Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.
Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Bayang-Bayang di Lorong Panjang
Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai jendela kamarku, namun tak mampu sepenuhnya menghangatkan ruangan. Aku bangun lebih awal dari biasanya, berjalan menyusuri lorong panjang lantai dua yang sunyi, di mana lukisan-lukisan leluhur Margaretha menatap dari dinding dengan tatapan yang tak berubah selama puluhan tahun. Setiap langkah kakiku bergema pelan, seolah rumah raksasa ini sendiri sedang bernapas menjaga rahasia yang tak terucap.
Aku berniat ke perpustakaan, tempat yang paling tenang di seluruh kediaman ini. Namun saat melewati ruang kerja Daddy yang pintunya sedikit terbuka, aku mendengar suara-suara dari dalam. Suara rendah, serius, tak seperti percakapan di meja makan. Aku berhenti, menyembunyikan tubuhku di balik dinding, tanpa bermaksud menguping namun kata-kata itu tertangkap telingaku begitu saja.
“...ada pergerakan dari kelompok di sebelah utara,” suara Edward terdengar tegas. “Mereka mulai melangkah terlalu jauh.”
“Sudah kuduga,” jawab Will, nada bicaranya tajam. “Biar aku yang menanganinya. Sekali pelajaran cukup untuk membuat mereka paham.”
“Tidak boleh terburu-buru,” potong Charlotte tenang. “Kita perlu tahu siapa yang mendukung mereka. Jika kita bertindak tanpa bukti, kita yang akan terlihat lemah.”
“Dan jika kita menunggu terlalu lama, mereka yang akan menyerang duluan,” timpal George, suaranya terdengar tak sabar.
Suara Daddy terdengar kemudian, membuat semua hening seketika. “George benar waktu tidak berpihak pada mereka yang ragu. Tapi Charlotte juga benar kita tidak boleh bertindak buta. Henry, kau sudah memantau komunikasi mereka?”
“Sudah,” jawab Henry pelan namun jelas. “Ada pertemuan malam ini. Di gudang pelabuhan lama.”
Aku menelan ludah, jantungku berdegup kencang. Setiap kata yang kudengar terasa asing sekaligus menakutkan. Ini bukan sekadar urusan bisnis. Ini bukan sekadar melindungi rumah kita.
“Sophie,” panggil Daddy. “Pastikan tidak ada yang mencurigai sesuatu. Urus alibi, jaga agar Mommy tidak mendengar hal yang tidak perlu diketahuinya.”
“Baik, Daddy,” jawab Sophie lembut, namun ada ketegasan dalam suaranya yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku mundur perlahan, kaki gemetar tak kuasa menahan berat tubuhku. Aku tak sengaja menyentuh gagang pintu, dan bunyi denting kecil itu terdengar nyaring di keheningan pagi.
Pintu terbuka lebar seketika.
Edward berdiri di sana, menatapku. Wajahnya tak berubah, tapi matanya yang biasanya tenang kini menatapku dengan peringatan tajam.
“Grace,” ucapnya pelan.
Aku menunduk, tak berani menatap siapa pun. “Aku... hanya lewat. Maaf, aku tidak bermaksud...”
“Masuklah,” suara Daddy terdengar dari dalam ruangan.
Aku melangkah masuk dengan berat, merasakan tujuh pasang mata tertuju padaku. Daddy duduk di kursi besarnya, wajahnya serius namun tidak marah. Edward berdiri di samping meja, Will di dekat jendela, Charlotte menyilangkan tangan, Henry memegang selembar kertas, George berdiri tegak di sisi lain, dan Sophie berdiri agak ke belakang, menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan khawatir, sekaligus sedih.
“Kau mendengarnya, bukan?” tanya Daddy pelan.
Aku mengangguk pelan, menahan air mata. “Mereka... kelompok di utara. Pertemuan di pelabuhan. Apa yang akan kalian lakukan?”
