NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Ketua Wibisono Datang ke Pintu

Wajah Puspita memucat dalam seketika, dan tangannya turun menekan perutnya yang masih rata di balik jas panjang seolah sakit itu datang dari dalam tubuhnya sendiri. Wibisono Kusumah berdiri beberapa langkah dari hadapannya, dengan map berkas yang belum juga ia letakkan di tangan kirinya, dan seluruh kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya masih tertinggal di udara teras seperti asap yang tidak mau pergi.

"Ayah..." suaranya keluar kecil, nyaris tidak terdengar.

Lalu ia menatap ayahnya sendiri dengan sepasang mata yang berubah dingin di sisa detik yang sama.

\=\=\=\=

Beberapa menit sebelumnya, pelayan rumah deret membuka pintu teras dan menemukan Ketua Grup Sedaya berdiri di pelataran tanpa satu pun pengawal yang biasanya selalu mengikutinya.

"Ketua." Pelayan itu membungkuk. "Nyonya sedang di ruang tengah."

"Katakan aku menunggu."

"Baik, Ketua."

Wibisono tidak melangkah masuk. Ia hanya berdiri di bawah naungan teras, memegang map berkas yang sama sejak tadi, dan menatap ruang tamu yang sama sekali tidak ia kenali lagi sejak anak perempuannya pindah ke rumah deret tua di kawasan Vila Kenanga ini.

Dua puluh menit berselang, Puspita muncul, duduk di sofa teras tanpa mengundang siapa pun duduk, dan tidak menyapa satu pun.

"Kau baik-baik saja?" Wibisono akhirnya membuka mulut lebih dulu.

"Aku selalu baik-baik saja," jawabnya datar. "Ayah yang datang tanpa kabar, bukan aku."

Ekspresi pria itu membeku sesaat sebelum ia menata kembali wajahnya menjadi wajah seorang ayah yang penuh penyesalan.

"Ibu kandungmu... Retno... sering bercerita padaku." Ia meletakkan map itu di meja kopi antara mereka. "Dulu memang ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Aku minta maaf atas semuanya."

"Kalau permintaan maaf itu berguna," Puspita memiringkan kepalanya, "untuk apa ada polisi di dunia ini?"

"Kau masih menyimpan semua itu di hati." Wibisono menekan suaranya sampai hampir hilang. "Damar sudah tiada. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan kau masih mau membawa semua itu ke mana-mana?"

"Kalau kau memang tidak membunuhnya," Puspita menatapnya lurus-lurus, "kau hanya membiarkannya pergi tanpa satu pun perhatian. Tidak masalah kalau ia mati kelaparan, tidak masalah kalau ia mati sakit, dan kau masih mau menyebut dirimu ayahnya?"

"Puspita!" Akhirnya amarah pria itu meledak. Ia berdiri dari kursinya dan menunjuk wajah anaknya sendiri. "Lalu kenapa kau tidak pernah menyebut bahwa empat tahun lalu kau nyaris membunuh ayahmu sendiri? Kau bahkan menjatuhkan kakak tirimu sendiri dari tangga! Kalau Keluarga Mahesa tahu betapa kotornya masa lalumu, mari kita lihat apakah mereka masih mau menerimamu!"

Udara di teras membeku begitu saja.

Puspita tidak menjawab. Wajahnya memucat, tangannya turun ke perut, dan ia menekan sofa samping dengan punggung tangannya seolah keseimbangannya baru saja hilang.

"Nyonya!" Pelayan yang berdiri di dekat pintu berlari mendekat. "Apakah Nyonya tidak apa-apa?"

"Perutku..." Ia menekan perutnya semakin erat. "Panggil dokter."

Lalu tatapannya naik kembali ke wajah ayahnya, dan di sanalah seluruh kemarahan yang tadi ia sembunyikan akhirnya muncul tanpa penutup sedikit pun.

"Ayah boleh pergi melaporkannya sekarang juga." Suaranya rendah dan tajam sekaligus, keluar tanpa satu pun jeda yang bisa dimasuki penyesalan. "Lebih baik lagi kalau seluruh negeri tahu bahwa ibu dari cucu pertama Keluarga Mahesa adalah seorang pembunuh."

Wibisono memucat.

Untuk sesaat pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada mulutnya.

