NovelToon NovelToon
Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Bad Boy
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love

Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.

Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.

Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.

Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.

Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Foto yang Terlalu Meyakinkan

"Axel, senyum sedikit. Susah banget, sih?"

"Lo mau foto atau mau menginterogasi gue?"

Dimas menurunkan ponselnya. "Gue cuma minta lo senyum, bukan minta lo bayar utang satu miliar."

Bima tertawa dari atas meja, sementara Rio menggeleng melihat ekspresi Axel yang lebih mirip orang menunggu hukuman daripada siswa yang sedang difoto.

"Sudah selesai belum?" tanya Axel.

"Belum. Pacar lo belum datang."

"Terus?"

"Terus, foto pasangan ini harus berdua, Bos."

Axel hendak membalas ketika Nadine muncul di pintu kelas XII-2. Sebuah map biru terselip di tangannya.

"Gue telat?"

"Belum," jawab Axel.

Dimas langsung menyahut, "Tapi ada seseorang yang dari tadi menunggu."

"Dimas," tegur Axel.

"Apa? Gue cuma menyampaikan informasi."

Nadine mengabaikan mereka dan meletakkan map di bangkunya.

"Kalau kalian sudah selesai, gue mau menyelesaikan berkas beasiswa dulu."

Axel melirik map itu.

"Dokumen lo sudah lengkap?"

"Sebagian besar. Gue masih harus mengecek persyaratan untuk sesi hari Sabtu."

"Kalau ada yang perlu dibantu—"

"Gue akan bilang kalau butuh."

Axel menghentikan kalimatnya.

"Oke."

Dimas mengamati mereka bergantian, lalu bergumam, "Perkembangan yang luar biasa."

"Lo mau gue lempar keluar kelas?" tanya Axel.

"Nah, ini baru Axel yang gue kenal."

---

Pemotretan dimulai setelah pelajaran kedua.

Bu Ratna meminta beberapa siswa mengambil foto untuk dokumentasi majalah sekolah. Axel dan Nadine masuk dalam daftar karena mereka memenangkan penghargaan kerja sama terbaik pada festival minggu sebelumnya.

"Silakan berdiri berdampingan," kata fotografer sekolah.

Nadine mengambil tempat di sebelah Axel, menyisakan jarak secukupnya di antara mereka.

"Sedikit lebih dekat," pinta fotografer.

Nadine menoleh kepada Axel.

"Segini cukup?"

"Cukup buat gue."

Fotografer menghela napas, tetapi akhirnya mengangkat kamera.

"Baik. Hadap ke sini. Senyum sedikit."

Nadine tersenyum tipis. Axel justru terlihat kaku.

"Axel," bisik Nadine tanpa mengubah ekspresinya, "lo lagi foto, bukan menghadapi sidang."

"Lucu banget."

"Memang."

Sudut bibir Axel terangkat.

Klik.

Satu foto diambil.

Untuk foto berikutnya, Nadine diminta memegang piagam penghargaan. Axel berdiri di sampingnya, lalu fotografer menyuruh mereka saling menoleh sebelum kembali menghadap kamera.

Nadine menoleh lebih dulu.

Tatapan mereka bertemu.

Sesaat, Axel lupa bahwa mereka sedang menjalankan peran sebagai pasangan. Ia tidak sedang memikirkan ayahnya, Keisha, ataupun kontrak sembilan puluh hari yang mengikat mereka.

Ia hanya memperhatikan Nadine.

Gadis itu tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya tersenyum kecil.

Klik.

"Bagus!" seru fotografer. "Yang ini dapat sekali momennya."

Nadine segera mengalihkan pandangan.

"Sudah?"

"Sudah. Terima kasih."

Mereka kembali ke kelas tanpa membahas foto terakhir itu.

Namun, beberapa jam kemudian, foto tersebut justru menjadi bahan pembicaraan satu sekolah.

---

Saat jam istirahat, Bima menghampiri meja Nadine sambil menunjukkan layar ponselnya.

"Nad, lihat ini."

Foto Axel dan Nadine sudah diunggah ke akun media sosial resmi SMA Garuda. Dalam gambar itu, Nadine memegang piagam penghargaan, sementara Axel berdiri di sebelahnya dengan tubuh sedikit mengarah kepada gadis tersebut.

Yang paling menarik perhatian bukan piagamnya.

Melainkan tatapan Axel.

Di kolom komentar, siswa-siswa mulai menebak-nebak hubungan mereka.

Axel ternyata bisa senyum juga.

Gue kira mereka cuma dekat karena festival.

Tatapan Axel beda banget, sumpah.

Nadine menghela napas.

"Baru beberapa jam."

"Dan sudah ada yang memotong fotonya," kata Bima. "Lihat yang ini."

Seseorang telah mengunggah versi foto yang memperlihatkan Nadine dan Axel saling menatap, disertai tulisan bahwa keduanya tampak seperti pasangan sungguhan.

