Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran di Depan Keluarga
#3
Flashback
“Pak Fikar tunggu di sini saja, ya? Jangan sampai ponsel mati.”
“Baik, Nyonya. Hati-hati,” pesan Pak Fikar, iba pada nyonya mudanya yang harus pergi ke rumah sakit seorang diri untuk memeriksakan kandungan. Karena Farhan tak mau mengantar, dengan alasan jelang akhir tahun perusahaan sangatlah sibuk.
Tapi, baru beberapa langkah Dina menjauh dari mobil, wanita itu tiba-tiba menunduk sambil memegangi kepalanya.
Pak Fikar yang melihat dari kejauhan segera berlari keluar dari mobil, guna menolong Dina, setidaknya hingga wanita itu mendapatkan pertolongan di ruang IGD atau ruang perawatan.
“Nyonya,” tegur Pak Fikar, pria itu menjaga jarak, demi menjaga kesopanan. Namun, Dina yang merasa sangat pusing dan kepalanya serasa berputar, akhirnya menjadikan lengan Pak Fikar sebagai alat untuk menyeimbangkan tubuhnya.
“Pak, tolong bantu aku masuk ke ruang IGD,” pinta Dina, wajah wanita muda itu semakin pucat, hingga kembali membangkitkan rasa iba dalam diri Pak Fikar. Pria itu memapah Dina tanpa prasangka dan ekspektasi apa-apa, hingga tiba di depan ruang IGD dan bertemu petugas yang membantu Dina dengan kursi roda.
Tanpa mereka sadari seseorang mengabadikan momen tersebut dengan senyuman misterius.
Flashback end.
•••
“Astaghfirullah, Mas. Ini murni fitnah, tanyakan saja pada Pak Fikar tentang apa yang sebenarnya terjadi?” Dina masih mencoba meluruskan, ia pun tak mau bila Pak Fikar jadi kehilangan mata pencaharian karena fitnah tidak berdasar ini.
“Tak perlu! Pak Fikar sudah resmi aku pecat hari ini!” Gelegar amarah Farhan terdengar di seluruh penjuru rumah.
Sarah tertawa bahagia, begitu pula Bu Sintia dan Pak Jatmiko ayahnya Farhan yang tidak melakukan apa-apa selain membenarkan tindakan putra mereka. Mereka beranggapan bahwa apapun alasannya, tindakan Dina tak bisa dibenarkan.
Padahal dulu, ketika Permana Group bermasalah, keluarga Dina mengorbankan perusahaan mereka yang memang sudah diambang kehancuran. Sisa uang perusahaan digunakan untuk menyokong Permana Group, hingga San Apparel perusahaan eksportir buah milik keluarga Dina benar-benar gulung tikar.
“Jadi Mas lebih percaya pada foto itu, ketimbang sibuk melacak si pengirim pesan yang memberikan informasi berdasarkan apa yang ia lihat sepintas?” Dina masih berusaha membela diri.
“Hallah, alasan saja! Kamu tinggal bilang bahwa kamu ingin membalasku yang menikah lagi dengan wanita lain. Jadi kamu pun melakukan hal yang sama, begitu, kan?” tuduh Farhan tanpa memikirkan perasaan istrinya.
Harga diri Dina benar-benar sudah diinjak habis oleh suami dan keluarganya. Tak ada gunanya mengelak, atau mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Apa yang Farhan tuduhkan benar-benar tidak berdasar, tapi karena pria itu sudah dibutakan keegoisannya sendiri, maka ia tak peduli hal yang lainnya lagi.
Buruk mukanya, tapi cermin yang memantulkan gambar yang ia belah.
Dia yang egois dan tak memikirkan perasaan istrinya, kini justru Dina yang ia tuding bersalah dan berselingkuh dengan sopir mereka.
“Ternyata hanya segini saja cintamu, Mas. Tak sebesar dan seagung kalimat yang dulu sering kau ucapkan ketika pertama mengenal diriku. Terserah Mas Farhan mau percaya padaku ataukah tidak, aku tak peduli.”
Dina berbalik langsung berjalan cepat ke kamar, dan mengunci diri di sana. Kini tak ada lagi alasan baginya untuk bertahan, tapi untuk mengakhiri, rasanya banyak hal yang harus Dina fikirkan termasuk nasib anak yang ia lahirkan kelak.
