NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Ketika Dante Kehilangan Kendali

Suara tembakan masih menggema di dalam gudang ketika lampu darurat menyala kembali.

Dante berdiri di tengah ruangan dengan pistol terangkat. Rahangnya mengeras, sementara mata biru safirnya menyapu setiap sudut bangunan. Vittorio telah menghilang. Cincin bulan sabit yang mereka bawa sebagai kunci juga lenyap, meninggalkan selembar kertas bertanda tangan Luciano Vieri.

Bianca masih berlutut di balik peti kayu. Napasnya tersengal, tetapi ia tidak terluka.

“Bianca!”

Dante berlari menghampirinya, lalu berlutut dan memegang kedua bahunya.

“Lihat aku. Apa kau terluka?”

Bianca menggeleng.

“Aku baik-baik saja. Tapi Isabella—”

Dante segera menoleh ke arah perempuan yang tergeletak di dekat kursi. Isabella masih sadar, meskipun wajahnya pucat dan pergelangan tangannya memerah akibat ikatan yang terlalu ketat.

Marco bergegas menghampiri mereka bersama dua pengawal.

“Bawa Isabella ke mobil. Periksa seluruh bangunan. Aku ingin semua pintu keluar dijaga!”

“Baik, Don!”

Ketika para pengawal membawa Isabella pergi, Dante kembali memandang Bianca. Tangannya masih mencengkeram bahu istrinya, seolah ia perlu memastikan perempuan itu benar-benar berada di hadapannya.

“Kau hampir saja terbunuh,” katanya dengan suara rendah.

“Tetapi aku tidak terbunuh.”

“Jangan pernah mengatakan itu seolah-olah semuanya baik-baik saja!”

Bianca terdiam. Ia belum pernah mendengar Dante berbicara dengan nada seperti itu kepadanya.

Pria tersebut berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu menghantamkan tinjunya ke peti kayu di dekatnya. Suara benturan membuat Bianca tersentak.

“Dante!”

“Dia mengambil cincin itu.” Dante berbalik dengan mata menyala. “Luciano mengambil satu-satunya benda yang mungkin bisa membuka rahasia keluarga kita. Dan aku membiarkannya terjadi.”

“Kau tidak tahu bahwa mereka akan menyerang.”

“Aku seharusnya tahu!”

Dante kembali memukul peti itu hingga kayunya retak. Darah mulai mengalir dari buku-buku jarinya.

Bianca segera menghampirinya.

“Berhenti!”

Dante menatapnya, dadanya naik turun karena kemarahan.

“Dia menggunakanmu untuk mendapatkan cincin itu. Dia mempertaruhkan nyawamu hanya untuk mencapai tujuannya.”

“Dan kau pikir aku tidak tahu?”

“Kalau sesuatu terjadi kepadamu malam ini—”

Dante menghentikan kalimatnya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Bianca melihat ketakutan yang begitu besar hingga pria itu bahkan tidak sanggup menyelesaikan ucapannya.

Bianca menggenggam tangan Dante yang terluka.

“Aku masih di sini.”

Dante menatap jemari Bianca yang berlumuran sedikit darahnya sendiri.

“Aku tidak sanggup kehilanganmu,” bisiknya.

Kalimat itu terdengar begitu jujur hingga Bianca tidak mampu segera menjawab.

Ia mengangkat tangan Dante dan menyentuh pipinya dengan lembut.

“Kalau begitu, jangan biarkan rasa takut membuatmu berubah menjadi seseorang yang tidak kau kenali.”

Dante memejamkan mata sejenak.

Kemudian, perlahan, ia menarik Bianca ke dalam pelukannya.

Kali ini, pelukan itu bukan sekadar ungkapan kasih sayang. Dante memeluknya seolah seluruh dunianya hampir runtuh dan hanya perempuan itu yang mampu menahannya agar tidak jatuh.

Bianca membalas pelukannya.

Namun, ketika Dante melepaskannya, tatapan dingin sang Don kembali muncul.

“Luciano telah melewati batas.”

Satu jam kemudian, Villa Vieri berubah menjadi pusat operasi.

Para pengawal berjaga di setiap pintu, sementara Marco mengumpulkan laporan dari seluruh penjuru Roma. Isabella telah dibawa ke kamar tamu dan diperiksa oleh dokter keluarga. Luka-lukanya tidak serius, tetapi ia terlalu lelah untuk segera berbicara panjang lebar.

Dante berdiri di ruang kerja, menatap peta kota yang terbentang di atas meja.

“Temukan setiap properti yang pernah digunakan Luciano dalam enam bulan terakhir,” perintahnya. “Gudang, rumah kosong, perusahaan cangkang, semuanya.”

