Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 NASib Derita Istri pekerja kuli bangunan
setelah selesai makan siang lalu Burhan pergi lagi melanjutkan pekerjaan lagi,
" ya udah mas pergi dulu ya Nisa" ucap Burhan kepada Nisa
" baik kang " hati -hati dijalan ," jawab nisa sambil membereskan piring
" oh iya mas kali ini mau Bawak sepeda ontel ajalah" kata Burhan kepada Nisa
" kok gitu mas ? Tanya Nisa
" lagi pingin aja," jawab Burhan
" ya udah akang berangkat
" baik kang hati -hati
Burhan lalu mengambil sepeda ontel dan berangkat ke proyek , melanjutkan pekerjaan mengecor lantai dua itu .
Setelah selesai kerja Burhan tidak langsung sung pulang karena niat dia membawa sepeda itu , untuk mencari barang rongsokan , hingga malam tiba sebelum pulang kerumah.
Malam makin larut, namun napas Burhan masih terengah-engah di atas sepeda ontel tuanya. Di bagian belakang sepeda, terikat dua karung goni besar yang makin memadat oleh botol plastik, kardus bekas, dan besi tua yang ia kumpulkan dari tempat sampah warga dan sudut-sudut jalanan kota.
Setelah delapan jam membanting tulang mengangkut sak semen dan mengaduk pasir di tapak proyek, tubuhnya sebenarnya sudah berada di ambang batas kemampuan. Namun, bayangan wajah Anisa yang cemas dan ucapan pedas Bu Salma terus berdegung di telinganya bagai pecutan yang memaksa kakinya untuk terus mengayuh.
"Burhan! Kamu ini mana sisa uang sewa bulan ini?!" suara Bu Salma tadi pagi sebelum ia berangkat kerja kembali terngiang. "Istrimu itu cuma tahu makan saja! Kalau sampai akhir minggu ini tidak lunas, keluar kalian dari rumah saya!"
Burhan mengusap keringat kotor yang menetes di pelipisnya dengan kaos oblongnya yang kusam. Ia memarkirkan sepedanya di depan sebuah lapak pengepul barang bekas yang pintunya masih terbuka separuh.
"Pak Amat! Masih buka, Pak?" panggil Burhan setengah berteriak dari luar.
Seorang pria paruh baya bertopi lusuh keluar dari balik tumpukan kardus. Pak Amat menyipitkan mata, menatap Burhan yang berdiri gemetar memegangi setang sepeda.
"Elah, Burhan... Malam-malam begini baru menyetor?" tanya Pak Amat kaget seraya mendekat. "Kamu ini tidak cape apa? Siang tadi saya lihat kamu masih ngaduk semen di proyek depan."
Burhan tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kelelahannya. "Mumpung belum terlalu malam, Pak. Perlu uang cepat untuk bayar kontrakan. Tolong ditimbang dulu, Pak."
Pak Amat menghela napas, lalu membantunya menurunkan dua karung goni tebal itu ke atas timbangan besi.
"Kardus delapan kilo, plastik campur dua belas kilo, ada besi tua sedikit..." gumam Pak Amat sambil menggeser anak timbangan. "Totalnya tiga puluh dua ribu rupiah, Han."
Pak Amat merogoh kantong celananya dan menyerahkan beberapa lembar uang kertas yang lecek kepada Burhan. Burhan menerima uang itu dengan tangan bergetar, lalu menghitungnya perlahan.
"Terima kasih banyak, Pak Amat," ucap Burhan tulus.
Pak Amat menepuk bahu Burhan yang terasa tegang dan keras. "Han, kamu itu manusia, bukan mesin. Kelihatan sekali matamu sudah merah begitu. Jangan sampai kamu tumbang, kasihan istrimu di rumah."
"Iya, Pak. Ini juga demi Nisa... kasihan dia dikatai terus sama yang punya kontrakan," jawab Burhan lirih sebelum kembali menaiki sepedanya.
Pukul sebelas malam, Burhan baru tiba di depan rumah sewa. Dari celah jendela kayu yang renggang, ia melihat lampu tembus redup menandakan Anisa belum tidur. Begitu pintu berderit terbuka, Anisa langsung berdiri dari lincak kayu dengan mata membelalak panik.
"Masya Allah, Kang Burhan!" jerit Anisa pelan, bergegas menghampiri suaminya. "Kang Burhan dari mana saja jam segini baru pulang? Saya cemas sekali menunggu dari tadi..."
"Maaf ya, Dinda... Akang pulangnya kemalaman," kata Burhan seraya menyandarkan tubuhnya ke dinding papan. Napasnya terdengar berat.
Anisa menyentuh lengan suaminya dan mendapati baju Burhan basah kuyu oleh keringat malam yang dingin. "Kang... kok bajumu basah begini? Tanganmu juga kotor sekali..."
Anisa menatap wajah Burhan yang pucat dan kantung matanya yang menghitam. Seketika menyadari sesuatu, air mata Anisa menetes. "Kang Burhan... jangan bilang kalau setelah dari proyek, Akang pergi cari barang bekas lagi?"
Burhan tertunduk, tak sanggup menatap mata istrinya yang berkaca-kaca. Dari saku fisiknya, ia mengeluarkan tumpukan uang lecek hasil keringatnya malam itu dan menyodorkannya pada Anisa.
"Ini, Nis... tambahkan untuk uang kontrakan," bisik Burhan dengan suara bergetar. "Tadi pagi Bu Salma menagihmu lagi, kan? Akang dengar dari tetangga sebelah. Maafkan Akang, Nis... Akang tidak mau kamu ditunjuk-tunjuk dan dihina terus sama Bu Salma."
Dada Anisa rasanya dihantam batu besar. Rasa bersalah melingkupi seluruh jiwanya. Ia membendung tangisnya agar tidak terdengar ke luar kamar, lalu menggenggam erat tangan Burhan yang penuh kapalan.
"Kang... Ya Allah..." tangis Anisa pecah dalam bisikan. "Kenapa Akang sampai menyiksa diri seperti ini? Nisa tidak apa-apa dimaki Bu Salma! Nisa kuat, Kang! Tapi kalau Akang sakit bagaimana?"
"Akang sehat, Dinda. Akang masih kuat," sahut Burhan berusaha tersenyum, meski lututnya terasa gemetar hebat. "Seorang suami tidak boleh biarkan istrinya menangis karena dihina orang. Biar Akang yang banting tulang, asal kamu aman di rumah ini."
"Tapi tidak begini caranya, Kang..." Anisa mengusap air mata di pipi Burhan dengan ujung daster tipisnya. "Kesehatanmu jauh lebih berharga daripada uang sewa rumah ini. Kalau uangnya belum cukup, biarlah Nisa ikut kerja besok. Nisa bisa cuci baju tetangga!"
"Jangan!" potong Burhan tegas, menatap Nisa dalam-dalam. "Selagi Akang masih bernapas dan punya dua tangan, Akang yang tanggung jawab beri makan dan tempat tinggal untuk kamu. Kamu cukup berdoa di rumah, Nis
Anisa tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia memeluk erat tubuh suaminya yang bau keringat dan debu jalanan.
Di dalam pelukan yang dingin itu, Anisa bersumpah akan selalu berdiri di samping Burhan, menjaga kehormatan suaminya yang begitu tulus berjuang menembus pekatnya kemiskinan demi membentenginya dari kejamnya dunia.