Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Siapa yang Nomor Satu?
Suara lonceng terakhir belum sepenuhnya menghilang ketika seluruh peserta mulai bergerak menuju arena utama.
Cahaya biru kehijauan tiba-tiba muncul dari pusat alun-alun.
Buzz!
Tanah bergetar pelan.
Batu-batu persegi naik dari permukaan dan bergerak sendiri, menyusun puluhan arena batu dalam waktu singkat.
Pemandangan itu langsung menarik perhatian para peserta wilayah luar.
“Formasi pembentuk arena.”
Su Yun mengamatinya sebentar.
Keluarga Su memang memiliki sumber daya yang tidak dimiliki wilayah luar.
Turnamen kali ini diikuti hampir sepuluh ribu peserta.
Kalau setiap pertandingan dilakukan satu per satu, tiga hari pun tidak akan cukup.
Karena itu, puluhan pertandingan akan berlangsung bersamaan.
“Semua peserta mundur lima meter!”
Seorang pria bertubuh kekar berdiri di depan meja pengundian.
Suaranya diperkuat energi spiritual hingga terdengar ke seluruh alun-alun.
Kerumunan segera mundur.
Tak lama kemudian, beberapa tokoh penting Keluarga Su memasuki tempat kehormatan.
Mereka mengenakan jubah mewah.
Pelayan membawa buah spiritual, teh, dan berbagai makanan ringan.
Para peserta wilayah luar hanya bisa memandang dari kejauhan.
Kekuatan menentukan kedudukan.
Kedudukan menentukan perlakuan.
Sesederhana itu.
Pembawa acara mulai memperkenalkan beberapa tetua.
Namun Su Yun tidak terlalu memperhatikan.
Ia lebih tertarik mempelajari peserta di sekelilingnya.
Beberapa aura cukup kuat.
Tahap kedelapan.
Tahap kesembilan.
Bahkan ada beberapa orang yang sudah berada di puncak Alam Murid Roh.
Murid wilayah dalam tentu lebih sulit lagi.
“Turnamen Tiga Tahunan Keluarga Su…”
Pembawa acara akhirnya mengangkat suara.
“…resmi dimulai!”
Dung!
Dung!
Dung!
Tiga lonceng berbunyi.
Sorak-sorai langsung meledak.
Setiap peserta mengambil nomor secara acak.
Su Yun memasukkan tangannya ke dalam wadah undian.
Ketika dikeluarkan, sebuah lempengan kecil berada di telapak tangannya.
998.
“Lumayan.”
Ia menyimpannya.
Nomor pertandingan akan diumumkan melalui papan besar di depan arena.
Ketika nomor peserta berubah merah, berarti gilirannya sudah tiba.
Tidak lama kemudian, pertandingan pertama dimulai.
“Area pertama!”
“Nomor 1795 melawan 821!”
Dua peserta naik.
Salah satunya berada di tahap keenam Alam Murid Roh.
Lawan terlihat jauh lebih kuat.
Pertarungan bahkan tidak berlangsung sepuluh gerakan.
Bang!
Peserta tahap keenam jatuh dari arena.
“Nomor 1795 menang!”
Pengumuman berikutnya langsung menyusul.
“Area kedua!”
“417 melawan 2777!”
“Area ketiga!”
“5129 melawan 3783!”
Puluhan pertandingan berlangsung bersamaan.
Suara benturan senjata, teriakan, serta sorakan penonton bercampur menjadi satu.
Su Yun berdiri bersama Xin Yue dan Xing Yang.
Tak lama kemudian, nomor keduanya menyala.
“Aku duluan!”
Xin Yue mengepalkan tangan.
Xing Yang juga menyeringai.
“Nomorku juga keluar.”
Su Yun mengangguk.
“Hati-hati.”
Xin Yue tersenyum.
“Tunggu kemenangan kami.”
Keduanya menuju arena yang berbeda.
Su Yun memperhatikan pertandingan mereka.
Xin Yue bergerak cepat.
Tekniknya tidak terlalu rumit, tetapi dasar gerakannya sangat baik.
Ia tidak terburu-buru menyerang.
Setelah mengamati lawan beberapa kali, barulah ia menemukan celah dan menjatuhkannya.
Xing Yang berbeda.
Cara bertarungnya jauh lebih langsung.
Tubuh besar.
Kekuatan fisik bagus.
