Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Brak!
Sebuah tumpukan map dilempar dengan kasar ke atas meja kaca.
"Kamu sudah gila, Husen?!"
Suara Kepala Sekolah Wijaya menggema di ruangan luas yang kedap suara itu.
Husen Alkhafi tetap berdiri tegak tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.
"Saya hanya melaporkan apa yang saya lihat di gudang belakang, Pak."
"Reno ketahuan membawa obat terlarang dan memaksa siswi lain untuk menelannya."
Wijaya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut kencang.
"Dan kamu pikir sekolah ini bisa tetap mewah kalau ayah Reno menarik dana yayasan?"
"Kamu harusnya diam saja dan biarkan pihak sekolah yang mengurusnya secara internal."
"Mengurus secara internal maksud Bapak adalah menutupinya?"
"Saya seorang guru."
"Saya tidak akan membiarkan korban hancur sementara pelakunya bebas begitu saja."
Brak!
Wijaya kembali memukul meja dengan wajah memerah menahan marah.
"Persetan dengan omong kosong idealismemu itu!"
"Mulai detik ini, kamu dipecat dari Akademi Cakrawala."
"Saya juga akan pastikan nama kamu masuk daftar hitam di seluruh sekolah elite di Kota Arunika!"
Husen menghela napas panjang dan mengambil tas kerjanya dari kursi.
"Tanpa Bapak ancam pun, saya sudah muak mengajar di tempat yang melindungi kriminal."
"Saya permisi."
Husen membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah.
Tap tap tap.
Suara langkah sepatunya menggema di lorong sekolah yang sepi karena sedang jam pelajaran.
Saat dia sampai di depan loker guru, seorang murid laki-laki sudah berdiri menyender di sana.
Murid itu melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan.
"Sudah kubilang kan, Pak Guru?"
"Bapak tidak akan bisa menyentuhku sama sekali."
Reno terkekeh pelan sambil menatap Husen dari atas sampai bawah.
"Uang ayahku bisa membeli kejujuran di sekolah ini."
Husen menatap mata murid itu dengan pandangan datar.
"Uang ayahmu mungkin bisa membeli sekolah ini, Reno."
"Tapi uang itu tidak akan bisa membeli masa depanmu saat kamu hancur nanti."
"Menyingkir dari lokerku sekarang juga."
Reno mendecih pelan lalu melangkah mundur memberi jalan.
"Kita lihat saja siapa yang masa depannya hancur duluan."
"Selamat menjadi pengangguran, Pak Husen."
Reno tertawa keras lalu berjalan pergi meninggalkan Husen sendirian.
Husen membuka lokernya dan memasukkan beberapa buku catatan ke dalam kardus kecil.
"Semua ini benar-benar tidak masuk akal."
"Apakah kejujuran sudah tidak ada harganya lagi di dunia pendidikan saat ini?"
Husen bergumam dalam hati sambil menatap pantulan wajahnya di kaca loker.
Dia telah mendedikasikan tiga tahun hidupnya untuk mengajar di sekolah bergengsi ini.
Semua usahanya memajukan prestasi murid seakan hilang tanpa bekas hanya karena satu kejadian.
Husen keluar dari gerbang Akademi Cakrawala tepat saat hujan mulai turun rintik-rintik.
Tik tik tik.
Air hujan perlahan membasahi kemeja putihnya yang mulai terlihat kusam.
Dia tidak peduli dan terus berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus.
"Aku harus mencari pekerjaan baru secepatnya hari ini juga."
"Sewa kos bulan ini belum dibayar penuh."
Ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar panjang.
Bzzzt bzzzt.
Husen mengambil ponselnya dan melihat sebuah nomor tidak dikenal memanggil.
"Halo, dengan Husen Alkhafi di sini."
"Halo, Pak Husen, saya Haris, Kepala Sekolah SMA Garuda Kelam."
Suara di seberang telepon terdengar berat dan sedikit ragu saat berbicara.
"Saya dengar Anda baru saja keluar dari Akademi Cakrawala pagi ini."
"Apakah Anda bersedia mengajar di tempat kami mulai besok pagi?"
