Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Suara bentakan Dominic membelah heningnya taman belakang mansion Ashford. Udara pagi yang semula dipenuhi aroma manis Mawar Putih mendadak terasa mencekam, beracun, dan membekukan seluruh sel darah yang mengalir di dalam tubuh orang-orang yang hadir.
Parrie Ashford berdiri terpaku dengan bibir bergetar hebat.
Matanya berkaca-kaca menatap putra ketiganya yang kini berdiri dengan dada membusung, terengah-engah menahan badai emosi.
Dari ketiga putra kembarnya, Parrie sangat tahu betul bahwa Dominic adalah sosok yang paling tenang, paling bijaksana, dan selalu menjadi penenang utama di saat situasi keluarga memanas.
Pria 32 tahun itu selalu tahu cara meredam emosi saudara-saudaranya dan memenangkan hati semua orang dengan senyuman hangatnya.
Parrie bahkan tak pernah absen membanggakan Dominic di hadapan Teman-temannya sebagai putranya yang paling dewasa, penuh kesabaran, dan berhati lembut.
Namun melihat nyala amarah yang begitu liar dan gelombang kekecewaan yang teramat dalam di mata Dominic hari ini, hati Parrie serasa diiris pisau tumpul hingga hancur berkeping-keping.
"Dominic... sayang... dengarkan Mommy dulu..." bisik Parrie dengan suara tercekat, mencoba melangkah mendekat namun langkahnya tertahan oleh hawa dingin yang menguar dari tubuh putranya.
Kaetos Ashford, sang suami, dari awal memang tidak pernah menyetujui ide gila ini.
Pria paruh baya itu berdiri di samping Parrie dengan wajah mengeras, menghela napas berat seraya memegang lengan istrinya.
Rencana pernikahan mendadak tanpa memberi tahu Dominic sama sekali tentu tidak akan pernah disenangi oleh putra mereka.
Dominic adalah satu-satunya putra mereka yang belum memiliki keluarga, dan Kaetos tahu betul betapa berharganya harga diri serta kehormatan seorang pria dewasa.
"Sudah kubilang padamu sejak awal, Parrie," gumam Kaetos dingin, suaranya sarat akan kekecewaan pada keputusan impulsif istrinya. "Kau tidak bisa mempermainkan harga diri putra kita seperti ini."
Sebenarnya, Parrie tidak bisa tidur nyenyak setiap malam hanya karena memikirkan kebahagiaan Dominic.
Pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya: Apakah putranya benar-benar bahagia? Ataukah ia hanya memaksakan diri? Dan kemarin, ketika melihat Dominic begitu antusias dan bersemangat menyewa serta merenovasi dekorasi restoran mewah hanya demi acara lamarannya yang kesekian kali, Parrie merasa hatinya teriris.
Ketika mendengar penolakan Florence yang ke-6 semalam, Parrie merasa tidak sanggup lagi melihat putranya kembali hancur.
Rasa kasihan dan keputusasaan seorang ibu membuatnya merendahkan dirinya sendiri—ia mendatangi Florence Nightingale Berres secara pribadi, meneteskan air mata, dan memohon agar wanita itu mau menghentikan kebiasaan dinginnya dan menerima lamaran putranya.
Parrie sangat mengkhawatirkan Dominic.
Apakah putranya normal? Kenapa ia begitu gigih mempertahankan wanita dingin dan kaku seperti Florence selama sepuluh tahun penuh tanpa pernah ada kepastian atau kehangatan?
Semua pertanyaan dan rasa cemas yang menghimpit dada itu menumpuk di kepala Parrie, hingga ia nekat merancang kejutan pernikahan gila ini bersama Florence tanpa memikirkan akibatnya.
Sementara itu, Dominic berdiri tegap dengan dahi berurat, rahang terkunci rapat, dan dada yang naik turun menahan gumpalan rasa sakit yang siap meledak menjadi kebinasaan.
"Aku bahkan rela tidak menikah sama sekali, Mom!" teriak Dominic dengan suara parau yang membahana, memecah kesunyian taman dan membungkam seluruh bibir para tamu undangan.
