NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Rahasia di Balik Selimut

Malam itu.

Dimas merangkul pinggangku, menariknya perlahan ke dalam pelukan yang erat. Aku menyandarkan kepala ke dada Diams, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup makin cepat.

"Mas, aku mau meyakinkan mu kalau aku sayang kamu," bisikku di leher Dimas, merasakan kehangatan napas pria itu menerpa kulitnya. "Malam ini hanya milik kita."

"Hanya milik kita," ulang Dimas rendah, menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut panjangku.

Dimas menunduk, menatap bibirku yang sedikit terbuka. Di bawah pendar cahaya lampu yang redup, batasan antara benarnya tanggung jawab sosial dan gairah yang terlarang bertabrakan secara hebat. Namun ketika bibir mereka akhirnya bertemu dalam satu sentuhan yang dalam dan penuh kehangatan.

Setiap detik yang mengalir setelahnya terasa begitu melambat. Di balik pintu unit apartment yang tertutup rapat dan terisolasi dari riuk pikuk dunia luar, dua manusia dengan jarak usia yang tidak jauh itu memilih menyerah pada rasa yang mereka ciptakan sendiri. Sebuah rasa tersembunyi yang terus bergulir di balik kegelapan malam, menyimpan rahasia besar yang siap menanti konsekuensinya di kemudian hari.

Dimas merebahkan tubuhku di atas meja makan di sebuah apartemen, aku hanya mengenakan kaos putih, sehingga tampak jelas, bagian pada gunung kembarku.

Dimas bagaikan hewan buas, dia langsung meraup dengan kedua tangannya pada gunung kembarku, bibirnya terus mel*umat habis bibirku.

Tangannya seraya menurunkan celananya, Dimas kemudian menuntunku, yang tidak berpengalaman untuk memasukkan Mr. P ke dalam mulutku,aku seperti seorang ahlu, dan hanya membayangkan itu adalah es cream aku tidak tahu kenapa aku sangat lihai, lidahku menjilat-jilat seperti menjilat es cream rasa strawberry.

"Aah ... Rasanya enak." 

Aku terus melanjutkan aksi menjilat es cream, karena sudah tidak tahan lagi, Dimas menarikku sehingga dia menempatkan posisi seperti dog*y style.

"Mas, juga akan lakukan yang sama," ucap Dimas yang posisi jongkok dan aku hanya diam karena memang aku tidak pernah melakukan itu bahkan menonton filmnya saja cuman sekali itu juga karena penasaran.

Tanpa aba-aba Dimas langsung memalingkan badanku, merebahkannya diatas meja.

Bulu halus yang menghiasi area sensitifku sangat menggoda Dimata Dimas , dengan lahap Dimas  langsung menciumnya bahkan memasukan lidahnya di area sensitifku.

"Aah .... " Desahanku di barengi dengan tubuh yang  bergelinjang hebat,  tidak lama ada cairan sedikit asin yang di rasa Dimas. Dia melirik kepadaku yang dimana tubuhku bergetar karena klimaks.

Dimas langsung memasukan Mr. P ke dalam area sensitifku, sedikit sakit dan perih, membuatku terus bergetar kenikmatan ini yang sangat Dimas sukai, melihat pasangannya Klimaks*d

"Aaah .... Uuhhh .... Punya Mas Besar, aku rasa sakit tapi aku suka," desahku yang kedua tanganku mengalung di leher Dimas.

"AAH, MAS SUDAH MAU KELUAR SAYANG, PUNYA KAMU ENAK BANGET SE-MPIT DAN MASIH PERAWAN .... " 

Desah Dimas yang terus menghentak pinggulnya maju mundur. 

"Keluarkan Mas, aaahhh, uuhhh enak sekali Mas, Aku, aku juga mau keluar lagi ...." 

Desahanku yang kemudian membuat Dimas kembali bersemangat. 

*

*

Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai tipis di kamar utama apartemenku, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas seprai putih. Ketika mataku perlahan terbuka, aroma khas woody-citrus yang menenangkan berpadu dengan kehangatan tubuh seseorang di sampingku seketika menyergap kesadaranku.

Aku menahan napas pelan. Di sana, di atas ranjang yang sama, Dimas masih terlelap tenang.

Ternyata... pertahananku runtuh juga malam tadi.

Aku memandangi langit-langit kamar sejenak, meresapi setiap sensasi keheningan pagi yang menyelimuti kami. Anehnya, tidak ada rasa sesal yang merayap di dadaku. Keputusanku semalam bukan semata-mata karena aku tahu sebentar lagi aku bakal dinikahi oleh Dimas, tapi mungkin dengan begini aku tidak akan pernah merasa penasaran lagi. Aku telah menyerahkan hatiku dan tubuhku sepenuhnya kepada pria yang tepat—pria yang telah meruntuhkan egonya demi menghargaiku.

