Nia sangat mencintai Ronald dan menerima segala kekurangan yang dimilikinya, namun sayang segala cinta yang diberikan hanya dibalas dengan guratan demi guratan luka di hati. Saat Daniel datang dengan cinta baru akankah pintu hati Nia akan terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Mertua
Sudah perjanjian antara Ronald dan Nia bahwa setiap sebulan sekali harus menginap di rumah Mama Sri. Sebenarnya Nia agak berat hati, namun sebagai seorang istri yang baik Ia harus menuruti kemauan suaminya.
Jujur saja, semalam Nia agak sakit hati dengan Mama Sri yang sudah dibelikan martabak namun hanya disimpan saja di kulkas, dimakan sedikitpun tidak. Namun Nia mencoba mengerti dan bersabar dengan sikap Mama Sri.
Pulang kerja dengan kemacetan Jakarta dan jarak kantor dengan rumah Mama Sri yang lumayan jauh membuat Nia ingin langsung istirahat. Kalau dirumahnya dulu, saat Nia pulang agak malam Mama sudah menyediakan air panas untuk mandi dan segelas susu hangat untuk diminum sebelum tidur, tak lupa makan malam yang lezat sudah terhidang di meja makan.
Berbeda dengan malam ini di rumah Mama Sri. Jangankan makan malam, segelas air pun tak dihidangkannya, malah Mama Sri agak bete karena tidak diajak makan malam diluar karena kedatangan Nia sudah kemalaman. "Ah, aku kangen Mama" batin Nia dalam hati.
Nia mengikat rambutnya, siap untuk tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Mama Sri sudah masuk kamar dan tak ingin keluar lagi, mungkin masih bete, biarlah. Nia lalu memasak air untuk mandi air hangat, Ronald terbiasa mandi air hangat jika pulang malam. Perut Nia bunyi kemerucuk, tanda minta diisi. Nia terakhir makan saat makan siang yakni jam 11 karena jatah makan shift 1 jam 11. Dilihatnya jam di dinding, sudah jam 9 malam, berarti 10 jam yang lalu Ia terakhir makan, pantas saja perutnya berbunyi minta diisi.
"Makan apa ya?"gumam Nia dalam hati. Mau makan martabak yang Ia beli, ga enak takut borok sikutan. Apa kata Mama mertuanya nanti. Tak lama terdengar suara tukang sate memanggil didepan rumah. "Te.... sate...." . Nia langsung buru-buru keluar rumah dan memanggil tukang sate.
"Bang sate..." tukang sate berhenti di depan rumah Mama Sri.
"Bang beli 30 tusuk" pesan Nia.
"Iya neng. Banyak amat Neng. Jangan-jangan neng Suzanna ya?"
"Ih apa sih Bang. Saya manusia tau. Udah laper nih untung Abang lewat. Sambalnya pisah ya" kata Nia sambil senyum. "Abang Sate, you are my saviour" gumam Nia dalam hati.
Ronald yang mencari-cari Nia dirumah namun tidak menemukannya akhirnya keluar karena dilihatnya pintu dapur terbuka. Didapatinya sang istri sedang memesan sate.
"Wah tau aja kamu kalau aku lapar. Kamu pesan berapa tusuk?" tanya Ronald
"Iyalah aku juga lapar. Aku pesan 30 tusuk. Cukup ga?" tanya Nia balik.
"Cukup lah. Kalau lebih diangetin aja buat besok. Yaudah aku masuk ya, kayaknya air panas kamu sudah mendidih biar aku yang matikan"
"Iya tolong ya sayang. Makasih" Ronald pun masuk kedalam dan meninggalkan Nia yang menunggu sate pesanannya matang.
Nia membayar pesanan satenya lalu membawa satenya ke dalam. Dihidangkannya sate di meja makan beserta nasi dan air minum. Nia lalu memanggil Ronald dan Mama Sri untuk makan bersama. Rena masih belum pulang. Mama Sri menolak ikut serta katanya sudah kenyang, entahlah mungkin masih ngambek tidak jadi makan di luar. Nia menikmati makan malamnya dengan lahap. Selesai makan Nia mandi air hangat dan tidur dengan nyenyak.
