NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGAGUMI DIRI SENDIRI

MENGAGUMI DIRI SENDIRI

Sesampainya di apartemen, Alu langsung masuk ke kamar dan berdiri di depan cermin. Dia mulai mencoba pakaian-pakaian yang baru saja dibelinya.

Setiap kali melihat bayangan dirinya dengan pakaian berbeda, Alu selalu berdecak kagum. Dia bahkan beberapa kali memiringkan kepala, mengamati lekuk tubuhnya dari berbagai sudut.

“Ya ampun, cantik banget gue! Tubuh ini memang benar-benar sempurna!”

Alu mulai mencoba berbagai pose di depan cermin. Sesekali dia memutar tubuh, mengangkat dagu, lalu tersenyum manis seperti model yang sedang berpose di depan kamera.

Akhirnya, dia berdiri tegak sambil memandangi bayangannya sendiri.

“Baiklah, mulai sekarang gue akan jadi Awen!”

Dia mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri.

“Walaupun gue nggak jadi cowok paling ganteng di kampus, setidaknya gue masih bisa jadi cewek paling cantik di kampus!”

Puas mengagumi penampilannya, Alu duduk di depan meja rias dan mulai membuka beberapa perlengkapan kosmetik yang baru dibelinya.

Dia mencoba mengingat penjelasan penjaga toko tadi. Namun, setelah memperhatikan berbagai produk di hadapannya, dia justru semakin bingung.

“Yang ini dipakai duluan atau yang itu, sih?”

Alu mengambil salah satu produk, membolak-balik kemasannya, lalu meletakkannya kembali.

Akhirnya, dia berniat memanggil Afu.

“A—”

Alu terdiam ketika mendengar suaranya sendiri. Dia mencoba memanggil sekali lagi, kali ini dengan suara lebih keras.

Namun, suaranya tetap terdengar lembut. Bukannya semakin nyaring, dia justru merasa suaranya semakin halus setiap kali berusaha berteriak.

“Ya ampun! Suara gue juga bikin kesal!”

Alu mengembuskan napas panjang.

Dia pun mengurungkan niatnya memanggil Afu. Jangan-jangan, mereka malah bertengkar lagi seperti ketika berbelanja pakaian dan kosmetik tadi.

Saat Alu masih kebingungan, tiba-tiba muncul sosok wanita cantik di belakangnya.

Alu tersentak, tetapi begitu melihat wajah wanita itu melalui cermin, dia langsung mengenalinya.

“Astaga! Bukannya lo wanita yang tadi di toko pakaian?”

Wanita itu mengangguk sambil tersenyum.

“Benar. Nama gue Lingling.”

Alu berbalik dan menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. Penampilan wanita itu begitu anggun, dengan rambut putih berkilauan dan gaun biru keputihan yang seolah memancarkan cahaya.

Lingling kemudian berkata dengan santai, “Gue bukan manusia seperti kalian.”

Alu masih terpaku. Penjelasan itu terdengar sulit dipercaya, tetapi dia teringat bagaimana wanita tersebut muncul secara misterius di ruang ganti dan kemudian menghilang begitu saja.

Rasa penasarannya pun mengalahkan keraguannya.

“Terus, lo sebenarnya siapa?”

“Gue peri cinta yang bertugas mengatur perjalanan percintaan manusia. Tapi, karena kesalahan gue dalam mengatur kisah cinta seseorang, gue dihukum untuk menjadi peri pendamping lo.”

Alu mengerjap beberapa kali.

Penjelasan Lingling terasa begitu aneh sampai-sampai dia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Akhirnya, Alu mengulurkan tangan dan menyentuh rambut wanita itu. Tangannya bergerak dari kepala sampai bahunya, seolah sedang memastikan bahwa sosok di hadapannya benar-benar nyata.

Belum puas, dia bahkan mencubit lengan Lingling.

“Aduh!” Lingling langsung menepis tangannya. “Kenapa lo cubit gue, Alu?!”

Alu tergagap.

“Gue cuma mau memastikan kalau ini bukan mimpi.”

Lingling menepuk dahinya sendiri, lalu tersenyum geli.