Sekarang, cara pandangku tentang masa depan dan pernikahan benar-benar telah berubah. Aku tidak lagi sibuk mencari sosok calon suami yang sempurna tanpa cela.

Menikahlah dengan pria yang berjiwa pencari nafkah. Tidak harus kaya raya, tapi harus bertanggung jawab. Pria yang memastikan kebutuhanmu terpenuhi tanpa perlu kamu meminta atau harus mengingatkannya berulang kali.

Prinsip itu terpatri begitu kuat di dalam benakku. Semandiri-mandirinya aku sebagai seorang wanita karier yang sanggup berdiri di atas kakiku sendiri, pada akhirnya aku tetap memilih laki-laki yang berjiwa provider. Laki-laki yang tidak banyak omong tapi banyak aksi, yang tidak sekadar mengumbar janji tapi menunjukkan lewat banyak tindakan nyata. Laki-laki yang tahu betul bahwa aku bisa melakukan segalanya sendiri, tapi dia tidak pernah membiarkanku merasa sendiri. Laki-laki yang tahu aku punya uang dan penghasilan sendiri, tapi tetap loyal dan royal untuk memenuhi kebutuhan hidupku.

Dan sosok itu ada di hadapanku saat ini.

Aku memiringkan tubuhku, menyanggah kepalaku dengan satu tangan untuk memandangi wajah Dimas yang masih terlelap. Di bawah temaram cahaya pagi, ketampanannya terasa begitu manusiawi. Wajah yang biasanya selalu tampak tegas, dominan, dan kaku saat memimpin rapat korporasi itu kini terlihat begitu damai dan polos.

Bulu matanya yang panjang dan lentik menjadi perhatian utamaku. Jemari tanganku terangkat perlahan di udara, merasa gemas ingin menyentuhnya namun menahannya agar tidak membangunkan lelapnya.

Saat pandanganku turun ke bahunya yang kokoh dan tertutup separuh selimut tebal, mataku membelalak pelan.

Tato.

Aku tidak pernah menyangka bahwa seorang Dimas Arjowibowo—CEO bereputasi tinggi yang selalu tampil dengan kemeja formal dan jas yang terkancing rapi—memiliki sebuah tato di bagian lengan atas sebelah kirinya. Tinta hitam itu terukir halus di atas kulitnya yang bersih, membentuk garis-garis presisi bermotif rasi bintang Scorpio, rasi bintang kelahirannya.

Tato itu memberi kesan liar, misterius, sekaligus memikat—sebuah sisi tersembunyi dari Dimas yang mungkin tidak pernah diketahui oleh dunia luar, dan kini hanya menjadi rahasiaku seorang.

Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar pelan di dalam dada.

Perlahan dan sangat hati-hati, aku menggeser selimut tebal, menyibaknya pelan agar tidak menimbulkan pergerakan yang bisa mengusik tidurnya. Aku mengenakan gaun tidur katun longgarku, merapikan rambutku yang terurai, lalu melangkah keluar kamar menuju area dapur bersih.

Perutku terasa lapar, dan aku yakin Dimas pun akan membutuhkan energi saat terbangun nanti. Aku berniat membuatkannya sarapan sebagai bentuk perhatian pertamaku pagi ini.

Namun, begitu berdiri di depan kompor listrik dan deretan lemari dapur, aku menghela napas panjang sambil menepuk dahiku sendiri.

Aku tidak pandai memasak. Kemampuanku di dapur sangat terbatas karena selama di Jogja dan di Jakarta, waktuku hampir seluruhnya tersita oleh urusan berkas desainer dan strategi pemasaran. Mengolah bumbu-bumbu rumit adalah bencana besar bagiku.

"Dapur minimalis, tapi koki amatir," gumamku terkekeh pelan pada diri sendiri.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menyajikan menu paling aman yang bisa kubuat: roti bakar mentega dengan selai keju, serta omelette telur sederhana yang kuberi irisan daun bawang dan sedikit lada hitam.

Suara desisan mentega yang meleleh di atas wajan dan aroma wangi roti yang dipanggang mengisi keheningan unit apartemenku. Aku membalik omelette dengan sangat hati-hati, menatanya anggun di atas piring porselen putih bersama dua tangkup roti bakar yang renyah.

"Aromanya harum sekali..."

Sebuah suara bariton yang berat dan parau khas bangun tidur mendadak menyapa tepat di belakang leherku.

