NovelToon NovelToon
TAK ADA JALAN KEMBALI

TAK ADA JALAN KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Masalah Pertumbuhan / Kebangkitan pecundang / Selingkuh / Anak Lelaki/Pria Miskin / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.

Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.

Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.

Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.

Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?

"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Bertemu Profesor Rahmat

.

Siang itu, saat sedang bekerja di toko, Riko melihat seorang pria paruh baya yang tampak familiar masuk ke dalam toko. Pria itu mengenakan pakaian kasual namun tetap terlihat berwibawa. Ia sedang melihat-lihat speaker aktif.

Riko menghampiri pria itu dengan senyum yang ramah. "Selamat siang, Pak," ucap Riko dengan sopan. "Ada yang bisa saya bantu?"

Pria itu menoleh dan matanya membulat terkejut. "Riko?!" serunya tak percaya. "Ya ampun, Riko Permana, ini benar kamu?"

Riko yang melihat wajah pria paruh baya itu ikut terbelalak. "Profesor Rahmat?!" balasnya tak kalah terkejut. "Ya ampun, saya tidak menyangka bisa bertemu Profesor di sini!"

“Apa kabar, Prof?" Riko mengulurkan tangannya.

Profesor Rahmat tertawa sambil menerima uluran tangan Riko. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Riko," ucap Profesor Rahmat. "Terakhir kali saya melihatmu, saat kamu memilih mundur. Apa kabarmu sekarang?"

Riko tersenyum pahit. "Baik, Profesor," jawab Riko, berusaha menyembunyikan kesedihan yang masih tersisa di hatinya.

"Lalu bagaimana? Apa kamu jadi menikah dengan gadis yang kamu cintai itu," tanya Profesor Rahmat yang sebenarnya tidak terlalu yakin.

Riko menundukkan kepalanya. "Iya, Profesor," jawab Riko. "Saya memang menikah dengannya. Tapi sekarang kami sudah bercerai."

Profesor Rahmat mengangguk seperti itu tidak terlalu kaget. Seakan hal itu merupakan sesuatu yang sudah diduga olehnya. "Saya turut bersedih," ucap Profesor Rahmat. "Hidup memang penuh dengan lika-liku. Tapi, saya senang melihatmu tetap semangat dan bekerja keras."

Riko tersenyum terharu. "Terima kasih, Profesor," ucap Riko. "Kata-kata Profesor sangat berarti bagi saya."

"Jadi, apa yang kamu lakukan di sini, Riko?" tanya Profesor Rahmat. "Apakah kamu bekerja di toko ini?"

"Iya, Profesor," jawab Riko. "Saya bekerja sebagai penjual di sini."

Profesor Rahmat mengangguk-angguk kagum. "Wah, hebat," ucap Profesor Rahmat. "Kamu memang orang yang ulet dan pantang menyerah. Saya yakin kamu akan sukses di bidang apa pun yang kamu geluti."

Mereka berdua berbincang-bincang cukup lama, mengenang masa-masa di akademi dan bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Riko merasa senang dan terhormat bisa bertemu kembali dengan mentornya yang sangat ia hormati.

Sebelum berpisah, Profesor Rahmat menawari Riko sebuah pekerjaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Riko," ucap Profesor Rahmat dengan serius. "Saya sedang mencari asisten profesor untuk membantu saya di perusahaan keamanan milik saya. Apakah kamu tertarik?"

Riko terkejut mendengar tawaran itu. Ia tidak menyangka Profesor Rahmat akan menawarinya pekerjaan yang begitu menjanjikan.

"Asisten profesor?" tanya Riko dengan nada yang tidak percaya. "Tapi, Prof, saya tidak punya latar belakang pendidikan yang cukup untuk menjadi asisten profesor."

Profesor Rahmat tersenyum. "Jangan khawatir, Riko," ucap Profesor Rahmat dengan tenang. "Saya tidak hanya mencari orang yang pintar secara akademis. Saya juga mencari orang yang punya pengalaman, keterampilan, dan integritas. Kamu punya semua itu. Saya percaya padamu."