Keluarga Mahesa berakar di Kota Amarta selama seratus tahun, menyebar ke bisnis, politik, dan militer, dan mereka adalah keluarga yang benar-benar punya takhta untuk diwariskan. Cucu laki-laki pertama yang akan lahir sembilan bulan lagi bisa jadi pewaris tunggal garis itu, dan nama ibunya tidak boleh membawa bau pembunuhan sedikit pun.

Ia menarik napas panjang, lalu bicara kembali jauh lebih pelan.

"Dulu kau sedang terguncang hebat. Bagaimana mungkin kau tahu apa yang kau lakukan? Tetapi kau tidak boleh menyebut dirimu pembunuh."

"Suruh dia keluar." Puspita menekan perutnya lagi, wajahnya kembali pucat. "Aku melihatnya, perutku sakit."

Wibisono berdiri di tempat itu selama beberapa detik dengan wajah yang berubah biru dan pucat bergantian, lalu ia meraih map berkas dari meja dan hendak membawanya pergi.

"Biarkan saja map itu di sini." Puspita memejamkan matanya. "Tari, foto seluruh halamannya sebelum Ketua pergi."

Pelayan bernama Tari itu langsung mengambil ponselnya tanpa bertanya satu pun, dan Wibisono menatapnya dengan wajah yang semakin jelek sebelum akhirnya melemparkan map itu kembali ke meja dengan gerakan tangan yang kasar.

"Awas pada mulutmu sendiri, Puspita." Ia berbalik menuju pintu. "Suatu hari kau akan menyesal."

"Aku sudah menyesal sejak hari pertama aku lahir di rumah ini." Jawaban itu keluar begitu ringan sampai terdengar seperti lelucon.

Ketua Grup Sedaya itu melangkah meninggalkan teras dengan langkah yang jauh lebih cepat daripada ketika ia datang, dan pintu mobil di bawah naungan pelataran menutup dengan bunyi yang sangat jelas.

Pelayan-pelayan yang lain berdiri berjajar di tepi ruangan dengan wajah yang sama pucatnya.

"Ketua sudah pergi, Nyonya." Tari menunduk. "Sudah kufoto semua halamannya."

"Bagus." Puspita membuka matanya perlahan.

Lalu, di hadapan seluruh pelayan yang berdiri di situ, ia berdiri lurus. Sama sekali tidak ada sakit di wajahnya, tidak ada ringan pun di caranya berdiri.

"Nyonya..." salah satu pelayan muda itu membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

"Kalian diatur oleh Tuan Yusuf, kan?" Puspita menyapu wajah-wajah di hadapannya dengan tatapan yang datar. "Kalau begitu kalian sudah tahu untuk tidak bertanya terlalu banyak."

Mereka menunduk serentak.

"Siapkan air hangat di kamar. Dan panggilkan dokter, biar semua orang di luar sana yakin bahwa perut ini memang sedang bermasalah."

\=\=\=\=

Dokter yang datang setengah jam kemudian adalah seorang dokter tua pengobatan tradisional yang sudah puluhan tahun melayani keluarga-keluarga besar di kota ini.

Ia duduk di tepi sofa, meminta Puspita mengulurkan tangan kirinya, lalu menekan nadi perempuan muda itu dengan ujung jari yang keriput selama waktu yang cukup lama.

"Kandungan masih muda, Nyonya." Akhirnya ia menurunkan tangannya. "Suasana hati harus dijaga, jangan sampai terguncang. Kalau suasana hati berubah terlalu cepat, kehamilan mudah terancam."

"Terima kasih, Dokter." Puspita mengangguk lemah, memainkan peran ibu hamil yang baru saja menerima kabar buruk dengan sempurna.

Dokter tua itu menulis resep ramuan pada selembar kertas, menimbang beberapa akar dan biji kering dari tasnya, lalu menyerahkan satu kantong kertas cokelat berisi obat kandungan dari resepnya sendiri.

"Diminum dua kali sehari, hangat-hangat kuku. Jangan diminum dingin."

Pelayan mengantarnya keluar dengan penuh hormat, dan ruang teras kembali sunyi begitu pintu ditutup.

Puspita menatap kantong kertas cokelat itu di meja cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak membukanya sedikit pun.

Ilmu ramuan yang ia peroleh bertahun-tahun lalu di Kota Wirasaba sudah cukup membuat denyut nadinya terasa seperti denyut seorang ibu yang sedang mengandung, dan dokter tua yang meraba nadi dari luar tidak akan pernah bisa membedakannya dari jarak beberapa sentimeter.