Sebelum aku sempat memutar tubuh, sepasang lengan yang kokoh dan hangat merengkuh pinggangku dari belakang. Dimas menyandarkan dagunya di bahuku, memelukku rapat ke dadanya. Pria itu hanya mengenakan celana santai panjang, membiarkan dada bidang dan lengan kirinya yang bertato terekspos sepenuhnya menempel di punggungku.

Jantungku berdesir hebat, rona merah seketika membakar kedua pipiku.

"Mas Dimas... sudah bangun?" bisikku malu-malu, mengusap tangannya yang melingkar rapat di perutku.

Dimas menghembuskan napas hangat di leherku, mendaratkan sebuah kecupan lembut yang lama di pelipisku. "Bagaimana bisa saya tidur nyenyak kalau calon istri saya menyelinap keluar kamar pagi-pagi begini?"

Aku terkekeh tipis, mematikan kompor listrik lalu berbalik di dalam pelukannya. Aku kini menghadapnya sepenuhnya, mendongak menatap manik mata hitamnya yang berbinar hangat dan sarat akan kasih sayang.

"Aku cuma mau menyiapkan sarapan untuk Mas," kataku sambil menyunggingkan senyum polos. "Tapi... maaf ya, Mas. Aku tidak tahu cara memasak makanan berat. Aku cuma bisa menyiapkan roti bakar sama omelette sederhana ini."

Dimas memandangi piring sarapan di atas meja dapur, lalu kembali menatapku dengan pandangan yang begitu dalam dan lembut. Pria jangkung itu tersenyum manis—sebuah senyuman lepas tanpa beban yang jarang sekali ia perlihatkan di depan orang lain.

"Mei..." panggil Dimas pelan, jemarinya yang tegap merapikan helai rambut yang menutupi pipiku.

"Ya, Mas?"

"Tugasmu bukan untuk berdiri di depan kompor dan memasak bumbu rumit setiap hari," tutur Dimas dengan suara baritonnya yang mantap. "Tugasmu adalah bahagia di samping saya. Untuk urusan makanan, rumah tangga kita nanti punya koki dan asisten. Kalau kamu bisa buatkan roti bakar sederhana seperti ini saja, buat saya ini sudah jadi sarapan terbaik di dunia."

Kata-katanya yang tulus seketika meluluhkan setiap sudut hatiku. Kesadaran akan sosok laki-laki berjiwa provider yang sesungguhnya kembali terbukti lewat ucapannya. Pria ini tidak menuntutku untuk menjadi sosok sempurna versi patriarki lama; dia hadir untuk melengkapi dan memuliakanku.

Tanganku terangkat pelan, menyentuh lengan kiri Dimas, mengusap garis-garis halus tato rasi bintang di kulitnya.

"Tato rasi bintang Scorpio ini..." bisikku penasaran, mendongak menatap matanya. "Aku baru tahu Mas punya tato sekeren ini. Kenapa disembunyikan di balik kemeja?"

Dimas terkekeh rendah, mengusap punggung tanganku. "Saya buat ini waktu menyelesaikan studi S2 di Amerika dulu. Pengingat tentang identitas dan kontrol diri. Di dunia bisnis, tato ini tertutup jas rapat-rapat... tapi di depanmu, tidak ada lagi yang perlu saya sembunyikan, Mei. Seluruh hidup dan rahasia saya adalah milikmu."

Airmata haru hampir saja menetes di sudut mataku mendengar penegasannya yang begitu pasrah dan penuh penyerahan diri.

Dimas melepaskan pelukannya pelan, merangkul bahuku dan menuntunku menuju meja makan kecil. Pria itu menarikkan kursi untukku terlebih dahulu, memperlakukanku seperti seorang ratu sebelum ia duduk di depanku.

Dimas meraih sepotong roti bakar buatanku, menggigitnya, lalu mengunyahnya dengan raut wajah yang sangat menikmati.

"Bagaimana rasanya, Mas?" tanyaku cemas.

"Sempurna," jawab Dimas mantap tanpa ragu, menatapku lurus-lurus. "Roti bakarnya renyah, dan omelette-nya pas sekali. Terima kasih ya, Sayang."

Panggilan Sayang yang keluar secara alami dan dalam dari bibirnya seketika membuat dada dan dadaku bergemuruh oleh rasa bahagia yang luar biasa.

Di balik jendela kaca besar apartemen Kuningan, matahari pagi kian tinggi memancarkan sinarnya yang terang. Di hadapan meja makan sederhana itu, di antara piring sarapan dan tatapan mata seorang pria yang siap menafkahi dan melindungiku seumur hidupnya, aku tahu satu hal pasti: perjalananku mencari cinta telah usai, dan aku telah sampai di pelabuhan terbaik yang dihadirkan Takdir untukku.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!