Husen mengernyitkan dahi mendengar nama sekolah tersebut.
SMA Garuda Kelam adalah sekolah buangan yang terkenal dengan tawuran dan murid bermasalah.
Banyak desas-desus sekolah itu akan segera dicabut izin operasionalnya bulan depan.
"Kenapa Bapak tiba-tiba menghubungi saya?"
"Sekolah kami sangat kekurangan guru saat ini."
"Banyak guru yang mengundurkan diri minggu lalu karena tidak tahan."
"Gaji yang kami tawarkan mungkin tidak besar, tapi kami benar-benar butuh bantuan Anda."
Husen terdiam sejenak melihat tetesan hujan yang makin deras membasahi jalanan.
"Baiklah, Pak Haris."
"Saya akan datang besok pagi untuk mengambil jadwal mengajar."
"Terima kasih banyak, Pak Husen, sampai jumpa besok."
Klik.
Panggilan terputus dan Husen memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Setidaknya aku tidak jadi pengangguran hari ini."
Keesokan harinya, matahari bahkan enggan bersinar terang di atas bangunan SMA Garuda Kelam.
Cat tembok sekolah itu sudah banyak yang mengelupas dan ditumbuhi lumut hijau.
Beberapa jendela kelas terlihat pecah dan hanya ditutupi dengan potongan kardus bekas.
Husen melangkah masuk ke ruang kepala sekolah yang sempit dan berbau apek.
"Selamat datang, Pak Husen."
Pak Haris menyambutnya dengan senyum tipis yang terlihat sangat lelah dan menanggung banyak beban.
"Ini jadwal mengajar Anda dan daftar nama murid di kelas Anda."
Husen menerima selembar kertas yang sedikit lecek dari tangan Pak Haris.
"Kelas XI-7?"
"Berapa jumlah murid di kelas ini, Pak?"
"Hanya ada dua puluh lima anak di kelas itu."
Pak Haris menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya dengan nada ragu.
"Tapi saya harus jujur kepada Anda sejak awal."
"Kelas itu adalah kelas paling bermasalah di sekolah ini sejak tahun lalu."
"Bulan ini saja sudah ada tiga guru yang masuk rumah sakit karena ulah mereka."
Husen menaikkan sebelah alisnya mendengar informasi tersebut.
"Masuk rumah sakit?"
"Apakah mereka menyerang guru secara fisik terang-terangan?"
"Tidak selalu serangan fisik secara langsung dari mereka."
"Terkadang mereka menjebak guru, melempar benda keras, atau membuat keributan yang memicu kecelakaan parah."
"Ketua kelasnya bernama Bara, dia mantan petarung jalanan yang sangat agresif."
Pak Haris menunjuk sebuah nama di daftar absen yang sedang dipegang oleh Husen.
"Lalu ada Nisa, murid paling pintar tapi selalu menolak ikut ujian dan hobi memprovokasi murid lain."
"Intinya, mereka sengaja melakukan segala cara untuk mengusir setiap wali kelas baru."
Husen membaca deretan nama itu satu per satu dengan ekspresi tenang.
"Bapak tidak perlu khawatir tentang masalah itu."
"Saya akan mengurus kelas ini dengan cara saya sendiri."
Pak Haris hanya bisa menghela napas pasrah mendengar jawaban guru muda di depannya ini.
"Saya harap Anda bisa bertahan lebih dari satu minggu, Pak."
"Semoga berhasil mengajar hari ini."
Husen mengangguk pelan dan berbalik keluar dari ruangan yang pengap itu.
Dia berjalan menyusuri lorong sekolah yang penuh dengan coretan vandalisme di setiap sisinya.
Suara teriakan dan dentuman mulai terdengar semakin keras saat dia mendekati ujung lorong kelas.
Prang!
Sebuah botol kaca pecah berkeping-keping tepat di luar pintu kelas XI-7.
Husen berdiri diam di depan pintu yang tertutup separuh itu.
"Jadi ini medan perang baruku sekarang."
"Mari kita lihat seberapa parah kelas sampah ini."
Husen mendorong pintu kayu yang engselnya sudah karatan parah itu.