Ia kembali ke kamar dengan langkah yang lebih ringan dari seharusnya, lalu menutup pintu dengan kaki kirinya.

Di tempat tidur, ia melepaskan jas panjangnya dan mengeluarkan bantal berbalut selimut dari balik kausnya, melempar benda itu ke atas kasur dengan gerakan yang sangat lega.

"Terlalu berat juga." Ia bergumam sambil mengusap perutnya yang rata. "Kalau ini benar-benar anak, aku sudah pasti pingsan sebulan penuh."

Ketukan pelan terdengar dari balik daun pintu kamar.

"Nona, obatnya sudah kurebus." Suara Tari terdengar sopan seperti biasanya. "Sudah hangat."

"Biar di meja saja."

"Baik, Nona."

Pelayan itu pergi, dan Puspita berdiri di depan cermin sambil menatap mangkuk keramik berisi ramuan gelap yang tergeletak di meja nakas tempat tidurnya.

Ia tidak menyentuhnya sama sekali.

Ramuan itu terlalu pahit untuk diminum oleh orang yang sejak awal tahu bahwa perutnya tidak berisi apa-apa, dan terlalu mahal untuk dibuang begitu saja di hadapan pelayan yang sedang mengintip dari balik ventilasi kamar.

Ponselnya bergetar di atas kasur.

[Yusuf]: Ketua sudah pulang ke Kediaman Kusumah. Ia terlihat marah besar, tetapi tidak mengatakan apa pun pada Nyonya Retno.

[Yusuf]: Pelayan melaporkan bahwa Nona memanggil dokter. Bagus.

Puspita membalasnya dengan dua baris pendek.

[Puspita]: Map ancamannya sudah kufoto semuanya. Besok kirimkan salinannya ke penyidik lama yang dulu menangani kasus tuduhan menikam ayah.

[Puspita]: Dan cari tahu ke mana perginya berkas tuduhan soal tangga itu.

Balasan Yusuf muncul tidak lama kemudian, dan isinya hanya satu baris, yaitu pelayan mana yang melaporkan hal itu, serta ia akan menanyainya sendiri malam ini.

Puspita mematikan layar ponsel, lalu duduk di tepi tempat tidur dengan mangkuk ramuan di tangannya.

Ia memandang cairan hitam itu selama beberapa saat sebelum meletakkannya kembali dengan bunyi yang sangat pelan.

\=\=\=\=

Malam itu, sebelum tidur, ia berjalan ke ruang tamu untuk memastikan satu hal terakhir.

Map berkas Wibisono masih tergeletak di meja kopi, dan Tari sudah memasang kembali seluruh isinya dengan rapi setelah memotret halaman demi halaman.

Ia membuka map itu sekali lagi, menemukan satu halaman yang berisi daftar nama-nama wartawan dan akun gosip yang pernah ia beli bertahun-tahun lalu, lalu tersenyum tipis pada halaman itu.

"Ayah," gumamnya, "kau terlalu tua untuk bermain-main dengan orang sepertiku."

Ia menutup map itu, meletakkannya kembali persis di tempat ia menemukannya, lalu berjalan menuju garasi rumah deret dengan langkah yang tidak terburu-buru.

Remote pintu garasi tergeletak di rak dekat pintu keluar, dan ia mengambilnya dengan tangan kiri.

Satu tekanan, dan pintu garasi bergerak turun perlahan dengan deru motor listriknya yang memecah kesunyian malam.

Baginya, bunyi itu adalah tanda bahwa satu putaran permainan hari itu sudah selesai.

Pintu garasi tertutup rapat di ujung pelataran, lampu kuning di atasnya ikut padam bersama deru motor yang baru saja berhenti, dan Puspita meletakkan remote itu kembali di rak dengan gerakan yang sangat ringan.

Di belakangnya, rumah deret kembali tenang seperti rumah yang tidak pernah didatangi siapa pun hari itu.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
singgah dimari nanti bacanya ya kaCan
☠ Novita ☘𝓡𝓳『⃟𝐉 zc❖ 🍒⃞⃟🦅
mampir kak, semangat yah
dylick
semangat kk ceritanya bagus , gak bisa komen cepet-cepet tapi tenang dibaca semua kok.
dylick
halo apa kabar , aku mampir lagi nih
dylick: udah..
total 13 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!