Riko terdiam sejenak, mempertimbangkan tawaran Profesor Rahmat. Sejujurnya, ia merasa ragu. Menjadi asisten profesor bukanlah mimpinya. Ia selalu ingin menjadi seorang polisi, menegakkan hukum, dan melindungi masyarakat. Namun, takdir berkata lain. Ia gagal karena keputusannya sendiri yang bodoh.

"Saya mengerti keraguanmu, Riko," ucap Profesor Rahmat seolah bisa membaca pikiran Riko. "Kamu pasti masih menyimpan impian untuk menjadi seorang polisi. Tapi, percayalah, pekerjaan ini juga bisa memberikanmu kesempatan untuk berkontribusi pada keamanan dan ketertiban masyarakat."

Profesor Rahmat melanjutkan, "Di perusahaan keamanan saya, kamu akan belajar banyak hal tentang sistem keamanan, teknologi pengawasan, dan manajemen risiko. Kamu akan bekerja dengan para ahli di bidangnya dan mendapatkan pengalaman yang berharga. Siapa tahu, suatu hari nanti, kamu bisa mendirikan perusahaan keamanan sendiri dan membantu lebih banyak orang."

Riko tertegun mendengar kata-kata Profesor Rahmat, dan menyadari bahwa itu benar. Selain itu, pekerjaan ini juga bisa memberikan kesempatan yang lebih besar untuk meraih kesuksesan.

Untuk bisa membalas dendam pada Laras dan keluarganya, ia harus sukses dulu. Dan untuk sukses, ia harus mengambil setiap kesempatan yang datang kepadanya.

Riko menatap Profesor Rahmat dengan tatapan yang penuh tekad. "Baiklah, Prof," ucap Riko dengan mantap. "Saya terima tawaran Profesor."

Profesor Rahmat tersenyum lebar. "Bagus sekali, Riko," ucap Profesor Rahmat senang. "Saya yakin kamu tidak akan menyesal. Kamu bisa mulai bekerja minggu depan."

Riko mengangguk. "Saya akan bekerja keras dan memberikan yang terbaik, Profesor," ucap Riko dengan penuh semangat.

“Itu tadi siapa, Ko?" tanya Nurdin , temannya, setelah profesor Rahmat pergi.

“Beliau adalah profesor Rahmat. Dulu mentorku waktu di akademi kepolisian," jawab Riko terus terang.

“Kepolisian?" kaget Nurdin mendengar jabatan Riko. “Kamu pernah ikut akademi kepolisian?" tanya Nurdin lagi.

"Iya.” Riko mengangguk, lalu menceritakan sekilas tentang perjalanannya menjadi anggota akademi. Namun, ia tidak menceritakan tentang kebodohannya yang meninggalkan cita-cita demi wanita tak setia.

*

Dengan langkah mantap, Riko mengetuk pintu ruang kerja Bapak Jaya, pemilik Jaya Elektronik. Setelah mendengar jawaban dari dalam, ia membuka pintu dan masuk dengan sopan.

Pak Jaya tampak sedang duduk di belakang mejanya, memeriksa beberapa dokumen. Ia mendongak dan tersenyum melihat Riko.

"Riko, ada apa?" tanya Bapak Jaya dengan nada yang bersahabat. "Tumben kamu menemui saya secara pribadi?"

Riko menarik napas dalam-dalam dan berjalan mendekat ke meja Bapak Jaya. "Maaf mengganggu waktu Bapak," ucap Riko dengan sopan. "Saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting."

Pak Jaya mengerutkan keningnya. "Sesuatu yang penting?" tanyanya dengan nada yang penasaran. "Apa itu?"

Riko menatap Pak Jaya dengan tatapan yang jujur dan penuh hormat. "Saya ingin mengundurkan diri dari Jaya Elektronik, Pak," ucap Riko dengan suara yang mantap.

Pak Jaya terkejut mendengar pernyataan Riko. Ia meletakkan pulpennya dan menatap Riko dengan tatapan yang tidak percaya. "Mengundurkan diri?" tanyanya dengan nada yang bingung. "Kenapa? Apa kamu tidak betah bekerja di sini? Atau mungkin kamu merasa gajimu kurang?"