"Aku tidak mau memaksa siapapun lagi dalam hidupku! Kalau dia memang tidak mau menikah denganku, aku tidak akan pernah merendahkan diriku lagi di hadapannya seperti anjing kelaparan!"
"Dominic! Jaga bicaramu di depan seluruh keluarga!" tegur Penny, kakak perempuannya, dengan wajah memerah.
Namun Dominic tidak peduli. Ia mengalihkan pandangannya yang tajam dan memerah ke arah Huxley—suami dari Penny sekaligus paman kandung dari Florence.
"Demi Tuhan, Hux!" seru Dominic menatap paman Florence itu lurus-lurus tanpa rasa ragu.
"Aku tidak akan lagi memaksa keponakanmu! Semalam di restoran, dengan mulutnya sendiri dia dengan jelas membebaskanku untuk bersama wanita mana saja yang kuinginkan! Dan hari ini, di depan kalian semua yang menyaksikan kejutan murahan ini, aku juga membebaskannya!"
Deg.
Seluruh tamu undangan menahan napas serentak.
Udara mendadak tersedot habis.
Florence yang Berdiri dengan gaun pengantin mewahnya seketika membeku total.
Matanya yang jernih menyalang lebar, menatap Dominic dengan tatapan tak percaya dan keputusasaan yang mendadak muncul.
"Apa yang kau katakan, sialan?!" berteriak Florence, suaranya melengking tinggi dan pecah, menembus seluruh sudut taman. "Kau membebaskanku dari apa, hah?! Jawab aku, Dominic! Dari apa?!"
Dominic memutar tubuhnya, menatap Florence dengan mata dingin tanpa pendar—tanpa ada sisa kehangatan, pemujaan, atau cinta yang dulu selalu ia berikan dengan tulus selama sepuluh tahun terakhir.
"Dari hubungan kita, Florence," jawab Dominic pelan namun penuh penekanan yang mutlak. "Kita selesai. Sepenuhnya selesai."
Kata 'selesai' itu menghantam Florence seperti pukulan godam yang meremukkan dadanya.
Seluruh persendiannya serasa meloloskan diri.
Florence Nightingale Berres tidak pernah ditolak sepanjang hidupnya. Dialah yang selalu mengatur, dialah yang selalu memegang kendali penuh, dan dialah yang menentukan kapan hubungan ini bergerak atau berhenti.
Melihat Dominic berpaling, menatapnya dengan tatapan jijik, dan memutuskannya secara sepihak di depan seluruh keluarga besar Ashford membuat harga diri Florence yang setinggi langit runtuh seketika menjadi debu.
Napas Florence memburu hebat, dadanya naik turun dengan liar. Kegilaan dan ketakutan akan kehilangan kendali mendadak meletup di dalam dirinya—sebuah sifat nekat yang selalu muncul setiap kali ada hal di dalam hidupnya yang berjalan di luar skenario yang ia susun.
"Tidak... Ini tidak bisa berakhir seperti ini! Kau milikku, Dominic!" jerit Florence histeris.
Dengan gerakan kilat dan tak terduga, Florence berbalik menuju meja konsol dekorasi di samping panggung.
Jemarinya yang gemetar merampas sebuah pisau buah kecil berbahan baja mengilat yang terletak di samping piring porselen.
"Florence, jangan!" jerit Parrie histeris saat melihat kilatan baja tajam di genggaman jemari calon menantunya.
"Kau pikir kau bisa mencampakkanku begitu saja setelah sepuluh tahun, Dominic Qiel Ashford?!" teriak Florence dengan mata melotot penuh emosi yang membakar seluruh kewarasannya. "Kau tidak bisa membuangku!"
Di saat kerusuhan, jeritan kepanikan, dan langkah kaki orang-orang mulai membuncah tak terkendali di tengah pesta, Dominic justru menyipitkan matanya.
Secara refleks, kepalanya menoleh menjauhi panggung.
Pandangan matanya menyusuri rimbunan pohon hydrangea di sudut taman yang remang, menatap jauh ke arah Ester Alba.
