NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Modal Pertama dan Langkah Senyap di Wall Street

Udara dingin bulan Oktober menyengat kulit wajah Arthur seketika ia melangkah keluar dari gedung apartemen kumal di Queens. Klakson mobil yang bersahutan, bau asfalt basah, dan deru kereta bawah tanah yang melintas di atas jalur layang menciptakan simfoni khas kota New York yang tidak pernah tidur.

Di kehidupan pertama, suasana ini terasa begitu menindas. Setiap langkah kakinya diiringi kecemasan tentang tagihan sewa, pinjaman mahasiswa yang menumpuk, dan rasa rendah diri yang akut. Namun hari ini, setiap derap sepatu kets usang yang ia kenakan terasa bagaikan hentakan awal seorang komandan yang memimpin barisan pasukan tak terlihat.

Arthur melirik arloji digital murah di pergelangan tangannya. Pukul 08.15 pagi.

Ia tidak langsung menuju kampusnya di City University of New York. Prioritas utamanya saat ini bukan lagi mengejar nilai akademik yang tidak akan pernah berguna di dunia nyata, melainkan mengamankan bahan bakar pertama bagi mesin kapital yang akan ia bangun.

Ia berjalan menuju sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan, memesan secangkir kopi hitam termurah, lalu duduk di kursi plastik luar ruangan yang menghadap langsung ke arah jalan raya. Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan ponsel pintar lawas dan membuka aplikasi peramban.

Matanya memindai layar kecil itu dengan kecepatan tinggi. Otaknya menyaring ribuan informasi, membuang data yang tidak relevan, dan memfokuskan konsentrasinya pada satu titik krusial di bursa saham global hari ini: Oktober 2016.

Bitcoin saat itu masih diperdagangkan di kisaran harga enam ratus dolar per koin. Belum ada yang meliriknya secara serius kecuali para komunitas geek di forum bawah tanah. Sementara itu, beberapa saham emiten bioteknologi kecil di bursa NASDAQ sedang mengalami kelesuan sesaat sebelum pengumuman uji klinis tahap akhir yang hasilnya akan meledakkan harga saham mereka hingga seribu persen dalam waktu kurang dari sebulan.

"Tujuh puluh dolar total uang tunai yang kumiliki di rekening dan dompet," gumam Arthur pelan, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.

Bagi lembaga keuangan sebesar Goldman Sachs atau Morgan Stanley, angka tujuh puluh dolar bahkan tidak cukup untuk membeli secangkir kopi bagi para direktur mereka. Namun di tangan seseorang yang mengetahui masa depan secara mutlak, jumlah itu adalah benih dari sebuah pohon raksasa.

Arthur membuka akun perdagangan daring (brokerage account) lamanya yang nyaris mati karena tidak pernah diisi saldo sejak setahun lalu. Ia mentransfer seluruh sisa uang tunainya ke dalam akun tersebut.

Tanpa ragu sedikit pun, jarinya bergerak cepat mengetik kode emiten sebuah perusahaan farmasi kecil yang sedang sekarat, lalu memasukkan perintah buy (beli) untuk opsi panggilan (call options) dengan leverage maksimal yang diizinkan oleh sistem bagi akun ritel berisiko tinggi.

Transaksi berhasil.

Sisa saldonya kini persis nol. Jika dalam dua minggu ke depan perusahaan farmasi itu tidak mengumumkan hasil uji klinis yang positif, Arthur akan jatuh miskin secara mutlak tanpa sisa satu sen pun di dunia.

Namun, ketenangan mutlak terpancar jelas di mata hitamnya. Tidak ada setetes pun keringat dingin. Karena bagi Arthur, itu bukanlah sebuah perjudian; itu adalah sebuah kepastian sejarah yang ditulis ulang.

"Mari kita tunggu waktu bekerja," ucapnya pelan sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai mendingin.

Ia bangkit dari kursi, melipat jaketnya, dan mulai berjalan kaki menuju kampus. Di tengah perjalanan, pemandangan kota New York tampak berbeda di matanya. Gedung-gedung pencakar langit kaca di Manhattan yang menjulang tinggi ke langit kelabu seolah-olah berbisik kepadanya, memanggil pemilik sah mereka yang sebenarnya.

Setibanya di lingkungan kampus, suasana ramai mahasiswa yang lalu-lalang menyambutnya. Di lorong gedung fakultas ekonomi, bisik-bisik dan gelak tawa terdengar dari sekelompok mahasiswa elit yang sedang membicarakan portofolio investasi fiktif tugas kuliah mereka.

Di antara kerumunan itu, langkah Arthur terhenti sejenak.

Pandangannya terpaku pada sosok seorang gadis yang berjalan dari arah berlawanan. Gadis itu mengenakan mantel musim gugur berwarna krem sederhana, membawa tumpukan buku tebal di pelukan tangannya. Rambut sebahunya yang hitam berkilau tertiup angin koridor kampus. Wajahnya tampak tenang, menyiratkan keanggunan alami yang tidak dibuat-buat, namun terselip guratan kelelahan dan kesepian yang teramat dalam di balik sorot matanya.

Clara Vance.

Jantung Arthur, yang selama delapan puluh tahun hidupnya hampir tidak pernah berdetak di luar kendali, mendadak berdegup kencang untuk pertama kalinya.

Di kehidupan pertama, pada hari ini, Arthur hanya berani menatap Clara dari jarak jauh, merasa dirinya terlalu kotor dan miskin bahkan untuk sekadar menyapa gadis dari keluarga terpandang tersebut. Ia membiarkan jarak itu melebar hingga bertahun-tahun lamanya, sampai takdir merenggut kesempatan itu untuk selamanya.

Namun sekarang... jarak itu tidak lagi memiliki arti apa-apa.

Clara berjalan melewati Arthur tanpa sengaja menoleh. Pandangannya lurus ke depan, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Arthur tidak memanggilnya. Belum saatnya. Pertemuan pertama yang terlalu terburu-buru hanya akan menimbulkan kecurigaan atau ketidaknyamanan. Ia membiarkan gadis itu berlalu, sementara sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman hangat yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun di dunia bisnis.

"Tunggu aku, Clara," bisik Arthur pelan di dalam hatinya, menatap punggung gadis itu yang perlahan menghilang di tikungan koridor. "Di kehidupan ini, tidak ada satu kekuatan pun di bumi yang bisa memisahkan kita, atau menyentuhmu barang sedikit pun."

Arthur membalikkan badan, melangkah kembali dengan postur tubuh yang tegap dan penuh wibawa. Fondasi pertama telah diletakkan, dan kini, saatnya membangun kerajaan yang akan membuat seluruh dunia berlutut di kakinya.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!