Begitu mendapat kesempatan, pukulannya menghantam seperti palu.
Pertarungan keduanya selesai tidak terlalu lama.
Mereka sama-sama menang.
Xin Yue berlari kembali dengan wajah penuh kegembiraan.
“Kakak Su Yun!”
Ia mengangkat dagu.
“Bagaimana?”
“Lumayan.”
“Cuma lumayan?”
Xin Yue langsung cemberut.
“Aku menang tanpa terluka!”
Su Yun tertawa.
“Kalau begitu sangat bagus.”
“Baru benar.”
Xing Yang juga kembali.
Napasnya sedikit berat, tetapi wajahnya penuh semangat.
“Kakak Su Yun, lawanku tadi tahap ketujuh.”
“Tidak terlalu sulit.”
Xin Yue mendengus.
“Kalau tidak sulit, kenapa bajumu robek?”
Xing Yang segera melihat bagian bahunya.
“Itu hanya kecelakaan.”
Su Yun tertawa kecil.
Melihat kedua saudara ini membuat suasana turnamen yang tegang terasa lebih ringan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Kerumunan di depan mendadak membuka jalan.
“Su Nan Ye datang.”
“Lihat!”
“Dia benar-benar ikut seleksi awal?”
Beberapa murid langsung mundur.
Seorang pemuda bertubuh tinggi berjalan mendekat.
Pakaiannya rapi.
Hidungnya mancung.
Tatapannya tajam dan penuh keyakinan.
Di belakangnya mengikuti beberapa murid lain.
Xin Yue langsung merendahkan suara.
“Itu Su Nan Ye.”
Su Yun melirik.
“Siapa?”
Xing Yang hampir tersedak.
“Kakak bahkan tidak mengenalnya?”
“Haruskah?”
“Dia terkenal di wilayah luar!”
Xing Yang menjelaskan dengan cepat.
“Banyak orang menyebutnya jenius nomor dua di antara generasi muda wilayah luar.”
“Nomor dua?”
Su Yun bertanya santai.
“Siapa nomor satu?”
“Su Qing.”
Nama itu baru saja keluar dari mulut Xing Yang ketika—
Boom!
Aura spiritual kuat mendadak menyapu mereka.
Tubuh Xing Yang langsung menegang.
Wajahnya memucat.
Kedua lututnya hampir menyentuh tanah.
“Ugh!”
Napasnya mendadak berat.
Xin Yue terkejut.
“Kakak!”
Su Yun segera menangkap bagian belakang pakaian Xing Yang.
Satu tarikan membuatnya keluar dari pusat tekanan.
Barulah Xing Yang dapat bernapas.
Keringat sudah memenuhi dahinya.
Su Yun mengangkat pandangan.
Su Nan Ye kini berdiri hanya beberapa langkah di depan.
Aura tadi jelas berasal darinya.
“Tahap kesepuluh.”
Su Yun langsung memperkirakan.
Paling rendah pun pria ini sudah sangat dekat dengan puncak Alam Murid Roh.
Tidak heran Xing Yang tidak mampu menahannya.
Su Nan Ye sama sekali tidak melihat Su Yun.
Tatapannya tertuju pada Xing Yang.
“Apa yang baru saja kau katakan?”
Xing Yang masih terengah.
“Apa?”
“Siapa…”
Su Nan Ye melangkah mendekat.
“…jenius nomor dua?”
Xing Yang baru memahami persoalannya.
Tadi ia menyebut Su Nan Ye sebagai nomor dua dan Su Qing sebagai nomor satu.
Rupanya perkataan tersebut didengar.
“Aku hanya mengatakan apa yang orang-orang—”
Belum selesai.
Tinju Su Nan Ye bergerak.
Tidak ada peringatan.
Tidak ada aba-aba.
Ia langsung menghantam dada Xing Yang.
“Xing Yang!”
Xin Yue berteriak.
Namun sebuah tangan bergerak lebih cepat.
Tap!
Tinju Su Nan Ye berhenti.
Su Yun telah menangkap pergelangan tangannya.
Suasana mendadak membeku.
Su Nan Ye menoleh.
Untuk pertama kalinya, sorot matanya berubah.
Ia tahu seberapa cepat pukulannya tadi.
Orang biasa bahkan tidak akan sempat bereaksi.
Namun tangan Su Yun menangkapnya tepat sebelum mengenai sasaran.