Riko menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan begitu, Pak," ucap Riko dengan tulus. "Saya sangat betah bekerja di Jaya Elektronik. Bapak dan teman-teman semua sangat baik kepada saya. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan yang telah Bapak berikan kepada saya."

"Lalu, kenapa kamu ingin mengundurkan diri?" tanya Pak Jaya yang semakin penasaran.

Riko menceritakan tentang pertemuannya dengan Profesor Rahmat, tentang tawaran pekerjaan sebagai asisten profesor di perusahaan keamanan. Dan juga tentang cita-cita yang ingin Ia raih.

Pak Jaya mendengarkan cerita Riko dengan seksama. Sesekali, ia mengangguk-angguk mengerti.

Setelah Riko selesai bercerita, Pak Jaya terdiam sejenak, memikirkan semua yang telah ia dengar.

"Saya mengerti, Riko," ucap Pak Jaya dengan nada yang berat. "Saya sangat menghargai kejujuran dan ambisimu. Sebenarnya, saya sangat keberatan jika kamu mengundurkan diri. Kamu adalah salah satu karyawan terbaik di Jaya Elektronik. Kamu punya bakat yang luar biasa di bidang penjualan. Saya yakin kamu bisa meraih kesuksesan yang lebih besar di sini."

Riko mengangguk "Maafkan saya, Pak," ucap Riko penuh hormat. "Tapi, saya merasa terpanggil untuk mencoba hal yang baru. Saya ingin menantang diri saya sendiri dan mengembangkan potensi saya di bidang yang lain. Saya mohon, Bapak merestui keinginan saya ini."

Pak Jaya menghela napas panjang dan menatap Riko penuh pengertian. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa memaksa Riko untuk tetap bekerja di Jaya Elektronik.

"Baiklah, Riko. Saya mengerti dan menghormati keputusanmu. Saya akan merelakanmu untuk pergi,” ucap Pak Jaya bijaksana. “Tapi, saya ingin kamu tahu, pintu Jaya Elektronik akan selalu terbuka untukmu. Jika suatu hari nanti kamu berubah pikiran, kamu bisa kembali bekerja di sini kapan saja."

Riko tersenyum tulus dan menjabat tangan Bapak Jaya dengan erat. "Terima kasih banyak, Pak," ucap Riko dengan nada yang penuh hormat. "Saya sangat menghargai kebaikan Bapak. Saya janji, saya tidak akan melupakan Jaya Elektronik."

Setelah berpamitan dengan Bapak Jaya, Riko berpamitan dengan teman-temannya yang lain. Mereka semua merasa sedih dan kehilangan atas kepergian Riko. Namun, mereka tetap memberikan dukungan dan semangat kepada Riko. Mereka berjanji akan tetap menjalin hubungan baik meski tidak bertemu.

1
Cindy
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
gak tahunya perhiasannya KW🤭
Aidil Kenzie Zie
Aldo mana Aldo
Yana Phung
sepertinya berlian pemberian aldo juga palsu
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
ora
Yakin bisa di jual kan, Ras😁😁
ora
Kamu juga usaha dong, jangan nyuruh aja bisanya...
Tini Uje
jangan2 palsu lagi kan prhiasan nya 😅😅
Masha 235: ho oh...kalo palsu, kasian.....rugi berkalikali🤭
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎
Masha 235
andaikan hukum di negeri ini sperti cerita ini,,,,alangkah senangnya hati ini....
Cindy
lanjut
Piet Mayong
daripada hotel mending cari kontrakan donk Bu Ratna yg terhormat
🤭😁😁😁😄
Patrick Khan
guna nya aldo apa sih😅😅😅
Tini Uje
yg kata nya horang kaya pacar nya larass kmnaa atuhh..bantuin tuh ayang mbeb kamu aldo 😅😅
Ayudya
lanjut kak
juwita
si aldo kmn laras bknya pacar km🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
anda
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sorry, gak nerima barang bekas
Gadis misterius
Lnjutkan riko memang harus begitu .....jngn smpai lengah dan tertipu dngn laras lg cukup 1 x
Ayudya
seperti bom waktu yg kapan aja meledak itu lah amarah riko🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Ayudya
lah Laras kok ga tau malu banget mau minta balikan ma Riko mimpi kali kamu laras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!