Gadis berusia 22 tahun itu masih berdiri di sana, memeluk tubuhnya sendiri dalam balutan gaun krem tertutup rapat, mengamati segalanya dalam diam dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Entah perasaan apa yang mendadak merayap dan membakar bagian terdalam di dada Dominic saat menatap manik mata cokelat Ester yang tenang di tengah kekacauan ini.
Apakah ini sekadar rasa tanggung jawab atas penyatuan gila, panas, dan brutal yang baru saja mereka lewati sepanjang malam hingga fajar tadi?
Ataukah ada hal lain yang jauh lebih besar yang mulai bergeser di dalam poros hatinya?
Untuk pertama kalinya dalam 32 tahun hidupnya, Dominic merasa sangat gelisah—sebuah gelisah yang asing dan liar, campur aduk antara rasa bersalah atas noda yang ia berikan pada Ester, hasrat memiliki yang mendadak berubah menjadi sifat protektif yang amat tinggi, dan keinginan impulsif untuk menarik gadis itu pergi, menyembunyikannya dari kebiasaan gila dan drama berdarah dunia elit keluarganya.
Perasaan apa ini...? Kenapa bayangan rintihan dan kepasrahan gadis itu terus berputar di kepalaku di saat Florence ingin mati di depanku...? batin Dominic menjerit bingung.
Sreeekkk!
Suara robekan tajam yang beradu dengan daging dan jeritan histeris membuyarkan lamunan Dominic seketika.
"Arghhh!"
Darah segar berwarna merah pekat mendadak menciprat deras ke udara, melukiskan noda kejam pada kain renda putih gaun pengantin mewah yang dikenakan Florence.
Tanpa sedikit pun rasa ragu atau kegentaran, Florence menyayat pergelangan tangan kirinya sendiri dengan pisau buah di tangan kanannya.
Robekan dalam itu menganga lebar, membiarkan cairan hangat yang amis mengalir deras seperti air terjun kecil, menetes dan membasahi ribuan kelopak mawar putih yang terhampar indah di bawah kakinya.
Panggung yang semula menjadi simbol kesucian pernikahan mendadak berubah menjadi pembantaian yang mengerikan.
"Florence!" jerit Huxley dan Penny bersamaan dengan wajah pucat pasi.
Mereka berdua melompati anak tangga panggung, berlari cepat untuk menahan tubuh Florence yang mulai limbung dan oleng.
"Panggil ambulans! Cepat panggil ambulans!" teriak Parrie histeris, tubuhnya ambruk berlutut di tanah, gemetar hebat menyaksikan darah yang terus mengucur membasahi gaun pengantin itu.
Jeritan tamu wanita menggema di seluruh area taman.
Orang-orang berlarian saling bertabrakan, gelas-gelas kristal berisi sampanye pecah berantakan di atas lantai batu, dan meja-meja dekorasi bertabur bunga roboh dihantam kepanikan massa.
Kehormatan, kemewahan, dan nama besar keluarga Ashford hancur tak berbekas dalam hitungan detik.
Pesta ulang tahun yang seharusnya berlangsung meriah, hangat, dan penuh keceriaan itu kini benar-benar hancur berantakan menjadi babak belur—berubah menjadi tontonan murahan, tragedi berdarah, dan skandal memalukan yang akan membayangi keluarga besar Ashford.
Di tengah jeritan histeris, kepulan darah, dan kepanikan yang membakar taman, Dominic berdiri membeku.
Ia tidak berlari menuju Florence.
Matanya hanya menatap dingin pada noda merah yang meluas di atas gaun pengantin itu, sebelum akhirnya ia berbalik sepenuhnya, memunggungi wanita yang pernah dipujanya, dan melangkah lurus menuju sudut taman di mana Ester Alba sedang menunggunya.
...----------------...
Semoga Suka Ceirita ini 🫶🏻 Jangan lupa tinggalkan Jejak komentarnya kak 🙏🏻
sudah jelas Dominic akan melindungi tp kayak gak percaya.
deg-degan nunggu up selanjutnya Thor
jangan naruh bawang banyak2 Thor 😭😭😭😭
makasih sudah up Thor 🙏