Area 21++
Kekerasan
"Ka-kamu pembunuh?" Bulan tercengang
"Akhirnya kamu sudah tahu juga. sekarang, tanda tangani ini!" sebuah surat perjanjian dilayangkan kepadanya
"Mengurus kebutuhan lahir dan batin ku sampai waktu yang ditentukan. jika menolak, kabur dan mengadu pada orang lain, kau dan keluarga kau akan ku lempar ke Neraka!" ancam Guntur
Terikat Perjanjian menjadi Pembantu di kediaman pria psikopat yang gemar menyiksa siapa saja yang telah mengusik kehidupannya, untuk kedua kalinya kehidupan suram untuk Bulan yang terjerat dalam perangkap ini.
Bulan terpaksa menjadi tawanan pria itu, mulai mengurus hidupnya, hingga menjadi bual-bualan hasrat gairah dan siksaan tanpa melakukan kesalahan.
Rembulan, nama indah yang bersinar terang, seketika menjadi lebih suram bak kelabu cenderung hitam, tatkala terperangkap dalam Obsesi Majikan Psychopath
Apa yang terjadi pada pria bernama Guntur itu?
Apa misinya menjadikan Bulan sebagai tawanan?
****
Fllw ig @cece_virgo24
Add fb, elce kha
Baca juga karyaku yang lain, tekan profilnya 😉🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cece Virgo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Adalah Milikku
🌺🌺🌺
Langit telah mengubah warna menjadi kelam tatkala sang mentari perlahan meninggalkannya diperaduan. Akan berganti bintang dan bulan yang menerangi kegelapan di langit cakrawala. Sepasang insan tengah menikmati makan malam bersama dengan masakan yang Bulan olah, mampu menggoyangkan lidah.
Bulan memerhatikan lelaki ini dalam diam, rangkaian kata telah memporak-porandakan hatinya agar segera dicuatkan kini juga. Bulan masih berpikir, ia begitu bimbang untuk mengungkapkannya. dan saat itu pula mata mereka bertemu, Bulan tertangkap basah telah mencuri pandangan kepadanya. Gadis itu terlonjak kaget, seketika ia melengos menatap ke arah lain
Guntur tersenyum miring melihatnya, bisa-bisanya wanita ini berani menatapnya dalam diam. "Aku memang tampan jadi hati-hati bakal pingsan kalau memandangnya terlalu lama." sindirnya
"Eh?" Bulan mendongak menatapnya
"Kenapa? malu, ya?"
"Apaan sih!" Bulan tersipu malu melihatnya, senyum manis terukir indah disudut bibir milik Guntur
Guntur terduduk lesu, pasalnya perut miliknya sudah terlalu banyak menampung masakan yang dihidangkan Bulan. Ia bersendawa menandakan dirinya sudah sangat kenyang. sedangkan Bulan, wanita itu sedang membereskan meja makan dan bergegas mencuci alat-alat makan yang telah kotor
Guntur memerhatikannya, ada perubahan bentuk tubuh dari balik kain itu. ya, setelah ia selidiki lebih dalam, bokong dan bukit kembar milik Bulan terlihat lebih menonjol. tidak datar lagi seperti awal pertama mereka jumpa. Guntur mengulas senyum, sesuatu didiri Bulan adalah hasil mahakaryanya. dan ia sadar bila Bulan adalah miliknya, diri itu, raga itu, jiwa itu, semuanya adalah miliknya. tapi perihal hati--Guntur langsung memudarkan senyumannya.
Aku telah terobsesi dengan tubuh itu, semuanya adalah milikku sampai kapan pun. tapi hatinya--
Guntur menyentuh dadanya, apakah tanda-tanda jatuh cinta itu detak jantung berdegup kuat? Guntur tersenyum getir, jantungnya normal dan tidak berdetak kuat
Masa bodoh dengan hati, yang penting semua yang ada didirinya adalah milikku, kuasaku, tanpa ada yang menyentuh kulitnya sedikit pun.
