NovelToon NovelToon
Alencio

Alencio

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.

Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.

Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.

Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

Part 25

"Oh iya?"

"Iya. Memangnya kenapa?"

"Kamu terlihat seperti bukan Amanda yang biasanya. Tapi, terima kasih untuk tawarannya ya." Cio menjawab tulus sembari tersenyum hangat, dan itu cukup membuat Amanda tidak bisa berkutik, sangking anehnya perasaan yang menyerangnya saat ini. Membuat Amanda gelisah dan serba salah, terlihat dari caranya berpaling ke arah makananya lalu kembali menyuapkan makanan ke arah Cio seolah tidak terjadi sesuatu pada hatinya.

"Iya. Sekarang, kamu habiskan makanannya, lalu kamu bisa istirahat." Cio menerima suapan Amanda, sampai saat makanan itu habis tak tersisa, Cio memutuskan untuk beristirahat karena tubuhnya yang masih lemah.

"Aku ke kamar dulu ya? Aku mau istirahat," ujar Cio yang langsung dianggukki oleh Amanda.

"Istirahatlah. Aku akan di sini. Malau kamu butuh sesuatu, kamu tinggal meneriaki namaku."

"Tapi apa tidak apa-apa kamu menungguku? Jujur, aku sudah baik-baik saja kok meskipun ditinggal." Cio menjawab tak enak hati, namun Amanda justru menggeleng seolah tidak ingin menyetujuinya.

"Aku benar-benar tidak apa-apa. Sekarang, kamu bisa istirahat di kamar. Dan aku bisa mengerjakan tugas kuliahku di sini." Amanda menjawab tenang yang dianggukki samar oleh Cio.

"Baiklah," jawabnya sembari mendirikan tubuhnya lalu berjalan ragu ke arah kamar dengan sesekali melirik ke arah Amanda yang terdiam menatapnya. Setelah Cio benar-benar masuk, Amanda mendirikan tubuhnya lalu berjalan ke arah dapur sembari membawa kotak bekal makanannya. Di dapur, Amanda bisa melihat bagaimana banyak alat makan berserakan yang belum dibersihkan. Dan itu mampu membuat Amanda menggeleng tak percaya, merasa tak habis pikir saja kenapa rumah Cio begitu berantakan. Dengan semangat baru, Amanda menaikkan lengan bajunya lalu memulai mencuci piring dan membersihkan dapur. Pekerjaan Amanda dilanjut dengan membersihkan ruang tamu, di mana banyak barang-barang milik Cio yang berserakan. Dan pada akhirnya, waktu Amanda di rumah Cio ia gunakan untuk membersihkan rumah itu seluruhnya.

***

Setelah selesai semuanya, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Tanpa mau beristirahat lebih dulu, Amanda langsung berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Cio. Namun sesampainya di sana, Amanda justru tak mendapati bahan makanan apapun kecuali mi dan telur. Di saat seperti ini, Amanda merasa tak percaya bila hidup Cio bisa seperti ini. Lelaki itu mengorbankan hidup nyamannya demi bisa menenangkan perasaannya yang sempat terguncang dan menyembunyikannya begitu dalam.

Tanpa berpikir lagi, Amanda langsung menyiapkan semuanya. Terpaksa, untuk kali ini saja Amanda memasakkan Cio mi kuah instan dengan telur, karena hanya itu yang berada di sana. Sampai saat semuanya sudah selesai, Amanda mengantarkannya ke kamar Cio dan membangunkan lelaki itu.

"Cio," panggil Amanda setelah meletakkan nampan berisikan makanan yang baru ia masak dengan segelas air putih di atas meja.

"Cio, bangun. Kamu harus makan siang dulu." Amanda menepuk-nepuk pipi Cio yang masih terasa hangat. Sampai saat empunya tersadar, terlihat dari matanya yang sayu-sayu terbuka.

"Kenapa?" tanyanya lemah.

"Makan siang dulu," ujar Amanda sembari membantu Cio untuk bangun.