Marco mengangguk.

“Bagaimana dengan Vittorio?”

“Periksa semua rekening dan jalur komunikasinya. Jika dia bekerja sama dengan Luciano, aku ingin tahu sejak kapan.”

“Dan jika kita menemukan mereka?”

Dante mengangkat wajah.

“Hubungi aku sebelum melakukan apa pun.”

Marco mengamati majikannya dengan hati-hati.

“Don, dengan segala hormat, Anda sedang marah. Saya khawatir Anda akan mengambil keputusan terburu-buru.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Dante berjalan mendekati Marco hingga hanya tersisa satu langkah di antara mereka.

“Kau meragukan perintahku?”

“Tidak, Don. Saya hanya mengingatkan bahwa Luciano mungkin menginginkan Anda kehilangan kendali.”

Kalimat itu membuat Dante terdiam.

Ia kembali menatap peta.

Marco benar.

Luciano mengenalnya sejak kecil. Ia tahu bahwa Dante akan melakukan apa pun untuk melindungi orang-orang yang dianggapnya keluarga. Jika Luciano sengaja menargetkan Bianca, mungkin tujuannya bukan sekadar mendapatkan cincin.

Ia ingin Dante bertindak tanpa berpikir.

Ia ingin sang Don membuat kesalahan yang bisa menghancurkan kekuasaannya sendiri.

“Perketat keamanan villa,” kata Dante akhirnya. “Tidak seorang pun boleh masuk tanpa pemeriksaan.”

Marco mengangguk, lalu meninggalkan ruangan.

Dante baru saja hendak mengambil ponselnya ketika pintu terbuka.

Bianca berdiri di ambang pintu dengan kotak obat dan perban.

“Duduk,” katanya.

Dante mengerutkan kening.

“Apa?”

“Duduk. Tanganmu harus dibersihkan.”

“Bianca, aku sedang bekerja.”

“Dan aku sedang berusaha mencegah tanganmu terkena infeksi. Duduk.”

Dante menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya duduk di sofa.

Bianca meletakkan kotak obat di meja, kemudian membersihkan luka pada buku-buku jarinya. Dante meringis ketika cairan antiseptik menyentuh kulit yang robek.

“Seorang Don yang ditakuti seluruh Roma ternyata tidak tahan antiseptik,” goda Bianca.

“Teruskan bicaramu dan aku akan memerintahkan seseorang menggantikanmu.”

“Silakan. Tetapi aku ragu ada orang lain yang berani memerintahmu duduk.”

Dante mengembuskan napas pendek. Kali ini, ada sedikit senyum di wajahnya.

Bianca membalut tangannya dengan hati-hati.

“Dante, aku tahu kau marah. Aku juga marah. Tetapi jangan biarkan Luciano menentukan siapa dirimu.”

Dante menatapnya.

“Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan diriku ketika berhadapan dengannya?”

“Kalau begitu, ingatlah apa yang ingin kau lindungi.”

Bianca meletakkan tangan Dante di antara kedua telapak tangannya.

“Aku tidak menikah denganmu karena menginginkan seorang pria yang selalu menang. Aku menikah denganmu karena kita membuat kesepakatan, dan karena aku mulai melihat pria di balik gelar Don itu.”

Tatapan Dante melunak.

“Dan bagaimana jika pria itu lebih buruk daripada yang kau bayangkan?”

Bianca tersenyum sedih.

“Kalau begitu, aku akan memintamu memperbaiki dirimu. Tetapi aku tidak bisa melakukannya jika kau sendiri berhenti berusaha.”

Dante mengangkat tangan yang telah dibalut dan menyentuh pipinya.

“Kau seharusnya tidak perlu menghadapi semua ini.”

“Namun, aku menghadapinya sekarang. Bersamamu.”

Dante menariknya mendekat dan mengecup keningnya.

“Aku akan berusaha mengingatnya.”

Menjelang tengah malam, Isabella akhirnya bersedia berbicara.

Bianca dan Dante duduk di sisi ranjangnya. Wajah Isabella masih pucat, tetapi sorot matanya telah kembali tajam.

“Vittorio bukan orang yang memberiku perintah,” katanya.

Dante menyilangkan tangan di depan dada.

“Siapa?”

Isabella memandang Bianca terlebih dahulu.

“Luciano.”

“Apa yang dia inginkan darimu?” tanya Bianca.

“Dokumen tentang Alessandro dan Elena. Ayahku menyimpan salinannya sebelum meninggal. Luciano mengetahui bahwa aku memilikinya.”

“Dokumen yang mana?” desak Dante.

Isabella menelan ludah.

“Dokumen yang membuktikan bahwa kematian Elena bukan kecelakaan.”