Dimas yang berdiri di belakang mereka tertawa.

"Kalau ini masih pura-pura, berarti kalian berdua jago akting."

Axel merebut pandangan ke layar ponsel Dimas.

"Sudah. Jangan ikut menyebarkan."

Dimas mengangkat kedua tangan.

"Gue cuma bercanda."

Nadine masih menatap foto itu.

Hubungan mereka memang harus terlihat meyakinkan. Namun, foto tersebut membuatnya sadar bahwa orang lain tidak melihat kontrak, aturan, atau batasan yang mereka sepakati. Mereka hanya melihat dua orang yang tampak saling menyukai.

"Kalau lo nggak nyaman, kita bisa minta tim media menghapusnya," kata Axel.

Nadine menoleh.

"Belum perlu. Itu memang foto dokumentasi sekolah."

"Yakin?"

"Gue cuma nggak mau orang-orang mulai ikut campur terlalu jauh."

Axel mengangguk. "Oke."

Nadine menunggu apakah ia akan menambahkan sesuatu, tetapi Axel hanya kembali ke tempat duduknya.

Ia tidak memaksa Nadine menerima foto itu, juga tidak menganggap penyebarannya sebagai sesuatu yang pasti menguntungkan mereka.

Untuk sementara, Nadine memilih membiarkannya.

Masalahnya, foto itu sudah telanjur menarik perhatian orang-orang yang tidak mengetahui cerita sebenarnya.

---

Menjelang akhir istirahat, seorang siswi dari kelas sebelah menghampiri Nadine.

"Nadine, boleh tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kamu sama Axel benar-benar pacaran, kan?"

Nadine sempat terdiam.

Pertanyaan itu seharusnya mudah dijawab. Mereka sudah menyepakati peran masing-masing dan mengumumkan hubungan mereka di sekolah.

Namun, ketika pertanyaan itu datang langsung dari seseorang yang menunggu jawaban sungguhan, Nadine menyadari betapa rumitnya kebohongan yang mereka bangun.

Ia melirik Axel yang sedang berbicara dengan Dimas beberapa meja dari sana.

"Iya," jawab Nadine akhirnya. "Kami memang sedang bersama."

Siswi itu tersenyum puas.

"Pantas. Kalian kelihatan cocok."

Setelah gadis itu pergi, Nadine duduk kembali. Ia membuka map birunya dan memeriksa daftar persyaratan beasiswa, berusaha mengembalikan pikirannya pada hal yang lebih penting.

Namun, kalimat tadi masih tertinggal di kepalanya.

Kalian kelihatan cocok.

Orang-orang mulai percaya bahwa hubungan mereka nyata.

Dan semakin banyak orang yang percaya, semakin sulit membayangkan bagaimana semuanya akan berakhir ketika kontrak itu selesai.

---

Raka menghampiri meja Nadine sebelum pelajaran berikutnya dimulai.

"Nad, gue sudah dapat informasi tambahan untuk sesi beasiswa hari Sabtu."

Ia menyerahkan selembar kertas berisi daftar dokumen yang perlu disiapkan.

Nadine segera membacanya.

"Fotokopi rapor, kartu identitas, surat keterangan sekolah. Oke, ini membantu banget. Makasih, Rak."

"Santai. Gue juga masih mengurus berkas sendiri."

Raka menunjuk bagian bawah daftar.

"Nanti gue kirim contoh format surat motivasi. Lo bisa pakai sebagai referensi, tapi sesuaikan dengan pengalaman lo sendiri."

"Boleh. Gue mau memastikan alasan memilih jurusan Nutrisi gue jelaskan dengan baik."

"Bagus. Jangan cuma menulis kalau lo suka pelajaran biologi. Jelaskan juga kenapa jurusan itu penting buat tujuan lo."

Nadine mengangguk. "Gue akan pikirkan."

Percakapan itu sederhana. Raka membantu karena mereka sama-sama sedang mempersiapkan pendaftaran, tanpa maksud lain.

Tetapi Axel yang melihat dari seberang kelas merasakan ketidaknyamanan yang sudah dikenalnya.

Jarinya mengetuk meja sekali.

Dimas meliriknya.

"Jangan."

"Gue belum melakukan apa-apa."

"Makanya, pertahankan."

Axel mendengus.

Ia tidak menyukai perasaan itu. Ia ingin menjadi orang yang paling bisa diandalkan Nadine, orang pertama yang dicari ketika gadis itu membutuhkan sesuatu.

Namun, keinginan itu bukan alasan untuk menghalangi Raka membantu.

Ketika Nadine kembali ke tempat duduknya, Axel hanya bertanya, "Daftar dokumennya sudah lengkap?"

"Belum. Gue harus mencocokkannya dengan daftar resmi."

"Oke. Semoga lancar."

