NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Bolehkah Bahagia Lagi

Hari-hari setelah kembali dari tempat terakhir itu terasa berbeda. Bukan karena sesuatu yang besar berubah secara tiba-tiba. Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang terasa lebih tenang dan utuh. Seperti buku yang halaman-halamannya sudah tertata rapi dan siap ditutup dengan perlahan. Aku tetap pergi ke kantor setiap pagi, menulis cerita orang-orang yang aku temui, makan siang di warung kecil yang sama, dan berjalan pulang di sore hari sambil menikmati angin yang berhembus pelan. Semuanya terasa biasa saja namun sekaligus terasa lebih bermakna dari sebelumnya.

Suatu hari di kantor ada rekan kerja baru yang mulai bergabung. Namanya Dimas. Dia bekerja sebagai fotografer yang sering ikut saat aku pergi mewawancarai orang-orang ke luar kantor. Orangnya tenang dan tidak banyak bicara. Dia selalu mendengarkan dengan saksama saat orang lain bercerita dan matanya terlihat tulus saat dia tersenyum. Awalnya kita hanya bekerja bersama. Dia memotret dan aku menulis. Kita jarang mengobrol tentang hal-hal yang berada di luar urusan pekerjaan. Tapi seiring berjalannya waktu, obrolan kita mulai berubah dari hal yang sederhana menjadi hal yang lebih pribadi. Dia suka bertanya tentang hal-hal yang aku tulis dan aku suka mendengarkan ceritanya tentang tempat-tempat yang pernah dia kunjungi.

Ada satu sore yang hujan turun cukup deras dan kita terpaksa berteduh di sebuah kedai kecil yang tidak jauh dari kantor. Kita duduk di dekat jendela sambil menunggu hujan mereda. Di luar sana air turun dengan tenang dan membasahi jalanan yang mulai terlihat gelap karena langit sore yang berubah warna. Saat itu Dimas bercerita tentang kehilangan kakeknya beberapa tahun yang lalu. Dia bercerita bagaimana dia merasa bersalah karena tidak sempat mengucapkan hal-hal yang seharusnya terucap sebelum kakeknya pergi. Dia bilang dia pernah berpikir bahwa rasa sedih itu akan selamanya tinggal di hatinya dan tidak akan pernah ada ruang untuk kebahagiaan yang lain.

Lalu dia menatapku dengan tatapan yang lembut dan berkata bahwa melihat aku menulis dan berbicara tentang kenangan dengan cara yang begitu tulus membuatnya sadar bahwa mencintai seseorang yang sudah pergi tidak berarti kita harus berhenti melangkah maju. Mendengar kata-katanya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku langsung teringat pada Bima. Rasa bersalah yang selama ini tersembunyi di sudut hatiku tiba-tiba muncul kembali. Apakah aku sedang melakukan sesuatu yang salah? Apakah aku sedang membuka hati untuk orang lain berarti aku melupakan dia yang sudah berjuang sejauh itu hanya untuk sampai kepadaku? Malam itu aku pulang dengan perasaan yang campur aduk. Aku duduk sendirian di tepi jendela kamarku dan menyentuh liontin di dadaku. Rindu terasa begitu nyata dan dekat pada saat itu. Aku membayangkan wajah Bima dan bertanya dalam hati apakah dia akan kecewa melihat aku mulai merasa nyaman dengan kehadiran orang lain di hidupku.

Malam itu aku membaca kembali surat terakhirnya. Kata-katanya aku baca pelan-pelan seolah aku baru pertama kali mendengarnya. Dia bilang jangan berhenti menulis dan jangan berhenti hidup. Dia bilang pergi ke tempat-tempat yang indah dan nikmatilah dunia untuk kita berdua. Dia tidak pernah memintaku untuk menunggunya sendirian di tempat yang sama selamanya. Dia tidak pernah memintaku untuk menutup pintu hatiku rapat-rapat. Justru dia selalu ingin aku hidup sepenuhnya. Aku mulai menyadari sesuatu yang penting. Bahagia lagi bukan berarti aku mengkhianati masa lalu. Bahagia lagi bukan berarti aku melupakan semua yang pernah kita miliki. Justru bahagia dengan tulus adalah cara terbaik untuk menghormati semua kebaikan yang pernah dia ajarkan kepadaku. Karena kalau dia melihat aku tersenyum hari ini dia pasti ikut tersenyum juga. Dia tidak pernah ingin aku terjebak di masa lalu. Dia ingin aku tumbuh dan berkembang dan melihat bahwa hidup terus berjalan dengan keindahannya sendiri.

