Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 9
Aurelia ikut berdiri dari kursinya. Ada gejolak aneh di dalam dadanya, sebuah perasaan tertohok yang bercampur antara rasa penasaran yang belum tuntas dan sisa-sisa ego masa lalu. Ia menatap lurus ke arah pria yang dulu pernah berada dalam genggamannya, namun kini berdiri begitu kokoh, dingin, dan sama sekali tak tersentuh.
"Tunggu sebentar, Reyden," panggil Aurelia dengan suara tertahan, namun cukup tegas untuk menghentikan langkah kaki pria itu yang baru saja berputar arah.
Reyden menghentikan langkahnya, tepat di samping Anggara. Tanpa membalikkan badan sepenuhnya, ia menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, memasang ekspresi datar dan penuh tanya.
"Ada yang masih perlu dibicarakan di luar urusan proyek, Nona Aurelia?" tanya Reyden dingin.
Aurelia melangkah mendekat beberapa jengkal, mengabaikan tatapan waspada dari Anggara yang berdiri di sisi atasannya. Ia menatap punggung tegap Reyden, lalu mendengkus pelan, mencoba menutupi rasa gugup di balik nada bicaranya.
"Tidak ada urusan penting... Hanya saja, aku penasaran," ucap Aurelia, suaranya sedikit melunak, menyiratkan kepedihan kecil yang coba ia sembunyikan.
"Wanita seperti apa yang akhirnya bisa meluluhkan hati seorang Reyden? Wanita yang membuatmu memilih untuk berkomitmen?"
Anggara menelan ludahnya, merasa berada di situasi yang sangat canggung. Ia melirik sekilas ke arah atasannya, menunggu bagaimana Reyden akan merespons pertanyaan yang teramat personal itu.
Reyden perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Aurelia. Rahangnya mengeras, dan manik mata hitamnya menatap tajam wanita di hadapannya tanpa sedikit pun rasa gentar atau ragu.
"Dia bukan seseorang yang harus saya deskripsikan kepada Anda, Nona Aurelia," jawab Reyden tegas, suaranya mengandung penekanan yang membuat udara di dalam ruangan terasa mendingin.
"Dan satu hal yang perlu Anda tahu... cara pandang saya tentang pernikahan tidak pernah salah. Yang salah di masa lalu adalah saya menempatkannya di waktu dan orang yang keliru."
Deg.
Kalimat itu meluncur begitu mulus, menusuk langsung ke relung hati Aurelia. Sindiran telak itu menyadarkannya bahwa di masa lalu, dialah orang yang memilih pergi meninggalkan Reyden demi ambisi kariernya sendiri, menganggap pria itu sebagai beban yang akan memperlambat langkahnya.
Wajah Aurelia seketika memucat. Tenggorokannya mendadak keluh, tidak mampu merangkai satu kata pun untuk membela diri. Seluruh argumen brilian dan kepercayaan diri yang selalu ia pamerkan sebagai seorang Creative Director runtuh seketika di hadapan kenyataan pahit tersebut.
Reyden sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Aurelia untuk merespons.
"Mari, Anggara," ujar Reyden singkat.
"Baik, Pak," sahut Anggara lega.
Tanpa menoleh lagi ke belakang, Reyden melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan Aurelia yang berdiri terpaku seorang diri di tengah ruangan.
Aurelia berdiri mematung di tengah keheningan ruang rapat yang megah itu. Matanya menatap lurus ke arah pintu kaca tebal yang baru saja tertutup rapat, menyembunyikan punggung tegap Reyden yang melangkah menjauh tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Punggung yang dulu begitu familier untuk ia sandari, kini terasa amat asing dan membeku oleh dinding es yang begitu tebal.
Tangan Aurelia yang saling bertaut di depan gaun blazernya perlahan meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Napasnya naik turun menahan gelora emosi yang mendadak bergemuruh hebat di dadanya.
Dua staf dari Nusantara Production House yang mendampinginya sejak tadi saling bertukar pandang canggung. Sang asisten, Siska, melangkah pelan mendekati bosnya.
"Bu Aurelia... barang-barang dan dokumen revisinya sudah kami rapikan semua. Kita... langsung balik ke kantor atau ada agenda lain?" tanya Siska penuh hati-hati.
Aurelia tidak langsung menjawab. Suara Siska seolah hanya berupa bisikan samar di telinganya. Tatapan matanya masih terpaku pada pegangan pintu kaca di hadapannya.
"Bu Aurelia?" panggil Siska sekali lagi.
Aurelia menghela napas panjang, mencoba menarik kembali jiwanya yang sempat melayang. Ia berbalik perlahan, memoles senyum tipis yang tampak dipaksakan untuk menutupi kerapuhannya.