Jika pun aku akan jatuh cinta padanya, hati itu juga harus milikku
Guntur teringat akan sesuatu, wanita itu bertemu dengan lelaki lain pasti telah janjian dalam waktu dan tempat yang sama. Selama ini Bulan tidak pernah keluar jika tidak bersamanya, dan saat di Supermarket--apakah dari sana keduanya berjanjian? entahlah
Guntur bergegas berdiri, ia lihat wanita itu masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Guntur merasa jika Bulan memiliki sebuah alat komunikasi untuk menghubungi lelaki itu. Ia akan masuk ke dalam kamar Bulan, mencari sesuatu yang berhasil membuatnya terngiang-ngiang.
"Dia pasti punya ponsel, mana mungkin tidak. dan tidak akan ku biarkan dia bertemu dengan lelaki itu lagi." gumam Guntur yang sedang sibuk membongkar perabotan kamar itu. mulai dari bawah bantal, bawah ranjang, nakas, bahkan laci. hasilnya nihil, tapi ada satu yang belum terjamah olehnya, yaitu lemari pakaian.
Satu onggok pakaian didalam perkakas itu adalah milik Bulan. Guntur mulai membongkarnya dengan hati-hati tanpa menimbulkan kecurigaan pada wanita itu. hingga diakhir pencarian, Guntur tertegun melihat ponsel dan sebuah pil tergeletak disana.
"Pil KB? dia sudah memakannya tiga butir?" gumam Guntur tercengang, seketika aura marah menghiasi wajahnya, dengan kuat ia remat habis sekotak pil penunda kehamilan itu
"Rupanya dia sudah berpikir jauh? dia mulai takut untuk mengandung benihku?" sulut emosi telah terlihat, segera ia tutup pintu lemari itu dan berjalan dengan langkah lebar meninggalkan kamar sang tawanan. Guntur berlarian cepat menaiki tangga, ingin melampiaskan emosinya ke dalam kamar pribadinya sendiri.
Brak!!
Pintu ia hempaskan dengan kuat, membuat Bulan yang baru saja selesai cuci piring, seketika jantungnya dibuat terkejut mendengar dentuman kuat tersebut.
"Astaghfirullah ... ada apa lagi dengannya?",
Bulan menyusul, takut akan terjadi apa-apa lagi dengan pria itu. Terakhir, Guntur berbuat sesuatu diluar nalar yaitu menyayat tangannya dengan serpihan kaca yang ia pecahkan oleh kepalan tangan.
"Bisa-bisanya kau menolak kehadiran anakku! Kau minum ini sama saja kau membunuh anakku!" geramnya, menghancurkan pil itu dengan merendamnya ke dalam air didalam bathup kamar mandi, tak lupa pula ponsel milik Bulan ia rendam didalam sana
Disisi lain, Bulan menerobos masuk ke dalam kamar mandi, ia ternganga melihat barang miliknya telah lenyap oleh genangan air.
"Tuan."
Guntur menoleh ke asal suara, dengan refleks ia langsung menampar wajah wanita ini.
Plak!!
Bulan tercengang, ia terdiam sesaat sembari merasakan perihnya tamparan di pipinya. seketika itu rasa penyesalan pun muncul, Guntur langsung mendekap tubuh wanita ini kedalam pelukannya.
"Maaf." lirihnya
Bulan meronta. "Lepas! kau jahat!" pekiknya
"Tidak, maaf, Bulan. aku tersulut emosi." ia terus mendekap wanita ini
"Itu satu-satunya alat komunikasi ku agar bisa menghubungi Assisten Stev, tapi kau kurang ajarnya mengganggu milik ku! apa salahku memangnya? semua kebutuhan kau sudah aku penuhkan!"
"Karna kau milikku! aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya."
"Apa urusannya samamu! kau cuma orang baru yang masuk kedalam hidupku! dan pil itu--aku tidak ingin melahirkan anak diluar nikah!"
Bulan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut, air matanya mengucur begitu deras melihat harta satu-satunya telah dirusakin oleh pria itu. bagaimana lagi ia bisa menghubungi Assisten Stev? Bulan yakin pasti setelah ini ia akan terus berada didalam sangkarnya, tanpa membiarkannya menghirup udara segar.
Ting tong!!
🌺🌺🌺