Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
“Lorenzo!” teriakan Alina membuat Lorenzo langsung menoleh ke depan.
Sebuah truk besar melaju dari arah kanan. Jaraknya sudah terlalu dekat. Dalam hitungan detik, mereka bisa menghantam bagian samping truk itu.
Wajah Lorenzo langsung berubah. “Alina, minggir!”
“Aku tidak tahu caranya!”
“Lepaskan kakimu dari pedal!”
Alina refleks mengangkat kedua kakinya dari pedal. Justru karena itu, mobil mereka terus meluncur tanpa kendali.
“Aku ambil alih!”
Lorenzo segera membuka sabuk pengamannya. Dalam satu gerakan cepat, ia meraih kemudi dari tangan Alina dan menginjak pedal rem. Tubuhnya sedikit condong ke depan ketika ia memutar setir dengan kuat.
Suara klakson truk menggelegar di belakang mereka. Alina menjerit sambil memejamkan mata.
“Aaaaaaa!”
Lorenzo juga mengertakkan gigi sambil berusaha mengendalikan mobil.
“Pegangan yang kuat!” Lorenzo langsung meraih kemudi dari tangan Alina.
“Lorenzo!”
“Jangan gerak!”
Tangan pria itu memutar setir dengan cepat. Mobil mereka bergeser tajam ke kiri, lalu melaju kencang melewati sisi truk. Suara klakson panjang menggema di belakang mereka.
Alina menjerit sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Sementara Lorenzo menginjak pedal gas, lalu segera mengendalikan mobil agar tetap berada di jalurnya. Untungnya, jalan di samping truk sedang kosong. Tidak ada kendaraan lain yang melaju dari arah berlawanan.
Beberapa detik terasa seperti berlangsung sangat lama. Barulah setelah berhasil melewati truk, Lorenzo mengurangi kecepatan. Mobil melaju beberapa meter sebelum akhirnya berhenti di pinggir jalan.
Mesin masih menyala. Namun, tidak satu pun dari mereka langsung berbicara.
Alina masih menutup mulut dengan telapak tangannya. Napasnya pendek-pendek. Wajahnya pucat, sedangkan kedua matanya berkaca-kaca.
Lorenzo memegang kemudi erat-erat. Dada pria itu naik turun. Ia baru menyadari telapak tangannya berkeringat.
“Ya Tuhan ...,” bisik Alina. Dia menatap ke belakang melalui kaca mobil, memastikan truk tadi benar-benar sudah jauh.
“Aduh ....” Ia mengusap dadanya. “Selamat ... kita selamat.”
Lorenzo menoleh sekilas. Dia lalu bersandar ke kursi dan kepalanya mendongak, sementara matanya terpejam. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Baru sekarang tubuhnya merasakan ketegangan yang sejak tadi tertahan.
“Nyaris saja,” gumam Lorenzo.
Alina menoleh.
“Aku kira kita benar-benar akan pindah alam. Tadi seakan malaikat pencabut nyawa sudah berdiri di depan mataku.” Lorenzo membuka mata dan menatapnya.
“Jangan bicara begitu,” balas Alina pelan.
“Kamu tahu siapa yang membuat kita hampir pindah alam?”
Alina langsung terdiam. Matanya bergerak ke arah Lorenzo. Kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan jari.
“Aku?”
Lorenzo menatapnya tanpa berkedip.
“Siapa lagi?”
“Maaf.” Alina menundukkan kepalanya.
Lorenzo mengusap wajahnya. Ia sungguh ingin marah. Namun, ketika melihat wajah Alina yang masih pucat dan kedua tangannya yang masih gemetar, amarahnya perlahan mereda. Bagaimanapun juga, wanita itu bukan sengaja ingin membahayakan mereka. Alina memang benar-benar tidak bisa menyetir dengan baik.
Lorenzo menghela napas lagi. “Sudahlah.”
“Aku benar-benar minta maaf,” kata Alina merasa bersalah.
“Jangan menyetir lagi,” ucap Lorenzo dengan nada lembut.
Alina mengangguk cepat. “Setuju.”
Alina menunduk. Tangannya masih gemetar. “Aku benar-benar takut.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak ada nada bercanda.
Lorenzo memandangnya beberapa saat. Kemudian tangannya bergerak perlahan dan menepuk punggung tangan Alina yang berada di atas paha.
Alina menoleh.
“Kita tidak apa-apa.”
Alina mengangguk kecil. “Iya.” Beberapa detik kemudian, ia menarik napas panjang. “Maaf.”
Lorenzo mengerutkan kening. “Jangan dipikirkan sekarang.”
“Tapi kalau kamu tidak cepat mengambil kemudi ....”
Alina tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika Lorenzo terlambat mengambil alih.
Lorenzo juga tidak ingin membayangkannya. “Sudah,” katanya sekali lagi. “Yang penting kita selamat.”
Alina mengangguk. “Terima kasih.”
Lorenzo menatapnya sekilas. Ia kemudian menjalankan mobil lagi dengan kecepatan rendah. Tidak ada percakapan selama beberapa menit. Alina duduk sambil menatap keluar jendela. Sesekali ia mengembuskan napas panjang.
Baru ketika melihat lampu sebuah restoran di pinggir jalan, Lorenzo membelokkan mobil. “Kita makan di sini.”
Lorenzo mematikan mesin. “Aku masih tidak tenang.”
Alina memperhatikannya.
Lorenzo membuka sabuk pengaman. “Dan aku tidak mood memasak.”
Alina mengangguk. “Baik.”
Mereka turun dari mobil. Namun, baru saja kaki Alina menyentuh tanah, lututnya langsung melemas. Tubuhnya hampir jatuh.
“Eh!”
Lorenzo buru-buru menangkap lengannya. “Kenapa?”
Alina memegang bahu Lorenzo. “Kakiku.”
Lorenzo mengernyit. “Kenapa dengan kakimu?”
“Kedua kakiku lemas.” Alina mencoba berdiri lagi. Namun baru satu langkah, tubuhnya kembali goyah.
Alina langsung memegang Lorenzo lebih erat. “Lorenzo, tolong aku! Aku kayaknya tidak bisa jalan. Kaki aku rasanya tidak ada tenaga.”
Lorenzo melihat kedua kaki Alina yang sedikit bergetar.
aduh Gustiiiii,,,adegan nya 21+ mulu niih mentang2 Lorenzo ama Alina udh bestiean /Facepalm/
bikin hareudang mulu ka Santiii...😂