NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - PEMBAGIAN PERAN

Uap panas dari cangkir-cangkir seng berisi kopi hitam racikan Onad perlahan menipis di udara ruang kantor bengkel. Suasana santai yang tadinya diwarnai tawa dan gurauan ringan perlahan melandai, berganti menjadi hening yang lebih tenang dan teratur. Di atas meja kerja kayu yang berdebu tipis, lima pasang tangan beristirahat di dekat cangkir masing-masing, menikmati sisa-sisa kehangatan yang amat langka di tengah kiamat.

Luna berdiri dari sandaran jendela kantor. Mantan taruna itu melangkah perlahan menuju ujung meja kerja, memosisikan tubuh tegapnya di pusat ruangan. Aura kepemimpinan yang dingin, fokus, dan penuh kedisiplinan seketika memancar kuat dari gestur tubuhnya, menarik perhatian Steve, Nancy, Endru, dan Onad secara serentak.

"Kopi dan istirahatnya cukup," kata Luna seraya menatap empat pasang mata di hadapannya satu per satu.

Steve menegakkan posisi duduknya di atas sofa kulit tua, memajukan tubuh tegapnya seraya menyandarkan kedua lengannya di atas paha. Nancy membetulkan kacamata tebalnya dan siap menyimak, sementara Endru serta Onad memasang raut wajah serius.

"Kita berhasil lolos dari kepungan Apotek Sentral dan menemukan markas sementara ini," lanjut Luna dengan vokal yang jernih dan terukur.

"Tapi keberuntungan tidak bakal selalu memihak kita kalau kita bergerak tanpa struktur yang jelas. Di luar sana, Kota Mati ini penuh dengan ancaman zombie Cordyceps dan kemungkinan kelompok penyintas asing yang tidak ramah," paparnya memberikan analisis situasi yang membumi.

Steve mengangguk setuju, raut wajahnya yang tegas memperlihatkan kesiapan penuh. "Benar kata Luna. Kita berlima sudah resmi jadi satu tim sekarang. Kalau tidak ada aturan dan pembagian tugas yang pasti, dalam situasi panik kita bisa saling bertabrakan."

Luna memanjangkan pandangannya, menatap lurus ke arah seluruh rekannya.

"Dalam situasi krisis atau pertempuran, satu komando adalah garis pemisah antara hidup dan mati," tegas Luna seraya membusungkan dadanya kencang.

"Aku yang akan memegang komando taktis dan kepemimpinan utama kelompok ini. Setiap keputusan penyerangan, pelarian, dan arah pergerakan tim berada di bawah keputusanku. Apakah ada yang keberatan?" tanya Luna memberi ruang demokrasi yang adil.

"Sama sekali tidak ada keberatan, Komandan," sahut Steve cepat seraya menyunggingkan senyum jujurnya.

"Aku sudah melihat ketenangan dan naluri taktis milikmu sejak di gedung parkir dan apotek tadi, Luna. Aku percaya penuh pada setiap keputusanmu," tambah Steve mantap tanpa ragu sedikit pun.

Nancy tersenyum tulus seraya mengangguk pelan dari balik kacamatanya. "Aku setuju. Kemampuan analisis situasi dan ketegasanmu sangat kita butuhkan, Luna."

Onad mengibaskan telapak tangannya yang dilapisi sarung tangan kain merah ke udara seraya mengedipkan sebelah matanya centil. "Aduh, Eke sih manut pisan sama Mbak Jenderal Cantik! Asal tidak disuruh narik truk pakai gigi aja, Eke siap ikuti perintah!"

Endru yang duduk di samping Nancy mengangguk pelan seraya membetulkan posisi kacamatanya. "Aku juga percaya padamu, Luna."

Luna mengangguk halus, mengapresiasi kepercayaan penuh yang diberikan seluruh anggotanya. Rasa hormat dan chemistry yang tumbuh secara organik di antara mereka menjadi fondasi paling kokoh bagi kelompok ini.

"Terima kasih atas kepercayaan kalian," tutur Luna dengan nada yang melunak hangat.

"Sekarang, kita bagi peran spesifik sesuai dengan keahlian utama masing-masing. Setiap orang punya tanggung jawab vital yang tidak bisa digantikan," lanjut Luna seraya memulai pembagian tugas.

Luna menunjuk Steve terlebih dahulu.

"Steve, kamu adalah benteng pertahanan utama dan perisai garis depan kelompok kita," instruksi Luna jelas.

"Fisikmu yang kuat dan keahlian pertempuran jarak dekatmu sangat krusial untuk menahan gempuran musuh saat kita terdesak. Selain itu, kamu bertanggung jawab melatih kebugaran fisik dan pertahanan diri dasar untuk anggota yang belum terbiasa bertarung," lanjut Luna membeberkan tugas Steve.

Steve menepuk dada tegapnya mantap seraya memegang pipa besi tebalnya. "Siap, Komandan! Selama aku masih bernapas, tidak akan ada monster yang bisa menyentuh barisan belakang kita."

Luna beralih menatap Nancy.

"Nancy, kamu adalah kepala intelijen data, navigasi, dan teknologi komunikasi kita," kata Luna seraya menunjuk tablet digital di tangan Nancy.

"Tugasmu adalah memetakan rute pelarian, meretas sistem keamanan jika dibutuhkan, memantau sinyal radio, dan mengidentifikasi titik-titik krisis di peta kota. Kamu adalah mata dan telinga kelompok ini," jelas Luna detail.