"Di dapur cuma ada mi dan telur, aku cuma bisa memasak itu." Amanda berujar sendu setelah berhasil membangunkan Cio dan memberikan makanannya ke lelaki itu.

"Maaf ya, aku jadi merepotkanmu di sini."

"Tidak apa-apa, asal kamu cepat sembuh. Tapi di mana obatmu? Apa kamu belum periksa ke dokter? Kalau begitu, setelah ini aku akan mengantarmu ke rumah sakit atau klinik." Amanda berujar khawatir, merasa baru ingat bila Cio tidak minum obat tadi pagi, pasti karena belum periksa ke dokter, pikir Amanda resah.

"Tidak usah. Aku sudah diperiksa dokter dari keluarga Alex, dan obatnya juga berada di laci." Cio menunjuk ke arah meja di sampingnya, di mana ada laci di bawahnya, membuat Amanda yang mendengar itu seketika bisa bernapas lega.

"Aku akan mengambilnya, kamu makan saja mie-nya." Amanda membuka laci itu lalu mengambil obat Cio, sedangkan empunya hanya mengangguk lalu menyantap makanan yang berada di pangkuannya. Setelah Amanda berhasil mendapatkan obat Cio, tatapannya kini justru tertatih ke arah empunya yang begitu pelan-pelan memakan makanannya. Cio terlihat kesusahan dengan sesekali meringis menahan sakit di kepalanya, membuat Amanda tidak tega bila terus-terusan membiarkannya. Tidak tahan lagi, akhirnya Amanda mengambil mangkuk itu lalu menyuapkan isinya ke Cio.

"Aku akan menyuapi mu. Buka mulutmu!" Ragu-ragu, Cio menerimanya dan mengunyahnya meski sebenarnya ia sangat malu karena terus merepotkan Amanda hari ini.

"Aku minta maaf, karena terus merepotkan mu hari ini." Cio berujar menyesal, yang sempat membuat Amanda terdiam.

"Iya. Aku tidak apa-apa kok, aku kan sudah biasa direpotkan olehmu." Cio seketika mencebikkan bibirnya, merasa sebal dengan jawaban yang Amanda berikan. Namun di detik berikutnya, Amanda justru tertawa kecil ke arah Cio.

"Makanya cepat sembuh! Supaya kamu tidak terus merepotkan aku." Amanda berujar sok kesal meski bibirnya masih tersenyum.

"Iya-iya." Amanda merapatkan bibirnya, terdiam akan sesuatu hal yang sebenarnya cukup ragu untuk dikatakan.

"Kata Alex, dia ingin kamu tinggal di rumahnya. Tapi kenapa kamu tidak mau?" Amanda bertanya pelan sembari kembali menyuapi Cio.

"Dia sudah cukup banyak membantuku, aku tidak mau merepotkannya lagi."

"Sepertinya kalian sudah berteman sejak lama ya?" Amanda menyunggingkan senyum ramahnya, yang ditanggapi sama oleh Cio.

"Iya. Aku dan Alex itu berteman sejak kita masih kecil bahkan kita selalu satu sekolah yang sama. Dia yang selalu mengerti dan paham bagaimana aku hidup selama ini, dan dia juga yang selalu ada untukku di keadaan apapun. Bagiku, Alex adalah saudara meskipun kami tidak sedarah." Cio menatap udarah penuh luka, mengingat setiap air mata yang selalu ia tunjukkan di hadapan Alex saat ia ada masalah, dan temannya itu selalu ada untuk mendengarkan kisah-kisahnya.

"Lalu kenapa kamu tidak mau tinggal dengan Alex? Kalau kamu sudah menganggapnya sebagai saudara? Aku yakin, Alex tidak akan merasa keberatan akan hal itu."

"Sudah kubilang kan? Aku tidak mau terus-terusan merepotkan Alex, dia sudah cukup membantuku selama ini." Mendengar itu yang Amanda lakukan hanya terdiam dan mengangguk, mencoba mengerti keinginan Cio, meski lelaki itu belum tahu bagaimana temannya itu ditemui oleh papanya.

"Iya, aku mengerti."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!