“Kalau lo mau tahu ini mimpi atau bukan, harusnya lo cubit diri lo sendiri, bukan malah nyubit gue!”

“Nggak perlu. Gue udah yakin kalau gue nggak mimpi.” Alu melipat tangan di depan dada. “Sekarang jelasin, sebenarnya lo ke sini mau ngapain?”

Lingling tersenyum.

“Gue mau ngajarin lo pakai makeup!”

Mata Alu langsung berbinar.

“Serius?”

“Tentu saja. Memangnya lo pikir gue datang ke sini cuma buat dicubitin?”

Alu tertawa kecil. Di tengah kebingungannya menggunakan kosmetik, kedatangan Lingling benar-benar terasa seperti pertolongan yang tidak disangka-sangka.

Tanpa membuang waktu, Lingling mulai mengajarinya menggunakan berbagai produk kosmetik. Dengan sabar, dia menjelaskan urutannya, membantu Alu mengaplikasikan setiap produk, lalu mengajaknya memperhatikan hasilnya di depan cermin.

Ketika semuanya selesai, Lingling mundur selangkah.

“Sekarang, coba lihat wajah lo.”

Alu menatap bayangannya sendiri.

Sesaat kemudian, matanya membelalak.

“Ya ampun, Lingling! Itu benar-benar gue?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi?”

Alu mendekat ke cermin. Dia memiringkan wajah ke kanan dan kiri, lalu tersenyum lebar melihat hasil riasannya.

“Selama gue jadi laki-laki, gue belum pernah membayangkan bisa melihat wajah secantik ini!”

Lingling hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Namun, sebelum Alu sempat kembali mengagumi wajahnya, ponselnya tiba-tiba berdering.

Dia segera mengambilnya. Nama Lohan muncul di layar.

Senyum Alu langsung melebar. Dia mengangkat telepon itu, tetapi sempat tertegun mendengar suaranya sendiri ketika menjawab.

“Halo?”

“Awen, lo udah siap?”

Alu langsung teringat pada janji makan malamnya dengan Lohan.

“Tunggu sebentar. Gue masih merapikan penampilan.”

“Baiklah, bidadari cantik. Gue tunggu lo di halaman apartemen, ya.”

“Oke!”

Beberapa saat kemudian, panggilan terputus.

Alu kembali berdiri di depan cermin. Dia mencoba beberapa pose sampai akhirnya merasa cukup puas dengan penampilannya.

Namun, begitu mengingat bahwa dia benar-benar akan pergi makan malam bersama Lohan, rasa gugup mulai muncul.

Selama ini, dia belum pernah pergi berkencan dengan laki-laki selain bersama Afu. Sekarang, dia harus menghadapi situasi yang sama sekali baru baginya.

Akhirnya, Alu keluar dari kamar untuk mencari saudara kembarnya.

Saat itu, Afu sedang berada di ruang tengah.

“Afu, temenin gue, ya. Gue mau makan malam sama Lohan.”

Afu langsung menoleh.

Permintaan itu membuat dadanya terasa nyeri. Membayangkan harus menemani Alu berkencan dengan pria lain saja sudah membuat perasaannya tidak nyaman.

“Gimana ceritanya gue nemenin lo kencan? Nggak masuk akal banget, Awen!”

Alu mendekat sambil memasang wajah memelas.

“Please, Afu. Gue belum pernah pergi sama laki-laki selain sama lo.”

Afu terdiam sesaat.

“Ya, tapi sekarang lo mau kencan sama Lohan. Masa gue harus jadi obat nyamuk?”

“Please, Afu. Cuma lo yang paling ngerti gue.”

Seperti sebelumnya, Afu kembali kesulitan menolak rengekan saudara kembarnya itu.

Akhirnya, dia menghela napas pasrah.

“Ya udah, gue temenin. Tapi, gue nggak mau banyak bicara.”

Alu langsung bersorak kegirangan.

Saking senangnya, dia spontan mengecup pipi Afu.

“Makasih, ya, Afu! Lo memang saudara gue yang paling baik!”

Afu seketika mematung.

Jantungnya berdebar kencang, sementara tangannya terangkat menyentuh pipi yang baru saja dicium Alu.