Nancy tersenyum bangga, memeluk tablet digitalnya di dada dengan raut wajah penuh kesiapan. "Serahkan padaku, Luna. Aku akan memastikan kita selalu punya rute aman di setiap pergerakan."

Luna kemudian memutar pandangannya ke arah Endru.

"Endru, kamu adalah perwira medis dan penanggung jawab kesehatan seluruh anggota kelompok," tegas Luna.

"Tugasmu bukan cuma mengobati luka, tapi juga mengelola stok obat-obatan, memastikan sanitasi makanan dan air bersih, serta memantau kondisi fisik kita agar bebas dari kontaminasi spora," lanjut Luna menguraikan peran medis sang asisten apoteker.

Endru tertegun sejenak. Pemuda berkacamata itu menundukkan kepalanya sedikit, meremas jemarinya yang kurus di atas pangkuan seraya mengembuskan napas canggung.

"Tapi... Luna..." bisik Endru pelan dengan vokal yang agak ragu.

"Aku tidak bisa bertarung sama sekali... Aku tidak punya keberanian fisik seperti kamu atau Steve. Aku takut nanti cuma jadi beban saat kalian bertaruh nyawa di lapangan..." tutur Endru membeberkan kecemasan murni di lubuk hatinya.

Steve seketika membungkukkan tubuhnya, mengulurkan tangan kanannya yang tegap lalu menepuk pelan bahu Endru dengan kehangatan seorang kakak.

"Dengar aku, Endru," kata Steve lembut namun bertenaga.

"Kalau bukan karena suntikan antibiotik dan penanganan lukamu di apotek tadi, bahu kiriku mungkin sudah membengkak busuk dan aku tidak bakal bisa mengayunkan pipa besi ini lagi," ujar Steve memuji kinerja Endru.

"Keberanian itu bukan cuma soal memukul zombie, Ndru. Keberanianmu berdiri di balik meja racik untuk menyelamatkan nyawaku adalah bukti kalau kamu sangat berguna bagi kita semua," tambah Steve seraya tersenyum jujur.

Nancy memegang jemari Endru yang dingin, menatap matanya dari balik kacamata dengan binar perhatian murni yang amat menenangkan jiwa sang pemuda.

"Steve benar, Endru. Di dalam kelompok ini, tidak ada satu pun yang jadi beban. Keahlian medismu adalah penyelamat nyawa kami semua," bisik Nancy lembut, menyuntikkan kekuatan emosional yang hangat ke dada Endru.

Endru mendongak, menatap mata Nancy dan Steve bergantian. Rasa canggung dan tidak percaya diri yang sempat menyelimutinya perlahan meleleh, digantikan oleh rasa bangga dan kepemilikan atas perannya di dalam tim.

"Terima kasih... Aku janji bakal menjaga kesehatan kalian berempat sebaik mungkin," janji Endru dengan senyum tulus yang terkembang di wajah tirusnya.

Luna tersenyum puas melihat dukungan moral di antara anggota timnya, lalu menatap Onad.

"Onad, kamu adalah kepala transportasi, mekanik, dan logistik perbekalan teknik kita," kata Luna.

"Kamu bertanggung jawab atas pemeliharaan truk berlapis baja ini, ketersediaan bahan bakar, modifikasi senjata tumpul, serta membantu pertukangan di markas," jelas Luna merangkum peran Onad.

Onad berdiri dari kursi putarnya, membungkukkan badannya sedikit dengan gaya feminin yang sangat anggun dan kocak.

"Siap laksanakan, Ibu Komandan Jelita!" seru Onad seraya mengibaskan tatanan rambut tipisnya.

"Serahkan urusan mesin dan mobil ganteng itu sama Eke! Eke bakal pastikan roda truk kita tetap berputar mulus melibas kepala zombie-zombie kotor itu!" lanjut Onad seraya terkekeh riang.

"Dan terakhir, aku sendiri," tutup Luna tegas.

"Sebagai pemimpin taktis dan penembak jarak jauh menggunakan busur, aku bertanggung jawab memandu barisan, mengambil keputusan eksekusi cepat, serta memberikan perlindungan tembakan dari kejauhan," kata Luna merangkum perannya sendiri.

Kelima penyintas utama itu kini berdiri dan duduk melingkar di ruang kantor bengkel tua tersebut. Pembagian peran yang jelas, rasa saling menghargai keahlian masing-masing, serta ikatan emosional yang terjalin erat telah mengubah lima individu terisolasi ini menjadi sebuah unit penyintas yang utuh, solid, dan sangat tangguh.

"Struktur kelompok kita sudah resmi terbentuk," kata Luna seraya mengangkat cangkir sengnya yang masih menyisakan sedikit kopi.

Steve, Nancy, Endru, dan Onad ikut mengangkat cangkir seng mereka masing-masing, mempertemukannya di tengah meja dengan denting logam yang berdenting halus di udara.

DENTANG!

"Demi keselamatan dan masa depan kita bersama di Kota Mati ini," kata Steve penuh semangat.

"Demi masa depan kita," ulang Nancy dan Endru bersamaan dengan senyuman hangat.

"Dan demi mobil ganteng Eke yang tidak boleh lecet lagi!" timpal Onad jenaka, memancing tawa renyah dari seluruh anggota tim.

Di bawah naungan atap Bengkel Maju Jaya Motor yang kokoh, kelima pahlawan ini siap melangkah ke tahap operasi logistik berikutnya, menyatukan tekad dan strategi untuk menaklukkan setiap marabahaya di dunia Cordyceps.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!