Brak!
Brak!
Brak!
“Dina, buka pintunya!” teriak Farhan dengan suara marah yang menggelegar.
Tapi Dina tak peduli, sekeras apapun suara Farhan, wanita itu tetap bertahan di tempatnya.
•••
Malam harinya, ketika Farhan sudah terlelap. Diam-diam Sarah mengendap-endap keluar kamar, mencari tempat paling sepi di rumah tersebut, yaitu halaman belakang.
Ponsel Sarah tiba-tiba berdering, hingga wanita itu terpaksa menjauh dari kamar agar Farhan tak mendengar pembicaraan nya.
“Halo, apa tidak bisa siang saja meneleponnya? Bagaimana kalau Mas Farhan mengetahui nya?” omel Sarah dengan suara nyaris berbisik, kepalanya menoleh ke sekitar, khawatir ada yang mendengar pembicarannya.
“Aku sudah meneleponmu sejak tadi siang, tapi kamu mengabaikannya! Bagaimana hasil kerjaku?” kata pria itu, lalu diakhiri dengan pertanyaan.
“Bagus, tapi belum cukup untuk mengusir wanita itu,” dengus Sarah kesal. Ingjnnya Sarah langsung ditalak dan diusir dari rumah keluarga Permana, tapi Farhan langsung menyerah saat Dina ngambek dan mengunci diri di kamarnya.
“Apalagi yang bisa ku lakukan?”
“Nanti aku mengabarimu.”
“Lalu, upahku? Aku butuh uang dan butuh kepuasan batin!”
“Aku baru selesai nifas, dan masih harus lebih sering melayani Mas Farhan yang sekarang sering uring-uringan. Jadi kamu juga harus sabar bila ingin terus hidup enak!” omel Sarah pada pria selingkuhannya sejak Almarhum suaminya masih hidup.
Almarhum Farid kakak kandung Farhan memang pria yang cukup sering sakit, hingga ia tak bisa memberikan nafkah batin secara maksimal pada Sarah. Karena itulah Sarah diam-diam mencari pelampiasan di luar, hingga menghasilkan Malika. Untunglah Farid dan keluarganya tidak menaruh curiga terhadapnya.
Apalagi Malika adalah bayi yang sehat. Jika dibandingkan dengan anak yang dilahirkan Dina, yang belum apa-apa sudah divonis cacat. Tentu saja Malika menjadi kesayangan semua orang termasuk Farhan ayah sambungnya.
“Sudah malam, besok aku kirim uang untukmu,” kata Sarah congkak, seolah sedang bicara dengan pembantunya.
Setelah mengakhiri pembicaraan secara sepihak, Sarah kembali masuk ke rumah. Setibanya di kamar ia melihat Farhan sedang menenangkan Malika yang menangis histeris.
“Eh, Malika bangun?” tanya Sarah, sedikit kaget, takut Farhan mencurigainya.
“Kamu dari mana saja?” Farhan terlihat masih kesal karena tidurnya terganggu.
“Tadi aku ke dapur untuk ambil air dingin, soalnya gerah banget, Mas,” jawab Sarah berdusta.
Wanita itu buru-buru meletakkan ponselnya, “Katanya minum, masih sempat memeriksa ponsel?”
“Iya, Mas. Sekalian. Eh, ternyata tadi cuma notifikasi promo dari online shop.”
Farhan menyerahkan Malika yang tangisnya semakin tak terkendali, Sarah pun menimang Malika menenangkannya sejenak, lalu memberinya ASI. “Tidurlah lagi, Mas.”
Farhan balik badan lalu kembali berbaring, tapi kali ini di sofa. Karena ia tak mau terganggu tangisan Malika.
Farhan sangat lelah, karena Permana Group sedang sibuk-sibuknya menyiapkan rekapitulasi akhir tahun. Meski sudah ada pegawai yang mengerjakannya, tapi sebagai pemimpin, Farhan tetap terjun langsung memeriksa semuanya agar jelas berapa total keuntungan perusahaan tahun ini.
Apalagi Pak Jatmiko ayahnya sudah pensiun, tapi tetap mengawasi dengan cermat, ia tak mau Permana Group kembali gonjang ganjing seperti dulu.
jawab zam ngapain datang🤭