Beberapa hari kemudian aku berjalan menuju taman kecil yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Di sana aku duduk sebentar dan menenangkan pikiranku. Angin sore berhembus lembut dan membawa aroma tanah yang segar. Aku menatap langit yang berwarna jingga keunguan dan berbicara dalam hati dengan jujur. Bima aku tahu kamu mendengarku. Ada seseorang yang baik yang hadir di hidupku sekarang. Aku tidak tahu ke mana arah semua ini akan membawa kita. Tapi aku tidak mau lagi merasa bersalah kalau aku merasa senang. Kamu mengajarkan aku untuk mencintai dunia dan orang-orang di dalamnya dengan tulus. Dan aku akan tetap melakukannya sambil menjagamu di bagian paling dalam hatiku. Kamu tidak tergantikan. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan tempatmu di sana. Tapi itu bukan berarti hatiku harus tertutup rapat selamanya kan? Cinta itu bukan soal menutup diri dari dunia luar. Cinta itu soal membuka diri untuk menerima keindahan yang baru sambil tetap menghargai kenangan yang lama. Aku harap kamu mengerti. Aku harap kamu tersenyum melihat aku belajar mencintai hidup kembali dengan utuh.

Hari berikutnya saat aku bertemu Dimas aku tidak menghindar. Aku menyapanya dengan senyum yang lebih tenang dan hatiku terasa lebih ringan. Aku tidak buru-buru menjawab apa pun atau memutuskan sesuatu yang besar. Aku hanya membiarkan semuanya berjalan dengan wajar dan sederhana. Kita tetap bekerja bersama dan berbagi cerita. Kadang kita makan siang bersama. Kadang kita berjalan pulang bersama sampai persimpangan jalan. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang dipaksakan. Karena aku belajar bahwa hal-hal yang berharga memang butuh waktu untuk tumbuh. Sama seperti bunga yang tidak bisa dipaksa mekar sebelum waktunya. Dia butuh air dan cahaya matahari dan kesabaran yang cukup untuk mekar dengan indahnya. Dan hatiku juga begitu. Masih ada bagian yang sedang menyembuh dan masih ada bagian yang sedang belajar untuk percaya lagi. Dan itu tidak apa-apa.

Aku menulis di buku catatanku malam itu. Mencintai lagi bukan berarti kita menggantikan tempat seseorang. Itu berarti kita cukup kuat untuk membiarkan hati kita tetap terbuka. Bima mengajarkan aku bahwa cinta yang tulus tidak akan pernah habis dibagi. Semakin banyak kita berbagi kebaikan semakin banyak kebaikan itu yang tumbuh di dalam diri kita. Dia hidup di setiap kebaikan yang aku lakukan dan di setiap senyum yang aku berikan kepada orang lain. Dan itu tidak akan berubah siapa pun yang berjalan di sampingku nanti. Aku tidak melupakan langkah terindah yang pernah aku miliki. Aku hanya siap melangkah lagi dengan langkah-langkah yang baru. Dan langkah lama itu akan selalu ada di belakangku menjadi cahaya yang menuntunku agar tidak tersesat dalam kegelapanku.

Aku tidur malam itu dengan perasaan yang damai. Tidak ada lagi rasa bersalah yang menyelimuti hatiku. Hanya ada rasa syukur karena pernah dicintai dengan begitu tulus dan keberanian untuk membuka hati pada hari esok yang belum aku ketahui. Bima terima kasih sudah mengajarkan aku bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus memilikinya selamanya. Kadang mencintai seseorang berarti membiarkan kebaikannya hidup di dalam dirimu dan menyebarkannya ke orang lain yang juga membutuhkannya. Itulah keabadian yang sebenarnya. Dan aku siap melakukannya untuk sisa hidupku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!