Dia menatap punggung saudara kembarnya yang sudah berlari kembali ke kamar.

Tanpa sadar, sebuah nama melintas di benaknya.

Awen ...

Namun, Afu segera menggeleng pelan, seolah berusaha menepis perasaan yang tidak ingin diakuinya.

Sementara itu, Alu kembali masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan gaun pemberian Lohan.

Setelah mengenakannya, dia berdiri di depan cermin dan kembali mencoba beberapa pose.

Namun, kali ini dia merasa ada sesuatu yang kurang. Tangannya tampak kosong tanpa aksesori apa pun.

“Ya ampun, mungkin gue butuh tas wanita supaya penampilan gue lebih anggun.”

Alu berpikir sebentar, lalu mengangkat bahu.

“Tapi, sudahlah. Gue cuma pergi sama Lohan, kok.”

Dia merapikan gaunnya untuk terakhir kali sebelum keluar menemui Afu.

Begitu melihat Alu muncul mengenakan gaun pemberian Lohan, Afu kembali tertegun. Mulutnya bahkan sedikit terbuka, tetapi tak ada sepatah kata pun yang keluar.

Penampilan Alu benar-benar memukau.

“Afu, ayo!”

Alu langsung menghampiri dan merangkul lengan saudara kembarnya, lalu mengajaknya keluar menuju halaman apartemen.

Di sana, Lohan sudah menunggu.

Begitu melihat Alu datang, senyumnya langsung mengembang.

“Bidadari cantik, akhirnya lo datang juga. Udah siap pergi sekarang?”

Alu mengangguk, lalu menunjuk Afu yang berdiri di sampingnya.

“Lohan, boleh nggak gue ngajak Afu?”

Lohan menoleh ke arah Afu dengan ekspresi tidak percaya.

“Dia?”

Alu mengangguk malu-malu sambil memainkan jari-jarinya.

“Iya.”

Lohan mengernyit.

“Tapi, kita kan mau kencan. Masa kita ngajak Afu juga?”

Alu menundukkan kepala sedikit.

“Tapi, Lohan, gue belum pernah pergi sama cowok. Gue masih canggung.”

Lohan terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Kalau begitu, kenapa nggak ajak Clara atau teman cewek lo yang lain? Lagi pula, teman-teman kampus kalian selama ini tahu kalau lo suka sama Afu.”

Alu langsung terkejut.

Dia menoleh ke arah Afu yang berdiri di sampingnya, lalu kembali memandang Lohan.

Emangnya iya gue suka sama Afu? Ah, nggak mungkin! Dia kan cuma saudara kembar gue.

Alu buru-buru menggeleng.

“Ah, nggak, Lohan! Mereka cuma salah paham. Dia saudara gue. Masa iya gue suka sama dia?”

Lohan memandangi Alu dan Afu secara bergantian.

“Oh, jadi kalian memang saudara? Pantas saja kalian tinggal bersama.”

“Iya, makanya nggak usah dibahas lagi. Itu nggak penting. Yang penting, gue boleh ngajak Afu, kan?”

Lohan akhirnya mengalah.

“Ya udah, kalau itu bisa bikin lo nyaman.”

Dia lalu membukakan pintu mobil untuk Alu.

Namun, sebelum masuk, Alu sempat menoleh ke arah Afu yang masih berdiri diam. Afu justru memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan ekspresinya.

Setelah Alu masuk, Lohan berjalan ke sisi pengemudi dan membuka pintunya sendiri.

Tak lama kemudian, mobil itu meluncur meninggalkan apartemen, membawa mereka menuju makan malam yang sudah direncanakan Lohan.

Sementara Alu terlihat bersemangat menghadapi pengalaman barunya, Afu hanya duduk diam dengan pikiran yang semakin sulit dikendalikan.

Dia sendiri tidak tahu mengapa harus merasa sesak melihat Alu pergi berkencan dengan pria lain.

Padahal, dia tahu betul siapa Alu sebenarnya.

Namun, semakin lama Alu berada dalam tubuh Awen, semakin sulit bagi Afu memisahkan sosok saudara kembarnya itu dari gadis yang selama ini diam-diam dia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!