"Kalian kembali ke kantor duluan saja naik mobil operasional," ucap Aurelia, suaranya terdengar sedikit serak.
"Saya... ada urusan sebentar. Nanti saya menyusul pakai taksi online."
"Baik, Bu. Kalau begitu kami permisi duluan," pamit Siska seraya mengangguk sopan, lalu mengajak rekan kerjanya keluar meninggalkan ruangan.
Begitu pintu rapat kembali tertutup dan menyisakan dirinya seorang diri, pertahanan diri Aurelia yang selama lima tahun ini ia bangun dengan sangat kokoh akhirnya retak seketika.
Ia melangkah kaku menuju kursi utama ujung meja, kursi yang beberapa menit lalu diduduki oleh Reyden. Tangannya terulur mengusap sandaran kursi kulit dingin tersebut. Ada rasa sakit yang luar biasa menjalar di dadanya, sebuah sesak yang tak sanggup ia tahan lagi hingga matanya mulai berkaca-kaca.
"Dua tahun..." gumam Aurelia lirih pada ruangan yang hampa. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman pahit yang sarat akan penyesalan.
"Kamu sudah menikah dua tahun, Rey..."
Pikiran Aurelia mendadak melayang mundur, melempar memori kepalanya pada penerbangan belasan jam dari London menuju Jakarta beberapa hari lalu. Sepanjang perjalanan di atas awan, hatinya membuncah penuh antisipasi. Ia membayangkan skenario indah tentang pertemuan pertama mereka setelah lima tahun bertukar sepi tanpa komunikasi sepatah kata pun.
Ia membayangkan akan duduk berdua bersama Reyden di sebuah kedai kopi tenang, menceritakan betapa beratnya perjuangan kariernya di negeri orang, menceritakan gelar Masternya yang berhasil ia raih, dan yang paling utama... menceritakan bahwa alasan terbesarnya kembali ke Indonesia adalah untuk menemukan kembali cinta masa lalunya: Reyden Dirgantara.
Ia mengira Reyden masih pria yang sama. Pria yang dulu begitu sabar menunggunya, pria yang selalu memandang matanya dengan binar penuh pemujaan, pria yang dulu rela mengalah saat Aurelia memilih terbang mengejar mimpinya.
Namun kenyataan hari ini menghantam egonya tanpa ampun.
"Kenapa harus sesiap ini kamu melupakan aku, Rey?" bisik Aurelia dengan suara gemetar. Air mata bening akhirnya menetes membasahi pipinya yang terpoles riasan sempurna.
“Yang salah di masa lalu adalah saya menempatkannya di waktu dan orang yang keliru.”
Kalimat tajam Reyden tadi kembali berputar berulang-ulang di kepalanya bagai kaset rusak. Setiap kata yang diucapkan pria itu terasa bagai sembilu yang menyayat hatinya hingga tak bersisa.
"Orang yang keliru..." Aurelia tertawa kecil, tawa miris yang dipenuhi rasa frustrasi. Ia mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan.
"Aku yang kamu maksud orang yang keliru itu, Rey?"
Ponsel di dalam tas merek ternamanya mendadak berdering nyaring, membuyarkan ratapan sepinya. Aurelia menarik napas dalam-dalam, menetralkan suaranya sebelum merogoh ponsel tersebut. Di layarnya, tertera nama sepupu Reyden yang juga merupakan teman dekatnya sejak masa kuliah, Maya.
Aurelia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo, Merlyn..." sapa Aurelia, berusaha keras membuat suaranya terdengar biasa saja.
"Aurel! Gimana? Meeting kamu sama perusahaan Mas Reyden lancar, kan?" suara Merlyn di seberang telepon terdengar begitu heboh dan penasaran.
"Kamu udah ketemu langsung sama sepupu gue yang dingin itu? Gimana reaksinya waktu lihat kamu lagi setelah lima tahun?"
Aurelia terdiam sejenak. Ia membelakangi meja rapat dan menatap pemandangan pencakar langit dari balik jendela kaca besar ruangan itu.
"Lancar, Merlyn. Proyeknya disetujui," jawab Aurelia pelan.
"Bagus dong! Terus... kalian sempat ngobrol pribadi nggak? Jangan bilang kalian langsung kaku kayak orang asing?" kejar Merlyn tak sabar.
Aurelia tersenyum getir. "Lebih dari sekadar kaku, Merlyn. Dia... benar-benar memperlakukan aku cuma sebatas rekan bisnis."
"Duh, Mas Reyden emang gitu sih sejak..." Merlyn menggantungkan kalimatnya sejenak, lalu mendesah pelan.
"Ya ampun, Rel. Maaf ya, kemarin malam pas acara kumpul keluarga, nama kamu sempat dibahas. Tapi Mas Reyden langsung masang muka dingin. Dia emang udah berubah banget sejak menikah."