“Menarik.”
Su Nan Ye menarik tangannya.
Su Yun tidak menahan.
“Temanku memang bicara terlalu jujur.”
Su Yun berkata tenang.
“Kalau ucapannya menyinggungmu, tidak perlu sampai menyerangnya.”
Beberapa pengikut Su Nan Ye langsung mencibir.
“Siapa kau berani mengajari Kakak Nan Ye?”
Salah satunya mengenali wajah Su Yun.
“Eh?”
“Bukankah dia Su Yun?”
“Sampah yang dibuang dari wilayah dalam?”
Beberapa orang tertawa.
“Jadi benar dia ikut turnamen!”
“Mau merangkak kembali ke wilayah dalam?”
“Lebih baik menyerah sebelum mempermalukan diri sendiri!”
Xin Yue langsung kesal.
Namun Su Yun mengangkat tangan, membuatnya diam.
Ejekan seperti itu tidak penting.
Su Nan Ye sendiri tidak ikut tertawa.
Ia justru terus mengamati Su Yun.
“Kau Su Yun?”
“Ya.”
“Rumor tentangmu tampaknya tidak terlalu akurat.”
Su Yun tersenyum tipis.
“Kau percaya rumor?”
“Tidak.”
Su Nan Ye menjawab singkat.
Tatapannya lalu beralih kepada Xing Yang.
“Dan kau.”
Xing Yang menegang.
Su Nan Ye bertanya perlahan,
“Siapa nomor satu?”
Xing Yang tidak menjawab.
“Siapa nomor dua?”
Nada Su Nan Ye semakin dingin.
Su Yun akhirnya memahami.
Bukan masalah ucapan kasar.
Pria ini benar-benar terganggu hanya karena disebut nomor dua.
Su Yun berkata,
“Kalau kau ingin membuktikan siapa yang pertama, arena sudah tersedia.”
Tatapan Su Nan Ye langsung kembali kepadanya.
“Apa?”
“Menekan orang yang lebih lemah tidak membuatmu menjadi nomor satu.”
Kerumunan di sekitar langsung sunyi.
Beberapa orang menahan napas.
Berani sekali Su Yun berbicara seperti itu kepada Su Nan Ye.
Namun Su Nan Ye justru tersenyum.
“Bagus.”
Ia mendekat setengah langkah.
“Aku mulai tertarik kepadamu.”
Su Yun tidak bergerak.
“Kalau kita bertemu di arena…”
Su Nan Ye berkata,
“…aku akan membuatmu memahami perbedaan antara keberanian dan kebodohan.”
Su Yun tersenyum.
“Aku tunggu.”
Ekspresi beberapa pengikut berubah.
Mereka hampir maju, tetapi Su Nan Ye mengangkat tangan.
“Tidak perlu.”
Ia berbalik.
“Ayo.”
Kelompoknya segera mengikuti.
Namun sebelum benar-benar pergi, Su Nan Ye berhenti.
“Su Yun.”
Su Yun menatapnya.
“Turnamen ini akan menentukan satu hal.”
“Siapa yang layak disebut jenius nomor satu wilayah luar.”
Setelah berkata begitu, ia pergi.
Xing Yang akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Orang itu benar-benar gila.”
Xin Yue memukul bahunya.
“Kau juga!”
“Kenapa menyebut peringkat di dekatnya?”
“Aku mana tahu dia ada di belakang!”
Su Yun menatap punggung Su Nan Ye.
Tahap kesepuluh Alam Murid Roh.
Kekuatan yang cukup bagus.
Namun bukan orang terkuat yang harus ia hadapi dalam turnamen ini.
Masih ada Su Kuang.
Seorang murid wilayah dalam yang sudah memasuki Alam Roh Sejati.
Su Nan Ye hanya satu rintangan lagi di jalan.
Su Yun menurunkan pandangan pada nomor 998 di tangannya.
Tiba-tiba—
lempengan itu memancarkan cahaya merah.
Nomornya muncul di papan arena.
Xin Yue langsung menunjuk.
“Kakak Su Yun!”
“Giliranmu!”
Su Yun mengangkat kepala.
Di papan besar tertulis jelas:
Arena Tujuh — 998 melawan 3146.
Sudut bibir Su Yun terangkat.
Akhirnya.
Setelah sebulan berlatih keras…
sudah waktunya menguji hasilnya.
......................
Bersambung...