Dante mencondongkan tubuh ke depan.

“Katakan siapa pembunuhnya.”

“Aku tidak tahu identitasnya secara pasti. Tetapi aku tahu Alessandro membayar seseorang untuk memindahkan Elena dari rumah sakit pada malam kematiannya. Setelah itu, ada laporan bahwa sebuah kendaraan mengalami kecelakaan di jalan menuju luar kota.”

Bianca menggenggam tangannya sendiri.

“Apakah ibuku berada di kendaraan itu?”

Isabella menggeleng.

“Tidak ada jenazah yang pernah diidentifikasi secara resmi. Hanya ada laporan kematian dan sebuah peti mati tertutup.”

Bianca merasa dadanya sesak.

Selama ini, ia percaya bahwa ibunya telah meninggal dan dimakamkan sebagaimana mestinya. Kini, bahkan hal itu pun mulai dipertanyakan.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan ini sebelumnya?” tanyanya.

“Karena aku takut,” jawab Isabella jujur. “Dan karena aku tidak tahu siapa yang bisa kupercaya.”

Dante menatapnya dingin.

“Lalu mengapa kau akhirnya kembali?”

Isabella mengalihkan pandangan kepada Bianca.

“Karena aku melihat bagaimana kau memperlakukannya.”

Bianca mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Aku mengenal Dante sebelum dia menjadi seperti sekarang. Aku tahu dia mampu melakukan hal-hal mengerikan demi kekuasaannya.” Isabella menarik napas. “Tetapi ketika aku melihatnya bersamamu, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah. Aku tidak tahu apakah perubahan itu akan menyelamatkannya atau justru menghancurkannya.”

Dante tidak menjawab.

Isabella melanjutkan, “Luciano mengambil cincin itu karena dia percaya cincin tersebut akan membawanya kepada dokumen asli. Namun, ada sesuatu yang tidak dia ketahui.”

Bianca segera mencondongkan tubuh.

“Apa?”

Isabella menatapnya dengan serius.

“Cincin itu bukan satu-satunya kunci.”

Ia mengeluarkan liontin bulan sabit kecil dari balik bajunya. Bentuknya sama dengan milik Elena, tetapi pada bagian belakangnya terdapat delapan titik kecil yang membentuk lingkaran.

“Ini salinan lambang yang ada pada dokumen asli,” katanya. “Ayahku menyembunyikannya sebelum meninggal.”

Dante mengambil liontin itu, lalu memperhatikannya.

“Di mana dokumennya?”

Isabella menggeleng.

“Aku hanya tahu bahwa dokumen itu disimpan di tempat yang berkaitan dengan kelahiran Bianca.”

Bianca terdiam.

Rumah sakit tua. Klinik yang terbakar. Akta kelahiran dengan nama Rafael Moretti.

Semua petunjuk itu seolah mengarah ke tempat yang sama.

Tiba-tiba, ponsel Dante berdering.

Marco berbicara dengan suara tegang dari seberang.

“Don, kami menemukan lokasi terakhir Luciano.”

“Di mana?”

“Rumah tua milik keluarga Moretti, di luar Roma.”

Dante berdiri.

“Siapkan kendaraan.”

Namun, sebelum ia sempat pergi, Marco menambahkan satu kalimat yang membuat Bianca membeku.

“Ada satu hal lagi, Don. Kami menemukan darah di pintu masuk rumah itu. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan darah tersebut cocok dengan sampel lama milik Elena Laurent.”

Dante perlahan menurunkan ponselnya.

Bianca berdiri dengan wajah pucat.

“Jika darah itu benar-benar milik ibuku…”

Dante menatapnya.

“Berarti kita mungkin akhirnya menemukan tempat di mana semuanya bermula.”

Di luar villa, sebuah mobil hitam melintas perlahan di balik gerbang. Tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Di kursi belakang, Luciano duduk dengan cincin bulan sabit di tangannya.

Ia tersenyum ketika membuka sebuah dokumen tua.

Pada halaman pertama tertulis nama Elena Laurent.

Pada halaman kedua terdapat nama Rafael Moretti.

Dan pada halaman terakhir, tertulis sebuah kalimat yang selama bertahun-tahun disembunyikan dari keluarga Vieri.

“Anak yang dibawa pulang bukanlah anak yang dilahirkan Elena.”

Luciano menutup dokumen itu.

“Maafkan aku, Kakak,” bisiknya, meskipun tidak ada seorang pun di dalam mobil yang bisa mendengarnya. “Tetapi kali ini, aku akan mengambil semuanya.”

Mobil itu menghilang ke dalam kegelapan.

Dan perang keluarga Vieri baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.

Bersambung — Bab 21: Surat dari Masa Lalu

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!