******
Keesokan harinya Nia bangun kesiangan. Maklum alarm hp hanya distel jika kerja saja, saat weekend waktunya bangun siang. Alhasil Nia pun bangun siang. Jam 8 pagi Ia baru bangun. Ronald masih tidur juga dengan nyenyak.
Tak enak sebagai tamu yang bangun siang, Nia pun buru-buru mandi dan bergegas membantu Mama Sri. Selesai mandi Nia langsung menghampiri Mama Sri yang sedang memasak di dapur.
"Ada yang Nia bisa bantu Ma? Maaf Nia kesiangan"
"Ga usah. Udah mau selesai masaknya" jawab Mama Sri.
"Kalau gitu Nia bantu nyapu dan pel ya Ma" Nia inisiatif membantu yang lainnya.
"Ga usah. Udah Mama kerjain semuanya" Mama Sri menjawab tanpa melihat kearah Nia. Nia jadi merasa tak enak hati.
"Maaf ya Ma, Nia bangunnya kesiangan, jadi ga bisa bantuin Mama" Nia meminta maaf dengan penuh penyesalan
Mama Sri hanya diam saja. Nia tau kalau Mama Sri sedang marah terhadapnya. Jadi Nia hanya diam saja tanpa melakukan sesuatu. Lalu dilihatnya meja makan belum ada piring dan sendok. Nia lalu mengambilkannya di lemari piring dan menatanya di meja makan. Mama Sri melirik yang Nia lakukan lalu bergumam pelan namun masih bisa didengar Nia.
"Udah nikah kok bangun siang, gimana nanti pas punya anak, mau dikasih makan apa anaknya kalau mamanya males"
Deg.... rasa sakit terasa dihati Nia. Kata-kata Mama Sri terasa begitu dalam menusuk hatinya. Nia tahu kalau Ia salah telah bangun siang, namun tidak bisakah Mama Sri menasehatinya baik-baik? setitik air bening sudh memenuhi matanya namun ditahannya. Tak lama Ronald yang sudah bangun langsung menghampiri Mama Sri di dapur.
"Ma, Onald laper nih. Mama masak apa?"
"Mama masak sayur lodeh kesukaan kamu Nak. Ayo kita makan bersama. Nia sayang tolong panggilkan Rena ya kita makan bareng" Mama Sri bicara dengan manis dengan Nia.
"Kok sikapnya beda ya sama tadi" gumam Nia namun Ia hanya berkata "Ia Ma, Nia panggil Rena dulu" Tak lama Nia memanggil Rena di kamarnya dan mengajak untuk makan bersama. Mereka pun berjalan bersama menuju meja makan sambil bercerita-cerita.
Makan pagi menjelang siang berlangsung sambil bercakap-cakap antara Ibu dan anak. Namun Nia hanya diam saja. Nia merasa orang luar diantara hubungan mereka. Nia memaksa menelan makanannya padahal dirinya tidak nafsu makan. Nia asik sendiri dengan lamunannya sampai tiba-tiba Ronald menyenggol lengannya dan mengagetkannya.
"Iya ada apa?"
"Kamu melamun saja sayang. Mama nanya tuh. Kamu udah ada tanda-tanda belum?" kata Ronald.
"Tanda-tanda apa ya?" Nia bingung dengan pertanyaan yang diajukan untuknya.
"Tanda kalau kamu sudah isi sayang"
"Isi? Hamil maksudnya?" tanya Nia lagi memastikan.
"Iya. Kamu sudah ada tanda-tanda hamil belum?" tanya Mama Sri.
"Belum Ma. Baru kemarin Nia dapat menstruasi" jawab Nia.
"Kamu harus lebih berusaha lagi biar cepat punya momongan. Mama mau secepatnya punya cucu. Biar kayak teman-teman arisan Mama" pinta Mama Sri.
"Tenang Ma. Nanti Onald usaha terus biar cepet jadi" kata Ronald sambil mengerling nakal ke arah Nia. Nia hanya tersenyum datar menanggapi perkataan suaminya.
"Semoga kalian cepet dikasih momongan ya. Mama ga sabar pengen jadi nenek" ketiga ibu dan anak itu pun melanjutkan obrolan mereka. Nia hanya terdiam saja, asyik dengan pikirannya sendiri.