Nadine memandangnya sebentar, sedikit heran karena ia tidak menanyakan Raka.

"Lo nggak mau tahu siapa yang bantu gue?"

Axel terdiam sesaat.

"Gue tahu Raka bantu soal beasiswa. Itu bukan masalah."

"Kalau begitu, kenapa kemarin lo terus menanyakan dia?"

Axel bisa saja mengatakan bahwa ia tidak menyukai cara Raka membuat Nadine tersenyum. Ia bisa saja mengakui bahwa setiap kali melihat mereka bersama, ia merasa tersisih dari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi miliknya.

Namun, jawaban itu tidak akan menyelesaikan apa pun.

"Gue masih belajar mengendalikan perasaan gue sendiri," katanya. "Gue nggak mau menjadikan kecemburuan gue sebagai masalah yang harus lo selesaikan."

Nadine menatapnya beberapa detik.

"Bagus kalau lo sadar."

Ia kembali mengerjakan tugasnya.

Axel tidak mendapatkan pujian atau senyuman khusus sebagai hadiah karena berhasil menahan diri. Ia hanya mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia bisa bertindak lebih baik.

Dan kali ini, itu cukup.

---

Sepulang sekolah, Nadine langsung menuju tempat fotokopi Pak Udin.

Ia membantu menyelesaikan pesanan pelanggan sebelum memeriksa kembali daftar persyaratan beasiswanya. Hari Sabtu tinggal beberapa hari lagi, dan ia tidak ingin melewatkan kesempatan hanya karena ada dokumen yang belum siap.

Ponselnya bergetar ketika ia sedang menyusun kertas.

Axel: Foto sekolah tadi sudah tersebar ke mana-mana.

Nadine: Gue tahu. Tadi ada yang tanya langsung.

Axel: Lo nggak keberatan?

Nadine berhenti menyusun dokumen.

Nadine: Gue bisa menjawab pertanyaan biasa. Kalau sudah keterlaluan, baru kita pikirkan bersama.

Axel: Oke. Gue nggak akan menjawab atas nama lo.

Nadine membaca balasan itu, lalu menyimpan ponselnya.

Ia menghargai bahwa Axel mulai memahami batasan mereka. Namun, ada perbedaan antara menghormati seseorang dan membuat seseorang jatuh hati.

Nadine belum siap memikirkan kemungkinan kedua.

Ia masih memiliki banyak hal yang harus diperjuangkan, dan beasiswa itu merupakan salah satunya.

---

Malam harinya, Axel duduk di meja belajarnya ketika Dimas mengirimkan foto yang sama.

Dimas: Bro, gue baru sadar. Di foto ini lo ngelihatin Nadine, bukan kamera.

Axel memperbesar gambar tersebut.

Ia memang sedang menatap Nadine.

Bukan karena fotografer menyuruhnya. Bukan pula karena mereka perlu terlihat seperti pasangan sungguhan.

Untuk beberapa detik, ia hanya memperhatikan gadis itu.

Axel meletakkan ponselnya.

Ia tidak ingin buru-buru memberi nama pada perasaan yang belum ia pahami. Terlebih lagi, ia tidak ingin menjadikan perasaannya sebagai alasan untuk menuntut sesuatu dari Nadine.

Ponselnya bergetar lagi.

Nadine: Besok mungkin masih ada yang bertanya macam-macam soal foto itu.

Axel: Kalau ada yang bikin lo nggak nyaman, bilang. Kita pikirkan bersama.

Nadine: Gue bisa jawab sendiri kalau cuma pertanyaan biasa.

Axel: Oke.

Nadine menatap percakapan itu sejenak sebelum kembali membuka daftar beasiswanya.

Ia masih ingat bagaimana Axel memandangnya di depan kamera. Ia juga ingat bahwa untuk beberapa detik, senyumnya muncul tanpa perlu dipaksakan.

Itulah bagian yang membuatnya gelisah.

Bukan karena foto itu meyakinkan orang lain.

Melainkan karena ia tidak yakin seluruh senyumnya tadi hanyalah bagian dari peran yang mereka sepakati.

Nadine mengunci layar ponselnya dan kembali memeriksa dokumen.

Ia tidak akan membiarkan satu foto mengubah rencana masa depannya.

Sementara itu, di rumahnya, Axel kembali membuka foto yang sama. Ia tidak tahu apakah Nadine juga memikirkannya, dan ia tidak berhak menuntut jawaban.

Hubungan mereka masih terikat kontrak sembilan puluh hari. Batasan yang pernah disepakati tetap berlaku, begitu pula hak Nadine untuk memilih masa depannya sendiri.

Namun, sejak foto itu tersebar, satu hal menjadi semakin sulit diabaikan.

Di mata orang lain, mereka sudah tampak seperti pasangan sungguhan.

Dan mungkin, tanpa mereka sadari, berpura-pura mulai terasa berbeda dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!