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Lalu Will melangkah maju. “Ada orang-orang yang ingin merusak apa yang kita bangun, Grace. Mereka tidak segan menyakiti siapa pun termasuk kita. Termasuk kau.”
“Lalu caranya... dengan cara seperti itu?” suaraku pecah pelan. “Apakah satu-satunya jawaban adalah ancaman? Pertarungan?”
“Dunia tidak memberikan kita pilihan yang indah, Sayang,” kata Daddy lembut namun tegas. “Kau pikir aku menikmati ini? Kau pikir aku ingin anak-anakku terlibat dalam hal-hal gelap ini? Aku melakukan ini agar kalian bisa hidup aman. Agar nama Margaretha tetap berdiri, dan tak ada yang berani menyentuh satu helai rambut pun dari kepala kalian.”
“Tapi dengan harga apa, Daddy?” tanyaku, air mata akhirnya menetes. “Kakak-kakakku... mereka berubah. Sejak kapan George berbicara tentang memberi pelajaran? Sejak kapan Henry memantau orang-orang diam-diam? Sejak kapan Sophie mengatur kebohongan?”
Sophie mendekat pelan, suaranya gemetar. “Grace... itu bukan kebohongan. Itu melindungi. Mommy tidak perlu cemas. Kau tidak perlu cemas. Kami melakukan ini supaya kalian tenang.”
“Tapi aku tidak tenang!” seraku pelan, berusaha tak meninggikan suara. “Aku takut. Bukan pada orang-orang di luar sana. Aku takut pada sisi keluarga ini. Takut suatu hari... aku tak mengenali kalian lagi.”
George menghela napas kasar, lalu berkata dengan lembut yang jarang ia tunjukkan. “Kau tidak akan kehilangan kami, Grace. Ini hanya topeng yang kami pakai. Di dalam sini kami tetap kakak-kakakmu.”
“Bagaimana jika topeng itu melekat permanen?” tanyaku lirih.
Tak ada yang menjawab. Keheningan itu sendiri menjadi jawaban yang paling menakutkan.
Daddy berdiri, berjalan mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di bahuku. “Grace... aku tidak memintamu menyukai semua ini. Aku hanya memintamu percaya pada kami. Percaya bahwa apa pun yang terjadi, tujuan kami tetap sama: menjaga keluarga ini tetap utuh. Tetap bersama.” Ia menatapku dalam. “Saatnya akan tiba di mana kau harus memilih apakah kau akan berdiri bersama kami, atau tetap berdiri sendiri di pinggiran. Tapi aku berharap... kau memilih untuk tetap bersama kami.”
Aku menatap wajah-wajah di sekelilingku Edward, Will, Charlotte, Henry, George, Sophie. Mereka semua terlihat begitu yakin, begitu siap melangkah ke dalam bayang-bayang. Dan aku... aku berdiri di batas cahaya dan gelap, tak tahu arah mana yang harus kuambil.
“Aku akan memikirkannya,” jawabku pelan, suaraku nyaris tak terdengar. “Tapi aku tidak janji, Daddy.”
Daddy tersenyum tipis, sedih namun memaklumi. “Itu sudah cukup untuk saat ini.”
Aku berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu, menyusuri lorong panjang kembali ke kamarku. Di belakangku, pintu tertutup perlahan, dan percakapan itu berlanjut tanpa aku.
Pagi itu aku menyadari satu hal. Aku bukan sekadar bingung. Aku sedang berdiri di persimpangan yang tak ada papan penunjuk jalannya. Di satu sisi, ada cinta kepada keluargaku yang tak tergantikan. Di sisi lain, ada suara di dalam hatiku yang berkata cara mereka melindungi, perlahan-lahan mulai terlihat sama persis dengan cara mereka yang mereka lawan.
Dan pertanyaan itu kembali muncul, lebih nyata dari sebelumnya Siapa yang sebenarnya melindungi siapa? Dan kapan perlindungan itu berubah menjadi penjaraan?
...~ Bersambung ~...