grup pesan singkat warga semalam. Mereka semua bersikap seolah-olah peristiwa petir indigo itu hanya mimpi di siang bolong.
Namun, insting seorang vlogger misteri tidak mudah dipadamkan. Reno berdiri tiba-tiba, menatap lurus ke arah bukit. "Bang Elian, rumah yang di puncak itu... yang ada menara kayunya... itu rumah siapa? Kelihatannya asik buat ambil footage estetik dari atas sana. Aura bangunannya beda."
Jantung Elian berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. "Itu rumah almarhum kakek saya. Sudah kosong bertahun-tahun dan pondasinya sudah rapuh. Sangat bahaya kalau ada orang asing naik ke sana tanpa izin, Mas."
"Ah, justru bangunan yang hampir roboh itu yang dicari subscriber gue," Reno tidak menghiraukan peringatan Elian. Ia mulai mengambil sebuah drone dari tasnya. "Gue nggak perlu naik ke sana kalau gitu. Gue terbangin drone ini aja buat intip dari jendela atas. Tenang, Bang, drone gue punya sensor anti-tabrak paling canggih."
Di dalam menara, Alana mendengar percakapan itu melalui getaran udara. Ia sedang berada di batas kekuatannya untuk menahan energi indigo agar tidak meledak keluar. Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Ia tahu jika drone itu mendekat, sensor infra-merah atau pemindai panasnya akan menangkap keberadaan Alana sebagai gumpalan panas yang tidak masuk akal bagi tubuh manusia normal.
Alana menyentuh lantai menara dengan ujung jarinya. Dalam kondisi lemah, ia harus membuat keputusan taktis. Ia melepaskan sedikit hanya sedikit energi, bukan dalam bentuk cahaya yang terlihat, melainkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik murni yang ditujukan langsung ke arah drone yang baru saja lepas landas dari tangan Reno.
Zzap!
Drone seharga puluhan juta itu tiba-tiba oleng di udara. Mesinnya mengeluarkan suara mendengking yang aneh, seolah-olah baling-balingnya menabrak dinding yang tak terlihat. Drone itu berputar-putar tak terkendali, dan dalam hitungan detik, ia menukik tajam dan menghantam pohon nangka besar di pinggir jalan sebelum jatuh berkeping-keping di atas tanah berbatu.
"Waduh! Drone gue!" Reno berlari panik ke arah rongsokan drone-nya. "Ini alat baru, Bang! Garansinya belum keluar! Kok bisa tiba-tiba glitch parah begini?"
Elian segera mendekat, menunjukkan wajah prihatin yang dibuat-buat. "Kan sudah saya sampaikan tadi, Mas. Di Navasari ini banyak anomali elektromagnetik akibat kandungan bijih besi di dalam gunung. Mas lebih baik segera turun ke bawah sebelum peralatan Mas yang lain, termasuk kamera di dada Mas itu, ikut hangus."
Reno menatap drone-nya yang hancur dengan wajah kecut. Kerugian materi akhirnya mengalahkan rasa ingin tahunya untuk sementara. "Sialan. Tempat ini beneran 'bermuda' versi darat kayaknya. Oke, gue cabut. Tapi gue nggak bakal tinggal diam. Gue bakal balik lagi kalau sudah bawa peralatan pelindung frekuensi yang lebih bagus."
Setelah jip hitam Reno benar-benar menghilang di balik tikungan tajam jalan desa, Alana melepaskan "tekanannya". Cahaya indigo meledak keluar dari tubuhnya dalam gelombang yang sangat terang, memenuhi seluruh menara dengan pendaran yang luar biasa kuat karena akumulasi energi yang tadi tertekan hebat.
Ia jatuh pingsan di lantai, tubuhnya bergetar karena syok termal dimensi.
Elian berlari naik ke atas menara, langkah kakinya terdengar panik di tangga kayu. Ia segera masuk ke ruang observasi (kini ia sudah tahu cara melewati batas pintu luar) dan berdiri di depan membran. "Alana! Kau bisa mendengarku? Alana!"
Alana membuka matanya perlahan, pupil indigonya tampak tidak fokus. "Dia hanya pembuka jalan, Elian... Setelah vlogger, akan datang jurnalis, lalu ilmuwan... Dunia tidak akan pernah membiarkan keajaiban ini tetap tersembunyi."
Elian duduk di samping membran kaca, menyadari bahwa kehidupan mereka kini bukan lagi tentang perang melawan militer dengan senjata, melainkan perang melawan rasa ingin tahu dunia yang tak pernah kenyang. Ia harus menjadi benteng, sementara Alana menjadi cahaya yang tersembunyi.